The Story Of Amber

The Story Of Amber
Bab 29



Setelah selesai bersiap-siap, mereka pun masuk ke dalam mobil, Amber memeluk Earl dengan lembut di pangkuannya. “Catat ini sayang, perjalanan keluarga kita yang pertama adalah ke London,” kekeh Carl. Jika sudah seperti ini Amber pun hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia senang melihat Carl seantusias ini.


Selama diperjalanan pun mereka menghabiskan banyak perbincangan dengan berbagai topik, namun sebuah telepon masuk membuat Amber dengan cepat mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Rupanya bukan sebuah telepon melainkan vidio call dengan nomor tak dikenal. Amber melirik Carl terlebih dahulu dan Carl menganggukkan kepalanya.


“Hallo Amber!” pekik Sean begitu terdengar kencang, disana Sean tengah menggunakan jas dokter berwarna putihnya. “Kemana saja kau selama ini? Kau pergi tanpa memberitahu ku?”


Amber cukup terkejut dengan sapaan Sean, tidak bisa kah Sean mengecilkan sedikit suaranya? Carl yang mendengar suara seorang pria pun hanya mengintip halus wajah Sean dari ponsel Amber, ia lalu mengambil Earl dari pangkuan Amber dan mengajaknya bermain kecil. Carl tidak tahu pria itu siapa, yang jelas ada rasa cemburu saat mendengar nada marah pria itu, memangnya ia siapa harus diberitahu oleh Amber kemanapun wanita itu pergi. “Aku sudah menikah Sean, tidak perlu mengkhawatirkan ku,” jawaban Amber mungkin membuat Carl sedikit tenang, setidaknya Amber tidak menutupi kenyataan jika dirinya sudah milik Carl seutuhnya.


“What the— Amber apa yang kau lakukan? Kau mengatakan pada ku sudah menutup hati mu, lalu kau tiba-tiba saja menikah? Lelucon macam apa ini Amber? Jika memang saat itu kau ingin langsung menikah katakana, aku siap menikahi mu, aku sangat merindukan mu disini, merindukan Earl—”


“Sean! Cukup, aku menikah dengan ayah Earl, kami sudah berbaikan dan aku memang sudah menutup hati ku pada pria lagi, aku minta maaf karena tidak memberitahu mu, tapi aku dan Earl bahagia disini,” ucap Amber cepat, ia melirik Carl yang tampaknya acuh dan tengah asik bermain dengan Earl, jantungnya berdebar tak menentu, bagaimana bisa Sean terus berbicara tanpa melihat raut wajah Amber yang panik. “Aku sedang di perjalanan, sebaiknya aku tutup dulu panggilan ini,” lanjut Amber.


“Sebentar Amber, Amanda mengatakan kau akan kembali nanti, berapa lama lagi?” tanya Sean, wajahnya terlihat pasrah. Amber merutuki Sean, mengapa harus membahas masalah itu? ‘Sean kau benar-benar sialan’


Carl yang sudah muak dengan percakapan keduanya menoleh kearah Amber, memaksakan diri untuk tersenyum kecil sambil menahan amarahnya. “Boleh aku yang menjawab pertanyaan itu?” tawar Carl. Amber terlihat begitu gugup namun Amber tetap memberikan ponselnya. Carl memberikan Earl pada Amber kembali dan mulai memperhatikan wajah pria yang ada dilayar ponsel Amber. “Hai, aku Carl, aku suami Amber. Kau seorang dokter?” tanya Carl.


Carl tersenyum miring, ia terkekeh pelan melihat seorang pria tercampakan ini. “Begini, untuk pertanyaan mu yang tadi, aku tegaskan pada mu jika Amber tak akan pernah kembali kesana. Apa kau lupa jika Amber sudah mengatakan jika ia sudah menikah dengan ku? Itu artinya Amber akan bersama dengan ku selamanya, aku mencintainya dan akan terus menjaganya. Kau harap kau bisa menghargai pernikahan seseorang, jangan pernah mengganggu Amber kembali.” Tepat diakhir ucapan Carl, vidio call itu berakhir, Sean memutuskan panggilan itu sebelah pihak.


Carl menghela nafasnya pelan dan memberikan kembali ponselnya pada Amber. “Maaf terlalu kasar pada teman mu, aku benar-benar cemburu dan merasa dia akan merebut mu,” gumam Carl.


Amber dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Oh Carl tidak, aku yang minta maaf, aku mengacaukan pagi kita sebelum ke London, maafkan aku,”ucap Amber cepat, ia benar-benar menjadi tak tenang.


“Tidak sayang, tidak perlu meminta maaf, aku senang kau berani mengangkatnya di depan ku,  seperti ini lebih menenangkan untuk ku dari pada kau harus berhubungan dengannya di belakang ku,” kekeh Carl, ia mendekatkan wajahnya mencium Amber dan pipi Earl. “Maaf aku sepertinya akan posesif pada kalian,” kekeh Carl.


“Aku tidak ingin kau salah paham, Sean ini adalah dokter yang menangani Earl, dia yang membantu ku saat melahirkan Earl. Aku, Sean dan Amanda, kami adalah sahabat.”


Carl tersenyum lembut, ia menganggukkan kepalanya samar. “Aku percaya, kita lupakan pria satu itu, kita harus menciptakan kebahagiaan untuk Earl, tidak perlu ada keributan, aku mempercayai mu, dan aku mohon jaga kepercayaan ku, aku sudah menaruhkan sebuah kebahagiaan ku pada kalian,” ucap Carl.