
Senyum Amber mengembang lebar, apa yang di katakan Dokter cukup membuatnya bahagia, keadaan Earl semakin membaik dan mulai pulih total, tidak perlu pemeriksaan seminggu sekali mulai saat ini. “Sudah aku katakan, Earl anak yang kuat, dia benar-benar seperti diri mu,” bisik Carl pelan, jemarinya mengusap punggung tangan Amber dengan lembut.
Amber menoleh dan mengangguk cepat, ia menatap Carl dengan sorot mata yang berbinar, tatapan itu begitu lembut dan tulus. “Ini semua berkat mu, terima kasih sudah mengeluarkan Earl dari rasa sakitnya, sekarang Earl akan memiliki teman dan tidak harus menggunakan infus,” lirih Amber, jika saja ini bukan di rumah sakit, Amber pasti akan menangis dan memeluk Carl erat.
“Tidak sayang, aku tidak pantas mendapatkan kata terima kasih, ini masih kurang untuk menebus kesalahan ku,” jawab Carl. Ia mengalihkan pandangannya pada seorang dokter yang tampak tersenyum melihat kebahagian mereka. “Dokter, terima kasih untuk kerja keras mu bersama yang lainnya, aku tidak salah memilih mu untuk menangani anak ku,” ucap Carl.
“Aku sangat senang dapat membantu kalian dan mendapatkan kepercayaan kalian sangatlah membuat ku tersanjung, ada kebanggaan tersendiri dalam diri ku,” jawabnya begitu ramah. “Aku akan menunggu bulan depan untuk pengecekan selanjutnya, semoga Earl sudah pulih sedia kala.”
Setelah selesai dengan percakapan kecil itu, Amber membawa Earl dalam pelukannya, beberapa pengawal mengaman kan setiap langkah mereka keluar saat dari rumah sakit dan masuk kedalam mobil. “Kemana kita hari ini?” tanya Carl dengan semangat.
“Sebaiknya kita pulang, aku akan memasak makan siang untuk kita,” jawab Amber ceria, rasa bahagia itu membuat mood Amber membaik. Carl dengan cepat mengangguk setuju, ia menyukai semua masakan yang dibuat oleh Amber. “Mungkin malam kita bisa berjalan-jalan,” lanjut Amber.
“Baiklah, aku setuju pada semua saran mu sayang,” kekeh Carl.
Sesampainya dirumah Amber mengikat rambutnya dengan cepat, berjalan menuju dapur meninggalkan Carl yang mulai mengawasi Earl menggapai setiap sisi sofa dan berjalan dengan langkah kecilnya yang mulai lancar. “Astaga kau sangat menggemaskan sayang,” gumam Carl, ia mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam semua kegiatan Earl. Amber yang mendengar interaksi Carl dan juga Earl tersenyum dari arah dapur, tak terasa ia sudah beberapa bulan disini dan sangat menikmati semuanya.
~
Keesokan harinya, Amber cukup terkejut dengan beberapa notif yang masuk pada ponselnya, sebuah berita yang beredar lengkap dengan foto yang menunjukkan Carl berjalan bersama Amber di rumah sakit kemarin, terlihat jelas Earl yang tengah berada di pelukan Carl. Amber sedikit bersyukur karena foto tersebut tak memperlihatkan wajah Earl, namun judul yang mereka bagikan cukup membuat Amber kesal. ‘Kabar pernikahan Carl yang tertutup tampaknya benar-benar terjadi, mereka sudah memiliki anak?’ ada pula yang mengatakan. ‘Carl Alvaron menyembunyikan fakta sudah memiliki anak, apa hal ini yang menjadi pemicu hubungannya bersama Valerie berpisah?’
Amber menghembuskan nafasnya dalam, sepertinya ia tidak akan membuka berita atau sosial media dalam satu minggu ini. Amber sudah sangat yakin jika para fans Carl akan lebih banyak yang berpikir negative tentang dirinya dan Earl dibandingkan pikiran positif untuknya. "Astaga, jangan sampai mereka menemukan foto ku bersama Ken dulu," gumam Amber pelan. Bagaimana pun Amber pernah bersama Ken selama 2 tahun, dan pasti akan ada jejak histori yang akan terkuak jika ia bukanlah wanita baik, semua orang akan semakin mencemoohnya sebagai wanita murahan dan wanita jahat.
Amber menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia tidak perlu memikirkan hal itu, untuk apa mendengarkan semua perkataan orang lain, tak akan ada gunanya pula. "Selamat pagi sayang," sapa Carl yang masih terlihat mengantuk, rambutnya masih berantakan dan rentangan tangan ia ulurkan pada Amber. "Aku ingin mendapatkan pelukan pagi hari," gumam Carl. Amber menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ia menerima pelukan itu dan mengusap punggung Carl pelan.
"Sampai kapan kau akan bersikap manja seperti ini," kekeh Amber. "Aku sudah menyiapkan air dan pakaian mu, kita sudah ditunggu ke rumah Ken," ucap Amber kemudian, membuat Carl melepaskan pelukan itu dan menatap bingung kearah Amber.
"Ada acara apa?" tanya Carl.
Amber mengangkat bahunya pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Entahlah, yang jelas Earl sudah di bawa oleh nenek dan kakek nya," jawab Amber.
"Mom dan Dad? kapan mereka kemari?" tanya Carl kembali.
"Tadi pagi, baru saja mereka pergi, aku baru akan membangunkan mu," jawab Amber berusaha tenang, menutupi segala tekanan yang ada di hatinya.
Senyum Carl tiba-tiba muncul, ia menatap Amber dengan tatapan jahil. "Apa itu artinya kita mendapatkan waktu untuk berduaan sayang?" goda Carl.
"Tidak Carl, kita sudah di tunggu!" protes Amber dengan keras, membuat Carl tertawa dengan puas.
"Baiklah, aku akan bersiap sekarang," ucap Carl sambil mencium pipi Amber sekilas lalu pergi dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku ingin mengabari mu jika aku sudah memberi sebuah rumah di Inggris, bagaimana perkembangan Earl?"
Amber menggigit pelan bibir bawahnya, "Earl? dia mulai membaik," jawab Amber.
"Baguslah, aku selalu menanti kabar terbaru dari Earl, mengapa kau tidak pernah menghubungi ku terlebih dahulu Amber? kau tahu? itu membuat ku berpikir jika kau menikmati peran mu disana." Terdengar kekehan pelan dari sebrang sana. "Tenanglah, saat Earl sudah sembuh aku akan langsung menjemput mu dan kau akan terbebas dari pria itu."
Amber terdiam, ia berbalik dan mencengkram kuat pagar besi balkon, menatap halaman luas yang ada di bawah apartemen. "Begini Amanda, sebenernya aku ingin mengatakan hal ini sudah lama," ucap Amber pelan.
"Ada apa Amber? jangan katakan kau sudah sangat nyaman berada disana," gumam Amanda.
"Ya, aku sangat nyaman berada disini, aku mendapatkan semua cinta dari keluarga ini, Earl mendapatkan kebahagiaannya dan aku juga. Maksud ku, bisakah kita menghapus bagian melarikan diri itu? aku tidak siap mengecewakan mereka, semuanya sangat baik pada ku," ucap Amber.
Terdengar helaan nafas di sebrang sana, Amber tahu jika Amanda akan menolak keras saran ini. "Amber, dengarkan aku. Apa mereka memikirkan mu saat kau di kecewakan dulu? kau dicampakkan dan di buang Amber! Kau pun sangat baik pada semua orang, namun adakah orang yang membantu mu saat dulu? Sekarang terserah pada mu, jika suatu saat pria itu mengecewakan mu lagi, jangan harap aku menerima mu kembali, aku tidak ingin memiliki teman yang lemah hanya karena cinta."
"Amanda, tidak! Bukan itu maksud ku, aku tidak ingin perteman kita hancur, aku harap kau mengerti-" Amber menoleh kearah belakang saat suara pintu kaca itu di geser. Disana Carl yang sudah segar tampak menatap Amber bingung. "Ya, baiklah, aku akan segera kesana sekarang juga," ucap Amber spontas pada Amanda dan mematikan panggilan tersebut, ia sedikit gugup dan panik, apakah Earl mendengar semuanya?
"Ada apa sayang? Apa ada sesuatu yang terjadi? kau bertengkar?" tanya Carl.
Dengan cepat Amber menggelengkan kepalanya, ia tersenyum lemah dan mendekati Carl. "Tidak, Earl menangis disana dan kita harus kesana sekarang juga sebelum Earl mengamuk," kekeh Amber kaku.
Senyum Carl pun tampak muncul, ia mengusap pelan kepala Amber. "Ku pikir ada apa, kalau begitu aku akan berpakaian terlebih dahulu," ujar Carl.
~
Selama di perjalanan Carl tak seperti biasanya, ia fokus pada kemudi dan beberapa kali memainkan ponselnya, tak memulai percakapan pada Amber. Hal itu jelas membuat Amber semakin gugup, ia samakin yakin jika Carl mendengar semua percakapan itu. "Carl," panggil Amber pelan.
"Ya?" tanya Carl sambil menoleh, kini mereka berhenti disebuh lampu merah dan Carl lagi-lagi fokus pada ponselnya.
"Kau sepertinya sibuk dengan ponsel mu? apa tidak bahaya jika sambil mengemudi?" tanya Amber hati-hati.
Carl dengan cepat mematikan ponselnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya, ia menoleh dan memaksakan senyumnya pada Amber. "Tidak, hanya ada beberapa hal yang tidak beres dengan pekerjaan ku sayang. Oh ya, kau tidak memiliki sosial media bukan?" tanya Carl.
Amber menautkan kedua alisnya bingung. "Tidak, ada apa?"
"Bukan apa-apa, berita di luaran sana sedang tidak baik, jangan pernah membaca berita apapun hari ini," ucap Carl, ia meraih sebelah tangan Amber dengan lembut. "Maaf, seseorang menangkap gambar kita kemarin di rumah sakit, semua pemberitaan tentang Earl menjadi ramai, aku berjanji akan mengurus hal ini, aku sudah nyuruh manajer ku untuk mengatasi pemberitaan tak benar diluaran sana," jelas Carl. Amber memejamkan matanya dan menghembuskan nafas lega, ia melupakan masalah pagi ini dan terlalu mencemaskan telepon Amanda tadi.