The Story Of Amber

The Story Of Amber
Bab 39



Kecelakaan yang di alami Carl cukup parah, sebuah ambulan berhasil membawa Carl menuju rumah sakit terdekat dan langsung di tangani dengan sigap. Beberapa wartawan sudah berkumpul di luar rumah sakit dan beberapa lainnya di TKP. Kabar itu pun dengan cepat menyerang sosial media, bahkan beberapa televisi menyiarkan secara langsung berita kecelakaan ini.


Keluarga besar Alvaron pun dengan segera berangkat menuju Washington, bahkan mereka semua tak menyangka jika Carl berangkat sejauh itu mencari Amber. "Apa ada kabar terbaru tentang Carl?" Tanya Alicia histeris, ia tak bisa tenang dalam duduknya, ia sudah melihat mobil Carl yang hancur, Alicia tak bisa membayangkan kondisi Carl di dalam mobil itu. "Mereka harus menyelamatkan Carl!" Pekik Alicia.


"Carl akan selamat sayang, jangan berpikiran yang buruk, dia kuat dan aku sudah meminta penangan terbaik untuk Carl," ucap Richard berusaha menenangkan Alicia, ia mengusap bahu Alicia lembut sambil memejamkan matanya, dalam hati Richard sama halnya dengan Alicia, ia panik dan marah, namun sebisa mungkin Richard menahannya.


Agatha mengepalkan tangannya yang berkeringat, tubuhnya bergetar hebat mendengar kabar tak diduga tersebut. Ken dan keluarga Valerie pun semuanya ikut dalam penerbangan menuju Washington. "Carl, bertahanlah," gumam Agatha pelan. Ken yang mendengar gumaman itu merangkul pelan bahu Agatha, dalam hati kecil Ken sangat yakin Agatha begitu terpukul dengan apa yang menimpa Carl, cucu yang paling ia sayang dan tidak pernah membantah, tidak seperti Ken yang selalu membuat masalah dalam keluarga.


"Carl akan baik-baik saja," gumam Ken pelan, sebelah tangannya lagi menggenggam tangan Valerie yang berada di sampingnya.


~


"Tenang saja Amber, aku sudah mendapatkan rumah yang jauh dari perkotaan, kita tinggal di tempat yang nyaman, dekat pantai, kau pasti akan menyukainya Amber," ucap Amanda.


Amber tak menjawabnya, ia memeluk Earl dengan erat dan mereka keluar dariĀ  bandara. Amber melambaikan tangannya pada sebuah mobil berwarna hitam yang tampaknya memang sudah menunggu mereka. Saat pintu itu terbuka, kedua alis Amber langsung bertaut. "Sean?" Tanya Amber bingung, ia menolah kearah Amanda seakan meminta penjelasan. "Bukankah kau pernah mengatakan hanya kita berdua? Jika begini hidup ku akan seperti dulu Amanda! Deliah akan mengganggu ku lagi," ucap Amber, ia bukan marah karena kehadiran Sean, namun ia marah dengan Amanda yang melanggar ucapannya sendiri.


"Kita akan membahas ini di mobil Amber, aku akan menjelaskan semuanya, ayo kita masuk dulu."


Amber membuang wajahnya, ia memhembuskan nafas dengan kasar dan berjalan mengikuti Amanda. "Amber!" Pekik Sean. Amber menggelengkan kepalanya saat Sean hendak memeluknya, ia memberitahu jika Earl sedang tertidur. "Ah, ya, aku dengan Earl sudah sembuh total," ucap Sean lembut.


"Ya, Earl sudah sembuh total," jawab Amber. Ia pun masuk ke dalam mobil dan duduk disamping Amanda, hatinya semakin tak tenang dan ia tak memegang ponsel sama sekali. Kini Amber merutuki kebodohannya, mengapa ia tak meninggalkan surat agar Carl tak mencemaskannya? Sebagian diri Amber menertawakan pemikiran itu, apa yang akan ia tulis? Mengatakan jika dirinya hanya memanfaatkan Carl untuk kesembuhan Earl dan juga mencuri 200 dollar untuk kehidupannya beberapa tahun ini? Amber menghela nafasnya pelan, ia menatap jalanan melalui jendela mobil, perkataan Amanda membuatnya yakin, namun seketika ia kembali ragu untuk meninggalkan Carl. 'Jangan terlalu dipikirkan, apakah dia memikirkan mu saat kau hamil dulu? Tidak Amber, dia langsung pergi dan tidak memikirkan keadaan mu sama sekali.' Kata-kata itu yang berhasil membawa Amber kesini, seakan mengingatkan Amber pada kebenciannya dulu, namun tak bisa di pungkiri pula jika Amber masih begitu mencintai Carl.