
"Bagaimana dengan kondisi putri saya, dok?" Tanya Dave saat melihat dokter yang memeriksa Siyyara keluar dari ruangan itu.
"Dia tidak apa. Hanya saja dia terlalu banyak pikiran, dia terlalu terhanyut dengan rasa takut yang berlebih. Sebaiknya ajak Siyyara berbicara terus-menerus, agar pikirannya sedikit teralihkan," ujar Dokter.
"Dan untuk luka tembaknya juga belum mengering, jadi jangan biarkan Siyyara terlalu banyak gerak," lanjut dokter itu.
"Baik, dok. Kami mengerti," ujar Dave.
"Baiklah, saya permisi dulu. Jika ada apa-apa, anda bisa memanggil saya kembali," ujar dokter itu.
"Baik, dok."
******
1 Minggu berlalu setelah kejadian pahit itu, Siyyara telah di perbolehkan untuk pulang karena kondisinya sudah stabil, sedangkan Gallen, dia masih menutup kedua matanya dengan erat, seolah enggan untuk membuka kedua mata itu kembali.
Kondisi Gallen yang tidak menunjukkan kemajuan sama sekali, membuat Siyyara semakin merasa bersalah karena Gallen menjadi seperti ini karena ingin melindungi nya. Setiap mendengar tangisan Amanda yang selalu mengkhawatirkan Gallen, dada Siyyara terasa sesak. Dia merasa sangat jahat karena membuat seorang Ibu hampir saja berpisah dari anaknya.
"Tante." Siyyara berjalan menggunakan tongkatnya dengan di tuntun oleh Dave, Dave mengajak Putrinya untuk menjenguk Gallen yang masih berbaring kaku di ranjang rumah sakit.
Dave membawa Siyyara berkunjung ke ruangan Gallen karena Dave ingin agar Gallen segera tersadar dari koma-nya. Setiap di ruangan itu ada Siyyara, Gallen selalu menunjukkan respon dengan menggerakkan jari nya.
Meski dokter yang menangani Gallen mengatakan jika kondisi Gallen belum ada kemajuan, tetapi bagi keluarga Gallen, hal itu adalah kemajuan untuk kondisi Gallen. Dengan hanya menggerakkan jari jemarinya, Gallen telah membuktikan bahwa suatu saat nanti dia akan segera bangun dari tidur panjangnya.
"Siyya?"
"Iya Tante." Siyyara menyunggingkan senyum manisnya dan meminta Daddy-nya untuk membawanya mendekat kepada Amanda.
"Daddy tinggal sebentar ya, nanti Daddy jemput lagi saat jam makan siang," ucap Dave dengan mencium kening putrinya.
"Iya Dad. Daddy hati-hati ya." Siyyara tersenyum.
"Iya, Daddy pergi. Assalamualaikum," pamit Dave.
"Wa'alaikumsalam," jawab Siyyara dan Amanda secara bersamaan.
Setelah Dave tidak terlihat lagi, Amanda menuntun Siyyara untuk duduk di sampingnya.
"Siyya, Tante senang karena Siyya selalu datang kemari," ucap Amanda sambil tersenyum, dia sangat senang bertemu Siyyara, karena bertemu Siyyara seperti sedang bertemu Siena, sahabatnya.
"Tante, Siyya bawakan makanan untuk Tante, Tante pasti belum sarapan, kan?"
Amanda tersenyum lagi, dia mengelus rambut Siyyara.
"Iya, Tante belum sarapan, sayang. Rasanya Tante malas untuk makan, semua makanan terasa hambar di mulut Tante."
"Tapi Tante, jika Tante tidak makan, Tante akan sakit. Siyya juga belum sarapan, bagaimana jika kita makan bersama, Tante? Siyya bawa makanan banyak hari ini," seru Siyyara.
"Kamu saja yang makan, sayang. Tante masih kenyang."
"Tidak, Siyyara bawa makanan ini untuk Tante. Jika Tante tidak makan, Siyyara juga tidak mau makan." Siyyara menampilkan wajah cemberutnya.
"Sayang, kamu harus sarapan karena kamu harus minum obat," bujuk Amanda.
"Siyya akan sarapan, jika Tante juga mau sarapan," bantah Siyyara.
"Hah, baiklah. Tante akan sarapan."
Siyyara tersenyum senang.
"Biar Siyya yang menyuapi Tante."
"Kalau begitu, Tante juga akan menyuapi Siyya. Bagaimana?"
"Iya, Siyya mau." Siyyara semakin mengembangkan senyumnya, dia bahagia jika Amanda menyuapinya, dia merindukan kasih sayang seorang ibu, dan Amanda sudah mengobati rasa rindunya kepada Mommy nya.
Mereka berdua menikmati makanannya tanpa menyadari jika sedari tadi ada seseorang yang sedang mengintai mereka, orang itu selalu mengintip dari pintu ruangan yang Gallen tempati.
"Uhuk!"
"Siyya, kamu kenapa?" Tanya Amanda sambil mengusap punggung Siyyara.
"Tidak Tante, cuma tersedak saja," jawab Siyyara.
"Bentar, Tante ambil minum dulu." Amanda berdiri untuk ke meja nakas, tetapi dia melihat air yang tinggal sedikit dari botol itu.
Amanda membawa botol itu kepada Siyyara, agar Siyyara meminumnya.
"Siyya, Tante lupa belum membeli air, airnya tinggal sedikit. Kamu minum saja ya, Tante akan keluar sebentar untuk membeli air nya. Kamu tunggu disini saja. Tante akan cepat kembali," ujar Amanda seraya memberikan botol minuman itu kepada Siyyara. Siyyara pun menerima botol itu.
"Tante, Siyya ikut." Siyyara memegang lengan Amanda.
"Sayang, kamu disini saja, Tante cuma sebentar kok."
Dengan ragu, Siyyara melepaskan genggaman tangan Amanda, lalu Siyyara hanya mengangguk patuh.
"Kamu jangan kemana-mana ya, Tante cuma sebentar. Kamu duduk disini saja," ucap Amanda sebelum keluar dari ruangan itu.
"Iya, Tante."
Amanda keluar dari ruangan Gallen, dan seseorang yang mengintai Siyyara pun memulai aksinya.
Orang itu seorang pria yang mengenakan pakaian perawat, dia memasuki ruangan Gallen pelan-pelan.
*
Di lain tempat, Amanda berjalan di lorong rumah sakit untuk ke kantin rumah sakit itu, dan saat tiba di kantin rumah sakit, Amanda bertemu dengan Alvian. Ternyata Alvian sudah membeli beberapa camilan kecil dan air minum untuk Amanda dan Siyyara.
"Al, kamu disini?" Heran Amanda.
"Iya, Tante. Alvian tadi di telfon Daddy, agar Alvian menemani Tante dan Siyyara. Dan Alvian mampir ke kantin dulu," jelas Alvian.
"Ah, kebetulan sekali, Tante juga ingin membeli air mineral."
"Alvian sudah membeli airnya, tante. Sebaiknya kita kembali ke ruangannya Gallen, Tante," ajak Alvian.
"Iya, kita harus kembali ke ruangannya Gallen, soalnya Siyyara sendirian disana," ucap Amanda.
"Tante bantu bawa ya," ujar Amanda saat melihat Alvian kerepotan membawa kresek yang berisi makanan dan air mineral.
Amanda dan Alvian segera keluar dari kantin. Mereka segera menuju ke ruangan Gallen.
*****
"Siapa?" Tanya Siyyara saat mendengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat ke arahnya.
Pria itu tetap diam dan terus mendekati Siyyara. Siyyara yang tahu bahwa dirinya dalam bahaya pun segera bangkit dari duduknya, ia ingin pergi dari ruangan itu.
Tetapi lengan Siyyara langsung di cekal oleh pria itu. Siyyara memberontak dan memukuli orang itu, tetapi pukulan Siyyara tidak berefek sama sekali, karena tenaga orang itu lebih kuat dari tenaga Siyyara.
"Lepas!" Bentak Siyyara.
Pria itu masih diam, dia terus mencekal lengan Siyyara dan menariknya keluar dari ruangan Gallen.
"LEPASKAN AKU! TOLONG!"
"DADDY! KAK ALVIAN, TOLONG!" Dengan spontan pria itu menutup mulut Siyyara dengan tangannya.
Gallen menggerakkan jari-jarinya, kedua kelopak matanya bergetar, dia ingin membuka matanya tetapi kedua matanya tak kunjung terbuka. Gallen mendengarkan setiap teriakan Siyyara, dan Gallen ingin membantu Siyyara, dia berjuang untuk mengembalikan kesadarannya.
"Emmmm." Siyyara berusaha berteriak lagi, tetapi suaranya tertahan karena tangan pria itu.
Pria itu segera menyeret Siyyara untuk dibawa keluar dari tempat itu, dan Siyyara memegang tembok samping nya, ia berpegangan pada tembok itu sekuat tenaga.
"Emmmm!"
Saat pegangannya pada tembok terlepas karena tarikan orang itu, Siyyara kembali memberontak, dia menggigit tangan orang itu, hingga orang itu berteriak kesakitan.
"TANTE AMANDA! GALLEN! TOLONG AKU!"
Teriakan Siyyara yang memanggil namanya, membuat Gallen semakin ingin membuka kedua matanya.
"GALLENNN TOLONG!"
Kedua mata tajam itu akhirnya terbuka, dia dapat melihat dengan kedua matanya sendiri jika kekasihnya sedang ditarik oleh seseorang yang menggunakan pakaian perawat dan juga masker.
Gallen ingin bangun dari ranjang, tetapi seluruh tubuhnya seperti mati rasa, dia kesulitan bergerak.
"Si-yya." Panggil Gallen dengan lemah dan lirih. Suaranya tidak terdengar di telinga Siyyara karena suaranya sangat pelan, sedangkan Siyyara terus memberontak dan berteriak.
"AH! SAKITTT!" Teriak Siyyara lagi saat lengannya tergores pintu saat tubuhnya ditarik paksa dan dirinya dengan cepat berpegang pada pintu ruangan itu.
Karena meras putus asa tidak bisa membawa Siyyara dalam keadaan sadar, pria itu mengeluarkan sapu tangan yang sudah disemprot kan obat bius. Dia pun langsung membekap mulut dan hidung Siyyara dengan sapu tangan itu. Dan Siyyara pun pingsan diperlukan orang itu. Dengan senang hati, orang itu menggendong Siyyara untuk dibawa pergi.
Cetarr!
Pria itu menghentikan langkahnya saat merasa kepalanya terhantam sesuatu, pria itu memegangi kepala belakang nya yang sudah penuh dengan darah.
Pria itu menoleh kebelakang, dan ternyata pelakunya adalah Gallen, Gallen berusaha mengumpulkan semua tenaganya untuk mengambil vas bunga yang ada di nakasnya, saat berhasil meraih vas bunga itu, Gallen langsung melemparkan ke orang yang hampir saja membawa Siyyara pergi.
Orang itu berusaha menahan nyeri di kepalanya dan tiba-tiba seluruh tenaganya terkuras habis, kedua matanya pun berkunang-kunang. Orang itu meletakkan Siyyara ke lantai, dan dia berusaha melarikan diri dari tempat itu.
Gallen berusaha bangkit dari ranjangnya, dia melepas masker oksigen dan selang infusnya. Lalu dia menurunkan kedua kakinya pelan-pelan dan memaksa tubuhnya untuk berdiri, tetapi kedua kakinya tidak bisa menyangga tubuhnya, dan Gallen terjatuh di lantai. Tanpa menyerah, akhirnya dia menghampiri Siyyara dengan menyeret kedua kakinya.
Dengan pandangan mengabur orang itu berjalan terseok-seok dan tak lama kemudian Alvian dan Amanda datang, dan melihat seseorang yang sedang berdarah sedang berjalan keluar dari ruangan Gallen. Saat di depan pintu dia melihat Siyyara yang tengah berbaring tak sadarkan diri, Alvian pun langsung mengejar orang itu.
"Ya Allah, Siyyara!" Amanda mendekati Siyyara dan berusaha membangunkan Siyyara.
"Siyya, bangun sayang." Amanda terus menepuk-nepuk pipi Siyyara pelan. Pandangan Amanda mengarah ke tempat Gallen, dia terkejut bukan main saat melihat Gallen berada di lantai dengan terus merangkak untuk mendekati Siyyara.
"Gallen?"
"Gallen!" Amanda langsung menghampiri Gallen yang berada tak jauh dari Siyyara.
"Kamu sudah sadar, Gallen? Syukurlah." Amanda memeluk Gallen dengan erat. Gallen masih melirik Siyyara yang berbaring di lantai.
"Siyya," gumam Gallen pelan.
Amanda pun tersadar jika Siyyara masih berbaring di lantai dekat pintu.
"Gallen, kamu tunggu disini, Mama akan minta bantuan sebentar."
********
Dave menggertakkan giginya saat mendengar cerita dari Alvian, jika seseorang hampir saja menculik Siyyara. Alvian menceritakan jika orang yang hampir menculik Siyyara adalah seorang perawat yang di suruh oleh seseorang.
"Apa kau sudah mengetahui siapa dalang dibalik semua ini?"
"Belum, Dad. Meski Alvian sudah memberikan siksaan yang buruk, tetapi perawat itu masih menyembunyikan identitas orang yang menyuruhnya."
Dave mengepalkan kedua tangannya.
"Dimana kau menempatkan perawat bodoh itu?"
"Untuk apa, Dad? Alvian sudah membawanya ke kantor polisi."
"Mengapa kau membawanya ke kantor polisi? Bahkan aku belum memberinya pelajaran kepada orang brengsek itu," marah Dave.
Alvian menghela napas panjang.
"Alvian memang sengaja masukkan nya ke dalam penjara, agar Daddy tidak bertindak semena-mena kepada perawat itu. Lagipula perawat itu sudah terluka parah, Dad."
"Brengsek!" Umpat Dave.
"Sudahlah Dad. Meski Daddy akan memukulnya hingga mati, dia akan tetap membisu. Jadi itu sangat percuma, biarkan saja dia mendekam di penjara, Dad."
"Kita harus fokus mencari siapa dalangnya, Dad. Jika orang suruhan nya berhasil menyembunyikan identitasnya, maka kita juga bisa bermain seperti itu," ujar Alvian seraya menampilkan senyum iblisnya.
Dave melirik putra sulungnya dengan tatapan berbeda.
"Kau pasti sudah tahu orangnya, bukan? Dan kau bertingkah seolah-olah tidak tahu?" Tebak Dave.
"Apa wajahku begitu mudah di tebak?" Tanya balik Alvian.
"Jawab, Alvian!" Geram Dave.
"Hahaha, iya dad. Aku sudah tahu siapa dia. Demi menangkap tikus itu, kita juga harus bisa menjadi kucing, Dad."