The Story Of Amber

The Story Of Amber
Bab 31



Kini mereka sudah bersiap untuk makan malam di restoran yang sudah Carl pesan. Earl sangat menggemaskan dengan pakaian jas anak kecil yang begitu serasi dengan pakaian Carl.


Mereka pun masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan, selama di perjalanan mereka menghabiskan waktu bermain bersama Earl yang tampaknya tak pernah lelah atau tertidur sedikitpun. "Lusa nanti kita akan menghadiri acara pelepasan lajang teman ku, Jeff. Besok kita akan ke butik memilih pakaian baru untuk kita, kalau ingin menggunakan warna apa?" Tanya Carl.


Amber tampak berpikir pelan, ia menatap Carl kemudian. "Aku biasa memilih jika sudah melihat pakaiannya," jawab Amber kemudian. Carl pun menganggukkan kepalanya mengerti.


Tak terasa mobil pun berhenti di sebuah parkiran luas, restoran di luar begitu megah dan juga mewah. Mereka turun dan mulai disambut dengan begitu lama oleh pelayan. Carl memilih kursi untuk mereka di bagian dekat panggung kecil yang tengah diisi oleh seorang wanita dengan biola di bahunya. Gesekan biola itu begitu lembut, terdengar begitu nyaman di gendang telinga. "Kami akan sajikan segera, mohon menunggu dan nikmati musiknya," ucap pelayan itu ramah ketika sudah mencatat semua pesanan mereka.


Carl dan Amber pun mengangguk dengan cepat, setelah pelayan itu pergi mereka kembali fokus pada Earl yang tampak tak nyaman duduk di baby chair nya. Earl tampak ingin digendong oleh Carl, bayi itu seakan sudah mengetahui jika Carl bisa membuatnya nyaman. "Sepertinya kau sangat senang aku gendong sayang," kekeh Carl sambil mengulurkan tangannya dan melepaskan sabuk yang ada di perut Earl, mengeluarkan Earl dari baby chair.


"Sayang, fotokan aku bersama Earl," ucap Carl dengan bersemangat. Ia memberikan ponsel miliknya pada Amber, "Setelah ini kita foto bertiga," kekeh Carl. "Aku takut kau cemburu."


"Tidak mungkin aku cemburu pada anak ku sendiri," jawab Amber sambil tertawa kecil.


Malam itu pun mereka bersenang-senang, beberapa foto berhasil Carl simpan di ponselnya. Saat pesanan mereka tiba, Amber terlebih dahulu memberikan Earl makanan sebelum dirinya. "Ingin melihat indahnya London di malam hari?" Tanya Carl.


Amber pun mengangguk dengan cepat, sepertinya Carl akan membawanya menuju tempat yang lebih indah. "Sebelum pulang aku ingin menggunakan toilet sebentar," ucap Amber. Ia berjalan seorang diri menuju toilet, keadaan restoran cukup tenang dan tidak terlalu banyak orang membuat privasi mereka benar-benar terjaga. Semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"Amanda?" Amber dengan cepat mengangkat panggilan itu, ia melihat sekeliling toilet dan memastikan jika tidak ada orang selain dirinya di sini. "Hallo Amanda?" tanya Amber sedikit berbisik.


"Amber, apa aku tidak sedang bermimpi? Seseorang datang kerumah dan memberikan amplop berisi cek, aku tidak habis pikir Amber, ini $200.000! Dan aku pun menerima tas branded. Sebentar, ada surat juga di dalamnya."


Amber mengkerutkan keningnya dalam, ia belum mengerti dengan ucapan Amanda. "Apa yang kau katakan Amanda? Siapa yang memberikan semua itu?" tanya Amber bingung.


"Siapa lagi jika bukan suami mu Amber! Aku bacakan surat darinya. Teruntuk Amanda, terima kasih atas pertolongan mu selama ini pada Amber dan Earl, terima kasih sudah menjadi sahabat dan juga saudara yang menemani Amber selama ini. Mungkin semua ini tidak cukup untuk membalas kebaikan mu, namun aku harap kau dapat menerima semua ini, Carl."


Mulut Amber terbuka pelan, ia menggelengkan kepalanya. "Carl benar-benar memberikan itu semua? Dia mencurigai aku yang selalu mengirimkan mu uang, Amanda. Aku berbohong mengatakan jika aku memiliki hutang yang besar pada mu," lirih Amber.


"Ya sudah tak apa Amber, ini semua sudah lebih dari cukup kita. Aku akan membeli rumah yang jauh dari sini untuk kita nanti, bagaimana kabar Earl? Jika sudah sembuh total kabari aku, aku akan langsung datang ke Los Angeles dan menjemput kalian."


Amber menggigit bibir bawahnya pelan, ia bingung harus menjawab apa. "Earl masih memerlukan perawatan, aku akan mengabari mu nanti." Pada akhirnya, hanya itu yang dapat Amber ucapkan. Ia masih membutuhkan waktu untuk menikmati ini semua, rasa bahagia dan bebas yang tak pernah ia rasakan dulu kini dapat Amber rasakan.