
Tiga hari pun berlalu, Amber menatap pantai dengan tatapan kosong, entah untuk keberapa kali ia kehilangan Carl, seakan semuanya memperjelas jika Carl dan Amber tak bisa bersatu.
Amber menghela nafasnya panjang, angin dan suara ombak yang lagi-lagi berhasil membuatnya tenang. Amber ingat saat dulu Earl berusia 8 bulan, Amanda pernah megatakan baru saja mengirimkan paket sepatu pada adiknya, namun sebuah kecelakaan menimpa adiknya. Amber tak mengetahui jika kecelakaan itu sampai membuat adik Amanda kehilangan kakinya, Amanda tak pernah mengatakan lagi tentang perkembangan adiknya setelah kecelakaan.
"Mom, Paman Carl tak datang lagi hari ini?" Tanya Earl yang kini duduk di samping Amber, membuat Amber menoleh dan menganggukkan kepalanya. "Padahal paman Carl sudah berjanji akan membawa foto Daddy," gumam Earl.
"Paman Carl sudah berjanji akan datang lagi, kita tunggu saja," jawab Amber. Ia membalikkan tubuhnya menatap Earl, ia menangkup kedua pipi Earl dengan gemas. "2 bulan lagi aku ulang tahun, ingin sesuatu dari Mom?" Tanya Amber mengalihkan percakapan mereka. Amber sudah berusaha menghubungi Carl, namun tak ada satu pun pesan yang Carl balas.
~
Sementara disana, Carl menatap seorang gadis cantik yang tersenyum pada Carl, hatinya seakan terpukul melihat sebuah tongkat di pinggir kursi dan di bawah rok panjang itu terlihat jelas hanya ada satu kaki yang menjuntai kebawah.
"Kau Sarah?" Tanya Carl lembut.
"Ya, senang bertemu dengan mu kak, aku menyukai semua lagu dan film mu," ucapnya dengan senyum pucat yang semakin membuat Carl merasa bersalah.
"Kau tidak membenci ku? Aku merasa tak pantas di terima begitu baik oleh kalian." Suara Carl terdengar bergetar, matanya mulai berkaca.
"Tidak Nak, kau sudah bertanggung jawab, uang yang kau kirim terlalu banyak, itu sudah sangat cukup menghidupi aku dan Sarah, bahkan hutang-hutang yang melilit bisa aku selesaikan. Maaf untuk sikap Amanda yang pernah kau ceritakan, dia tulang punggung keluarga kami setelah suami ku meninggal, dia terlalu keras kepala seperti ayahnya," kekeh Andrea diakhir ucapannya.
Carl menggelengkan kepalanya pelan, ia mengambil sebuah map yang ada di tangan sang Manager lalu memberikannya pada Andrea. "Aku harap kalian bisa menerima ini," ucap Carl.
Carl menganggukkan kepalanya, "Tentu saja, kau bisa bermain dan memiliki teman, tidak perlu malu dan banyak sudah banyak orang yang menggunakan jalan ini." Sarah dan Andrea tak mampu menahan air matanya, Andrea memeluk Sarah dengan begitu erat.
~
2 bulan berlalu dengan cepat, kini dihalaman rumah putih sudah terdapat balon yang menghiasi setiap jalan menuju pintu. "Kau yakin Amanda sedang dalam keadaan mood yang baik sayang?" Tanya Carl pelan. Ia menatap kembali halaman rumah yang mulai dilalui beberapa anak seumuran Earl.
"Tentu saja, ayo masuk sayang, aku yakin Amanda akan senang," jawaban Amber terdengar dari ponsel. Carl pun mematikan panggilannya, ia menoleh kearah belakang dimana Sarah sudah berdandan begitu cantik dengan balutan dress yang sudah Carl siapkan dari desainer yang biasa ia gunakan.
Dalam 2 bulan ini, Carl selalu menghubungi Amber, ia memberitahu segala hal tentang perkembangan Sarah yang sudah mendapatkan ukuran kaki palsu yang pas untuknya.
"Ayo kita turun," ucap Carl. Mereka bertiga pun turun dan mulai berjalan masuk ke halaman rumah Amber.
"Kak, aku sudah bisa mengenakan sepasang sepatu lagi sekarang." Suara perempuan yang sudah lama tak Amanda dengar sepertinya membuat Amanda kebingungan, terlihat jelas saat Amanda merapikan susunan kado yang di berikan teman-teman Earl, langsung menoleh kearah sumber suara.
Amanda sedikit terpaku menatap pemandangan yang sudah lama ia rindukan, keluarga yang sudah lama tak ia lihat dan hanya mengirimkan uang bulanan melalui transfer, ia merindukan Ibu dan Adiknya! "Sarah?" Tanya Amanda tak percaya, adiknya memiliki rambut panjang yang gelap, ia tampak cantik dengan balutan dress. Mata Amanda menatap sepasang sepatu yang begitu cantik dengan kaus kaki panjang yang menutupi sepasang kaki itu.
"Kakak! Aku merindukan mu," pekik Sarah. Amanda dengan cepat berdiri dan menghampiri Sarah.