
Carl selalu pulang tengah malam dan berangkat pagi buta, membuat Amber dengan sigap selalu mempersiapkan keperluan Carl, ia tidak akan tidur jika Carl belum pulang dan Amber akan langsung menyiapkan makan malam walaupun terkadang Carl selalu protes karena sudah makan malam diluar, seperti saat ini. “Sudah aku bilang berapa kali sayang, tidur lah, tak usah menunggu ku pulang, kau sudah lelah dirumah sakit dan aku tidak ingin waktu tidur mu juga terganggu,” gerutu Carl, walau dengan rasa tak suka melihat Amber yang selalu bergadar karena menantinya, Carl tetap memakan masakan Amber.
Kini mereka berada di meja makan, Carl merasa bersalah jika sudah pulang selarut ini, hanya beberapa kali ia pulang lebih awal, namun akhir-akhir ini memang lebih banyak ia habiskan di lokasi syuting. “Jangan berlebihan Carl, aku dirumah sakit hanya duduk dan menjaga Earl,” jawab Amber, ia memberikan segelas air putih pada Carl. “Aku tidak sabar 2 hari lagi Earl sudah bisa pulang, kita hanya ke rumah sakit beberapa kali saja dalam sebulan,” kekeh Amber.
Selama hampir sebulan ini, Amber mulai cukup terbiasa dengan Carl, mereka sudah semakin dekat dan tak canggung kembali. Walaupun Carl tengah sibuk ia selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Amber melalui vidio call dan ikut memantau Earl. “Ya sayang, mom sudah sangat menanti Earl. Minggu depan aku ada syuting di London, hanya beberapa hari saja, aku harap kau dan Earl bisa ikut bersama ku,” ucap Carl, kini ia menatap fokus kearah Amber.
“Aku akan ikut kemana pun kau pergi,” jawab Amber membuat senyum Carl semakin mengembang. Carl pun terlihat menghabisakan air putih tersebut.
“Sekarang lebih baik kita tidur, aku akan meminta ijin untuk libur lusa.”
“Apa boleh meminta ijin mendadak seperti itu?” tanya Amber.
Carl menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Tentu saja boleh. Aku bekerja untuk Earl mulai sekarang, dan segala yang menyangkul Earl adalah nomor satu untuk ku,” jawab Carl dengan tegas. Mereka pun menyelesaikan perbincangan dan masuk ke dalam kamar. Malam ini pun seperti biasanya, Carl memeluk Amber dan mereka tidur dengan nyenyak.
Hari yang ditunggu pun tiba, hari ini mereka dan keluarga besar Carl ikut menjemput kepulangan Earl. Mereka semua berkumpul di rumah Richard, mereka semua berbincang dan makan bersama, Earl bermain bersama Alicia dan Richard, sedangkan Amber dan Carl berkumpul bersama Valerie dan Ken. "Apa kalian akan pindah rumah?" Tanya Valerie.
Carl menggelengkan kepalanya, "Aku dan Amber merasa di apartemen cukup untuk kami bertiga," jawab Carl. "Sebenarnya aku ingin pindah, namun istri ku yang mandiri ini selalu saja menolak rencana itu," kekeh Carl membuat Amber berusaha menahan senyumnya muncul.
"Aku hanya tidak merasa nyaman jika rumah terlalu besar sedangkan Carl mulai sibuk kembali dengan pekerjaannya. Aku hanya berdua dengan Earl, dan di dalam apartemen lebih terasa nyaman," jawab Amber sambil tertawa kecil.
Mendengar itu raut wajah Valerie seketika bersemangat, ia menganggukan kepalanya dengan cepat. "Benar sekali! Kadang aku merasa bosan hanya sendirian di rumah, ya walaupun ada beberapa pelayan, namun tetap saja ada rasa bosan. Menurut ku rumah yang aku tempati sekarang terlalu besar," ucap Valerie.
Ken dengan cepat menghilangkan kepalanya. "Tidak sayang, rumah itu sudah sangat pas, kita akan memiliki banyak anak nantinya," protes Ken. "Tidak mungkin kita membiarkan si kecil ini tanpa teman," lanjutkan sambil mengelus perut rata Valerie.
Mereka semua pun tertawa mendengar itu, Amber menolehkan kepalanya mencari Earl, senyum Amber pun mengembang, di sana Earl sedang tertawa bersama Alicia Richard dan juga Agatha.
"Oh ya Carl. Jeff akan mengadakan acara pelepasan masa lajang di London, bukankah minggu depan kalau sudah di London? Kalau akan menghadiri acara itu?" Tanya Ken.
Carl menganggukkan kepalanya, "Tentu saja, aku akan membawa Amber, apa kau akan datang?" tanya Carl.
"Itu dia masalahnya, aku harus ke Paris minggu depan, sepertinya aku tidak akan datang," jawab Ken.
"Hai! Maaf kami terlambat," teriak Justin saat masuk ke dalam ruangan keluarga, membuat semua orang yang ada di dalam mengalihkan perhatian mereka.
Richard terdengar berdecak pelan. "Tidak bisakah suara mu sedikit pelan? Kau membuatku terkejut!" Desis Richard. Tanpa disadari semuanya langsung mengeluh, jika keduanya sudah bertemu, pasti akan ada pertengkaran kecil yang akan terjadi. Percayalah, Justin dan Richard tidak pernah akur sedari dulu.