
Cahaya matahari yang samar masuk ke dalam kamar melalui celah gorden jendela yang tertutup itu cukup membuat tidur nyenyak Amber terganggu. Ia menggeliat samar dan sedikit terkejut menyadari sebuah tangan melingkar diperutnya, dengan cepat Amber membalikkan wajahnya dan menelan ludahnya saat melihat Carl yang sudah terbangun dengan mata yang belum terbuka sempurna sambil tersenyum kearah Amber. "Pagi, sayang ku," ucap Carl serak, ia mencium pelan bahu Amber.
"Kau sudah bangun? a-aku ingin mandi," ucap Amber gugup, ia tidak terbiasa dengan pelukan ini, terlalu dekat dan membuat hatinya tak menentu.
Carl menggelengkan kepalanya, ia lebih mengeratkan tangannya yang melingkar di perut Amber, "Jangan dulu pergi, aku masih merindukan mu," ucap Carl. Tanpa di sangka sebelumnya, Carl kini seakan merangkak samar di atasnya, jantung Amber sudah tidak terkendali, matanya tak mampi menatap sorot mata Carl. "Kau sangat cantik," gumam Carl, sebelah tangannya merapikan anak rambut yang ada di kening Amber.
Amber membuang wajahnya saat wajah Carl mendekat, membuat bibir itu hampir mendarat di pipinya. "Carl, aku tidak ingin terlambat ke rumah sakit, hari ini Earl harus di temani bukan?" tanya Amber gugup.
"Tenang saja, aku pastikan tidak akan terlambat," bisik Carl, sebelah tangannya menyentuh dagu Amber dan menariknya pelan, sementara sebelah tangannya menopan tubuhnya sendiri. "Tatap aku Amber," gumam Carl.
Bota mata Amber mulai bergerak menatap mata Carl, mereka saling bertemu satu sama lain. Tanpa bisa menolak lagi, Amber membuka mulutnya saat bibir Carl mulai bergerak perlahan menyapu bibir Amber.
Amber tak mengerti dengan dirinya sendiri, rasa benci itu ada, namun ia tak bisa menolak dengan apa yang dilakukan Carl. Rasa rindu seakan membludak begitu saja, tidak ada air mata seperti saat acara lelang mereka melakukan ini. Amber mulai membalas dengan perlahan, ada sepercik rasa bahagia saat mengingat dirinya sudah menjadi istri Carl.
Tangan Carl mulai masuk melalui balik baju tidur Amber, menyentuh perut Amber yang begitu halus dan langsing. "Kau ingin sarapan terlebih dahulu?" kekeh Carl sambil mengangkat wajahnya, mereka mulai menjauh saat Carl beranjak turun dari atas tubuh Amber.
Carl semakin tersenyum lebar saat melihat wajah Amber mulai merona, ia tampak malu seketika. "Benarkah?" tanya Amber malu.
"Ya, aku akan memasakkan mu sarapan yang lezat, tunggu lah disini," ucap Carl. Dengan cepat Amber menahan tangan Carl, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Seharusnya kau yang menunggu ku disini. Biar aku yang membuatkan sarapan untuk kita," ucap Amber. Ia cukup tahu malu dengan ini semua, ia hanya memanfaatkan Carl dan tidak menjanjinkan dirinya akan bersama dengan Carl sampai akhir hayat.
"Tidak, kau saja yang disini, kau sudah lelah membasarkan Earl, kini biar aku yang membahagiakan mu," ucap Carl lembut, kedua tangannya mengambil kepala Amber dan mencium keningnya pelan. "Tunggu ya."
Seperginya Carl, Amber bersandar di kepala ranjang, ingin rasanya Amber menampar dirinya sendiri, bagaimana bisa ia tergoda dengan mudahnya hanya karena Carl selembut itu? ini tidak bisa dibiarkan, ia harus mulai mengeraskan kembali hatinya yang mulai melunak.
Dengan cepat Amber turun dari ranjang, ia berjalan menuju kamar mandi, air dingin itu terasa menyegarkan saat membilas wajahnya. Amber menatap wajahnya dipantulan cermin, wajah yang masih benar-benar polos tanpa make up, bisa-bisanya Carl memuji Amber dengan wajah seperti ini. Saat senyum Amber mulai mengembang dengan cepat pula Amber menepisnya. "TidakĀ Amber, Carl akan kembali seperti dulu saat ia bosan nanti," gumam Amber pada pantulan cermin.