The Story Of Amber

The Story Of Amber
Masing-masing



1 tahun kemudian...


"Perkembangan yang cukup bagus Carl!" Pekik Marvel, dokter yang selama ini menangani terapi dan pengobatan Carl. Kali ini Carl mulai bisa berjalan menyusuri sebuah tongkat besi yang pajang.


Carl tersenyum lebar, nafasnya cukup terengah dan ia mulai duduk kembali di kursi rodanya di bantu oleh David, manajer Carl. "Kau selalu menunjukkan perkembangan yang baik, apa yang kau rasakan saat berjalan tadi?" Tanya Marvel.


Carl mengangkat bahunya pelan dengan senyum yang tak pudar. "Aku merasa kaki ku sudah sedikit kuat, namu setelah beberapa dekit aku kembali merasa ngilu di bagian tulang," kekeh Carl. "Apa tahun depan aku sudah bisa berjalan normal?" Tanya Carl dengan nada yang begitu santai. Ia sudah menerima semua keadaan dirinya, ia mulai berlatih untuk bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Beberapa bulan pertama cukup sulit untuk Carl menerima keadaan, namun harus sampai kapan ia seperti ini?


"Jika kau selalu mengikuti saran ku dan tetap bersemangat tahun depan kau akan bisa berjalan kembali Carl, aku yakin itu, kau kuat dan tak pernah putus asa," ucap Marvel.


Carl cukup senang mendengar jawaban itu, mereka pun berbincang kecil dan Dokter Marvel pun mulai pamit. Carl memutar kursi rodanya pada David yang tak pernah mengundurkan diri menjadi manajer Carl. "Sebenarnya ada yang ingin aku katakan pada mu," ucap Carl membuat David mengerutkan keningnya pelan, ia pun duduk di kursi yang ada disana dan mulai menatap Carl.


"Ada apa? Kau tidak akan mengatakan mundur dari dunia film bukan? ayolah Carl, masih banyak yang ingin menunggu mu menjadi bintang film mereka," ucap David membujuk.


Carl tertawa kecil, ia menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, aku tidak akan mengundurkan diri lagi, umm— begini, selama aku tidak memiliki kegiatan beberapa bulan ini, aku membuat sebuah lagu, apakah aku bisa memulai kegiatan ku kembali? Kali ini di dunia musik dan pastinya kursi roda ini tidak menjadi penghalang bukan?" Tanya Carl sambil berharap cemas, jujur saja ia mulai bosan hanya berkeliling di halaman rumah dengan kursi roda yang di dorong oleh Agatha atau Alicia, bermain ponsel dan PS. Carl ingin sesuatu yang berbeda dan mulai aktif di sosial media tanpa menunjukkan fisiknya, ia ingin kini suaranya yang digunakan.


David tampak terkejut dan menganggukkan kepalanya dengan semangat, pantas saja tak biasanya Carl meminta dirinya untuk menemani Carl perawatan, rupanya ada kabar baik yang Carl berikan. "Tentu saja bisa Carl! Kau bisa memulai rekaman kapan pun yang kau mau, aku yakin apapun yang kau perbuat akan mendapatkan penilaian baik," komentar David. "Jika aku boleh tahu kau membuat lagu tentang apa?" Tanya David.


Senyum Carl yang awalnya lebar, kini hanya segaris senyuman tipis. "Tentang sebuah kesempatan yang tak pernah ada, tentang kehilangan dan sakitnya sebuah perpisahan." Carl menarik nafasnya dalam, sebuah pesan yang Carl harap bisa sampai di telinga Amber, dimana pun kini Amber berada Carl harap ia baik-baik saja, menjaga anak mereka yang mulai tumbuh besar. Carl menyimpan sebuah pesan pada lagu itu agar Amber tahu jika dirinya masih mencintai mereka, bahkan sampai kapan mu mereka akan berada di dalam hati Carl. "Tentang sebuah cinta yang rumit, namun berharap ada akhir yang bahagia untuk mereka besama kembali," lanjut Carl.


~


"Kau yakin akan mulai menjadi guru?" Tanya Amanda pelan, sudah 1 tahun mereka disini, Amanda sudah membuat sebuah restoran berukuran tak terlalu kecil namun nyaman di kota, tak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Sean bekerja.


"Aku yakin anak-anak kecil akan menyukai mu Amber," ucap Sean sambil tersenyum lembut. Sean membungkuk dan mengusap pelan rambut Earl, kini anak kecil berusia 3 tahun 8 bulan itu sudah tidak ingin naik kereta dorongnya, Earl mulai aktif berjalan dan bermain dengan anak kecil yang ia temui. Tak ada lagi rasa sakit dan sikap rewel yang Earl alami, kini Earl sudah bisa menjadi anak aktif pada umumnya. "Kau akan bertemu banyak teman disana," kekeh Sean pelan.


Earl menganggukkan kepalanya, ia tersenyum pada Sean. "Ya, paman Sean," ucapnya lembut khas anak kecil.


"Aku akan mengabari mu bagaimana hari ku di sekolah," jawab Amber. Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Amanda dan Sean yang mulai masuk ke dalam mobil.


Seperginya Amanda dan Sean, Amber mulai berjalan bersama Earl, menyusuri jalanan yang begitu sejuk dengan tetangga yang begitu ramah menyapa mereka. "Kau sudah lelah sayang?" Tanya Amber. Earl terlihat menganggukkan kepalanya, tangan mungil itu mengadah pada Amber dan Amber langsung mengambil Earl dalam pelukannya.


Amber tersenyum saat masuk kedalam halaman sekolah kecil itu, sekolah yang ada memiliki 1 ruangan khusus balita. Mungkin lebih tepatnya tempat bermain anak. "Aku titip E— Sebastian ya Camelia," ucap Amber dengan senyum kaku yang selalu gagal salah menyebutkan nama Sebastian pada orang baru.


"Baik Mrs.Monica, aku akan menjaga sebastian dengan baik," ucapnya ramah. Amber menganggukan kepalanya dengan cepat, ia percaya dengan Camelia, seorang gadis yang selalu membantu ibunya mengantar susu sapi pagi buta dan menjadi penjaga bayi di desa ini. Bahkan Amber mendapatkan tawaran pekerjaan ini dari Camelia saat gadis itu mengetahui jika Amber pernah kuliah.


Amber keluar dari ruangan itu, ia berjalan menuju ruang kelas yang berisikan anak berumur 8 tahun. "Selamat pagi semuanya, aku Am— maaf, aku Monica, senang bisa bertemu dengan kalian, boleh aku mengetahui nama kalian mulai dari barisan paling depan?" Tanya Amber ramah.


Kurang dari 2 jam, kelas itu sudah berakhir, Amber mudah akrab dengan beberapa anak kecil itu, Amber menciptakan kelas yang menyenangkan dan mulai mengajarkan materi dasar yang ia ambil.


Amber berjalan menuju ruangan khusus balita, disana Earl sedang bermain dengan seorang anak perempuan yang begitu anggun. Amber tersenyum pada Camelia yang tampak dengan asik dengan radionya. "Hai Mrs. Monica, bagaimana? Apa kau cocok dengan kelas nya? Atau kau ingin kelas yang lain?" Tanya Monica.


"Tidak, aku cocok dengan kelas tersebut. Oh ya, siapa anak perempuan itu? Cantik sekali," ucap Amber.


Camelia tersenyum dengan lebar, "Itu Angel, cucu pemilik peternakan didepan, Mr. Ralp, anak Mr. Ralp baru sampai malam tadi dan menitipkan anak cantik itu sampai jam 12 siang," kekeh Camelia.


Amber mengangukkan kepalanya mengerti,  ia menatap dari jauh Earl yang masih asik bermain dengarn Angel. 'Kau seakan memberikan kesempatan untuk kita bersama kembali, namun pada akhirnya kau yang pergi meninggalkan ku seorang diri,'


Amber terdiam, lirik lagu yang berasal dari radio membuatnya seakan ditampar, membuat Amber kembali mengingat Carl, semua kalimat yang mengungkapkan kesedihan dengan suara lembut yang menyimpan kerinduan. "Lagu ini sedang ramai diputar beberapa hari ini, membuat aku ingin memberikan lagu ini pada mantan kekasih ku," gumam Camelia sambil terkekeh pelan.


"Apa judul lagu ini? Sepertinya aku menyukainya," tanya Amber dengan antusias.


"My Love."