
Gallen terus menatap suatu objek yang menurutnya sangat indah, dia mengulum senyumnya dan terus memandangnya tanpa berkedip sedetik pun. Dia benar-benar mengagumi mahakarya Tuhan yang paling indah.
Gallen P.O.V
Aku tidak menyangka dengan takdir hidup ku ini, dahulu tidak pernah terbesit pikiran pun untuk mengagumi para wanita yang mendekati nya, bahkan dia selalu menolak mentah-mentah ungkapan perasaan para wanita kepadanya.
Dan sekarang? Aku sudah jatuh, aku jatuh cinta kepada seorang gadis. Dia adalah gadis yang labil, manja, pemarah, menyebalkan, dan selalu merecoki seseorang. Tetapi entah mengapa Tuhan memberikan rasa cinta ini kepada gadis seperti dirinya? Padahal jelas-jelas di luar sana masih banyak wanita yang sudah berpikiran dewasa yang selalu menyatakan perasaannya padaku. Dan ternyata sifat dan kelakuannya yang tidak ada anggun-anggu nya sama sekali lah yang membuat ku terpikat.
Tetapi aku tidak pernah menyesal sedikitpun, aku bahagia berada di sisinya, aku sangat bahagia karena dia mau menerimaku sebagai kekasihnya, aku sangat bahagia ketika dia sudah membuka hatinya untukku. Tetapi saat kebahagiaan muncul di kehidi, masa laluku hadir, ya dia adalah Kinan.
Kinan bukanlah sosok yang berharga bagiku, aku berurusan dengannya karena kehadiran 'Dia'. Aku ingin bercerita kepada Siyyara, tetapi aku takut jika Siyyara akan marah padaku. Aku tidak sanggup jika dia harus meninggalkan aku, karena seluruh tubuh dan otakku hanya terisi nama Siyyara, Siyyara dan Siyyara. Aku tidak ingin gadis itu meninggalkan aku, jika waktu nanti ajal akan menjemput, aku lebih memilih aku yang meninggal terlebih dulu dari dunia ini, ketimbang aku harus merasakan pedihnya kepergian Siyyara, karena aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa Siyyara. Aku benar-benar tidak sanggup.
Mungkin aku akan bercerita tentang masa laluku saat dia sudah benar-benar menyukaiku, ku rasa itu waktu yang baik. Baiklah aku akan menunggu.
Aku terus menatap kekasih ku dengan diam, aku menatap kedua matanya yang dulu selalu memiliki banyak ekspresi, sekarang mata itu menatap dengan kosong dan polos. Aku tidak sanggup menatap mata itu, karena dia seperti ini karena kegagalan ku. Aku yang telah gagal melindungi nya.
"Siyya?" Panggilku, saat dia hanya menatap lurus ke depan. Dia berusaha berdiri dari duduknya saat mendengarkan panggilan ku dan berjalan perlahan menggunakan tongkatnya untuk mendekati ku.
"Gallen? Ada apa? Kamu ingin sesuatu?"
Aku tidak bisa menahan senyumku saat dia terlihat sangat mengkhawatirkan ku. Aku sangat senang dengan perhatian Siyyara kepadaku.
"Aku tidak menginginkan apapun lagi, aku hanya ingin dirimu," ucap Gallen.
"Sejak kapan kamu jadi pintar merayu?"
Gallen tertawa lepas.
"Sudah dari dulu, sayang. Hanya saja dulu tidak ada yang bisa ku rayu. Karena sekarang sudah ada dirimu, jadi aku bisa bebas merayu mu."
Aku merasa aneh jika Siyyara hanya diam saja ketika ku goda. Jujur, aku lebih suka jika dia marah, cemberut, dan tertawa ketika ku goda. Dan aku tidak suka saat dia hanya diam tanpa ekspresi.
"Siyya?"
"Gallen, ada yang ingin ku katakan padamu," ujar Siyyara serius.
"Ada apa?" Tanya ku penasaran.
"Aku ingin berakhir."
Aku mengernyitkan dahiku saat mendengar ucapannya.
"Maksudmu?" Tanya ku memastikan lagi.
"Aku ingin kita berakhir," jelas Siyyara.
"Jangan bercanda, Siyya. Aku tidak suka!"
"Pokoknya aku ingin kita putus Gallen. Aku tidak suka padamu. Meski aku ingin belajar mencintai mu, tapi tetap saja aku tidak bisa. Aku tidak mencintaimu, Gallen."
"Siyya, ku rasa kamu sedang kecapekan, lebih baik istirahat," ucapku yang berusaha menenangkan nya.
"Gallen. Aku ingin putus!"
"Aku tidak mau."
"Kamu harus mau," seru Siyyara.
"Tidak!"
"Terserah padamu. Aku harus pergi, Daddy pasti sudah menungguku di Bandara saat ini. Selamat tinggal Gallen. Semoga nanti ada wanita yang jauh lebih baik dari diriku yang bisa mencintaimu."
"Tidak, Siyya."
"Siyya, aku tidak mau putus!"
Siyyara berjalan menjauhiku, bahkan dia tidak melirik diriku yang sudah hancur karena ucapannya. Dia sudah berada di ujung pintu dengan bantuan tongkatnya.
"Siyya, jangan pergi!"
"SIYYARA!" Teriakku sejadi-jadinya saat dia sudah menghilang di balik pintu.
"Tidak, Siyya! Kamu tidak bisa meninggalkan ku begitu saja. Aku tidak mau! SIYYARA!"
P.O.V End.
*******
"Siyya. Jangan pergi."
"Siyya," gumam Gallen pelan.
"Jangan pergi. Ku mohon," ucap Gallen dengan mata terpejam.
"Jangan pergi, Siyya. Jangan tinggalkan aku," gumam Gallen lagi dengan nada lirih.
"Gallen!" Seseorang menggoyangkan bahu Gallen, agar Gallen cepat bangun dari tidurnya.
"GALLEN!" Teriak gadis itu, agar Gallen cepat terbangun.
"Siyyara!" Gallen terbangun dengan napas terengah-engah.
"Sudah bangun?" Tanya gadis yang ada di sampingnya.
"Kenapa tadi menggumamkan namaku terus?" Kesal Siyyara.
Gallen menghela napas lega saat dia hanya bermimpi. Dan mimpinya sungguh sangat buruk sekali. Dia tidak bisa membayangkan jika mimpi itu menjadi kenyataan untuknya.
"Tidak ada," jawab Gallen singkat.
"Tumben pagi-pagi udah datang kemari?" Tanya Gallen sambil clingukan untuk memastikan siapa yang mengantar gadisnya, Alvian atau kah Mr. Dave?
"Aku tadi berangkat bersama Daddy, tapi Daddy langsung pergi karena ada meeting pagi," jawab Siyyara.
"Sudah menunggu ku lama ya?" Gallen tersenyum sambil mengamati ekspresi yang terpancar dari wajah Siyyara.
"Iya. Kamu nya molor sih, enggak sakit enggak sehat sama saja, sama-sama susah bangun nya," celoteh Siyyara. Gallen hanya terkikik geli.
"Siyya, ada yang mau aku bicarakan sama kamu." Gallen menatap Siyyara serius.
"Apa?"
"Aku mau kamu percaya padaku. Percaya pada cintaku dan perasaan ku."
"Kenapa?" Siyyara terheran dengan kalimat Siyyara.
"Tidak. Aku hanya takut jika suatu saat nanti kamu akan pergi meninggalkan ku. Jangan tinggalkan aku," pinta Gallen lirih.
Siyyara menyunggingkan senyum manisnya dan mengangguk pelan.
"Kamu juga jangan pernah menyembunyikan apapun dariku, baik masalah kecil maupun masalah besar. Kamu harus tahu satu hal, jika aku tidak suka dibohongi sedikitpun."
Gallen merasa resah, dia sungguh takut jika Siyyara mengetahui masa lalunya yang berusaha ia sembunyikan. Bukan maksudnya tidak ingin jujur, hanya saja Gallen belum siap, dia takut jika Siyyara akan mengecapnya buruk. Gallen takut jika Siyyara akan salah paham padanya.
"Gallen?"
"Iya, Siyya?"
"Aku ingin kembali ke sekolah, aku ingin seperti dulu lagi."
"Gallen, apakah aku akan berhenti sekolah selamanya? Apa aku tidak akan bisa menikmati masa remajaku seperti yang lainnya?"
"Dulu aku selalu membolos sekolah dengan sengaja karena aku malas. Tetapi di saat aku sudah tidak bisa melihat, aku menyadari betapa dahulu aku menyia-nyiakan waktuku dengan melakukan hal yang tidak penting. Aku ingin memperbaiki kesalahan ku, aku begitu merindukan suasana sekolah, aku ingin kembali bisa bersekolah, Gallen."
Gallen menatap Siyyara dengan prihatin, Siyyara masih menangis sesegukan, Gallen menghela napas lelah.
"Aku akan coba berbicara dengan Daddy mu mengenai masalah ini," hibur Gallen.
Siyyara menggeleng pelan.
"Tidak, Gallen. Aku sudah bicara dengan Daddy, dan Daddy melarang ku untuk pergi ke sekolah. Daddy mengusulkan agar aku ikut home schooling saja, tapi aku tidak mau, Gallen. Aku ingin bisa berkumpul dengan teman-teman ku. Aku tidak mau home schooling."
"Siyya, Mr. dave benar. Sebaiknya kamu ikut home schooling saja, menurutku itu jauh lebih baik untuk kondisimu saat ini, Siyya." Gallen berusaha meyakinkan Siyyara, jika home schooling itu tidaklah buruk.
"Kamu benar, orang buta seperti ku menang pantasnya ikut home schooling, betapa bodohnya aku karena aku menginginkan pergi ke sekolah," ucap Siyyara dengan nada lemah.
"Bukan begitu maksudku, Siyya-"
"Sudahlah, jangan bahas lagi."
"Siyya, apa kamu marah?" Tanya Gallen.
Siyyara diam, dan wajahnya terlihat murung. Gallen tidak harus harus berbuat apa untuk mengembalikan keceriaan di wajah kekasihnya lagi.
Gallen segera mengambil ponselnya yang terletak di nakas, dia segera mengirim pesan kepada Alan untuk mengumumkan kepada seluruh Rumah Sakit, baik Rumah Sakit dalam negeri maupun luar negeri, jika saat ini ada pasien yang sedang membutuhkan donor mata.
Gallen akan melakukan apapun agar Siyyara kembali tersenyum lagi. Gallen tahu jika Siyyara adalah gadis yang aktif, tetapi sekarang Siyyara menjadi pendiam, bahkan Gallen merindukan ocehan gadianya yang melebihi kapasitas, yang selalu membuatnya kesal setengah mati.
"Siyya, aku mohon jangan bersedih."
Siyyara masih diam dengan menahan tangisnya, dan Gallen jadi merasa bersalah karena Siyyara seperti ini akibat dirinya yang tidak bisa menjaga Siyyara dengan baik.
Tok tok tok
Gallen menoleh ke arah pintu, "Masuklah," jawab Gallen dari dalam.
Cklek
Gallen terkejut saat melihat kehadiran wanita yang selalu dihindari oleh nya. Dia meneguk ludahnya kasar, dan dia melihat Siyyara yang masih anteng di tempat duduknya yang ada di samping ranjang nya. Dalam hati Gallen berdoa agar wanita itu tidak membuat masalah baru disaat suasana hati Siyyara sedang buruk.
"Apa kabar, Gallen? Maaf karena baru bisa menjenguk mu," ujar wanita itu.
Siyyara memiringkan wajahnya untuk mengingat siapa pemilik suara itu, karena suara itu tidak asing di telinganya.