
Seperginya Ken, Amber langsung menolong Carl melihat wajah lebam itu. "Jangan dengarkan ucapan Ken, aku benar-benar mencintai mu dan ini bukan balas–"
"Bisakah kita tidak membicarakan itu? aku sudah biasa mendapatkan kata-kata pedas, jangan khawatir." Agatha datang membawa P3K, dan Amber dengan cepat menerima kotak itu, ia mengambil kapas dan membersihkan darah yang keluar dari sudut bibir Carl. "Mengapa kau hanya diam dan tidak melawan? kau ingin mati ditangan kakak mu sendiri?" tanya Amber dengan nada keras.
Carl menggelengkan kepalanya, "Aku sadar ini semua salah ku, tidak apa-apa, Ken hanya mengeluarkan kekesalannya pada ku, dia tidak akan membunuh ku," jawab Carl, matanya kini menatap Amber dengan lekat. Membuat Amber merasakan sesak dan ingin memeluk Carl untuk memberikan ketenangan, namun tidak mungkin, ia tidak ingin memberi luka pada hatinya sendiri.
"Jangan bodoh Carl, dia sangat marah," desis Amber pada akhirnya. Kembali mengobati Carl.
Setelah selesai mengobati, Amber dan Carl berpamitan pada Agatha. Mereka masuk kedalam mobil Carl dan sang supir langsung melajukan mobil tanpa menunggu perintah Carl. Amber menoleh kearah Carl yang tengah menutup matanya sambil bersandar. "Apa kau yakin ingin meneruskan ini?" tanya Amber ragu,
Carl membuka matanya perlahan, ia menoleh kearah Amber sambil terkekeh. "Apa ini semua akan membuat ku menjadi ragu? kita sudah jujur pada semuanya, hanya menunggu waktu yang tepat agar semuanya menerima keadaan kita.
"Bagaimana jika keluarga mu tidak merestui pernikahan kita?" tanya Amber kembali, ia masih ragu dan tidak merasa yakin dengan ini semua.
"Aku akan tetap menikahi mu dengan atau tanpa restu keluarga ku. Aku berjanji akan menebus semuanya Amber, kita akan menjadi keluarga kecil yang bahagia. Terimakasih sudah memberikan kesempatan ini pada ku," ucap Carl tulus. Ia menggapai tangan Amber dan mengelusnya pelan.
Lima hari kemudian.
Carl menatap Earl yang begitu terlelap tidur, tangan Earl seakan tidak pernah lepas dari Amber, wanita itu selalu menggenggamnya dan mencium punggung tangan mungil itu. Wajah Amber tak lepas dari rasa bahagia dan haru. “Earl selalu rewel dipagi hari, dan sekarang melihatnya tidur seperti ini membuat ku senang,” ujar Amber.
Carl tersenyum dan mengelus tangan satu Amber yang terbebas di atas ranjang Earl. “Aku pastikan Earl akan sembuh kurang dari satu tahun. Dia anak yang kuat seperti dirimu,” ucap Carl tulus.
Amber tersenyum menatap Carl, “Terimakasih,” ujarnya pelan, lalu menatap Earl kembali. Amber menelan salivanya dengan kasar, ia begitu risih dengan tangan Carl yang menyentuhnya. Entah mengapa, rasanya tak nyaman dan hatinya tak karuan. 'Tidak bisakah pria ini tidak terlalu dekat dan banyak bicara?' batin Amber. Namun senyum harus tetap ia tampilkan, bagaimana pun biaya Earl akan ia tanggung dan keuangan Amber akan membaik.
“Siang ini kita harus mencoba kembali baju pengantin yang kita pilih. Kau butuh istirahat juga sebelum hari pernikahan kita. Beberapa hari ini kau selalu tidur dan mengawasi Earl, aku tidak ingin kau sakit menjelang hari pernikahan kita,” ucapannya, perlakuannya begitu sangat tulus dan lembut. Carl sudah mulai mencintai Amber sangat dalam, menerima Amber kedalam hatinya menggantikan nama Valerie yang sudah mulai ia lupakan. Earl, anak kecil itu mampu membuat Carl berubah, bahkan membuat Carl berangan jika mereka akan menjadi keluarga kecil yang menyenangkan, penuh cinta dan kehangatan.
Amber menutup matanya pelan, ia tidak ingin meninggalkan Earl, yang ia inginkan hanyalah mengurus Earl dengan baik disini. “A-apa kah ukuran tubuh ku kemarin tidak bisa dijadikan patokan?” tanya Amber pelan.
“Ya, tapi kita harus mencoba hasilnya agar hari minggu ini kau begitu cantik dengan balutan gaun yang pas. Dokter akan menjaga dan merawat Earl dengan baik, kita akan segera membawanya pulang jika sudah diijinkan,” jelas Carl. Dengan berat hati Amber menganggukan kepalanya, mencoba pakaian tidak memakan waktu yang lama bukan?