
Amber keluar dari kamar mandi, ia berjalan dengan cepat saat melihat Carl tengah mematung bingung menatap Amber dan berkata. "Siapa Earl?" tidak! Carl tidak perlu tahu dan ia tidak butuh Carl untuk tahu.
Amber merampas kembali ponsel miliknya. "Bisakah kau memiliki sopan santun dengan privasi oranglain?" tanya Amber kencang, atau lebih tepatnya sebuah bentakan.
°°°
Amber menarik nafasnya dalam, kini ia sudah kembali pulang ke Washington, selama di dalam pesawat ada sesuatu yang membuat Amber tak tenang. Ia berpikir tentang Carl yang semoga saja tidak memikirkan atau mencari tahu lebih tenyang dirinya. Lalu pikiran lain yang ada di dalam kepalanya menelusup. Amber sudah mengirimkan biaya operasi Earl, dan kini operasi tengah berjalan dan saat Amber kembali tentunya operasi itu sudah selesai. Kini selama perjalanan pulang, hanya ada doa yang ia panjatkan agar operasi Earl bisa berjalan dengan lancar.
°°°
Carl tak tenang, ia gelisah, semua pikirannya kini mengarah pada Amber. Sudah beberapa jam dari kepergian wanita itu, namun ia tidak bisa memikirkan hal lain. "Siapa Earl?" pertanyaan itu kembali mengiang dikepala Carl. Tanpa bisa menunda lagi, Carl bergegas mengambil kunci mobilnya, ia harus kembali ke Club semalam, Amber pasti masih bekerja disana, atau malam ini pun Amber pasti ada di acara lelang kemarin.
°°°
Amber turun dari pesawat, ia menghentikan sebuah taxi dengan cepat, meminta taxi itu untuk segera mengantarkan nya kesebuah rumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit, Amber disambut oleh Amanda didekat pintu masuk. Amanda tampak habis menangis, ia memeluk Amber dengan erat. "Amanda ada apa? Operasi Earl berjalan baik bukan?" tanya Amber dengan suara yang bergetar, reaksi Amanda membuatnya tak tenang.
"Ya. Operasi nya berjalan dengan lancar, Earl akan segera dipindahkan keruangannya. Oh Amber, kau benar-benar melakukannya? Aku,,, aku sangat merasa bersalah," ujar Amanda dengan suara tersendu. Amber tersenyum lega, Earl selamat.
Saat tangan Amber menarik Amanda untuk masuk kedalam rumah sakit, Amanda menahannya. Amber berbalik menatap Amanda dengan bingung. "Selagi menunggu proses pemindahan Earl, kau minum lah ini," ujar Amanda dengan nada ragu. Amber mengerutkan keningnya, ia mengambil sebuah pil obat yang diberikan Amanda.
"Apa ini?" tanya Amber.
"Pil pencegah kehamilan," jawab Amanda. Pandangan Amber menatap Amanda penuh. Amber memang membutuhkan ini, ia tidak bisa menjamin jika dirinya tidak akan hamil. Dan Amber tidak ingin memiliki anak kembali dari pria itu!
"Terimakasih Amanda. Aku sangat membutuhkan ini."
°°°
Washington,
Carl memakai masker dan topi, penyamarannya tidak boleh tercium oleh siapapun. Tiga hari yang lalu ia meminta dengan paksa alamat Amber pada seorang kru di klub malam, ia mengatakan ada barang yang di ambil oleh Amber, membuat mereka tidak ingin mengganti rugi dan pada akhirnya memberikan identitas asli bernama Amanda. Sebuah biodata yang menjelaskan tentang seorang wanita bernama Amanda dengan tanda pengenal tanpa warna dan foto Amber yang tercantum disana. Mencari jejak Amber tentunya sedikit sulit, namun dengan kekuatan uang dan aksesnya ia dapat menemukan tempat tinggal Amber dalam satu hari.
Keberanian Carl melenyap begitu saja, saat ia hanya bisa membuntuti Amber dari jauh. Carl penasaran dengan kehidupan Amber yang begitu tertutup, padahal saat ia mencari tahu keadaan keluarga Amber masih baik-baik saja bahkan menambah usaha baru. Dan kemarin, dengan begitu terkejutnya Carl mengatahui Amber tinggal disebuah rumah kecil yang memasuki gang sempit dengan seorang wanita yang sudah dicap sebagai wanita malam oleh beberapa orang didaerah itu, dan kini, Carl akan kembali mengikuti Amber yang kabarnya bekerja sebagai karyawan kantor.
Beberapa pertanyaan menghampiri Carl, untuk apa Amber pergi dari Brazil? Jika ia memang memiliki pekerjaan untuk apa mengikuti acara lelang? Dan yang paling tidak habis fikir adalah Amber bekerja di kantor yang lumayan besar bahkan posisi yang tidak rendah, untuk apa ia tinggal di gang sempit bersama seorang wanita yang dipandang rendah oleh orang sekitarnya?