The Story Of Amber

The Story Of Amber
Bab 10



Amber memijat keningnya pelan, ia baru saja berhasil mengusir Carl dari rumahnya. Dan kini, Amanda yang membuat pening. "Jadi ayah Earl adalah Carl? Amber! Carl sangat terkenal dan tentunya sangat kaya, mengapa kau tidak mengatakan padanya jika Earl sakit? kita memerlukan uang bukan?" tanya Amanda. Ia sedikit gemas karena Amber hanya diam dan tak bergeming, wanita itu hanya duduk dan memijat keningnya.


Amanda berjalan mendekati Amber, lalu duduk dihadapan Amber. "Mengapa dulu kau memilih untuk pergi dan tidak memaksa Carl untuk bertanggung jawab? kau bisa menuntutnya atau mengancam akan merusak karir Carl jika ia tidak ingin bertanggung jawab?"


Amber menghela nafasnya beras, ia menggelengkan kepalanya. "Semua ini begitu rumit Amanda, aku tidak bisa berpikir jernih bahkan pada keluarga ku saja aku tidak berani mengatakan Carl ayah dari bayi ku," lirih Amber.


"Mengapa? kau lebih memilih menyulitkan hidup mu sendiri demi menjaga nama baiknya?" tanya Amanda tak mengerti dengan jalan pikir Amber. Apakah begitu susah mengatakan sejujurnya pada keluarga Amber?


Amber mengerjapkan matanya beberapa kali, matanya mulai berkaca, rasanya begitu sesak dan pilu jika harus mengenang kembali masa itu. "Bagimana perasaan mu jika kau menjadi ayah ku. Aku memiliki kekasih seroang CEO, ia tampan, sempurna dan keluarganya sudah menerima aku. Ayah ku sangat setuju dengan hubungan ku dan Ken, namun ia terlalu sibuk dan tidak memikirkan perasaan ku, sudah terlalu banyak janji yang ia lupakan. Sedangkan Carl, ia selalu disisi ku, dan kami melakukan kesalahan,,, dan aku,,, aku sendiri tidak mengerti mengapa semua ini bisa terjadi!" pekik Amber.


Amanda menutup mulutnya sendiri, ia terkejut dengan pernyataan Amber. "Astaga Amber- kau?" bahkan Amanda tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. Semua ini terlalu rumit dan, apa? dengan adik kekasih mu sendiri! oh yang benar saja, ini lebih menyakitkan dari melihat kekasih mu berselingkuh dengan seseorang yang tidak kau kenal.


"Ya. Aku tidur dengan adik kekasih ku sendiri, dan sialnya itu semua membuahkan karma untuk ku, aku hamil dan Carl pergi. Apa kau bisa membayangkan aku datang kerumah Ken, mengatakan aku hamil, namun bukan ulah Ken melainkan Carl! Tidak, aku sudah cukup buruk dimata Ken, aku tidak ingin keluarga baik itu menatap aku penuh kebencian," isak Amber, ia menghapus air mata yang mengalir di pipinya. "Aku memang wanita jal-"


"Oh Amber, sayang ku, tidak! kau wanita baik, kau memilih membesarkan Earl dan mempertaruhkan semuanya demi Earl, kau seorang ibu yang penuh perjuangan," ucap Amanda, ia memeluk Amber yang terisak. Mengusap pelan kepala Amber dengan lembut. "Pria yang membuat mu seperti ini, kalau begitu aku tidak akan mengijinkan mu jatuh cinta pada siapa pun Amber,, aku tidak ingin melihat mu disakiti, kau pantas bahagia, kita akan membesarkan Earl dan mengajarinya menjadi seorang pria tanggung jawab," lirih Amanda.


***


Carl merutuki semua sikap egoisnya yang bodoh. Ia terlalu terobsesi pada Valerie dan membuat wanita itu menjadi target balas dendam Ken. Beberapa perkataannya yang mencoba menggagalkan pernikahan mereka membuat Carl bersalah, mengatakan seolah-olah Valerie wanitanya dan membuat Ken berfikir yang tidak-tidak tentu saja akan membuat kebahagian Valerie sedikit terancam. Ia hanya bisa berharap perkataannya tempo lalu tidak berdampak apa-apa bagi Valerie.


“Carl, beristirahatlah dan fokus pada meeting besok,” peringat Chris. Carl mendesah pelan dan bersandar dikursi mobil. Entah keputusan apa yang harus ia ambil.


“Menurut mu bagaimana jika aku mengatakan pada kaeluarga ku jika aku sudah memiliki anak berusia dua tahun?” tanya Carl pelan.


Chris menggelengkan kepalanya pelan, karir yang sudah mencapai kesuksesan seakan tidak berarti bagi Carl. “Lalu kau akan membiarkan keluarga mu tahu jika tiga tahun yang lalu kau dan Amber mengkhianati Ken?” tanya Chris pelan. Mungkin ia sedikit terkejut awalnya dengan semua kenyataan ini, namun inilah dunia yang sesungguhnya. Semua yang tidak pernah terlintas dipikiran mu akan mungkin saja terjadi.


“Aku merasakan ikatan kuat dengan Earl, kau percaya, dia menatap ku dengan segala harapannya. Aku tidak pernah seperti ini dan aku merasa jatuh cinta dengan anak ku sendiri.”


“Carl, berpikirlah dengan jernih. Aku tahu kau dan Earl memiliki ikatan batin antara seorang anak dan ayah, namun apa kau pernah memikirkan semua dampak dari rencana mu barusan?” Carl terdiam, ini yang membuatnya pening, semuanya terlambat dan terasa membebani, pilihan yang ia harus pilih begitu sulit. “Keluarga mu akan kecewa dengan mu, lalu media akan menyorot anak itu. Semua pemberitaan yang tengah beredar akan menjadi boomerang untuk mu. Para netizen akan melemparkan cacian mereka untuk mu saat mengetahui kau memiliki anak dari pacar kakak mu sendiri.”


“Chris, kau membuat ku semakin sulit,” gumam Carl, ingin rasanya ia acuh dan kembali fokus pada karir nya, namun kondisi Earl menghantuinya. Ia ingin memeluk tubuh mungil itu sekali saja, membisikan beberapa kata maaf yang tidak ada gunanya bagi siapapun. Namun hanya itu yang ingin Carl lakukan sekarang.