The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
13. Aku mencintai nya



Hati Gallen kalut serta takut. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, dia tidak peduli jika semua pengendara lainnya akan mengutuknya, karena yang terpenting saat ini adalah nyawa Siyyara.


Bahkan saat lampu lalu lintas masih berwarna merah, Gallen tetap menerobos nya. Dia benar-benar tidak peduli jika nanti dia akan dikenakan denda ataupun hukuman, karena telah melanggar lalu lintas.


Gallen melirik ke spionnya, dia mendecakkan lidahnya saat melihat mobil polisi yang sedang mengejarnya.


"Sial!"


Gallen semakin meningkatkan kecepatan mobilnya, lebih cepat dari sebelumnya hingga mobil polisi yang mengejarnya tidak terlihat lagi. Bukan karena takut dengan polisi, hanya saja Gallen ingin segera ke rumah sakit, agar Siyyara cepat mendapatkan pertolongan.


*****


"Dad, apa Daddy mendengar sebuah berita tentang Gallen hari ini?" Tanya Alvian terengah-engah karena lelah berlari dari kamarnya menuju ruang kerja ayahnya, dia takut jika Daddy-nya sangat marah setelah mendengar berita itu.


"Hm," jawab Dave singkat.


"Apa sebaiknya Alvian memesan tiket untuk ke Jakarta sekarang, Dad?"


"Itu memang di perlukan. Tapi tidak hari ini, kau sendirilah yang akan ke Jakarta, Daddy akan menunggu kabarmu dari sini."


Alvian menggeleng tidak percaya.


"Dad, saat ini Siyyara sedang merenggang nyawa, apakah sebegitu takutnya Daddy ke Jakarta hingga nyawa anak Daddy sendiri, Daddy pertaruhkan?" Suara Alvian sedikit naik, dan Dave menyadari intonasi Alvian yang berusaha menekan kemarahan nya.


"Tetapi, sebab permasalahan ini adalah dirimu. Jika saja kau tidak menitipkan Siyyara ke Gallen, hal seperti ini tidak akan terjadi!" Kemarahan Dave memuncak, tangannya begitu gatal ingin menonjok wajah putra sulungnya itu.


"Jika begitu, Daddy pukul saja aku sampai Daddy puas. Aku akan menerimanya, jika perlu bunuh saja aku sekarang, Dad. Aku hanya ingin Daddy melihat kondisi Siyyara sendiri, karena aku tahu betapa Daddy saat ini khawatir kepada Siyya."


"Saat Mommy sedang kritis, Daddy dulu juga melakukan hal yang sama, Daddy lebih mementingkan pekerjaan Daddy ketimbang istri Daddy. Hingga akhirnya Mommy meninggal dan apa yang dapat Daddy lakukan? Setelah kejadian itu berlalu, Daddy sekarang sangat Trauma berada di Jakarta. Apakah jika Siyyara saat ini bernasib sama seperti Mommy, Daddy akan menghancurkan kota Jakarta? Apakah Daddy akan melakukan hal buruk seperti itu?" Alvian tak henti-hentinya mengejek Daddy-nya.


Dave menggeram marah, dia sangat marah karena yang dikatakan putranya adalah sebuah kebenaran hidupnya. Dia takut untuk ke Jakarta karena dia memang trauma dengan kota Jakarta, karena dahulu Istrinya meninggal di Jakarta saat ia sibuk dengan pekerjaan nya di Berlin.


"Jika Daddy memang belum siap ke Jakarta, tidak apa. Aku masih bisa pergi ke sana sendirian. Aku akan berusaha mengabari Daddy tentang kondisi Siyya."


"Aku pergi, Dad. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Dave hanya memandang punggung putranya dengan tatapan tajam. Dia berfikir semakin keras, memang Alvian tidak akan bisa menjaga Siyyara sepenuhnya karena Alvian juga pasti sibuk dengan pekerjaan nya.


Sepertinya Dave memang harus menikahkan Siyyara dengan seorang pemuda yang bisa menjaga Siyyara sepenuhnya. Gallen? Tidak, karena akibat kejadian ini dia sangat yakin jika Gallen tidak bisa menjaga Siyyara dengan baik. Dan Gallen bukan pria yang dapat di andalkan.


"Sepertinya aku sendiri yang harus turun tangan untuk memisahkan mereka," ucap Dave pelan.


"DAVE! DAVE!" Teriak Ferdy marah.


"KELUAR KAU, DAVE!"


Mendengar suara Ayahnya yang seperti itu, sepertinya Ayahnya telah mengetahui tentang kondisi Siyyara saat ini. Dengan berat hati, Dave keluar dari ruangannya dan menuju ke ruang keluarga, dimana Ayahnya pasti sedang ada di sana.


"Ada apa, Ayah?" Tanya Dave dengan wajah lelah.


"Kau bilang ada apa? Cucuku dalam keadaan sekarat dan kau bilang ada apa?" Ferdy menatap Dave dengan tatapan berapi-api.


"Aku tahu, Ayah."


"Lalu mengapa kau masih disini?" Bentak Ferdy.


"Karena Alvian yang akan ke Indonesia."


Ferdy memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri setelah mendengar tanggapan dari putra bungsunya.


"Kau ini benar-benar Ayah yang buruk, Dave. Jika hari ini Siyyara sudah tidak bernapas lagi, baru kau akan menyadari kesalahan mu."


"Harvi, temani aku untuk melihat kondisi Siyyara. Ya Tuhan, semoga dia baik-baik saja."


"Baik, Ayah." Harvi menatap Dave dengan tatapan iba, Harvi tahu betapa sedihnya Dave saat ini, karena bukan tanpa alasan Dave tidak ingin ke Indonesia. Harvi tahu jika Dave trauma akan kematian Istrinya, maka dari itu dia memilih diam disini.


"Aku akan menyelidiki kasus ini, karena untuk pertama kalinya putri dari keluarga Damares terluka," ujar Harvi setelah Ferdy meninggalkan ruang keluarga.


"Huft." Dave menghela napas panjang.


"Perkataan Ayah jangan di masukkan ke hati. Dia memang begitu, perkataan nya tajam seperti dirimu," canda Harvi untuk mencairkan suasana.


"Terserah," jawab Dave singkat, setelah itu dia menuju ke ruang kerjanya kembali.


Harvi hanya tersenyum kecut, setiap permasalahan yang di hadapi adiknya, pasti dia yang selalu kena imbasnya, yaitu menjadi sasaran kemarahan Ayahnya maupun adiknya.


"Malang sekali diriku ini, karena hidup di tengah-tengah para monster," gumam Harvi pada dirinya sendiri.


******


"Siyya, kau harus bertahan." Gallen menggenggam erat tangan kanan Siyyara, Gallen tidak peduli pandangan semua orang yang menatapnya dengan tatapan yang prihatin. Seumur hidup, baru kali ini penampilan Gallen terlihat sangat berantakan, dan hal itulah yang menjadi pusat perhatian semua karyawan MIH.


"Dokter Gallen, kami akan berusaha semampu kami untuk menyelamatkan Nona Siyyara, sebaiknya dokter menunggu diluar saja," ujar Dokter jaga.


"Tidak, aku harus ikut masuk. Aku ingin memastikan sendiri bagaimana kondisinya, jadi jangan menghalangi ku!" Bentak Gallen.


"Dokter, saat ini kami tidak akan mengizinkan dokter untuk masuk, karena kondisi dokter sendiri sangat-"


"Kau membantahku? Apa kau bosan bekerja disini?" Suara Gallen terdengar seperti malaikat maut untuk dokter jaga tersebut.


"Saya hanya mengkhawatirkan kondisi anda, Dokter. Dokter jangan khawatir, kami akan berusaha semampu kami untuk menyelamatkan Nona Siyyara." Dokter jaga tersebut berusaha meyakinkan Gallen, sedangkan dokter lainnya sedang menangani Siyyara di dalam ruang UGD.


Gallen diam, berusaha menimang perkataan dokter jaga tersebut, meski yang dikatakan dokter jaga itu adalah sebuah kebenaran, tetapi Gallen ingin membantah perkataan dokter jaga itu, karena Gallen sangat khawatir dengan Siyyara. Dia hanya ingin memastikan sendiri jika gadis itu selamat.


"Baiklah, dok. Saya akan masuk untuk membantu dokter Rizki dalam merawat Nona Siyyara. Saya permisi," kata Dokter jaga itu yang bernama Mikel.


Dokter Mikel pun memasuki ruang dimana Siyyara dirawat.


"Gallen!" Panggil Alan, setelah melihat kondisi sahabatnya yang sangat memprihatinkan, Alan segera menghampiri sahabatnya itu.


Gallen hanya menjawab pertanyaan Alan dengan gelengan kepala, saat ini dia tidak ingin berbicara kepada siapapun juga.


Melihat betapa sedihnya Gallen, Alan segera mencari air mineral untuk diberikan kepada Gallen, karena pasti Gallen masih syok dengan kejadian yang tidak ia sangka.


Alan kembali dan duduk disamping Gallen setelah mendapatkan air mineral.


"Ini, minumlah." Alan menodongkan sebotol air itu kepada Gallen.


"Aku tidak ingin minum." Wajah Gallen terlihat sangat dingin. Dan Alan tidak menyerah untuk berusaha mengembalikan mood Gallen.


"Aku memang belum pernah melihat secara langsung seperti apa rupa kekasihmu itu, aku hanya melihat di siaran berita saat pertama kalinya kau memperkenalkan siapa kekasihmu yang sebenarnya kepada publik." Alan tersenyum samar.


"Lalu?" Gallen merasa jengah dengan Alan, karena berbicara tentang hal yang tidak penting.


"Aku melihat jika dia gadis yang tangguh, dia cerdas, dan pemberani. Lalu mengapa kau khawatir seperti ini? Apa kau tidak percaya dengan kekuatan dari gadis mu itu?"


Gallen melirik ke arah Alan dengan sinis.


"Tahu apa kau tentang diriku?"


"Aku tahu semua tentang dirimu, karena aku adalah sahabatmu. Meski kau tidak pernah cerita, tapi aku tetap tahu," ujar Alan.


"Kau memata-matai ku?" Gallen menatap Alan dengan tatapan membunuh.


"Santai, Bro. Aku bukan pribadi yang seperti itu," jawab Alan santai. Dan tangan Gallen sangat gatal, dia ingin sekali menonjok sahabat baiknya itu.


"Pergilah. Aku ingin sendiri," ujar Gallen dengan nada lemah. Alan mengangguk paham, dia menepuk pundak Gallen pelan untuk memberi kekuatan.


"Jangan terlalu banyak pikiran, dan jangan lupa makan," ujar Alan sebelum meninggalkan Gallen sendiri di kursi tunggu rumah sakit.


******


Seorang perawat memeriksa denyut nadi Siyyara, dia berusaha merasakan denyut nadi Siyyara yang semakin melemah, lalu perawat lainnya menyiapkan alat defibrillator dan mengoleskan paddle dengan gel konduktif. Setelah semuanya siap, perawat itu menyerahkan paddle itu kepada Dokter Rizki.


"100 Joule!"


"Clear."


"Shoot!"


Tubuh Siyyara mengejang, tetapi tidak menunjukkan denyut jantung Siyyara kembali normal.


"150 Joule!"


"Clear."


"Shoot!"


Tubuh Siyyara kembali mengejang, tetapi hasilnya juga sama, tidak ada respon dari Siyyara, dan Monitor masih menunjukkan garis lurus.


Semua yang ada di dalam ruangan itu mengeluarkan berkeringat dingin, mereka semua takut jika tidak bisa menyelamatkan Siyyara.


"220 Joule!"


******


"Gallen!"


Gallen tersentak saat mendengar suara seseorang yang sangat ia kenal. Dia segera membersihkan kedua matanya yang lembab karena menangisi Siyyara.


Gallen berdiri dan membalikkan badannya ke arah orang yang telah memanggilnya. Dapat dia lihat jika pria itu terlihat sangat marah kepadanya, pria itu semakin mendekatinya hingga Gallen merasa rahangnya sangat nyeri.


Buukk


Bruk


"Apa yang telah terjadi?" Teriak Alvian.


Bukk


"Mengapa kau tidak memberitahu ku? Hingga aku mendengar berita ini dari orang lain. JAWAB? APA KAU BISU?"


Bukk Bukk


"Jawab Gallen!"


"Al, aku tidak tahu apa yang telah terjadi, kejadian itu sangat mendadak. Aku minta maaf, Al." Gallen terduduk di depan Alvian dengan perasaan rasa bersalah.


Alvian membola ketika melihat Gallen terlihat sangat rapuh. Alvian berusaha berfikir, apa yang menyebabkan Gallen terlihat lemah seperti ini, apakah karena perasaan rasa bersalah kepadanya atau ada hal yang lain?


"Bangun!" Perintah Alvian.


Dengan wajah yang sudah babak belur, Gallen berusaha berdiri dengan tegak di hadapan Alvian.


"Kau menangis?" Tanya Alvian dengan heran.


Gallen hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Alvian. Dan diam nya Gallen membuat Alvian semakin curiga. Mengapa? Karena Alvian sangat kenal dengan Gallen, Gallen bukanlah pria yang mudah menangis, dia berwatak keras dan berhati batu. Dia juga bukan tipe pria yang mudah mengalah ketika tiba-tiba di pukul oleh seseorang, meski dia telah bersalah.


"Aku butuh penjelasan," ujar Alvian dengan menahan kemarahannya.


"Alvian, maaf-"


"Aku, aku-"


"Apa?" Potong Alvian yang sangat tidak sabar menunggu penjelasan dari Gallen.


"Aku mencintai adikmu, Siyyara. Aku sangat takut kehilangannya," jawab Gallen dengan nada penuh keyakinan.