
Alvian menghela saat Siyyara baru saja menelfon dirinya, Alvian tahu betapa merepotkannya Siyyara, sebenarnya Alvian sungkan saat ingin menitipkan Siyyara kepada Gallen, tetapi apa boleh buat. Alvian tidak memiliki kerabat dekat di kota Jakarta untuk di mintai tolong, dan satu-satunya teman yang bisa di percayai hanya Gallen saja. Sehingga dengan terpaksa Alvian menitipkan adiknya kepada sahabatnya, yaitu Gallen.
"Semoga saja Gallen tidak habis kesabaran saat menghadapi kelakuan Siyyara." Alvian mengusap wajahnya frustasi.
Dret dret
Alvian mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya yang ia taruh di atas meja kerjanya, saat tahu siapa yang sedang menelponnya, Alvian menelan ludahnya dengan susah payah.
"A-asalamualaikum," salam Alvian.
"Wa'alaikumsalam, dimana Siyyara?"
"Siyyara ada di rumah Dad," jawab Alvian dengan perasaan takut.
"Dirumahnya siapa? Daddy menghubungi telfon adikmu dan telfon rumah, tetapi tidak juga diangkat."
Alvian tak tahu caranya bernapas saat ini, seolah-olah oksigen menipis di ruangan ber AC itu.
"I-itu, mungkin Siyyara sedang tidur."
"Kamu dimana?"
"Di Tokyo, dad."
"Tokyo? Lalu dimana adikmu?"
"Di Jakarta, Dad."
"Kau biarkan adikmu sendirian di Jakarta? Kakak macam apa kau ini!"
"Dad, m-maafkan Alvian, Dad. Tapi Alvian telah meminta sahabat Alvian untuk memantau Siyyara. Dia bisa dipercaya, Dad."
"Setelah urusanmu selesai di Tokyo, kau harus cepat terbang ke Berlin. Daddy tunggu."
"Baik, Dad."
Tut tut
Panggilan di putus oleh Mr. Dave tanpa mengucapkan salam kepada Alvian, sifat Mr. Dave yang seperti ini menunjukkan jika Mr. Dave tengah marah besar kepada Alvian, karena telah meninggalkan Siyyara di Jakarta.
Alvian menghela saat mengetahui Mr. Dave sangat marah kepadanya. Alvian sangat gusar, karena dia tahu saat ini sedang berhadapan dengan siapa. Meski Mr. Dave adalah ayah kandungnya, tetapi Alvian tahu jika Mr. Dave lebih menyayangi Siyyara ketimbang dirinya.
Tetapi Alvian tidak marah ataupun iri kepada Siyyara, karena Alvian juga sangat menyayangi Siyyara. Adik kecilnya itu adalah harta berharga yang tersisa dari keluarga Damares, karena Siyyara adalah perempuan satu-satunya yang menyandang marga Damares.
"Hufft, andaikan Mommy masih ada," gumam Alvian sedih.
Hal yang paling membuatnya terluka ialah ketika melihat sang adik menangis seharian full hingga demam tinggi, karena mommy nya telah tiada.
Dan mulai saat itu, Daddy nya memerintahkan dirinya agar selalu ada untuk sang adik. Meski Daddy-nya tidak mengatakan hal itu, Alvian akan tetap selalu menjaga dan melindungi Siyyara.
*****
"Aghh, sakit!"
"Iya, tahan bentar."
"Ini semua gara-gara kamu. Kamu harus tanggung jawab!"
"Kapan aku menghamili mu?" Tanya Gallen dengan wajah tanpa dosa.
Siyyara menganga lebar mendengar ucapan Gallen yang menurutnya tidak disaring sama sekali.
"Jaga bicaramu! Kau benar-benar pria bar-bar tidak tahu diri!"
"Apa tidak bisa sehari saja kau tidak marah-marah? Kau bisa jadi perawan tua nanti."
Siyyara menahan segala emosinya dengan menggigit bibir bawahnya, saat Gallen berusaha memancing amarahnya dengan nada santai dan wajah datar. Dia ingin sekali menampar wajah sok tampan milik Gallen.
"Kau diam?"
Gallen menyerngitkan dahinya ketika tidak mendengar ocehan Siyyara. Dia pun segera menengok ke kanan dimana posisi Siyyara berada. Dan betapa kagetnya dia saat air dingin mengguyur wajahnya.
Byurr
Posisi Gallen dan Siyyara tengah duduk di sofa di dalam apartemen milik Gallen. Gallen memutuskan membawa Siyyara ke apartemen nya karena di rumah Siyyara tidak ada orang dan para bodyguard telah diliburkan oleh Alvian. Jika Gallen membawa Siyyara ke rumahnya, maka ia akan di introgasi oleh adik dan Mama nya, dan Gallen tidak menyukai hal itu.
Sejak tadi saat Siyyara merintih kesakitan, Gallen selalu sibuk dengan laptopnya, saat Siyyara mengeluh karena pinggangnya sakit, Gallen menanggapi dengan pandangan masih fokus di laptop-nya. Dan saat Gallen penasaran dengan diam nya Siyyara, Gallen menolehkan wajahnya untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Siyyara, tetapi Gallen terkejut saat merasakan cairan dingin membasahi wajah beserta bajunya, bahkan laptopnya pun ikut tersiram.
Siyyara tersenyum sinis saat melihat Gallen menampilkan ekspresi terkejut dan berbatuk-batuk akibat ada beberapa air yang masuk di hidungnya.
"KAU!" Gallen menggeram marah, marah karena melihat keberanian Siyyara yang dengan sengaja mengguyur wajahnya dengan air dingin.
"Kenapa? Aku lapar, aku ingin 2 loyang pizza. Cepat pesankan." Siyyara melipat kedua tangannya di depan dada, dan membuat suaranya seperti seorang Bos yang memerintah anak buahnya.
"Aku bukan budakmu!"
"Iya, aku tahu. Kau bukan budakku karena kau telah membuatku menjadi kekasihmu. Dan sekarang kekasihmu ini minta pizza sekarang juga. Apa kau lupa perjanjian kita? Jika kau tidak bisa menuruti permintaan ku, kita putus."
"Putus karena tidak bisa membelikanmu pizza? Itu bukan gayaku. Bahkan jika kau saat ini meminta untuk ku belikan pesawat pun, aku bisa dengan mudah menuruti keinginanmu." Gallen menjawab dengan penuh kesombongan dan ingin menunjukkan kepada Siyyara jika dia adalah pria sejati yang tidak akan mengingkari janjinya.
Untuk pertama kalinya Siyyara diam, dia bukan karena ingin mengerjai Gallen lagi, melainkan karena dia berusaha mencerna ucapan Gallen. Dan Siyyara menyimpulkan jika Gallen benar-benar tidak ingin berpisah dengannya. Dengan cepat Siyyara menggeleng kan kepalanya, berusaha mengenyahkan pemikirannya yang belum tentu benar.
Tetapi saat mendengar ucapan Gallen yang mengatakan jika semisal saat ini dia meminta sebuah pesawat sekalipun, Gallen akan segera membelikan pesawat itu untuknya, membuat perutnya seperti digelitiki banyak kupu-kupu.
Tanpa disadari, wajah Siyyara memerah malu, tetapi Gallen menyimpulkan lain saat melihat wajah Siyyara yang memerah.
Gallen menyimpulkan jika Siyyara sedang menahan amarah, karena hobinya Siyyara memang selalu marah-marah tidak jelas.
Ting tong
Siyyara terlonjak dan tersadar dari lamunannya saat mendengar suara bel dari luar apartemen.
Tanpa banyak bicara Gallen segera berdiri dari sofa dan melangkah mendekati pintu utama yang ada di apartemen nya.
"Dasar pria sombong," batin Siyyara kesal saat mengingat ucapan Gallen yang penuh kesombongan.
Suara langkah kaki terdengar di telinga Siyyara, yang menandakan Gallen telah kembali ke ruang tamu.
"Nih, cepat makan." Gallen menaruh 5 kotak pizza berukuran besar di meja tepat di depan Siyyara.
Siyyara lagi-lagi terkejut karena dengan cepat pizza itu datang ke apartemen ini, kapan Gallen memesannya? Bahkan Siyyara tidak melihat Gallen memegang ponselnya sama sekali. Siyyara bergidik ngeri.
"Ada apa? Cepat makan."
"Kenapa banyak?"
"Apanya?"
"Pizza-nya. Kenapa kau beli pizza 5 kotak? Aku kan hanya minta 2 kotak saja," ujar Siyyara.
"Aku tidak mau jika kau mengganggu pekerjaanku."
"Apa maksudmu?"
"Kau baru saja mengganggu pekerjaanku dengan merengek ingin pizza. Dan aku tidak mau kau merengek lagi padaku saat kau kelaparan."
Siyyara manggut-manggut mengerti.
"Kau cukup cerdas. Dan aku suka itu," ujar Siyyara dengan membuka kotak pizza nya.
"Kau tau, ini pizza terlezat yang pernah ku makan." Siyyara memasukkan potongan pizza ke mulutnya sambil mengomentari rasa pizza yang sedang ia makan.
"Jangan bicara sambil makan."
Saat Siyyara telah menghabiskan satu kotak pizza yang berukuran besar. Siyyara menggelayut manja di lengan Gallen.
"Liebe, aku ingin sesuatu."
Gallen membulatkan kedua matanya saat Siyyara memanggilnya "Liebe". Apa Siyyara sadar dengan yang diucapkannya? Atau dia ingin mengerjainya lagi? Sepertinya gadis yang bergelayut manja di lengannya ini sedang mengerjai dirinya.
"Apa?" Gallen berusaha menormalkan suaranya, dan Gallen tidak ingin setan kecil itu tahu jika saat ini dirinya tengah deg-degan, dan suhu tubuhnya panas dingin.
"Aku ingin kau membelikanku toko Pizza ini, agar aku bisa makan pizza nya sepuas hatiku."
Gallen bergidik ngeri mendengar penjelasan Siyyara. Apa sebegitu sukanya dia dengan pizza sehingga meminta dirinya membelikan toko pizza itu untuknya?
"Kau bahkan belum menghabiskan pizza di kotak lainnya."
"Pokoknya aku ingin kau membelikanku toko pizza itu, bukankah kau sendiri tadi yang bilang jika aku meminta pesawat sekalipun kau akan segera membelikannya untukku. Apa sekarang kau bangkrut? Aku bahkan belum meminta Pesawat, aku baru meminta toko pizza." Siyyara tersenyum licik, membuat Gallen tidak berkutik adalah hobi barunya.
"Dasar matre."
"Sifat semua perempuan memang matre, kalau tidak matre, mau makan apa dia nanti sama anaknya? Mau makan cinta? Bulshit."
Gallen hanya geleng-geleng kepala mendengar ocehan yang membuatnya tidak bisa fokus mengerjakan beberapa laporan penting perusahan.
"Kau bahkan belum menjadi Istriku."
Siyyara tersentak mendengar kata "Istri" keluar dari mulut Gallen. Jangan bilang jika Gallen akan memperistri dirinya.
"A-apa maksudmu?"
"Aku tidak ingin memiliki istri yang matre seperti dirimu."
Duang
"Siapa juga yang mau menjadi Istri dari pria sombong seperti dirimu, cih amit-amit." Semua perasaan deg-degan nya hilang seketika, ketika mendengar ucapan Gallen.
"Hati-hati."
"Apanya?"
"Kau nanti jatuh cinta padaku."
"Tidak akan. Cuihh! Seleraku itu tinggi ya, orang seperti dirimu tidak masuk dalam kriteria ku," ujar Siyyara.
"Hm," gumam Gallen.
"Aku bosan," rengek Siyyara.
"Tidurlah."
"Dimana? Aku tidak mau tidur satu kamar denganmu."
"Ck, bisa tidak sih otakmu itu berfikir dengan benar?" Sindir Gallen.
"Enak saja, apa kau tidak tahu jika aku ini sangat cerdas, ha?"
"Tidak tahu."
"Dasar kulkas berjalan."
"Terimakasih atas pujiannya," jawab Gallen dengan nada dibuat semanis mungkin.
"Menjijikan!"
"Cepat tidur, di apartemen ini ada dua kamar, kau bisa menggunakan kamar di sebelah sana," tunjuk Gallen dengan nada dingin.
"Terus bajunya?"
"Apa?"
"Ba-baju ganti. Masa aku tidur pakai gaun seperti ini, yang benar saja."
"Untuk sementara kau bisa mengenakan baju-bajuku. Aku akan menyuruh seseorang untuk mengambilkan pakaianmu di rumah."
"Baiklah, mana bajumu."
"Sebentar."
Gallen segera mengambil beberapa kaosnya di dalam lemari Kamarnya, dia mengambil satu buah kaos yang tidak pernah dipakai olehnya karena terlalu kecil ditubuh kekarnya.
Gallen berjalan mendekati Siyyara yang masih memakan pizza nya, Gallen sangat heran dengan perilaku Siyyara yang bisa dibilang abnormal. Mana ada gadis normal yang mampu menghabiskan 4 kotak pizza dalam waktu singkat. Dia itu kelaparan apa doyan sih? Pikir Gallen.
"Cepat ganti gaunmu dan tidur. Ini sudah malam."
Gallen melemparkan kaosnya tepat di wajah Siyyara.
"GALLEN!"
******
Alvian masih berkutat dengan laptopnya, dan tak lama kemudian email masuk dari laptopnya, kedua matanya pun terbelalak kaget serta takut.
"Siyyara?"
Dengan cepat Alvian mengambil ponselnya yang ada di nakas untuk menghubungi seseorang.
"Halo." Suara dari seberang sana terdengar.
"Halo Len. Dimana Siyyara saat ini?"
"Dia tengah tidur di apartemen ku," jawab Gallen santai.
"Di apartemen mu? Kalian tidak macam-macam, bukan?" Tanya Alvian curiga.
"Tentu saja tidak. Terpaksa ku bawa Siyya ke sini karena aku khawatir meninggalkannya di rumah sendiri."
"Baiklah, aku percaya padamu."
"Ada apa kau menelfon? Apa Siyyara tidak bisa dihubungi?"
"Tidak. Saat ini aku mendapat email dari orang berbahaya, dan dia ingin mengancam ku dengan membawa nama Siyyara. Ku mohon jangan lengah menjaganya, Len. Aku tahu permintaanku ini sangat berat untuk kau turuti. Tapi hari ini ku mohon dengan sangat, jaga Siyyara."
"Baiklah, kau jangan khawatir, aku akan menjaganya. Lagipula saat ini dia pasti tengah tidur, jika kau ingin berbicara padanya aku akan membangunkan dirinya."
"Tidak, biarkan dia beristirahat. Kau juga beristirahat lah. Aku tutup telfonnya."
"Iya."
"Hufft." Alvian menghela napas lega saat mendengar jika Siyyara telah bersama dengan Gallen.
Tapi tunggu. Sejak kapan Siyyara menjadi gadis penurut? Dan mengapa Gallen begitu mudahnya mengiyakan permintaannya untuk menjaga Siyyara yang sangat nakal dan pembangkang itu?
"Mencurigakan, aku akan mengintrogasi mereka setelah semua urusan ini selesai," ujar Alvian.