The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
18. Bertemu Calon Mertua



"Siyya, ayo bangun. Kita sudah sampai."


"Siyya." Gallen mengelus kepala Siyyara dengan lembut saat Siyyara belum bsngun.


Siyyara mengerjapkan dan mengucek kedua matanya ketika merasa kepalanya disentuh oleh seseorang.


"Jangan dikucek, nanti matamu bisa memerah," ujar Gallen.


Siyyara berusaha mengembalikan seluruh kesadarannya.


"Kita sudah sampai?" Tanya Siyyara.


"Iya, ayo kita turun." Gallen keluar terlebih dulu, setelah itu dia membukakan pintu untuk Siyyara.


Gallen menuntun Siyyara untuk keluar dari mobilnya, dia berulang kali menawari Siyyara untuk dia gendong, tetapi dengan tegas Siyyara menolak, dengan alasan Siyyara tidak ingin merepotkan nya.


"Aku gendong aja ya?" Gallen tidak sabar menuntun Siyyara yang berjalan terlalu pelan-pelan.


"Nggak,"


"Tapi-"


"Kalau kamu nggak suka membantu ku berjalan, lebih baik kamu masuk dulu aja ke dalam. Aku bisa jalan sendiri," ujar Siyyara kesal.


Gallen diam, sepertinya kesabaran nya memang sedang di uji kekasihnya, baiklah dia akan bersabar untuk saat ini.


"Oke, aku masuk dulu," ujar Gallen seraya melangkah terlebih dulu dan meninggalkan Siyyara yang masih berdiri di halaman rumah. Siyyara menatap punggung Gallen dengan wajah syok, Siyyara kan tidak serius ingin berjalan sendiri, terus kenapa Gallen benar-benar membiarkannya berjalan sendiri. Dasar kejam!


"GALLEEEENNNN!"


"Apa?" Gallen membalikkan badan menghadap Siyyara.


"Dasar pria kaku, aku membencimu!" Teriak Siyyara lagi.


"Sehari saja tidak teriak-teriak apa tidak bisa?"


"Tidak!" Siyyara melipat kedua tangannya di depan dada.


"Terus kamu maunya gimana?" Gallen menghela napas lelah.


"Ya gendong lah."


"Tadi nggak mau, sekarang minta gendong," sindir Gallen.


"Suka-suka gue lah," jawab Siyyara.


"Jangan pake bahasa Gue-elo. Aku nggak suka."


"Hm, ya udah cepetan gendong," rengek nya.


Dengan malas, Gallen kembali lagi menghampiri dan membopong Siyyara.


**


Di dalam rumah, Tristan menyaksikan berdebatan kecil mereka, dia menyunggingkan senyum sedih. Sedih karena dia harus benar-benar mengikhlaskan cintanya untuk saudaranya sendiri. Tetapi di juga bahagia karena melihat raut wajah bahagia di wajah kakaknya.


Meski Gallen tidak terlalu banyak berekspresi, tetapi Gallen terlihat sedikit berubah, dia sekarang bisa mengekspresikan perasaannya ketimbang dulu saat belum menjalin hubungan dengan Siyyara.


"Aku akan membuang perasaan ku ini jauh-jauh. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan mereka," ucapnya.


"Siyya, andai saja kamu bilang dari awal jika kamu menolakku karena kamu sudah memiliki kak Gallen, saat itu pasti aku akan langsung mundur. Tetapi kamu bersikap seolah tidak ada apa-apa. Dan saat aku mengetahui kalian datang bersama di pesta, hati ku sangat sakit," gumam Tristan sambil melihat kebersamaan dua orang yang sangat penting bagi nya.


"Tristan, kamu belum berangkat ke sekolah?"


Tristan langsung membalikkan badan ketika mendengar suara seseorang yang sangat Tristan sayangi.


"Mama? Ma, kenapa mama keluar? Mama harus banyak beristirahat," ujar Tristan dengan lembut.


"Mama bosan, Mama ingin menunggu kakakmu pulang," jawab Amanda.


"Kak Gallen sudah pulang, sebentar lagi dia akan masuk ke dalam, jadi Mama sebaiknya kembali beristirahat di dalam kamar Mama." Tristan menuntun Mama nya untuk kembali masuk ke kamarnya.


Cklek


"Assalamualaikum." Gallen membuka pintu dengan susah payah karena sambil menggendongnya Siyyara.


"Wa'alaikumsalam," jawab Tristan.


"Gallen." Amanda segera menghampiri putra sulungnya yang sedang menggendong seorang gadis.


"Ma, Tristan berangkat sekolah dulu ya." Tristan mencium tangan mama nya.


"Kak, aku berangkat dulu," ujar Tristan kepada Gallen. Dan dijawab anggukan oleh Gallen.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab Gallen, Amanda, dan Siyyara.


"Mama? Mama kenapa keluar? Mama sudah baikan?" Tanya Gallen lembut dengan menghampiri Amanda, setelah menurunkan Siyyara dari gendongannya.


"Mama baik," jawab Amanda sambil memeluk Gallen.


Saat menyadari bahwa Gallen sedang membawa seorang gadis ke rumahnya, Amanda melepaskan pelukannya kepada Gallen. Amanda melirik gadis yang dibawa Gallen, dia tersenyum lembut dan menghampiri Siyyara.


Siyyara hanya membalas tersenyum dan menunduk, untuk menyembunyikan rona merah diwajahnya. Dia sangat malu karena Gallen menggendongnya dan hal itu dilihat oleh Mamanya Gallen sendiri dan Tristan.


"Ayo, nak. Sebaiknya kita duduk di ruang tamu," ajak Amanda kepada Siyyara. Gallen mengikuti Mama nya di belakang. Takut jika tiba-tiba Mama nya kumat.


"Siapa namamu, nak?" Tanya Amanda setelah duduk di Sofa.


Siyyara mendudukkan dirinya di samping Gallen di satu Sofa yang panjang, dengan posisi tepat berhadapan kepada Amanda.


"Siyyara, Tante," jawab Siyyara.


Amanda diam, dia berpikir dengan keras. Amanda seperti pernah mendengar nama itu dari seseorang.


"Tante kenapa?" Tanya Siyyara saat Amanda hanya diam dan menatapnya dengan tatapan kosong.


"Mama, apa Mama baik-baik saja?" Gallen menghampiri Amanda yang duduk di Sofa depannya.


"I-iya, Mama baik-baik saja." Amanda menggeser duduknya untuk mendekati Siyyara.


"Nama lengkapmu?"


"Siyyara Almeta Damares, Tante."


Amanda terbelalak saat mendengar nama Damares. Amanda berusaha menyembunyikan keterkejutan nya, dia tidak ingin masa lalu kelamnya membuat Putranya menderita.


Meski dalam keadaan tidak sehat, Amanda selalu memperhatikan anak-anaknya, selama ini Gallen tidak pernah membawa seorang gadis manapun ke rumahnya, dan hari ini, gadis yang sangat dikenalinya dibawa oleh anaknya sendiri ke dalam rumahnya.


Dan itu berarti, hubungan mereka pasti bukan sekedar teman biasa, karena Gallen tidak akan pernah membawa temannya ke dalam rumahnya.


Gallen semakin khawatir ketika melihat Amanda menitihkan air matanya. Siyyara juga kebingungan saat Amanda menangis tanpa sebab.


"Ma, Mama kenapa?"


"Ayo Gallen antar ke kamar, sebaiknya Mama beristirahat-"


"Tidak, Gallen," jawab Amanda cepat.


"Mama ingin berbincang dengan Siyyara."


"Apakah Siyyara kekasihmu?" Tanya Amanda.


"Iya, Ma," jawab Gallen cepat.


Perasaan Siyyara campur aduk ketika mendengar pengakuan Gallen, entah mengapa perutnya seperti dikelilingi kupu-kupu yang banyak. Rasanya aneh, dan Siyyara belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya.


"Mama senang bahwa Siyya adalah calon menantu Mama, Mama tidak sabar ingin melihat kalian segera menikah," ujar Amanda dengan tersenyum manis.


Gallen tersenyum kaku saat mendengar perkataan Amanda. Gallen melirik Siyyara sebentar untuk memastikan ekspresi Siyyara. Gallen hanya takut jika Siyyara tidak nyaman dengan perkataan Mama nya. Karena Gallen tahu jika Siyyara belum mencintainya.


"Ma, jangan berpikir ke arah sana, lagi pula kami belum siap menikah," ujar Gallen.


"Belum siap gimana? Kamu kan sudah dewasa, Gallen. Kamu juga sudah mapan, kurang apa lagi coba? Usia kamu sudah cukup untuk menikah," bantah Amanda.


Gallen menghembuskan napasnya dalam-dalam. Dia takut jika Siyyara tidak nyaman dengan Mama nya yang membicarakan pernikahan.


"Siyya sayang. Bagaimana menurutmu?"


"Apa Tante?" Siyyara menatap Amanda takut.


"Apakah anak Tante ini sudah sesuai dengan kriteria mu, Siyya? Apa yang tidak kamu sukai dari sikap Gallen?"


Siyyara bingung harus menjawab apa. Jika dia menjawab yang baik-baik, takut Gallen ke GR an. Karena memang Gallen adalah pria yang tampan dan baik, meski sifatnya dingin, kaku, dan menyebalkan.


"Di-dia baik," jawab Siyyara gugup.


"Baik? Cuma itu? Jangan takut berpendapat sayang. Jika memang ada keburukan dari sifat Gallen, bilang saja ke Tante. Gallen tidak akan marah padamu kok sayang," ujar Amanda.


"Apakah menurut mu Gallen itu ganteng?" Amanda berusaha memancing Siyyara. Dan Siyyara kalang kabut sendiri. Sedangkan Gallen, dia menunggu jawaban Siyyara, dia tidak sabar ingin mendengar penilaian Siyyara kepada dirinya.


"Iya, tante." Siyyara memalingkan wajahnya, dia tidak ingin pandangannya bertemu dengan Gallen, karena sekarang Gallen duduk tepat di depannya.


"Iya apa sayang?" Desak Amanda.


"Ga-ganteng, Tante." Siyyara tidak tahu harus berekspresi sepeti apa, dia sangat malu, karena orang yang menjadi bahan pembicaraan jelas tepat berada di depan Siyyara. Jarak mereka hanya terpisah oleh meja.


Gallen juga salah tingkah saat kekasihnya untuk pertama kalinya memuji dirinya, tetapi Gallen segera menyembunyikan rasa gugupnya dengan baik, dia memasang wajah biasa saja, padahal di dalam dadanya sangat bergemuruh.


"Lalu, apakah Gallen itu perhatikan padamu, Siyya?"


Gallen melirik Mama nya bingung. Sejak kapan Mama nya menjadi banyak tanya kepada seseorang? Apakah Mama nya sudah sembuh? Karena setahu Gallen, Mama nya akan ketakutan ketika rumahnya didatangi seseorang yang tidak ia kenal. Maka dari itu, Gallen kesusahan mencari psikiater yang cocok untuk Mamanya.


Dan anehnya Mama nya saat ini sangat bahagia bertemu Siyyara. Apakah Mama nya memang sudah sembuh? Dan ketika Kinan datang ke rumahnya sebagai psikiater, Tristan bilang Mamanya juga menerima kehadiran Kinan. Padahal jelas Kinan memiliki niat terselubung.


"Ma, jangan bertanya yang aneh-aneh."


"Tidak, Gallen. Kamu itu pria kaku, Mama takut Siyyara itu tidak betah berlama-lama dengan pria seperti dirimu, karena Mama ingin hubungan kalian sampai ke jenjang pernikahan."


Gallen diam, jelas sekali disini Mamanya lebih menyayangi Siyyara ketimbang dirinya. Dalam hati Gallen sangat bahagia ketika mamanya telah merestui hubungannya dengan Siyyara. Tetapi mengapa Mama nya ini seperti menjelek-jelekkan dirinya di hadapan Siyyara?


"Siyya, kamu juga harus tahu sayang, jika Gallen itu pria yang gila kerja, Tante harap kamu memaklumi nya ya. Dia akan berubah cuek ketika sudah bekerja. Tetapi jika sampai Gallen membuatmu bersedih, bilang saja kepada Tante, Tante akan marahi dia habis-habisan."


Siyyara tersenyum canggung, karena yang dikatakan oleh Mama nya Gallen memang benar, Gallen itu adalah pria yang gila kerja, dan terkadang menjadi cuek dan dingin ketika pekerjaan nya di ganggu.


"Jadi, apakah menurut Siyya, Gallen itu pria yang perhatian?"


"I-iya Tante, Gallen perhatian," jawab Siyyara malu.


"Wah! Benarkah? Tapi Tante tidak percaya," ujar Amanda.


Gallen merasa kesal dengan Mamanya, sepertinya memang Mamanya ini berusaha membongkar semua sifat-sifat buruknya nya kepada Siyyara.


"Di-dia selalu menuruti per-permintaan Siyya, saat dia sedang sibuk bekerja," jelas Siyyara, sambil mengingat kejadian saat dirinya menginginkan Ice Cream, dan berakhir dirinya ditusuk seseorang.


"Benarkah?"


Siyyara mengangguk malu.


"Itu berarti Gallen merubah sifatnya, sayang. Dia merubah sifatnya demi dirimu, agar kamu bisa nyaman di dekatnya," celetuk Amanda.


Gallen sudah kepalang malu, dia seperti di telanjangi oleh Mamanya sendiri, mengapa Mama nya itu tahu segala tentangnya sih? Apalagi mengungkapkan semuanya di depan Siyyara.


"Ma, Mama ini bicara apa sih?"


"Kenapa? Mama kan bicara sesuai fakta," sahut Amanda.


Gallen sekarang mengerti, Mama nya saat ini memang sudah membaik, Mama nya sudah kembali normal seperti dulu lagi. Jika Mama nya masih sakit, tidak mungkin Mama nya akan berbicara seperti itu kepada seseorang.


"Kenapa kamu melihat Mama seperti itu?" Amanda melihat Gallen yang sedang mentapnya dengan tatapan dalam.


"Gallen senang jika Mama sudah kembali," ucap Gallen dengan jujur.


Amanda tidak tahu harus berkata seperti apa, setelah beberapa hari dia di temui seseorang dalam mimpinya, dia seperti dapat keluar dari kabut gelap dalam hidupnya. Dia seperti tersadar dari tidurnya bertahun-tahun.


Amanda mendekati Gallen dan mengelus kepala Gallen dengan sayang.


"Maafkan Mama, karena Mama sudah membuatmu khawatir. Mama juga sering kali merepotkan dirimu."


"Tidak Ma, Mama tidak pernah merepotkan Gallen sama sekali."


Dilain sisi, Siyyara menatap bingung Gallen dan Mama nya, dia hanya duduk diam karena dia tidak tahu permasalahan ibu dan anak itu. Dan Siyyara akan menunggu Gallen berkata jujur padanya, dia tidak akan menuntut Gallen untuk menceritakan masalah pribadinya kepadanya.