The Story Of Amber

The Story Of Amber
Extra Part



Kini Amber dengan balutan putih yang begitu cantik berdiri disamping Carl yang tak kalah menawannya, Carl tampak tampan dengan balutan jas hitam yang melekat sempurna. Kali ini pernikahan mereka tidak tertutup, beberapa kamera meliput acara pernikahan yang begitu mewah ini. Para tamu berdatangan dengan wajah ceria, memberikan selamat dan harapan yang baik untuk pernikahan mereka. "Kalian sangat luar biasa," ucap Earl yang kini sudah sangat rapi dengan jas ia kenakan.


"Terima kasih sayang ku," ucap Amber dan Carl bersamaan. Alicia tersenyum dengan ceria, ia tak pernah meninggalkan Earl seorang diri sejak awal acara di mulai. Ia terlalu merindukan Earl, bahkan saat Carl membawa Amber kembali kerumah kediaman Alvaron dengan senang hati mereka menerima Amber kembali, tak ada kebencian atau pun larangan yang mereka terima terkait kebersamaan mereka yang akan dimulai kembali. Semua ini karena Carl yang selalu meyakinkan keluarganya jika Amber memang tulus mencintainya, hanya saja ada sesuatu yang terjadi.


"Kau sudah makan sayang?" tanya Amber lembut.


"Sudah Mom, lihatlah Aunty dan paman Sean disana, mereka tak mengajak ku untuk ikut bersama mereka," bisik Earl pelan di tengah-tengah antara Carl juga Amber.


Keduanya menoleh dan saling melemparkan senyuman, Carl terlebih dahulu membalas bisikan Earl. "Jangan mengganggu mereka sayang, Paman Sean sedang mencoba mendekati Aunty mu," bisik Carl sambil terkekeh.


Sementara di Brazil, dengan mata berkaca ayah Amber menyaksikan pernikahan Amber yang begitu meriah, ia kini seorang diri didalam kamar, istri dan anak tirinya sedang berada di Paris untuk pemotretan Sabrina, permintaan Richard ia tolak karena sudah merasa gagal menjadi ayah untuk Amber, saat Amber menghilang selama 5 tahun ia tak tahu sama sekali dimana Amber berada dan merasa tak pantas untuk bertemu Amber kembali. Ia terlalu tunduk pada istrinya dan mengabaikan anak kandungnya sendiri. "Amber, semoga kau berbahagia nak," lirihnya pelan, demam yang tak kunjung membaik membuatnya semakin teringat akan sosok Amber, sewaktu Amber beranjak remaja, Amber tak segan-segan untuk melewatkan satu hari sekolah demi merawat dirinya yang sakit, namun kini, istri dan anak tirinya tak sama sekali memperdulikan kesehannya, mereka seakan asik bersenang-senang tanpa dirinya.


Tangan kanannya menggapai sebuah foto pemberikan Amber dan Carl yang mereka kirimkan kemarin, sebuah foto keluarga kecil Amber yang tampak sedang berbahagia. "Cucu ku yang tampan, kalian semua orang baik," ucapnya pelan pada 3 orang yang sedang tersenyum di foto tersebut.


-


Acara pernikahan pun selesai, Amber melemparkan senyum pada semuanya dan masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke rumah baru yang sudah Carl persiapkan saat mengurus kaki palsu untuk Sarah. Carl duduk ditengah mereka, mungkin saja terlihat cukup unik saat mereka menikah dengan seorang anak di tengah mereka. "Jika kita di Los Angeles itu artinya dekat dengan Kanada?" tanya Earl saat mobil mulai melaju.


Baru saja Carl akan menjawab, Amber terlebih dahulu berucap. "Mom tahu yang ada dipikiran mu pasti Angel? Kau ingin membujuk Mom dan Dad untuk mengunjunginya bukan?" tebak Amber.


Earl terkekeh pelan, ia menganggukkan kepalanya. "Aku pernah mendengar kau berjanji untuk mengunjungi mereka Mom," cicit Earl pelan membuat Amber menghelakan nafasnya.


"Jangan pernah mengucapkan janji di depan Earl sayang, dia akan selalu mengingatnya," kekeh Amber.


Setelah perjalanan mereka yang cukup menyenangkan selesai, mereka semua turun dihalaman sebuah rumah yang tampak luas, Amber menatap bangunan lebar itu dan menoleh kearah Carl. "Apa rumah ini tidak terlalu besar untuk kita bertiga?" tanya Amber bingung.


Carl menaikkan sebelah alisnya, senyumnya tampak menggoda bagi Amber. "Kita tak selamanya bertiga sayang, mulai malam ini, aku ingin kita berdua bekerja sama membuat adik baru untuk Earl." Tepat di akhir ucapan Carl, Amber memukul pelan lengan Carl sambil melemparkan tatapan tajam.


"Bagaimana jika Earl mendengarnya!" desis Amber dengan wajah yang mulai merah.


Merekapun masuk dan beberapa pelayan menyambut mereka dengan begitu ramah. Earl ditunjukkan kamarnya yang berada dilantai bawah, sedangkan kamar Amber dan Carl berada di lantai atas. "Bagaimana dengan rumah ini? Kau meyukai desainnya?" tanya Carl saat mereka masuk ke dalam kamar, Amber mengangguk setuju dengan ucapan Carl, ia sangat setuju tentang desain yang begitu indah juga modern.


Amber menatap sekeliling kamar yang begitu luas, sebuah tangan memeluk tubuh Amber dari belakang. "Aku mencintai mu," bisik Carl dengan sebuah hembusan nafas yang begitu halus di belakang Amber.


Carl tak menjawab, ia mulai melepaskan kancing itu perlahan dari atas. "Kita masih memiliki banyak waktu sayang, mereka pun mengerti dan akan menjaga Earl terlebih dahulu," bisik Carl, ia membalikkan tubuh Amber untuk berhadapan dengannya, mata indah Amber kini menatap sebuah kilatan di mata Carl, saat wajah Carl mendekat, Amber tak berkomentar sedikitpun, ia memejamkan matanya dan mulai merasakan bibir Carl yang tampak mulai bermain dengan lembut.


Tangan Amber mencengkram samping jas Carl saat dorongan yang Carl ciptakan mulai bangkit dalam diri Amber, ia membalas dengan penuh cinta juga hasrat. Gaun itu terjatuh dan Carl melepaskan jas miliknya, mengiring Amber menuju ranjang berukuran besar. "Amber," lirih Carl saat merasakan kebutuhannya yang semakin menuntut. Amber perlahan mengusap kemeja Carl lalu melepaskannya.


__


Satu tahun kemudian,


Seorang anak perempuan lahir didunia ini, bola mata berwarna biru itu tampak menampilkan keceriaannya. "Astaga, dia sangat cantik sayang," komentar Alicia, ruangan itu mulai di penuhi oleh orang-orang yang Amber sayangi, hubungan Sean dan Amanda pun tampaknya mendapatkan titik cerah saat datang keruangan ini dengan genggaman tangan keduanya yang tak pernah lepas.


"Aku memiliki keponakan baru lagi, siapa nama bayi cantik ini Amber?" tanya Amanda dengan ceria.


"Caitlin Alvaron," jawab Carl dengan bangga.


Tak berapa lama, pintu ruangan terbuka dan Amber tersenyum dengan lembut, ia selalu mengingat perkataan Carl yang mencoba untuk melupakan masa lalu, lembaran baru sudah terbuka dan Amber tak ingin ada rasa benci mengelilinginya. "Hai Dad," sapa Amber, terlihat jelas dalam raut wajah pria itu yang tampak senang mendengar sapaan Amber, ia berjalan dan memeluk Amber terlebih dahulu, menatap cucu kedua yang begitu menggemaskan.


"Kau sudah mendapatkan rumah baru Dad?" tanya Carl yang langsung di jawab anggukan dan membuat Carl tersenyum mendengarnya. Sebenarnya Amber dan Carl cukup terkejut mendengar kabar perpisahan antara ayah dan ibu tiri Amber yang berpisah, ia mendapatkan kabar jika ayah Amber memilih untuk pindah ke Los Angeles dan ingin menebus kesalahannya pada Amber, mencoba menjadi kakek yang cukup menyenangkan bagi kedua cucunya.


"Gerald dan Sabrina kini memiliki teman, Earl dan Caitlin," gumam Ken. "Apakah jika aku dan istri ku menambah 1 anak kalian aku mengikutinya?" tanya Ken membuat semuanya tertawa mendengar pertanyaan yang cukup menyindir tersebut.


"Sepertinya. Apakah kalian berencana menambahnya?" tanya Carl.


"Tentu saja, sebanyak yang kami bisa," jawab Ken yang langsung mendapatkan pukulan pelan oleh Valerie yang wajahnya kini sudah memerah menahan malu.


"Kalau begitu aku pun sama kak, aku ingin menciptakan rumah yang ramai," kekeh Carl yang tak kalah membuat semuanya tertawa.


___


Yuk baca Tawanan Sang Mafia, gak kalah seru guys🥰