
Amber melirik jam dan melingkar di tangannya, jantungnya berdebar tak karuan saat ia merasa sudah tiba waktunya Amber dan Carl akan berbincang kembali. "Baik anak-anak, sebelum aku menutup pelajaran ini, ada kah yang ingin kalian tanyakan?" Tanya Amber. Namun jawabannya masih sama seperti sebelumnya, mereka pun untuk cepat selesai dan tak ingin banyak bertanya lagi.
Amber keluar dari kelas, disana ia langsung menatap pemandangan yang membuatnya tersenyum. Earl tampak begitu akrab dengan Carl, ia bermain dengan robot dan mobil baru, sedangkan Carl tampak bahagia merekam semua kegiatan Earl. "Ayo kita kembali ke rumah, aku akan memasak makan siang untuk kalian," ucap Amber membuat dua laki-laki itu menoleh.
Carl membantu Amber merapikan mainan tersebut dan mengembalikannya pada box seperti semula. Mereka pun berjalan bersama kembali menuju rumah. "Kau bisa bermain di ruang khusus bermain Earl, aku akan memasak," ucap Amber. Carl hanya menganggukkan kepalanya mengerti, ia lebih menikmati halaman rumah Amber saat mereka memasukinya.
Amber membuka pintu rumah, merekapun masuk dan Amber menunjukkan pada Carl dimana letak kamar bermain Earl. "Kalau begitu aku akan masak terlebih dahulu," ucap Amber lalu berbalik dan meninggalkan Carl dan Earl.
Carl menatap sekeliling kamar bermain tersebut, Carl yakin jika Earl bertumbuh dewasa ruangan ini akan berubah menjadi ruang musik. "Siapa ini?" Tanya Carl sambil menunjuk sebuah foto dua anak kecil yang tengah berdiri sambil tersenyum.
"Dia Angel, sangat cantik bukan?"
"Ya, cantik sekali. Mengapa kau tidak bermain dengannya?"
Earl menggelengkan kepalanya, ia berjalan mendekati Carl. "Dia sudah pergi kembali paman, tahun depan kau harus kemari untuk melihatnya."
"Baiklah, sesuai permintaan mu aku akan sangat sering berkunjung kemari," ucap Carl.
"Oh ya paman, kau memiliki ponsel?" Tanya Earl.
"Tentu saja, ada apa?"
"Aku ingin menelfon Angel, boleh aku meminjamnya?" Tanya Earl.
Carl mengeluarkan ponsel miliknya dan memberikannya pada Earl. "Kau mempunyai nomor Angel?" Tanya Carl bingung.
"Tentu saja," kekeh Earl. Ia berlari membawa ponsel Carl dan mengambil sebuah buku kecil di laci miliknya. Tampak jelas Earl menyalin nomor yang ia tulis ke ponsel.
"Earl, kalau begitu aku akan menemui Mom sebentar," bisik Carl pelan. Ia pun keluar dari ruang bermain itu dan mencari letak dapur.
Carl masuk dengan perlahan, ia berjalan mendekati Amber yang tengah memotong beberapa sayuran. "Astaga Carl, kau membuat ku terkejut!" Pekik Amber.
"Earl sedang asik menghubungi temannya. Mengapa kau tidak memberikannya ponsel?" Tanya Carl.
Amber tampak menghembuskan nafasnya pelan, ia menggelengkan kepalanya. "Menurut ku Earl tidak perlu memiliki ponsel sendiri untuk saat ini, mungkin aku akan memberikannya pada saat ia 13 tahun," jelas Amber.
Carl hanya mengangguk pelan, matanya menyusuri wajah Amber yang menurut Carl bertambah cantik. "Kau cocok dengan warna rambut mu yang baru," gumam Carl.
"Terima kasih, tapi aku merindukan warna rambut ku yang asli," kekeh Amber.
"Aku pun merindukan mu," kekeh Carl membuat Amber menoleh dan tertawa pelan.
"Astaga kau ini," ucap Amber. "Apa yang kau rindukan dari ku?" Tanya Amber memberanikan diri.
"Semuanya, aku merindukan saat kita menikah, aku melihat mu di pagi hari, kita bermain dengan Earl kecil, makan malam bersama, setiap malam kau memeluk ku—"
"Tidak, kau yang memeluk ku!" Protes Amber membuat keduanya tertawa.
"Ya, baiklah, setiap malam kau memeluk ku, dan setiap melihat mu memasak aku memeluk mu dari belakang, bahu mu tempat ternyaman ku," ucap Carl yang kini mulai menyerupai bisikan. Amber pun menghentikan kegiatan memotongnya, ia menatap Carl yang kini menatapnya penuh kerinduan. "Aku merindukan mu, setiap malam aku selalu dihantui kebodohan ku yang membiarkan mu pergi ke taman pagi itu, andai saat pagi itu aku tak tidur kembali dan berada di dekat mu terus—"
"Carl, kita tidak akan pernah membahas masa lalu bukan? Aku pun selalu di hantui rasa bersalah yang—" ucapan Amber terhenti saat tiba-tiba saja Carl mendekatkan wajahnya, bibir itu membungkam suara Amber. Jantungnya berdebar tak menentu, desiran halus mulai ia rasakan di seluruh tubuhnya.