The Story Of Amber

The Story Of Amber
Bab 24



Selesai makan malam, Amber dan Carl pulang ke apartemen mereka. Selama di perjalanan mereka membahas tentang kejadian-kejadian lucu yang mereka alami tadi saat di rumah Ken. Keadaan canggung yang biasanya tercipta kini tak ada lagi. "Amber," panggil Carl. Amber yang tengah tertawa kecil pun menoleh ke arah Carl. "Aku baru ingat belum memberi mu kartu untuk kau belanjakan setiap bulannya," ucap Carl.


Amber mengerutkan keningnya pelan. "Kartu untuk apa?" tanya Amber.


"Mulai besok aku tidak bisa menemani mu ke rumah sakit sayang, aku mulai kembali syuting, namun aku usahakan setiap malam aku akan pulang. Aku memberikan mu kartu dan mobil untuk kau gunakan sehari-hari. Gunakan sebanyak apapun yang kau mau, jangan terlalu lelah, kau perlu sedikit refreshing sayang. Bulan depan Earl sudah bersama kita di apartemen," ucap Carl lembut.


Sesampainya di rumah, benar saja, Carl memberikan beberapa kartu miliknya dan sebuah kunci mobil. "Apa ini tidak terlalu banyak?" tanya Amber bingung. Ia tidak tahu harus menggunakan untuk apa saja kartu itu, biaya pengobatan Earl saja sudah sangat cukup bagi Amber, dan sebuah mobil cukup membantu perjalanan menuju ke rumah sakit. "Aku hanya butuh kunci mobil saja," ucap Amber kemudian, ia mengambil kunci itu dengan cepat.


Carl menggelengkan kepalanya, "Kau bisa menggunakannya untuk membeli pakaian Earl yang baru, perlengkapan Earl. Oh ya sayang, besok akan ada seorang wanita bernama Talita kemari, kau bicarakan saja padanya tentang desain kamar untuk Earl."


Pupil mata Amber cukup membesar mendengar itu, Carl sudah cukup melakukan banyak hal untuk Earl dan dirinya. Dan apa tadi? Desai kamar? Hanya sebuah kamar anak kecil saja memerlukan seseorang untuk mengerjakan nya? Amber dengan cepat menghilangkan kepalanya. "Tidak Carl, ini terlalu berlebihan, Earl bisa tidur dikamar kita bukan?" tanya Amber.


Carl menaikkan sebelah alisnya, "Kau yakin?" tanya Carl seolah ragu.


"Ya. Mengapa aku harus tidak yakin?" tanya Amber bingung.


Carl tersenyum penuh maksud, ia pun merapatkan duduk mereka. "Kau yakin Earl tidak akan terganggu?" kekeh Carl, tangannya mengusap pelan rambut Amber.


Seketika wajah Amber pun bersemu merah. Ia memukul lengan Carl dengan pelan. "Astaga Carl! Apa yang kau bicarakan!" Pekik Amber kencang.


Mata Amber pun menatap tajam Carl. "Kesayangan apa?" tanya Amber cepat. Ia tidak ingin hal-hal manis seperti itu, terlalu sulit untuk melupakannya nanti.


"Apapun itu, sayang, cinta, suami ku," kekeh Carl.


Dengan cepat Amber menggelengkan kepalanya keras. "Tidak Carl! Kita sudah memiliki anak, jangan bersikap manja seperti itu," gerutu Amber, wajahnya masih bersemu merah, ada rasa bahagia di hatinya, ia saya akan menikmati masa ini, membebaskan dirinya untuk merasakan bahagia.


"Ayolah, aku ingin sekali mendengar mu mengatakan sayang pada ku," rengek Carl, ia memasang wajah yang menurut Amber menggemaskan.


"Tidak Carl, aku lelah, lebih baik kita beristirahat, besok kau mulai berangkat syuting bukan?"


Carl menganggukan kepalanya. "Hanya satu ucapan Amber, aku ingin mendengarnya, aku berjanji setelah itu kita istirahat," bujuk Carl.


Amber pun akhirnya menghembuskan nafasnya pelan. Ia menoleh kearah Carl. Wajah mereka cukup dekat, mata itu seakan mampu membuat Amber tersesat. Baiklah Amber tak munafik, ia masih menaruh perasaan itu di dalam hati, namun hanya kecil, dan Amber yakin ini hanyalah percikan kecil yang ia rindukan. "Aku mencintai mu," ucap Amber tanpa sadar.


Carl pun tersenyum lebar, ia memeluk Amber dengan lembut. "Padahal aku hanya ingin mendengar mu memanggil ku sayang, tapi kau rupanya kau mengucapkan hal yang lebih manis," bisik Carl sambil terkekeh. "Aku juga mencintai mu."


'Deg' jantung Amber seakan berhenti sejenak. Rasa ini kembali, jatuh cinta yang seharusnya tak boleh ia rasakan kembali. Apa yang harus ia lakukan?