The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
34. Bolehkah berharap?



"Kamu siapa?"


Gallen menatap Siyyara dengan raut wajah bingung.


Kedua mata Siyyara berbinar-binar saat memandang Gallen. Dia seperti tersihir dengan wajah tampan Gallen. Entah mengapa hatinya sangat damai ketika melihat wajah itu, setelah tersadar dari lamunannya, dia pun segera menghampiri Alvian dan berteriak di depan kakaknya.


"Kakak! Kenapa kakak tidak pernah bilang ke Siyya jika kakak memiliki teman seganteng dia," ucap Siyyara kepada Alvian.


Alvian berdecak kesal dengan teriakan adiknya, dia berusaha menahan rasa malunya di depan para tamunya. Sejak kapan Siyyara jadi playgirl sih? Berbagai macam pertanyaan hinggap dalam otak Alvian.


Gallen menganga mendengar ucapan Siyyara. Entah mengapa dia merasa asing dengan sifat Siyyara itu. Tidak biasanya Siyyara mengatakan bahwa dia tampan, karena selama ini Siyyara tidak pernah mengagumi Gallen sedikitpun.


"Kakak, jawab!" Bentak Siyyara lagi kepada Alvian.


"Dek, please deh. Jangan lebay bisa? Lihat yang bening sedikit aja mata nya sudah kemana-mana," sindir Alvian setengah jengkel.


"Ish, dia itu bening nya tidak sedikit kak, kenalkan dia pada Siyya dong, kak," bisik Siyyara kepada Alvian.


"Kenalan aja sendiri. Biasanya juga gimana?" Sindir Alvian lagi.


"Tapi kali ini Siyya malu, kak. Dari tadi dia menatap Siyya terus." Siyyara mengerucut kan bibirnya dan pipinya merah merona.


Alvian terkekeh kecil, dia melirik Gallen yang menatapnya juga dengan tatapan penuh tanya.


"Cepat, dekati dia. Dia itu orangnya rada jaim, jadi kamu harus sabar ya," bisik Alvian kepada Siyyara.


Maira mengulum senyumnya melihat keusilan Alvian yang ingin mengerjai Gallen.


"Maira. Ayo, sebaiknya kita menyapa temanku yang ada di sana, kami sudah lama tidak berjumpa," ajak Alvian kepada istrinya.


"Al, kamu mau kemana?" Cegah Gallen.


"Mau menyapa teman lama. Kamu jagain Siyyara sebentar ya, nanti aku kembali ke sini lagi."


"Ta-tapi Al-" Alvian langsung pergi dengan membawa Maira, dia meninggalkan Siyyara kepada Gallen.


Sebenarnya Gallen masih takut dengan kemarahan Siyyara dua tahun yang lalu, dia takut jika Siyyara masih belum memaafkannya.


"Kak?" panggil Siyyara.


"I-iya," jawab Gallen tergagap.


Gallen merasa asing dengan tatapan Siyyara, hal itu membuat rasa baru bergejolak di dalam hatinya. Berbagai macam pertanyaan singgah di kepalanya. Mengapa Siyyara tidak marah lagi padanya? Mengapa sifat Siyyara berubah? Dan mengapa Siyyara bertanya siapa dirinya? Apakah ini sandiwara baru Siyyara?


Setelah Alvian dan Maira tidak terlihat lagi, Siyyara berjalan mendekati Gallen yang masih berdiri kaku di tempatnya.


"Kak Gallen?" Panggil Siyyara.


Jantung Gallen berdetak lebih kencang dari sebelumnya, karena panggilan baru Siyyara.


"Ada apa?"


"Kakak kok tampan sekali sih? Siyya jadi tergila-gila pada Kakak," ucap jujur Siyyara.


Kedua mata Gallen melotot, sejak kapan Siyyara menjadi gadis yang pandai merayu seperti ini? Ini pasti ajaran sesatnya Alvian. Berani sekali dia mengajari Siyyara yang tidak-tidak.


"Nama kakak siapa? Kakak masih single kan?" Tanya Siyyara lagi.


"Hm," gumam Gallen, dia sangat gugup untuk menjawab pertanyaan gadis tercintanya.


"Hm? Hm apa kak?" Rengek Siyyara dengan manja.


Gallen menarik napas panjang dan menghembuskan nya. Dia memandangi wajah yang sangat ia rindukan. Hatinya sungguh merasa lega saat melihat orang yang di cintai nya dalam keadaan baik-baik saja, erlebih sekarang gadis itu sudah bisa melihat lagi.


"Apa kamu benar-benar tidak mengenaliku?" Tanya Gallen serius, dia dengan menatap bola mata Siyyara dengan tatapan teduh.


"Tidak, kak." Siyyara menggelengkan kepalanya cepat dan menatap Gallen dengan tatapan polos.


Gallen menyerngit heran.


"Sungguh?" Gallen masih menatap Siyyara yang juga sedang menatapnya.


"Siyyara tidak bohong kak. Siyyara belum tahu nama kakak," jawab Siyyara.


"Namaku Siyyara Almeta Damares, kak. Kakak bisa memanggilku Siyyara. Kalau nama kakak siapa?"


Gallen tidak tahu apa yang sedang terjadi kepada Siyyara. Apakah Siyyara benar-benar tidak ingat padanya? Apa dia hilang ingatan? Pikir Gallen.


'Jika dia ingat tentang pertengkaran kita sebelum dia pergi ke Jerman, saat ini pasti dia akan marah padaku. Tetapi saat ini dia tidak marah dan mengenaliku sama sekali, dia juga tidak mengingat sedikitpun tentangku. Apakah benar dia hilang ingatan?' batin Gallen.


"Kakak? Kakak tidak mau berkenalan dengan ku ya?" Siyyara memulai aksinya dengan menampilkan wajah sedihnya. Dan hal itu berhasil membuat Gallen gelagapan.


"Tidak, Siyya. Bukan begitu. Kakak senang berkenalan denganmu." Gallen meringis dan mengusap tengkuknya pelan.


"Nama ku Gallen."


"Gallen saja?" Siyyara memiringkan wajahnya dan mengerutkan keningnya. Dia seperti pernah mendengar nama itu, tapi darimana? Dia bahkan tidak memiliki teman yang bernama Gallen. Siyyara terus berpikir keras, dia berusaha mengingat nama itu.


"Ah, aku ingat sekarang," ujar Siyyara dengan nada yang semangat. Siyyara memandang Gallen dengan kedua mata yang sengaja ia sipitkan.


"Gallen Altara Damestria, kan?" Tanya Siyyara dengan nada menggoda.


"Iya," jawab Gallen dengan mengangguk.


"Kamu tahu namaku darimana?"


"Dari kak Alvian. Kak Alvian pernah menyebut nama itu kepada Siyyara."


Gallen hanya mengangguk dan membulatkan mulutnya membentuk huruf O.


"Kak, sebentar lagi acara dansa akan di mulai. Kakak mau kan berdansa dengan Siyya?" Siyyara menatap Gallen dengan polos.


Gallen hanya tersenyum tipis dan mengangguk.


"Ayo, kak." Siyyara menggandeng Gallen menuju lantai dansa yang sudah di penuhi oleh beberapa pasangan.


Gallen tersenyum manis saat melihat Siyyara menunduk, dia paham jika gadisnya itu sedang gugup. Sejujurnya Gallen juga sedang gugup, tetapi dia bisa menyembunyikan rasa kegugupannya dengan baik. Dia pandai mengatur ekspresi wajahnya.


"K-kak."


"Iya?"


"Jangan menatapku seperti itu," ujar Siyyara dengan rona merah di pipinya.


"Kenapa?" Gallen mengulum senyum.


"Jangan tersenyum." Kedua mata Siyyara melotot untuk memperingati Gallen.


"Kenapa?" Tanya Gallen dengan heran.


"Aku tidak mau para wanita disini menikmati senyuman mu itu."


Gallen terperangah mendengar kalimat Siyyara, bolehkah Gallen berharap sekarang? Bolehkah dia berharap jika perasaan cintanya selama ini akan terbalas?


Gallen pun diam dengan ekspresi datarnya, jika Siyyara tidak memperbolehkan nya untuk tersenyum, maka dia tidak akan tersenyum.


"Kak, kok diam sih?" Siyyara mendongak untuk melihat wajah Gallen yang tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"Kakak marah ya? Maaf. Siyya tidak bermaksud-" Suara Siyyara bergetar menahan tangis.


"Stt. Kata siapa aku marah? Bukannya tadi kamu yang melarang ku untuk tersenyum?" Tanya Gallen dengan nada lembut.


Mendengar ucapan Gallen, Siyyara mendongak, dia menatap bola mata Gallen yang sangat jernih, dia mengagumi mata itu. Untuk ukuran seorang laki-laki, Gallen telah memiliki mata yang sangat indah dan jernih, rahangnya tegas, alis dan bulu matanya tebal, hidung nya mancung, dan bibirnya-.


'Aku mikir apa sih?' batin Siyyara, dia menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Siyyara segera memalingkan wajahnya yang merona dari tatapan Gallen, dia malu karena telah mengagumi seorang Lelaki dengan berlebihan. Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini, bahkan dengan teman lelakinya pun tidak.


"Sudah, jangan sedih lagi ya," hibur Gallen. Gallen mengira jika Siyyara menunduk karena dia sedang sedih, Gallen tidak tahu jika gadis yang ada di depannya saat ini tengah berusaha menahan diri dari rasa kagum nya kepada Gallen.


Siyyara mengangguk dan segera memeluk tubuh Gallen, dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gallen.


Gallen terkejut dan menahan napasnya, dia merasa risih dan juga senang dengan yang dilakukan Siyyara, bahkan dulu Siyyara tidak pernah mau untuk memeluknya, tetapi sekarang? Gadis itu tanpa ragu memeluk tubuhnya.


"Ehem!" Alvian datang bersama Maira. Mereka datang memang sengaja ingin mengganggu kebersamaan Gallen dan Siyyara. Alvian menatap Siyyara dan Gallen secara bergantian.


Dengan cepat Siyyara melepaskan pelukannya.


Sedangkan Gallen, dia berdecak kesal saat melihat wajah Alvian yang jelas-jelas ingin menggodanya.


"Kalian belum ada ikatan, jadi kalian tidak boleh berpelukan. Iya kan sayang?" Alvian meminta pendapat Istrinya untuk menguatkan argumen nya.


"Sudahlah mas, jangan ganggu mereka. Ayo, sebaiknya kita bergabung ke Kakek dan Ayahmu saja," ujar Maira.


Maira tersenyum geli saat melihat wajah malu-malu Siyyara. Dan tatapan Maira beralih ke Gallen. Gallen terlihat biasa saja, tetapi Maira tahu jika sebenarnya Gallen sedang menyembunyikan kegugupan nya dengan berekspresi datar.


"Siyya," panggil Alvian.


Siyyara menoleh ke arah kakaknya.


"Gallen itu pandai menyanyi hlo. Bahkan semua kaum Hawa mendambakan nya saat dia mulai mengeluarkan suara merdunya itu. Apa kamu tidak penasaran dengan suara nyanyian Gallen?" Alvian menyeringai ke arah Gallen, dan di balas tatapan membunuh dari Gallen.


"Kak, kakak bisa menyanyi?" Tanya Siyyara kepada Gallen.


Saat Gallen akan membuka mulutnya untuk bersuara, dengan cepat Alvian menjawab pertanyaan Siyyara.


"Iya, Siyya. Suaranya sangat merdu," ujar Alvian.


Maira terkekeh geli melihat keusilan suaminya.


Gallen menggertakkan giginya, dia sungguh kesal dengan teman bodohnya itu, apakah dia tidak bisa membiarkannya merasa tenang sebentar?


"Sudah, mas. Ayo kita pergi." Maira dengan sengaja menarik lengan suaminya, agar suaminya tidak mengganggu pasangan yang baru melepas rindu.


Saat Alvian dan Maira sudah tidak terlihat lagi. Siyyara menatap Gallen dengan rasa penasarannya.


"Kak, Siyya ingin mendengar kakak bernyanyi. Ayo menyanyi lah," rengek Siyyara.


"Ah, tidak Siyya. Tenggorokan kakak lagi sakit, kakak tidak-"


"Kakak bohong. Jelas-jelas tadi kakak tidak kenapa-napa," sahut Siyyara dengan wajah menahan tangis. Gallen pun gelagapan sendiri.


"Kakak tidak bisa menyanyi," ujar Gallen gugup.


"Kakak bohong lagi? Kata Alvian kakak pandai menyanyi. Apa karena aku yang meminta? Kakak tidak mau menyanyi untukku?"


"Siyya dengar dulu. Kamu dibohongi oleh Alvian." Gallen mengusap kepala Siyyara.


"Pokoknya Siyya mau kakak menyanyi, jika kakak tidak mau, Siyya tidak mau bertemu kakak lagi," ancam Siyyara.


Bukannya takut dengan ancaman Siyyara, justru Gallen tertawa lembut. Dia sangat menyukai sifat Siyyara yang sangat manja, dan baru saja Siyyara mengeluarkan rengekan manja yang membuat Gallen merasa senang. Dari dulu dia memang ingin sekali Siyyara bermanja kepadanya. Jujur saja, Gallen menyukai Siyyara yang hilang ingatan, dia terlihat lebih jujur ketika tidak mengingat apapun.


"Baiklah, kakak akan menyanyi untukmu. Hanya untukmu, Siyya."


"Sungguh?" Kedua matanya berbinar cerah. Gallen pun hanya mengulum senyumnya, dia sangat bahagia saat Siyyara bahagia karena dirinya.


"Iya," jawab Gallen.


"Sekarang katakan, kamu ingin di nyanyikan lagu apa?" Tanya Gallen.


"Lagu apa saja terserah kakak, yang penting kakak yang menyanyi," jawab Siyyara malu.


"Baiklah," ujar Gallen dengan membawa Siyyara ke tengah-tengah kerumunan beberapa orang yang tengah berdansa.


Gallen meninggalkan Siyyara sendiri di tengah-tengah lantai dansa, Gallen pergi untuk meminta si pemutar musik untuk mengganti musiknya, setelah Gallen dan si pemutar musik selesai berbicara dengan berbisik. Gallen kembali dengan menggunakan Microphone clip on Wireless.


Tak lama kemudian musik pun berbunyi, dari musik itu, Siyyara tahu lagu apa yang akan dinyanyikan oleh Gallen untuknya.