The Story Of Amber

The Story Of Amber
Bab 6 (Warning)



Carl memejamkan matanya, ia mengeluh saat rasa hangat dari mulut Amber terasa semakin memenuhi dirinya. Dengan cepat Carl menarik kepala Amber, "Sudah cukup pemanasannya," gumam Carl dengan suara yang begitu serak.


Tangan Carl menuntun Amber untuk duduk dipangkuannya, lengan itu perlahan menurunkan penutup Amber dari pinggang rampingnya. Dengan rasa yang tak karuan, Amber lagi-lagi hanya menurut dan membantu Carl melepaskannya. Amber mengigit bibirnya sendiri dengan keras saat ia merasa Carl mulai memasuki nya. "Ya begitu, bergeraklah," bisik Carl.


Luka di hati Amber seakan teriris dan membuka kembali kenangan buruk itu. Mata Amber mulai berkaca, dengan cepat ia menggelengkan kepalanya. Ia hanya membutuhkan uang Carl, lakukan dengan baik dan Amber bisa pergi meninggalkan Carl. Perlahan Amber mulai bergerak, membuat Carl mengeluarkan suara yang membuat Amber semakin muak dengan dirinya sendiri. Ia bergerak semakin kencang, menahan tangis yang entah mengapa ingin keluar, rasanya begitu sesak dan sedih. "Ya, begitu," gumam Carl tak menentu, ia pun mulai ikut bergerak dan menarik Amber dalam pelukannya. Gerakan itu semakin cepat dan tak terkendali. "Uh," eluh Carl, ia sudah mencapai pelepasannya yang pertama.


Amber memejamkan matanya sesaat, kini bukan rasa sedih yang memenuhi dirinya. Namun kegelisahan lain yang baru ia ingat, bodoh, Amber merutuki dirinya sendiri. Carl tidak mengenakan pengaman apapun! "Lagi," bisikan Carl sontak membuat mata Amber membola.


"Apa!" pekik Amber kencang.


Layaknya orang mabuk pada umumnya, Carl hanya terkekeh pelan. "Aku sudah membayar mu mahal, dan aku belum puas," bisik Carl kembali.


Amber berdiri dan menjauhkan diri dari Carl saat Carl menunjuk sebuah ranjang. Mata Amber melirik pada sebuah jam dinding, kapan ia bisa terlepas dari Carl? kapan semua ini selesai? kapan ia bisa kembali untuk membayarkan biaya operasi Earl. Semua itu berputar di kepala Amber. "Berbaringlah," sapuan halus di bahu Amber menyadarkan Amber jika ini tidak akan berakhir dengan cepat. Tubuh Amber menegang saat Carl memeluknya dari belakang, lalu membalikan Amber menghadap Carl. "Kau seperti Amber, Amanda," lirih Carl. Jantung Amber berdebar kencang, mata sayu itu menatap Amber dengan penuh g a i r a h, 'Tidak, Carl tidak boleh mengingatnya,' batin Amber.


Baru saja Amber akan bersuara dan menyakinkan Carl bahwa ia bukanlah Amber, Carl terlebih dahulu mendekatkan wajah mereka. Bibir mereka bertemu, sapuan halus yang begitu membuai Amber, rasa yang dulu seolah kembali memenuhi hatinya. Rasa yang tidak pernah Amber rasakan pada pria lain selama beberapa tahun ini kembali ia rasakan pada orang yang sama.


Carl membaringkan Amber perlahan, dengan cepat Amber menahan dada Carl. "Kau tidak memakai pengaman?" tanya Amber hati-hati.


"Aku tidak memilikinya, dan aku tidak berencana akan membeli mu awalnya," jawab Carl sedikit kesal. "Oh ayolah, jangan mempersulit ku, lagi pula ini sudah terlambat," desak Carl. Jemarinya mulai menyapu halus tubuh Amber, memberikan getaran yang baru Amber rasakan kembali.


***


Carl membuka matanya perlahan, kepalanya terasa berat. Ia membuka selimut tebal yang membungkus dirinya, bersandar pada kepala ranjang sambil mengumpulkan kesadarannya dengan penuh.


Kamar ini tampak kacau dari sebelumnya, pakaian yang berserakan dan seorang wanita yang tengah tertidur memunggunginya menjadi saksi jika Carl benar-benar sudah kacau. Bagaimana tidak, ia yang mencintai Valerie sedari dulu tiba-tiba saja mendengar jika Valerie akan menikah dengan kakaknya! Kenrich!


Carl menoleh kearah wanita yang ada disampingnya, wanita itu berbalik menghadap Carl, rambut panjang yang tampak kusut menutupi sebagian wajah cantik itu. Carl tersenyum tipis, bagaimana bisa ia mengeluarkan uangnya hanya untuk membeli seorang wanita? padahal banyak wanita yang bersedia menemani Carl dengan senang hati.


"Secantik apa diri mu? bisa-bisa nya aku tidak melepaskan mu malam tadi," gumam Carl pelan sambil tersenyum lembut. Tangannya terulur menepikan rambut yang menghalangi wajah itu.


***


Amber menggeliatkan tubuhnya saat cahaya mengganggu tidurnya, perlahan ia membuka matanya dan menyesuaikan cahaya matahari yang mulai masuk melalui celah gorden. Saat ujung mata Amber menatap sosok pria yang sudah tampak segar dengan rambut sedikit basah tengah berjalan menghampirinya, sontak membuat Amber terkesiap. Carl! bagaimana bisa ia tertidur dengan pulasnya disini? Benar-benar sikap yanh teledor. Dengan cepat Amber duduk dan menggulung dirinya dengan selimut tebal.


Melihat Amber yang sudah terduduk dan menjaga jarak, Carl dengan perlahan duduk ditepian ranjang dengan raut wajah bingung dan tak menyangka. "Amber?" tanya Carl pelan. Namun Amber tampak menundukan wajahnya.


"Amber ada apa dengan mu? kau benar-benar menjual diri mu?"


Amber tampak menatap Carl dengan ragu namun terselip rasa benci yang begitu dalam. "Ya, aku wanita seperti itu sekarang," pekik Amber keras, namun mencoba tegar.


Carl menggelengkan kepalanya keras. "Tidak, aku tidak percaya itu."


"Mengapa Amber? apa ada sesuatu dengan keluarga mu?"


Amber berbalik, ia menatap Carl dengan kesal. "Bisa kah kau berhenti berbicara dan membiarkan aku membersihkan tubuh ku agar aku bisa cepat pulang?" Bukannya menyadarkan Carl, pria itu malah menghampirinya, menahan bahu Amber agar tidak meneruskan jalannya.


"Aku bisa membantu mu Amber. Apa keluarga mu mengalami sesuatu? kau bisa bercerita pada ku, kita ini teman." Teman? ingin rasanya Amber menampar mulut itu.


"Tidak, usaha keluarga ku masih berjalan baik, mungkin. Sudahlah Carl, jangan menghalangi aku." Amber menepis tangan Carl yang ada di bahunya.


"Lalu mengapa kau melakukan ini? Kau sangat menjaga jarak dan jika tidak putus asa kau tidak mungkin melakukan ini Amber!"


"Ya! aku sedang putus asa. Perjanjian kita sudah selesai dan jangan mempersulit ku, Carl!" teriak Amber. Carl yang menatap Amber merasakan jika wanita itu tengah rapuh, amarah yang seakan tengah menutupi kelemahannya. Seketika rasa bersalah Carl muncul, ia yang sudah menodai wanita itu untuk pertama kalinya, saat mereka merasa kecewa pada keadaan, namun Carl dengan egoisnya menyebarkan jika Amber yang menggodanya. Seketika Carl tersadar, kali ini ia memeluk Amber agar wanita itu terdiam.


"Carl," lirih Amber pelan, ia sudah lelah dan ingin segera pulang.


"Bagaimana dengan kabar anak yang dulu-" seketika amarah Amber kembali meluap, ia menatap Carl dan tidak menunggu ucapan Carl selesai.


"Aku sudah menggugurkannya. Lagi pula kau juga tidak ingin mengakuinya bukan?" teriak Amber marah.


"Bukan begitu Amber." Amber mengibaskan tangannya.


"Bahkan kau mengatakan pada orang-orang jika kau mengenakan pengaman saat itu! Pada kenyataannya tidak, Carl! kita berdua sadar dengan resiko itu dan kau sendiri yang menenangkan ku." Amber berontak saat Carl lagi-lagi hendak menahannya.


"Jika kau tidak membiarkan aku pergi, aku akan membongkar semua kelakuan busuk mu pada Ken."


"Amber, jangan seperti itu. Aku hanya ingin meminta maaf."


"Aku sudah tidak membutuhkan maaf Carl! hidup ku sudah berbeda." Carl menarik nafasnya dan membiarkan Amber masuk kedalam kamar mandi.


Dengan perasaan yang kacau, Carl berjalan menuju lemarinya, sofa. Suara getaran didalam tas Amber membuatnya sedikit mencuri pandang pada arah kamar mandi. Perlahan Carl membuka tas wanita itu, menemukan ponsel yang sudah hening tanpa getaran. Walaupun terkunci, namun Carl dapat melihat panggilan masuk itu. Amanda, 11 kali panggilan tak terjawab.


"Amanda?" gumam Carl, bukankah itu nama samaran? Getaran itu kembali, nama Amanda kembali muncul dilayar itu.


"Hallo Amber?" suara wanita itu seakan tak sabar. "Amber, bagaimana? apa kau sudah mendapatkan uang itu? bisakah kau transfer pada rekening ku sekarang juga? aku takut Earl semakin parah jika kita belum membayar diawal." Carl mengerutkan keningnya.


"Siapa Earl?" tanya Carl yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Kau siapa?" pekik seorang disebrang sana.