The Story Of Amber

The Story Of Amber
Bab 42



Setelah cukup lama berbaring dan memejamkan matanya, kini jemari Carl bergerak samar. "Mom, Carl sudah sadar!" Teriak Ken pada Alicia, di ruangan ini masih cukup ada beberapa orang yang selalu menanti kesembuhan Carl.


Alicia dengan cepat berjalan kearah ranjang Carl, sayup-sayup Carl mulai membuka matanya, cahaya mulai bisa ia lihat. "Carl, sayang, kau sudah siuman?" Tanya Alicia yang terdengar begitu khawatir dan juga gembira.


Kepala Carl terasa begitu berat, badannya terasa lemas. "Mom akan memanggil Dad terlebih dahulu, kau panggil dokter sayang" ucap Alicia begitu antusias pada Ken, ia berjalan dengan cepat keluar kamar Carl, menyusul Richard yang sedang makan siang di bawah bersama Agatha.


"Biar aku saja sayang," ucap Valerie membantu Ken, ia mengambil ponselnya dan menghubungi Dokter yang biasa datang setiap pagi untuk memeriksa perkembangan Carl. Sudah tiga bulan ini Carl berbaring tak sadarkan diri, sebulan pertama Carl dibiarkan tidur di rumah sakit Washington, namun karena jarak yang lumayan jauh dengan tempat kerja semuanya serta beberapa wartawan yang terus berdatangan membuat Carl di pindahkan ke rumah sakit Los Angeles dengan perawatan yang lebih baik, berbagai usaha sudah mereka tempuh, mendatangkan berbagai Dokter terbaik dan selalu mendapatkan hasil yang sama, Carl tak pernah sadar semenjak kecelakaan itu, hanya selang yang terus menempel di tubuh Carl.


"Kau bisa mendengar suara ku?" Tanya Ken, Carl tampak mengerjapkan matanya beberapa kali, ia menatap sekeliling, tubuhnya begitu lemas dan rasanya terasa hampa.


"Amber?" Pertanyaan itu menjadi kata awal yang Carl ucapkan, Valerie yang baru selesai dengan ponselnya berjalan mendekati ranjang Carl. "Dimana Amber?" Tanya Carl kembali.


"Tidak bisakah kau fokus pada diri mu sendiri? Kau hampir mati hanya karena mencari wanita itu!" Ucap Ken kesal, Valerie hanya bisa menenangkan Ken dengan mengusap lengan suaminya.


Carl menggelengkan kepalanya lemah, raut wajahnya seketika panik. "Amber belum kembali? Sejak kapan aku berbaring disini? Aku harus mencari Amber kembali!" Carl mulai memberontak dengan tenaganya yang lemah, ia berusaha melepaskan selang infus ditangannya.


"Carl! Sadarlah, Amber ingin bebas dari mu, jika dia benar mencintai mu seharusnya ia kembali pada mu, mengurus mu yang berbaring 3 bulan disini! Tapi apa? Dia sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya!"


"Sayang!" Bisik Valerie lumayan keras, ia menggelengkan kepalanya pada Ken. "Carl baru sadar, jangan menggunakan nada keras padanya," bisik Valerie mulai melemah.


"Apa? 3 bulan? Tidak mungkin selama itu, Amber pasti sedang menunggu aku menjemputnya, dia pasti diculik, apa kalian tak mencarinya? Amber dan Earl sedang ketakutan dan menunggu ku!" Carl mulai histeris, ia berusaha bangkit dari tidurnya, tangan Carl menyibak selimut dengan cepat bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka, disama kedua orangtua dan neneknya datang dengan wajah bahagia.


Agatha berjalan dengan cepat kearah Carl, ia hendak memeluk Carl namun dengan cepat Carl menggelengkan kepalanya. "Cucu ku sayang, ada apa? Aku sangat merindukan mu," gumam Agatha pelan.


"Ada apa ini semua?" Tanya Carl tampak bingung, ia mengalihkan pandangannya pada kedua kaki yang hanya diam diatas ranjang, ia kesulitan untuk beranjak pergi, kedua kakinya seakan tak berfungsi dengan perintah otaknya. "Ada apa dengan kaki ku? Aku tak merasakan apa-apa," gumam Carl, suaranya terdengan bergetar lalu pelukan Agatha mulai Carl rasakan.


"Apa aku lumpuh Grandma?" Tanya Carl tak percaya, ia menatap semua orang yang ada disekitarnya dengan tatapan penuh tanda tanya, hatinya seakan remuk melihat semua orang hanya terdiam. "Apa aku lumpuh? Aku lumpuh!" Carl mulai berteriak.


"Dokter sedang diperjalanan sayang, biar dia memeriksa mu terlebih dahulu," ucap Alicia, matanya terlihat berkaca-kaca.


"Mom—" panggil Carl. "Aku harus mencari Amber dan Earl, mereka sudah menunggu ku, tapi kaki ku—"


"Sayang, tenang, kaki mu baik-baik saja, kita bisa melakukan terapi, Mom akan selalu menemani mu hingga kau bisa berjalan kembali," bisik Alicia lembut, mencium kepala Carl dengan pelan sambil menahan air matanya.


"Tapi Amber bagaimana Mom? Earl sedang apa? Aku merindukan mereka!" Pikik Carl, hatinya terasa begitu sesak, ia mulai terisak ketika tangan memukul kakinya, hampir tak bisa merasakan sakit apapun.


Richard menarik nafasnya dalam, melihat keadaan Carl yang serapuh ini membuatnya tak tega. "Sudahlah Carl, relakan saja Amber dengan pilihannya, dia tak datang sama sekali untuk melihat keadaan mu, fokus dengan pengobatan mu," ucap Richard.


Carl menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia tertawa perih ditengah tangisnya. "Merelakan? Tidak Dad, Amber dan Earl milik ku, mereka mencintai ku, apa kalian tak melihat kebahagian keluarga kecil ku? Ini semua seperti mimpi, aku kembali kehilangannya." Suara Carl mulai melemah, ia menangis, sudah tak ada lagi rasa sakit yang bisa melebihi ini. Rasa sakit dan kehilangan yang Carl rasakan sepertinya akan menjadi trauma untuk Carl.


Ken tak mampu melihat Carl serapuh ini, ia kesal pada semua hal buruk yang menghancurkan Carl. "Sudahlah Carl, tak perlu menangisi wanita yang meninggalkan mu, fokus pada kesembuhan mu, dokter saja mengatakan masih ada kesempatan untuk kau bisa berjalan kembali. Lagi pula jika kau mencari Amber sekarang apakah Amber akan mau bersama pria yang duduk dikursi roda? Jika wanita itu tulus mungkin saja masih memilih bersama mu, kau sehat saja wanita itu meninggalkan mu," ucap Ken tanpa sadar meluapkan kekesalannya. "Fokuslah pada diri mu terlebih dahulu," lanjut Ken mulai melemah, ia memejamkan matanya sesaat, Valerie memeluknya dengan pelan.


"Kau benar, aku hanya akan merepotkan Amber. Lalu mengapa aku tak langsung mati saja? Ngapa aku harus lumpuh dan tak berguna seperti ini?" Balas Carl sambil berteriak pada Ken.


"Carl! Jangan bicara seperti itu sayang, kita semua ada untuk mu, jangan pernah bicara seperti itu lagi," ucap Alicia menenangkan.


Carl terdiam, ia sudah tak mengerti lagi apa yang harus ia lakukan dalam hidupnya, semuanya sudah hancur, harapannya, mimpi-mimpinya, jangan tanyakan karir, semuanya seakan tak ada lagi yang bisa membuat Carl semangat.