The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
19. Maafkan aku



Alvian hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Siyyara yang cemberut setelah pulang dari sekolahnya.


"Kenapa tuh muka?" Tanya Alvian.


"Suka-suka lah."


"Emang gitu caranya jawab pertanyaan dari kakak?"


Siyyara melirik Alvian sebentar, setelah itu kembali cemberut lagi.


"Ada apa? Ayo, cerita sama kakak," desak Alvian.


"Nggak!"


"Ya udah kalau nggak mau cerita, mukanya jangan ditekuk gitu, nggak enak di pandang. Kalau Gallen sampai pindah ke lain hati, baru tahu rasa kamu."


Siyyara langsung menoleh ke arah Alvian dengan gerakan cepat.


"Kok jadi bahas Gallen sih?"


"Jangan ungkit-ungkit Gallen lagi," tambah Siyyara.


"Oh, jadi ceritanya kamu ini lagi ngambek sama Gallen?" Alvian menaik-turunkan alisnya, untuk menggoda Siyyara.


"Apaan sih? Kenapa aku harus ngambek?"


"Ya siapa tahu aja si Gallen lagi berbuat sesuatu yang membuat kamu, marah. Bukan begitu?"


"Ck, terserah."


"Jadi, mau cerita?"


"Nggak!"


"Kamu kok jadi dingin sih? Ketularan Gallen ya?" Heran Alvian.


Siyyara kesal dengan ocehan kakaknya, dahulu kakaknya suka ceramah, sekarang kakaknya sangat menyebalkan dengan ocehannya. Sepertinya kakaknya itu memang tipe pria Cerewet dan menyebalkan. Oh ya, sebelum dia menjadi suka menceramahi nya, dulu kakaknya itu seperti kulkas berjalan, entah lah setelah Mommy meninggal, dia jadi banyak bicara seperti itu.


"Jangan sebut namanya lagi, kak!"


"Emang kenapa sih?" Alvian menyerngitkan dahinya tidak mengerti.


"Hei mau kemana?" Tanya Alvian saat Siyyara berdiri dari duduknya, Siyyara tetap berjalan menaiki lantai 2 tanpa menoleh ke arah kakaknya sedikitpun.


"Kenapa sih dia? Berantem sama Gallen?" Alvian mengedikkan bahunya untuk tidak peduli dengan urusan si adik.


Saat Alvian kembali fokus ke layar laptopnya, suara bel berbunyi, tanda ada orang yang sedang bertamu ke rumahnya.


"Aku tidak merasa sedang membuat janji dengan seseorang. Lalu, siapa yang datang kemari?" Gumam Alvian.


Dia menaruh laptop-nya di meja dan dia segera berdiri untuk membuka pintu.


Cklek


"Siyya ada?" Tanya orang itu cepat.


"Astaghfirullah!" Alvian terkejut, bukan terkejut karena keberadaan Gallen, tetapi terkejut karena Gallen yang langsung bertanya tentang Siyyara saat pintu belum sepenuhnya terbuka.


"Salam dulu, Len! Datang-datang yang di tanyain Siyyara aja," sindir Alvian.


"Dimana dia?" Tanya Gallen dengan dingin.


"Dia ada di kamarnya, kenapa?" Alvian masih berdiri tepat di pintu, sehingga Gallen tidak bisa masuk ke dalam.


Tanpa menjawab, Gallen mendorong Alvian pelan, agar Alvian menyingkir dari pintu.


"Hey!"


Tanpa mempedulikan teriakan Alvian, Gallen naik ke lantai 2 untuk bertemu Siyyara.


"Gallen, mau ngapain Lo? Turun!" Teriak Alvian dari bawah.


******


Tok tok tok


"Siyya, kamu di dalam?" Tanya Gallen dari luar kamar Siyyara.


"Jika kamu di dalam, tolong keluarlah. Aku ingin bertemu," ujar Gallen sambil mengetuk pintu.


"Siyya, dengarkan penjelasan ku. Ku mohon."


"Siyya, keluarlah. Aku bisa menjelaskan semuanya, kamu sedang salah paham, Siyya."


Tok tok tok


"Siyya, aku-"


Cklek


"Berisik!" Siyyara keluar dari kamar dengan penampilan nya yang masih acak-acakan.


"Siyya, tolong dengar penjelasan ku-"


"Apa sih? Lo itu sangat mengganggu. Sebaiknya Lo pergi, dan jangan ganggu gue lagi," ucap Siyyara sebal.


"Tidak, kamu itu salah paham, Siyya."


"Salah paham apa sih? Kenapa kamu dari tadi bilang jika aku salah paham?"


Gallen mengerjapkan kedua matanya bingung.


"Kamu tidak marah denganku?"


"Kenapa aku harus marah?" Jengkel Siyyara.


"Te-terus kenapa kamu langsung pergi gitu aja ketika kamu melihatku dengan-"


"Itu karena aku tidak ingin mengganggu kalian, karena aku tahu kalian pasti membahas pekerjaan, dan jika aku ikut gabung dengan pembicaraan kalian, tentu saja aku tidak akan mengerti. Dan aku tidak mau menjadi nyamuk di antara kalian," jelas panjang lebar Siyyara.


"Tidak, Siyya. Kamu sama sekali tidak menggangu."


"Baiklah, terserah padamu."


Gallen kembali diam, dia tidak tahu harus berkata apa lagi kepada Siyyara, karena untuk pertama kalinya Siyyara bersikap cuek seperti ini.


"Sudah?"


"Sudah apa?" Tanya Gallen balik.


"Jika sudah tidak ada yang ingin Lo katakan, sebaiknya Lo pergi dari sini, gue mau balik tidur."


"Siyya," panggil Gallen.


"Apa?"


"Jangan gunakan bahasa Gue-Lo. Aku nggak suka," seru Gallen dengan wajah datar.


"Baiklah," jawab Siyyara cuek.


"Kamu masih marah?"


"Aku harus apa agar kamu tidak marah lagi?" Tanya Gallen pelan.


"Aku ingin tidur. Sebaiknya kamu pergi sekarang! Aku tidak ingin di ganggu siapapun!" Suara Siyyara terdengar semakin meninggi.


"Besok aku jemput ya, aku antar kamu ke sekolah." Gallen menatap Siyyara dengan pandangan memohon.


"Hm," gumam Siyyara.


"Kamu masih marah?" Tanya Gallen lagi.


"Kamu tahu jika aku sedang marah?" Siyyara menatap Gallen dengan tajam.


"Iya, karena tidak biasanya kamu cuek seperti ini."


Siyyara mengangguk, sambil membulatkan mulutnya membentuk huruf O.


"Apa kamu tahu sebab aku marah?"


Gallen menggeleng pelan.


"Tidak, bagaimana aku tahu jika kamu tidak memberitahu ku, Siyya?"


"Lalu mengapa kamu datang kemari?"


"Karena aku takut kamu salah paham saat Kinan ada di ruangan ku," ujar Gallen dengan nada polos.


"Udah itu aja?"


Gallen mengangguk lagi.


"Kamu benar-benar tidak peka, sebaiknya kamu pergi sekarang ketimbang kamu membuatku semakin marah!"


"Kenapa?" Gallen mengerutkan dahinya.


Siyyara menghembuskan napas nya panjang, rasanya dia ingin sekali berteriak sekarang juga di depan wajah Gallen.


"Terserah lah," ujar Siyyara lelah.


"Kamu jangan lupa ya, besok aku antar kamu ke sekolah." Gallen memegang tangan Siyyara lembut.


"Aku tidak akan lupa, karena kamu pasti yang akan selalu lupa. Aku tidak mau terlambat ke sekolah lagi," ucap Siyyara, berharap Gallen sadar akan kesalahannya.


"Tidak Siyya, aku tidak akan lupa-"


"Benarkah?" Potong Siyyara.


Gallen diam, dia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Siyyara.


"Lalu apa yang kamu lakukan tadi? APA KAMU TAHU, AKU MENUNGGUMU DI DEPAN GERBANG SEKOLAH HAMPIR 3 JAM PENUH, AKU BERUSAHA MEMAHAMI KESIBUKAN MU, MAKA DARI ITU AKU LANGSUNG DATANG KE RUMAH SAKIT, DAN SETELAH AKU KE RUMAH SAKIT UNTUK BERTEMU DENGANMU, KAMU SEOLAH TIDAK SADAR DENGAN KESALAHAN MU, KAMU ENAK-ENAKAN DUDUK DI RUANGANMU BERSAMA TEMAN WANITAMU ITU, SEDANGKAN AKU? AKU BERDIRI BERJAM-JAM KEPANASAN DI LUAR."


"Kamu bilang akan menjemputmu, tetapi kamu lupa dengan perkataanmu sendiri, dan saat aku menemui mu, kamu tidak punya rasa bersalah sama sekali, bahkan untuk minta maaf pun tidak. Andai saja kamu tidak bilang akan menjemput ku, aku tidak akan menunggumu berjam-jam di depan gerbang seperti orang gila! Aku ingin pulang terlebih dulu saat aku lelah menunggu, tapi aku takut kamu akan mencari ku. Tapi apa yang kamu lakukan ha? Kamu datang kemari karena kamu ingin menjelaskan apa yang kamu lakukan kepada temanmu itu? Aku marah bukan karena aku melihatmu bersama temanmu itu, tetapi aku marah karena kamu tidak bisa menepati janjimu!"


"Atau jangan-jangan kamu memang memiliki hubungan khusus dengannya?" Siyyara melirik Gallen curiga.


Gallen gelagapan dengan semua ucapan Siyyara, Gallen sadar diri jika dia memang melakukan kesalahan dengan melupakan janjinya kepada Siyyara, bahkan dia lebih meladeni Kinan di ruang kerjanya. Tetapi Gallen bisa bersumpah jika dirinya tidak memiliki hubungan apapun dengan Kinan.


"Siyya, aku tidak memiliki hubungan dengan siapapun, karena perempuan yang dekat dengan ku hanyalah dirimu."


"Siyya, maaf." Gallen menundukkan kepalanya. Jika dia berada di posisi Siyyara, tentu saja dia akan marah.


"Sudahlah, sebaiknya kamu pulang untuk istirahat. Kamu pasti capek dengan pekerjaan mu itu," usir Siyyara secara halus.


"Aku tidak akan pergi sebelum kamu memaafkan aku."


"Aku memaafkan mu, sekarang pergilah."


Gallen menatap Siyyara ragu, Selama ini Siyyara tidak pernah bersikap dingin seperti ini padanya, atau mungkin karena Gallen belum mengenal Siyyara sepenuhnya?


"Baiklah, aku akan pulang. Nanti malam kita jalan ya," pinta Gallen.


"Kemana?"


"Kemanapun kamu mau." Siyyara menatap Gallen sinis.


"Tugasku banyak, besok juga ada ulangan. Aku harus belajar," tolak Siyyara.


"Aku akan membantumu mengerjakan semua tugasmu, setelah itu nanti malam kita jalan."


"Ta-tapi,-"


"Aku tidak menerima penolakan, Siyya."


"Kamu nggak usah bantu aku, aku bisa ngerjain sendiri."


"Aku tahu, tapi aku ingin agar semua tugasmu selesai. Agar ketika kita bersama kamu tidak memikirkan semua tugasmu itu," ujar Gallen dengan tersenyum lebar, hingga gigi gingsulnya terlihat.


"Ayo," ajak Gallen. Siyyara diam karena masih terpesona dengan senyuman Gallen.


"Siyya?" Gallen mengibaskan tangannya di wajah Siyyara. Siyyara langsung tersadar dan kembali memasang wajah juteknya.


"Kemana? Aku masih ngantuk, mau tidur. Baru aja tadi memejamkan mata, tak lama kemudian kamu datang."


"Ke kamarmu. Kalau kamu masih ngantuk, tidurlah. Biar aku yang mengerjakannya," tukas Gallen, dia langsung memasuki kamar Siyyara, sedangkan si pemilik kamar melongo melihat Gallen yang seenaknya memasuki kamarnya.


"Gallen!" Teriak Siyyara. Dia segera memasuki kamarnya dan melihat Gallen yang seenaknya duduk di ranjangnya.


"Bangun! Jangan duduk di ranjangku!" Siyyara menarik lengan Gallen agar Gallen berdiri, tetapi semua itu sia-sia saja karena tenaga Gallen lebih kuat ketimbang tenaga Siyyara.


"Kenapa sih?"


"Aku tidak mengizinkan lelaki manapun tidur di ranjang ku," ujar Siyyara.


"Kenapa? Bukankah ketika kita nikah nanti, kita juga akan tidur satu ranjang?" Tanya Gallen dengan seringainya.


"Jangan berkata yang aneh-aneh." Siyyara sedikit takut saat seorang pria dewasa mengatakan kata 'Nikah'. Dia segera melepaskan lengan Gallen.


Gallen menahan tawa saat melihat wajah Siyyara yang memucat, dia sungguh gemas dengan kepolosan kekasihnya itu, meski terkadang Siyyara akan bersikap brutal dan ganas seperti singa betina, tetapi Siyyara juga bisa menjadi kucing yang manis dan menggemaskan.


"Siyya?"


"Hm?"


"Jawabnya yang benar," tegur Gallen.


"Apa Gallen?" Suara Siyyara dibuat semanis mungkin, dan Gallen semakin tersenyum geli.


"Mana tugas-tugas mu?"


"Ck, merepotkan!" Siyyara masih berdiri di samping Gallen, dia malas mengambil buku-bukunya.


"Mana Siyyara Gallen Damestria?"


"WHAT?"