The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
15. Psikiater



Siyyara masih terjaga, entah mengapa dia tidak bisa tidur setelah Kakek dan Pamannya datang menjenguknya bersama Alvian, rasanya sesak saat Ayahnya sendiri tidak mau melihat keadaannya.


Siyyara memang tidak pernah mengeluh kepada siapapun, tetapi dia juga ingin diperhatikan oleh Ayahnya. Karena sudah lama dia tidak merasakan belaian tangan sang Ayah di kepalanya setelah sang Ibu meninggal.


"Apa Daddy marah padaku? Tapi apa salahku?" Isak Siyyara pelan. Dia berusaha sebaik mungkin menahan isakannya, karena tidak ingin membuat Alvian yang sedang beristirahat di Sofa terganggu tangisannya.


"Hiks, Siyya merindukan Daddy."


Alvian mengerjapkan kedua matanya saat mendengar suara tangis seseorang, suaranya memang pelan, tetapi sangat jelas terdengar di telinga Alvian. Alvian segera bangun dan melihat sekelilingnya, dan pandangannya terfokus pada satu objek, yaitu Siyyara.


Meski Siyyara memunggungi nya, tetapi Alvian tahu Siyyara sedang menangis karena bahu nya terlihat bergetar.


"Siyya," panggil Alvian pelan.


"Kamu belum tidur, dek?" Alvian berjalan mendekati Siyyara.


"Ada apa?" Alvian mengelus rambut Siyyara.


"Siyya rindu ketika Mommy masih ada, kak," jawab Siyyara jujur.


Alvian tersenyum lirih, Alvian tahu betapa adiknya ini kekurangan kasih sayang, seharusnya setelah Mommy nya meninggal, Daddy nya semakin memperhatikan Siyyara, tetapi kenyataannya sebaliknya. Meski yang sebenarnya Daddy-nya sangat menyayangi Siyyara, dan selalu memantau kondisi Siyyara, tetapi pikiran buruk Siyyara kepada Daddy-nya bukanlah kesalahan karena memang Daddy nya tidak pernah berkunjung sekalipun untuk menemui Siyyara di Jakarta.


"Jangan sedih, ada kakak disini. Kakak akan selalu bersama mu," ujar Alvian sambil merengkuh tubuh kecil adiknya.


"Kamu demam, dek? Tubuhmu panas sekali, kakak akan panggilkan dokter."


"Tidak kak. Aku hanya ingin kakak saja," ujar Siyyara pelan.


"Kakak tidurlah di sebelah Siyya," ucapnya sambil menggeser tubuhnya.


"Tapi kamu akan merasa sempit dek."


"Siyya ingin sekali ini saja kakak temani Siyya tidur," pinta Siyyara dengan nada yang lemah, dan itu membuat perasaan Alvian sesak. Selama ini Siyyara selalu ugal-ugalan, tidak pernah berbicara dengan halus kepada siapapun. Tetapi sekarang? Dia memperlihatkan kerapuhannya di depan Alvian.


Alvian segera memposisikan tubuhnya berbaring di sebelah Siyyara, dia memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Siyyara.


"Tidurlah, kakak akan menemanimu," bisik Alvian.


"Tapi kakak selalu meninggalkan Siyya sendiri, jika tidak ke Prancis pasti ke Jepang. Siyya selalu kesepian di kota ini, kak."


"Maafkan kakak, sekarang kamu adalah Prioritas kakak. Kakak akan mendahulukan dirimu ketimbang pekerjaan kakak," ujar Alvian. Siyyara tersenyum ketika mendengar ucapan kakaknya.


"Sekarang tidurlah." Siyyara mengangguk dan lengannya yang bebas selang infus memeluk tubuh kakaknya. Alvian merentangkan sebelah tangannya sebagai bantalan untuk kepala Siyyara dan lengan satunya membalas pelukan sang adik dengan sayang.


Mereka berdua memejamkan mata dan tidur dengan tenang hingga mentari muncul dari persembunyiannya.


******


"Ya Allah, aku lupa tidak memberi kabar Alvian jika tadi malam aku tidak bisa menemani Siyyara, semoga saja Alvian menemani Siyyara," ujar Gallen dengan berjalan cepat di sepanjang lorong rumah sakit, dia ingin memastikan bahwa Siyyara tidak sendirian.


Saat sampai di depan ruangan Siyyara, Gallen segera membuka pintu itu dengan pelan, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Siyyara dan Alvian tidur satu ranjang dalam posisi berpelukan.


Meski mereka adalah saudara kandung tetapi tetap saja ada rasa cemburu di hati Gallen, dengan perasaan yang dikuasai kecemburuan, Gallen segera melangkah mendekati ranjang Siyyara.


"Ehem!" Gallen berdehem keras, agar mereka segera bangun. Tetapi yang ada mereka semakin mengeratkan pelukannya.


Gallen mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali dia menarik Alvian dari sana, tetapi jika dia melakukan nya, Siyyara akan terganggu dari istirahat nya.


"Al, bangun." Gallen menepuk lengan Alvian dengan keras karena lengan itu memeluk pinggang kekasihnya.


"Engh!" Alvian mengucek matanya saat cahaya mentari menusuk di kedua matanya.


"Bangun!" Perintah Gallen dengan tegas.


"Ada apa?" Tanya Alvian malas.


"Cepat bangun," ujar Gallen dengan menarik Alvian dari sana.


"Ish, apa-apaan sih? Jangan main tarik aja dong," keluh Alvian saat lengannya merasa sakit karena tarikan Gallen.


"Ada apa?" Tanya Alvian sewot.


"Aku nggak suka kamu peluk-peluk pacarku seperti itu," jawab Gallen dengan nada dingin.


Alvian menaikkan sebelah alisnya saat mendengar jawaban lugu sahabat nya.


"Kamu cemburu?" Heran Alvian.


"Siyya itu adikku sendiri. Kamu tidak berhak melarang ku untuk memeluknya, aku bebas memeluknya karena dia adikku."


"Tapi aku tidak suka." Tatapan Gallen seperti ingin membakar Alvian hidup-hidup.


"Hahaha, kenapa?"


"Apanya?


"Kenapa tidak suka?"


"Karena Siyya adalah pacarku," jawab Gallen.


"Jika aku tidak merestui hubungan kalian, Siyya tidak akan menjadi pacarmu. Bahkan aku yakin jika hari ini aku memintanya untuk memutuskan dirimu, Siyyara akan melakukan nya karena dia tidak mencintai mu," jawab Alvian berusaha menyembunyikan tawanya, dia menahan tawanya sebaik mungkin karena untuk hari ini, dia ingin berakting mengerjai sahabat nya yang dingin dan menyebalkan itu.


"Jika kau benar-benar melakukannya, saat itu juga aku akan mencekik mu."


"Hahahaha!" Tawa Alvian menggelegar di ruangan itu hingga membuat Siyyara terbangun dari tidurnya.


"Kak," lirih Siyyara.


Alvian menghentikan tawanya, dia segera menoleh ke tempat Siyyara, dia merasa bersalah karena membuat Siyyara terusik dari tidurnya.


"Maafkan kakak, jika Siyya masih ngantuk, Siyya tidur lagi aja," ujar Alvian.


"Tidak, kak."


"Apa masih pusing?" Tanya Alvian seraya menempelkan punggung tangannya di kening Siyyara. Alvian memang sengaja melakukan hal itu untuk mengerjai Gallen, Alvian baru tahu jika Gallen ternyata orangnya pencemburu.


Alvian melirik sebentar ke arah Gallen, dan benar saja wajah Gallen memerah menahan amarah. Dan Alvian semakin menjadi mengerjai Gallen lagi.


"Dek, apa kamu ingin ke toilet? Kakak akan menggendong mu hingga ke dalam," ujar Alvian.


"Tidak-tidak. Jika memang Siyyara ingin ke toilet, aku yang akan mengantarnya. Sebaiknya kau pergi saja," usir Gallen dengan sadis.


"Tidak! Mana mungkin aku meninggalkan Siyya sendiri bersama dengan mu, kalian bukan muhrim," bantah Alvian.


Siyyara merasa bingung dengan perdebatan kedua pria itu, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan tumben sekali kakaknya sangat memperhatikan nya.


"Dek, aku peringatkan. Jangan termakan oleh rayuan Gallen, jija dia macam-macam padamu, panggil saja kakak. Hari ini kakak ada meeting, kamu tidak apa kan kakak tinggal sendiri?" ucap Alvian. Gallen melotot ke arah Alvian saat mendengar ucapan Alvian.


"Tidak kak, kakak pergilah."


"Iya, pergi sana. Yang jauh!" Sahut Gallen.


Siyyara menyerngitkan dahinya ketika menyadari ada hal yang aneh kepada Gallen. Sejak kapan Gallen jadi banyak bicara seperti itu?


"Kakak pergi, Assalamualaikum," pamit Alvian.


"Wa'alaikumsalam," jawab Siyyara.


Alvian segera melangkahkan kakinya ke pintu dengan menahan tawanya. Dia tidak menyangka jika menggoda Gallen akan semudah itu.


Blam


"Hari ini kamu ingin makan apa?" Tanya Gallen dengan nada datar. Dia tahu jika makanan rumah sakit pasti hambar rasanya, dan dia tidak ingin jika Siyyara tidak mau makan karena masakan rumah sakit yang tidak ada rasanya


"Aku tidak ingin makan apa-apa. Rasanya malas makan," tukas Siyyara.


"Tapi kamu harus makan."


"Katakan padaku, kamu ingin makan apa? Aku akan membelikan makanan yang kamu inginkan. Apa kamu ingin pizza?"


"Pizza?"


"Iya, kamu ingin?"


"Iya aku mau." Gallen mengembangkan senyumnya saat Siyyara mau makan, meski yang akan dimakan adalah junk food, tetapi tidak apa. Yang terpenting Siyyara mau makan.


"Sebentar ya." Gallen mengambil ponselnya dan segera menghubungi bodyguard nya untuk membelikan pizza.


"Halo, belikan aku Pizza di tempat biasanya, dan kirimkan ke ruangan Siyyara segera," perintah Gallen.


"Baik, tuan." jawab Bodyguard itu di tempat lain. Dan Gallen segera mengakhiri panggilannya.


Siyyara memperhatikan Gallen dengan seksama, mengapa Gallen sangat perhatian padanya?


"Gallen."


"Iya. Ada apa?" Gallen kembali mendekati Siyyara.


"Apa kak Alvian mengetahui hubungan kita?" Tanya Siyyara.


"Alvian tidak hanya mengetahui hubungan kita, tetapi dia juga tahu jika aku mencintai dirimu," batin Gallen.


"Iya, aku terpaksa memberitahu nya, karena aku tidak ingin menyembunyikan apapun dari Alvian," jawab Gallen.


"Kenapa?" Tanya Gallen penasaran karena Siyyara menanyakan hal itu.


"Aku hanya kaget saja karena perkataan kak Alvian tadi," ujar Siyyara.


"Hm, aku merasa aneh ketika kamu berbicara lembut seperti ini." Kejujuran Gallen membuat Siyyara mendecih. Bersikap brutal salah, bersikap lembut juga jadi masalah. Apa sih maunya orang itu?


"Ck, jangan ganggu aku. Aku mau tidur."


Tok tok tok


Gallen menoleh ke arah pintu, begitupun Siyyara.


"Masuklah," ujar Siyyara.


Begitu pintu terbuka, muncullah Livia dan Tristan. Mereka berdua melihat jika saat ini Siyyara tengah di jaga oleh Gallen, dengan ragu mereka semakin masuk dan menghampiri Siyyara.


"Siyya, apa kabar?" Livia bertanya dengan menahan tangisnya.


"Aku baik, Via. Jangan menangis, aku baik-baik saja kok."


"Tapi kamu sudah beberapa hari tidak menghubungi ku, kamu kemana saja? Aku sangat khawatir," ujar Livia.


"Aku juga mendatangi rumahmu, tetapi rumahmu kosong," lanjut Livia.


Siyyara tidak tahu harus berkata apa, mana mungkin dia mengatakan jika dia selama ini menginap di apartemen Gallen, bisa-bisa Livia semakin banyak tanya.


"Eh, aku menginap di rumah kerabat ku," jawab Siyyara.


"Kerabat yang mana? Bukankah disini kamu tidak memiliki keluarga? Karena kamu bilang seluruh keluargamu ada di Jerman?"


"Sudahlah Via, jangan banyak tanya. Kepalaku sangat pusing, jadi diamlah!" Siyyara menaikkan intonasi bicaranya hingga terkesan membentak.


"Ma-maaf." Livia ketakutan saat melihat kemarahan Siyyara. Siyyara seperti monster ketika marah, jadi Livia memilih diam daripada mendapat semburan Siyyara lagi.


Di lain sisi, Gallen menatap Tristan dengan tatapan menuntut penjelasan.


"Tristan, bisa kita bicara sebenar?"


"Bisa kak," jawab Tristan, dia tahu apa yang ingin Gallen tanyakan padanya.


"Siyya, aku keluar sebentar." Siyyara hanya mengangguk ragu.


******


Gallen membawa Tristan keluar dari ruangan Siyyara. Dia menatap adiknya dengan tatapan penuh tanya.


"Siapa gadis yang bersamamu itu?" Tanya Gallen.


"Dia adalah sahabat Siyyara, kak."


"Itu berarti kamu juga mengenal Siyyara kan? Karena Siyyara adalah sahabat temanmu? Lalu mengapa kamu berbohong jika kamu tidak mengenal Siyyara?"


Tristan seperti di sidang oleh kakaknya sendiri, pertanyaan Gallen memang sangat mudah, tetapi entah mengapa Tristan tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan baik.


"Maaf kak," ujar Tristan dengan kepala menunduk.


"Untuk?"


"Sebenarnya aku mengenal Siyyara, hanya saja aku tidak ingin membuat Siyyara merasa tidak nyaman saat di pesta itu. Jadi aku mengatakan jika aku tidak mengenal nya," ujar Tristan setengah berbohong.


Gallen semakin curiga dengan jawaban Tristan, tetapi dia berusaha mengenyahkan kecurigaannya itu.


"Baiklah, kakak harap tidak ada yang kamu sembunyikan dari kakak."


"Iya kak," jawab Tristan.


"Hm, bagaimana dengan kondisi Mama, apakah ada kemajuan?" Tanya Gallen.


"Sedikit lebih baik." Gallen manggut-manggut mengerti.


"Nanti malam kakak akan pulang ke rumah. Dan bertemu dengan psikiater yang menangani Mama."


"Jadi kakak belum sampai bertemu dengan psikiater itu?"


"Belum, karena Alan yang telah mengenalnya, jadi dia yang merekomendasikan psikiater itu untuk Mama," jelas Gallen.


"Dia sepertinya wanita yang baik kak. Mama juga nyaman kepadanya," ujar Tristan.


"Iya, dan kakak ingin bertemu dengannya."


******


Setelah semua pekerjaan di kantor telah selesai, Gallen langsung meluncur ke rumah sakit untuk menyelesaikan tugas-tugas berikutnya, yaitu menangani dan memeriksa beberapa pasien.


Saat pekerjaannya telah selesai, dia segera pulang ke rumahnya, karena sudah beberapa hari dia tidak bertemu dengan Mama nya. Setelah sampai, dia memarkirkan mobilnya di halaman rumah nya, dan dia melihat mobil lain terparkir juga di halaman rumahnya.


"Apakah dia belum pulang?" Gumam Gallen. Gallen menebak jika mobil yang saat ini terparkir indah di pekarangan rumahnya adalah mobil Psikiater yang menangani Mama nya.


Gallen segera memasuki rumahnya, dan saat dia ingin membuka pintu, pintu itu terlebih dulu di buka oleh seseorang yang ada di dalam rumah.


Dan saat pintu telah sepenuhnya terbuka, kedua mata Gallen terbelalak saat mengetahui siapa orang yang ada di hadapannya saat ini.


"Kau?"


"Gallen. Aku merindukanmu."