
Amber mengusap pelan kepala Earl lembut, pikiran Amber sedang sangat kacau hari ini. Setelah Operasi, Earl selalu saja rewel, sedangkan tabungan mereka cukup menipis untuk melakukan penginapan dan pemeriksaan rutin. Sudah dua hari ini Sean pergi keluar kota, pekerjaan Amber cukup terganggu dan cukup membuat kekesalan boss nya muncul, karena akhir-akhir ini Amber sering sekali ijin pulang saat Amanda menelpon tidak dapat menangani Earl. Seperti saat ini, Earl menangis kencang, tubuh mungil itu terasa tak nyaman jika hanya diam. Ia seakan kesakitan dan mencoba memberitahu Amber akan hal itu.
Setelah kepergian Carl, beberapa hari berlalu dengan cepat, pukul sembilan pagi dan itu artinya belum satu jam Amber di kantor namun harus kembali kerumah ini saat Amanda mengabari Carl. Amanda membuka sedikit tirai tebal yang menutupi satu-satunya jendela dilantai dua ini. Ia menghirup nafasnya perlahan, dan kini masalah hidup Amber seakan bertambah karena Carl sudah dua hari ini selalu mengganggu Amber kembali, mereka sudah sedikit tenang saat Carl pergi, namun kini, setelah satu minggu dan bertepatan Sean pun tak ada, Carl kembali datang. Amanda menatap Amber yang tengah fokus memasangkan infus pada Earl yang sedang dalam keadaan rewel, Amber membujuk Earl agar tenang dan mengusap kepala Earl lembut, membisikan kata-kata penenang yang belum menunjukkan kekuatannya.
“Apa kau tidak akan menemuinya saja?” tanya Amanda pelan, ia merasa iba juga pada Carl. Kini ia seakan sedang menghadapi seorang teman kabur dan suaminya datang menjemput, Carl tampak serius dengan tanggung jawabnya. Oh ayolah, setidaknya Amber menggunakan kesempatan itu untuk memanfaatkan uang pria kaya itu, ia menawarkan pengobatan Earl dan ia pun ayah dari Earl, “Dua hari ini dia diam didepan rumah, aku takut beberapa warga merasa terganggu dan gosip tentang kita semakin buruk.”
“Biarkan saja, aku tidak memerlukannya. Oh Earl, diamlah sebentar sayang, Mama tidak akan menyakiti mu.” Tangisan Earl semakin kencang, Amber berusaha sabar dan memeluk Earl lembut, mengusap helaian rambut yang sedikit ikal.
Amanda bergegas masuk kedalam kamar terbuka itu, raut wajahnya seakan baru mendapatkan ide, begitu bersemangat dan ceria. “Amber! Aku tahu cara mengatasi ini semua,” ujar Amanda cepat. Amber mengerutkan keningnya, menanti ucapan Amber selanjutnya. “Bagaimana jika kau memberikan kesempatan untuknya bertanggung jawab? Earl akan mendapatkan pengobatan yang layak, kau tidak perlu memasang infus itu lagi sendiri. Ya… anggap saja membantu keuangan kita. Selama Earl dirawat, kita akan mengumpulkan uang untuk pindah dari rumah ini, setidaknya mendapatkan yang lebih layak untuk tiga manusia.”
Amber menatap Amanda dengan tajam. “Tidak Amanda! Dia akan besar kepala. Lagi pula dia tidak serius mengatakan itu, lihat saja penampilannya yang seperti orang misterius.”
“Astaga Amber, bagaimana pun Carl harus melindungi privasinya, dia juga sudah membawa beberapa dokter bagus kemarin, walau pun kau sudah menolaknya keras ia tetap membawa dokter-dokter itu. Ini demi Earl juga! aku takut kita melakukan kesalahan untuk kesehatan Earl. Kau sudah seminggu ini banyak meminta ijin dipekerjaan mu karena Earl bukan? bagaimana jika kau mendapatkan surat peringatan lagi? Kau tidak bisa membeli obat-obat Earl,” bujuk Amanda. Amber menarik nafasnya keras, menatap Amanda dengan tajam.
“Tidak Amanda. Lagi pula Sean selalu membantu ku untuk kesehatan Earl,” tolak Amber.
“Ayolah Amber jangan mengandalkan Sean, kita tidak tahu mata-mata Deliah ada mana saja, kita akan sampai kapan seperti ini? Ada peluang dihadapan kita. Jika keuangan kita sudah membaik, kita akan membawa Earl kembali dan meninggalkan Carl. Anggap ini sebagai pembalasan mu, kau memberikan kesempatan, lalu kau pergi membawa Earl jika ia sudah benar-benar sembuh,” bujuk Amanda kembali.
Amber menatap Amanda tanpa fokus, pikiran sibuk mencerna ucapannya. “Apa semudah itu saat kita mengambil Earl kembali?” tanya Amber. Amanda tersenyum menang saat melihat Amber mulai terpengaruhi. Ia mendekat dan membisikan sesuatu ditelinga Amber, membisikkan sebuah rencana yang terdengar kejam dan tentunya sakit bagi Carl. Namun, tak ada yang lebih menyakitkan dari kisah hidup Amber karena ulah Carl.
***
Tubuh Carl langsung berdiri dari duduknya disebuah kursi kayu itu ketika pintu rumah terbuka, Amber keluar dari dalam rumah dan membuka pagar yang tidak terlalu tinggi itu. “Amber!" seru Carl tak menyangka. "Kau memberiku kesempatan bukan?” tanya Carl cepat saat menyadari Amber tidak langsung mengunci pagar kembali dan melewatinya keluar gang seperti biasanya. Wanita itu diam disamping pagar yang terbuka, menatap Carl dengan wajah datarnya.
“Masuklah, ada beberapa yang ingin aku bicarakan sebelum menerima pertanggung jawaban mu yang sudah kadaluarsa itu,” ujarnya tak acuh, namun membuat Carl dengan cepat mengangguk dan masuk kedalam rumah mengikuti Amber. Didalam sana sudah ada Amanda yang duduk dengan memeluk Earl, anak yang ingin sekali ia peluk, makhluk kecil yang mampu membuatnya melakukan hal sebesar ini. Sebastian Earl. Malaikat kecil yang berhasil menampar hidupnya dan menyadarkan Carl jika semua ini hanya sebuah obsesi pada wanita yang ia cintai sedari kecil itu. Ia sungguh beruntung menerima kesempatan ini kembali.
***
Malam pun tiba, Carl turun dari mobilnya yang berhenti didepan rumahnya, sedikit memutari badan mobil dan berdiri disamping Amber yang baru keluar dari dalam mobil. “Tenang saja, grandma sudah mengetahui ini, aku hanya perlu menjelaskan kembali pada Mom dan Daddy," jelas Carl. Amber melirik Carl dengan wajah gugup, sedikit menggenggam kuat dress mahalnya yang baru Carl berikan. Siang tadi mereka langsung kembali ke Los Angeles, Amber sebenarnya ragu untuk ini, namun rencana Amanda terdengar bagus, ia akan mencobanya dan jauh dilubuk hati Amber yang paling dalam ia akan tetap menutup hati pada Carl.
Kini ada yang terasa lebih berat didalam hatinya, ia akan kembali bertemu dengan keluarga Kenrich, namun sebagai pasangan Carl. “Bagaimana jika mereka marah atau tidak menyukai ku?” tanya Amber. Mereka semua orang-orang baik selama Amber bersama Ken, ia tidak siap melihat reaksi kecewa dengan membongkar semua rahasia ini, membayangkan mereka semua terkejut mendengar kabar Earl, cucu mereka yang kini sudah berada dirumah sakit terbaik di kota ini tengah memulai pengobatan baru yang tentunya lebih mahal dan terjamin.
“Tidak, mereka akan menyetuinya karena Earl sudah ada. Aku akan mengatakan sejujur-jujurnya dengan keadaan kita malam itu,” ucap Carl yakin. Amber lagi-lagi menarik nafasnya dan memangkan diri. Setelah cukup yakin dengan Carl, ia memberanikan diri untuk berjalan masuk berdampingan dengan Carl.
Langkah Carl yang awalnya sudah berani dan percaya diri harus terhenti saat memasuki ruang makan, matanya seakan langsung membola dan rasa tak karuan mulai terasa. Tubuhnya menegang seketika, dimeja makan itu terdapat Jessy, Justin dan Alex yang tak lain adalah keluarga Valerie, wanita yang sudah ia dambakan sedari kecil yang kini berhasil menikah dengan Ken. Semua diluar kendalinya, ia menjadi bingung dengan apa yang harus ia katakan. Ken melirik Agatha, neneknya memejamkan mata pelan sambil menggelengkan kepalanya lemah. Carl tahu, pasti Mommy nya yang sudah mengundang mereka. ‘Tenang Carl, tidak ada yang perlu ditutupi agar semuanya clear dan tidak ada kebohongan apapun.’
***
40 VOTE LANGSUNG NEXT BAB😚