The Story Of Amber

The Story Of Amber
Masa lalu 2



Carl yang sudah muak berdecak kasar, ia sedikit berlari menahan tubuh Amber dan melepaskan cengkaman tangan Amanda, Carl menaruh Amber berlindung di belakang tubuhnya. "Kau yang sudah gila Amanda? Apa ini tidak terlalu berlebihan untuk Amber? Kau melarang Amber untuk bersama ku, padahal Amber sudah mengatakan jika dirinya mencintai ku! Amber yang seharusnya berhak membenci ku, bukan kau," protes Carl. Sean yang berada disana mengepalkan tangannya, ia melihat secara langsung bagaimana Amber berlindung di belakang Carl. Namun pikirannya teralihkan saat Amanda berucap.


"Tapi aku yang lebih membenci mu! Kau mengambil kebahagiaan orang-orang yang aku sayang!" Teriak Amanda kencang. Ia seperti ini memberontak dan wajahnya menatap Carl penuh dendam, Sean yang melihat itu menghampiri Amanda, ia berusaha menenangkan Amanda dengan cepat.


"Ada apa Amanda?" Tanya Sean bingung.


"Orang-orang? Apa aku pernah berbuat salah pada mu?" Tanya Carl yang tak kalah bingung dari Sean.


Amanda tersenyum kecut, ia melepaskan tangan Sean yang menahan tubuhnya, matanya menatap penuh benci kearah Carl. "Orang kecil seperti ku tidak akan pernah kau ingat," gumamnya pelan, namun penuh dendam.


Ketiga orang yang ada disana mengerutkan keningnya bingung, mereka menatap Amanda dengan penuh tanda tanya besar, apa maksud dari ucapan Amanda? "Apa yang pernah aku lakukan Amanda?" gumam Carl pelan. "Dan apa yang membuat mu melarang Amber untuk bersama ku? Aku bisa membuatnya bahagia, aku mencintainya dan aku ingin mengambil Amber juga Earl!"


Amanda menggelengkan kepalanya, "Jika Amber berani bersama mu kembali, aku tidak akan memaafkannya, aku lebih baik kehilangan seorang sahabat yang bodoh karena sudah memilih pria tidak bertanggung jawab seperti diri mu. Dan Earl tidak akan aku biarkan kalian membawanya."


"Amanda, aku benar-benar menyesal, aku sudah meminta maaf dan sudah mendapatkan karma ku. Aku mencintai Amber, aku mohon biarkan kami bersama," mohon Carl, ia merendahkan suaranya dan menatap Amanda dengan tatapan sendu. "Aku ini bertanggung jawab pada anak ku, Earl."


"Aku tidak mempercayai ucapan mu sama sakali, kau pria paling pengecut yang pernah aku temui! Kau tidak bertanggung jawab pada dua orang yang aku sayang. Apa kau ingat 7 tahun yang lalu? Saat kau mabuk dan mengendarai mobil? Kau menabrak seorang anak sekolah dan itu adik ku!" bentak Amanda, tubuh Amber menegang, ia menatap tubuh Carl yang sama mematungnya seperti dirinya. "Dan betapa aku terkejut saat mengetahui jika Amber pun hancur karena ulah mu. Kau seharusnya membenci dirimu sendiri Carl, apa kau pantas hidup setelah membuat orang-orang menderita karena ulah mu?"


"Ya! Kau mengingatnya bukan? Yang kau berikan $50.000 dollar untuk pengobatannya, kau tahu uang itu tak cukup untuk mengembalikan kakinya, ia kehilangan sebelah kakinya! Dan apa kau tahu bahagianya aku saat mengetahui kau kecelakaan? Kau lumpuh! Kau merasakan apa yang adik ku rasakan! Tapi memang dunia selalu berpihak pada mu, kau memiliki uang banyak dan lumpuh mu hanya sementara, kadang aku tak mengerti mengapa kau masih mendapatkan kesempatan hidup atas kecelakaan besar itu? Orang seperti dirimu tak pantas mendapatkan kebahagiaan! Kau tak pantas bisa berjalan lagi dan kau tak pantas menjadi seorang ayah!" pukulan tangan Amanda yang lemah mengenai perut Carl, Amanda menangis terduduk, ia berisak. Sean yang tak pernah tahu sebelumnya duduk di samping Amanda, ia mengusap pelan bahu Amanda seakan memberikan kekuatan.


Carl menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia berlutut dan menyentuh bahu Amanda, "Tidak Amanda, itu tidak benar, aku sudah meminta seseorang untuk menangani adik mu, aku sudah mengatakan padanya untuk mengobati anak perempuan itu sampai sembuh kembali."


"Tapi pada kenyataan kau hanya memberikan $50.000 untuk menyelesaikan itu semua! Kau pikir uang dapat membeli kebahagiaan yang kau renggut dari adik ku!" bentak Amanda. 


"Lebih baik kau pergi dari sini terlebih dahulu, biar semua tenang dan kau bisa kembali saat keadaan sudah mulai membaik," ucap Sean pelan.


"Pergilah kau juga Amber, jika kau cukup bodoh untuk terus bersama pria seperti itu!" Teriak Amanda.


Carl menolehkan kepalanya menatap Amber yang tampak berkaca, ia menggelengkan kepalanya pelan, berjalan memeluk Amanda. Tak lama, Amber melepaskan pelukannya, wajahnya merah menahan tangis. "Carl—" gumamnya pelan. "Aku terlalu bingung untuk mengambil keputusan, aku membutuhkan waktu," ujar Amber pelan.


"Amber, percayalah aku akan kembali dan menyelesaikan semua perbuatan ku," ucap Carl penuh keyakinan, ia mengepalkan tangannya kuat, ia masuk ke dalam mobil dan harus kembali ke Los Angeles, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah kecelakaan itu.