
Setelah semuanya pulang, Amber dan Carl tetap berada di rumah sakit, mereka tidak ingin meninggalkan Earl yang nantinya hanya di temani oleh beberapa suster yang menemaninya. "Kau ingin makan? Kita cari restoran terdekat atau aku pesankan?" tawar Carl.
"Bisa memesan? Aku benar-benar tidak ingin meninggalkan Earl," jawab Amber pelan, Carl pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia mengeluarkan ponsel dan mulai memesan makanan berat untuk mengisi perut mereka.
"Jika nanti Earl sudah pulih aku akan mengajak kalian berkeliling dunia," ucap Carl seraya memasukkan ponselnya, Amber yang mendengar itu menatap Carl dengan bingung, ia mengerutkan keningnya. "Kalian akan menemani ku syuting dan beberapa pekerjaan ku yang lain," kekeh Carl.
Kebingungan pun hilang, Amber menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil. "Memangnya kau syuting disemua Negara?" tanya Amber.
Carl terkekeh pelan mendengar ucapan Amber, "Aku selalu mendapatkan lokasi syuting di berbagai Negara, memang tidak semua negara, tetapi kita menciptakan sejarah untuk perjalanan kita, membuat list Negara mana saja yang ingin kita kunjungi," ucap Carl dengan semangat. "Kita akan memiliki foto bersama di berbagai Negara, sepertinya menyenangkan," kekeh Carl.
Amber tersenyum kaku, ia menelan salivanya dan mencoba menganggukkan kepalanya. "Ya, itu sangat menyenangkan," jawab Amber. Ia menjadi tak tega meninggalkan Carl dengan sejuta mimpi yang Carl harapkan bersama Amber dan Earl, namun bagaimana lagi, rencana bersama Amanda tidak bisa dirubah begitu saja, mereka sudah sepakat dan menjalanin hidup seperti biasa lagi, tanpa seorang pria.
~
Satu bulan pun berlalu dengan sangat cepat, sore ini mereka masih ada di rumah sakit. Amber menoleh kearah Carl yang tengah menerima telepon dari Valerie, disana Carl terlihat bahagia dan itu cukup membuat Amber kembali was-was, entah mengapa. "Sayang, aku ada kabar baik," teriak Carl dari tempatnya berdiri sekarang, ia berjalan cepat kearah Amber.
"Ada apa?" tanya Amber bingung, Carl tersenyum dengan lebar dan kini duduk di samping Amber.
"Aku mendapatkan kabar jika Valerie hamil dan kita diundang makan malam disana, kau ingin bersiap terlebih dahulu sayang?" tanya Carl. Amber dengan semangat menganggukkan kepalanya, mereka pun menitipkan Earl pada seorang suster dan mulai bersiap, namun sepertinya ada sedikit kendala saat panggilan masuk dari rekan kerja Carl menghubunginya, ada rasa ragu saat Carl harus menolak. "Teman ku aku datang kerumah sebentar, kemarin dia tidak sempat hadir, sepertinya kita akan terlambat datang," jelas Carl.
Benar saja, tak berapa lama, dua teman Carl datang membawa kotak hadiah yang lumayan besar, mereka begitu ramah dan baik pada Amber. "Sepertinya kalian akan pergi?" tanya Zayn. Ia tampaknya memperhatikan pakaian Amber dan Carl yang sudah rapi lengkap dengan tas yang di gunakan Amber.
"Ya, ada acara makan malam nanti, tidak usah merasa terburu-buru," ucap Carl santai. "Jadi kapan kalian menikah?" tanya Carl membuat keduanya saling tersenyum.
"Entahlah, kami belum memikirkan hal itu," jawab Rosie. Percakapan mereka pun mulai memanjang dengan berbagai macam topik pembicaraan. Setelah selesai, Zayn dan Rosie pun pergi. Carl menatap jam yang melingkar di tangannya.
Amber menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, kita masih memiliki waktu," ucap Amber menenangkan. Mereka pun mulai keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil. Selama di perjalanan tak ada percakapan yang mereka lakukan, Carl terlalu fokus pada jalan dan sebisa mungkin agar ia cepat sampai rumah Ken, sedangkan Amber diam tak memiliki topik pembicaraan sama sekali, ia lebih menikmati bangunan menjulang tinggi yang ia lewati.
Sesampainya di rumah Kenrich, Amber cukup terkejut, ia masih ingat dulu Ken membawa Amber kemari saat bangunan rumah masih hanya lahan kosong. "Ada apa sayang?" tanya Carl sambil memeluk pinggang Amber dengan sebelah tangan.
"Tidak ada apa-apa, ayo kita masuk," ucap Amber. Di luar halaman sudah ada beberapa boleh yang terparkir, mereka pun masuk dan memang semuanya sudah berkumpul.
Carl terlebih dahulu membuka pintu rumah dan Amber hanya mengekor masuk ke dalam rumah, tangan Carl menggandeng Amber dengan lembut. Disana semuanya sudah berkumpul, "Semuanya, mohon maaf aku terlambat," ucap Carl.
Genggaman tangan Carl pun terlepas, Amber memilih duduk dan bergabung dengan yang lainnya. Carl terlihat berjalan menghampiri Ken yang tengah berdiri. "Kakak! Selamat untuk mu," pekik Carl dengan ceria, ia memeluk Ken sekilas lalu melepaskannya kembali.
"Selamat?" tanya Ken bingung. Amber yang melihat itu mengerutkan keningnya dan menatap Carl. Apa Carl salah mendapatkan informasi?
"Umm- itu," Carl menggantung ucapannya, ia menatap sekeliling, ada yang salah dengan ekspresi Ken yang kebingungan. Carl menggigit bibir bawahnya sendiri saat melihat gelengan kepala dari Alicia dan Jessy. Bahkan Carl baru menyadari jika semuanya tengah menatap Carl dengan gemas. Astaga, Carl lupa jika ini adalah kabar bahagia, mereka semua tengah mengadakan kejutan kecil untuk Ken! "Selamat hari jadi kalian!" pekik Carl dengan cepat.
"Astaga Carl," gumam Valerie yang terdengar oleh Amber. Senyum Amber pun muncul, rasanya ia ingin tertawa, rupanya Carl menghancurkan kejutan kecil mereka.
"Kalian sudah dekat dari tahun kemarin bukan? dan kau menyatakan cinta pada Valerie tepat tanggal ini," ucap Carl.
"Hah?" ucap Ken semakin bingung, ia terlihat melirik Valerie.
Justin menggelengkan kepalanya, "Kedua anak ini memang seperti ayahnya, selalu menggagalkan rencana," gerutu Justin kesal membuat Jessy yang ada disebelahnya menyenggol lengan Justin.
Tepat saat itu suara pintu di ketuk terdengar, dua orang pelayan masuk membawa kue dan sebuah box panjang. "Permisi nyonya, kue-nya," ucap salah satu dari mereka.
Melihat semuanya berdiri, Amber pun ikut berdiri. Kue dan box itu di letakkan di atas meja. Satu diantara dua pelayan itu membuka penutup box yang menampilkan sebuah kerangka bunga indah dengan papan ditengah, bertuliskan 'Kita akan bertemu 34 minggu lagi.'
"Bertemu? Siapa?" tanya Ken sambil menatap Valerie yang tengah menggulum senyum padanya. Sementara yang lainnya menunjukan ekspresi yang sama.
"Lihat kue itu sayang," bisik Alicia lembut. Ken dengan cepat membawa tulisan disebuah coklat diatas kue yang tidak terlalu besar. Ia terlalu fokus pada box besar itu, dan pada akhirnya ken membelalakan matanya dengan mulut sedikit terbuka, ia dengan cepat menatap Valerie dengan ekpresi wajah yang tampak terkejut bercampur bahagia. Tulisan kecil itu membuatnya berdebar 'Hallo Daddy'.
"Hallo Daddy," ucap semua yang ada disana bersamaan. Amber tersenyum lebar, keluarga ini begitu manis membuat Amber lagi-lagi yang bisa membayangkan jika nanti ia pergi.
"A-aku tidak percaya ini." Ken memeluk Valerie dengan erat, wajah itu terlihat sangat bahagia, dan tanpa di sadari Amber, Carl melingkarkan tangannya pada pinggang Amber.
"Hampir saja aku merusak kejutan ini," bisik Carl begitu pelan.
"Kau memang sudah merusak kejutan ini," kekeh Amber.