
Siyyara P.O.V
Aku sungguh kecewa dengan Gallen, mengapa disaat perasaan ku nyaman untuknya, aku harus mengetahui fakta yang sulit ku terima. Aku tidak menyangka jika pria baik seperti Gallen bisa berbuat seperti itu.
Dia telah memiliki anak dari Kinan, dan dia tidak mau jujur padaku, bahkan dia sempat berkata bahwa dia tidak pernah menyentuh Kinan. Apa dia kira aku ini anak kecil yang mudah di bohongi?
Meski selama ini Gallen selalu perhatikan padaku, bahkan dia selalu mengutamakan aku ketimbang pekerjaan nya, tapi tetap saja, aku marah padanya. Aku bahkan sudah memberinya peringatan jika aku tidak suka kebohongan, tetapi dia malah sengaja berbohong padaku.
Aku mengingat saat hari dimana aku mengetahui semuanya, aku tahu pun karena tidak sengaja. Aku bukan orang kepo yang akan menyuruh seseorang untuk menyelidiki masa lalu Gallen. Bahkan tidak pernah terbesit dalam pikiran untuk curiga kepada percakapan Gallen dan Kinan waktu itu. Sebelum aku mengetahuinya, Gallen berencana untuk mengajak ku jalan-jalan. Tetapi aku menolak dengan alasan jika aku khawatir dengan kondisi nya. Meski dia terlihat baik-baik saja, tetapi dia
Flashback on.
Saat itu, aku sedang bersenda gurau bersama Daddy dan kak Alvian di ruang keluarga, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku pun hanya diam, karena aku tidak tahu dimana ku letakkan ponselku saat itu.
"Siyya, ponselmu berbunyi. Bentar, kakak ambil kan." Aku pun hanya mengangguk dan membiarkan kak Alvian yang mengambil ponselku.
"Siapa yang menelepon, kak?" Tanya ku
"Yang menelpon adalah Gallen."
Aku terheran saat Gallen menelfon ku, setelah aku mengalami kebutaan, dia tidak pernah menelfon. Jika dia ingin berbicara padaku, pasti dia akan datang ke rumahku.
"Mungkin ada hal yang penting, coba angkat saja," timpal Dadddy.
"Iya, Dad," jawabku.
"Sebentar, kakak angkat dulu."
Setelah kak Alvian menggeser tombol hijau di layar ponselku, dia memberikan ponsel ku kepadaku, agar aku yang berbicara dengan Gallen. Aku pun mengambil ponsel itu dan menempelkan di telingaku.
"Assalamualaikum. Ada apa, Gallen?" Ucapku.
Aku tidak mendapat sahutan dari Gallen, aku pun bersabar menunggu, tetapi Gallen tidak juga mengeluarkan suaranya.
Saat aku ingin mengakhiri panggilan itu, aku mendengar suara seorang wanita. Dan suara itu tidak asing di telingaku. Aku merasa itu adalah suara Kinan.
"Gallen? Aku akan membangunkan Aira sebentar, sebaiknya kamu mandi dulu. Aku akan menyiapkan makan malam untuk kita." Suara itu terdengar jelas di telingaku. Aku pun hanya diam mendengar pembicaraan nya.
"Baiklah, aku akan mandi sebentar. Jika Aira susah di bangunkan, biarkan saja dia tidur. Dia pasti kecapekan," ujar Gallen di seberang sana.
Aku masih diam, mungkin saat in kak Alvian dan Daddy sedang memandangiku dengan tatapan aneh. Karena aku hanya diam dan masih menempel kan ponsel itu di telingaku.
"Papa!" Tak lama kemudian, aku mendengar suara anak kecil. Aku menahan napas, entah mengapa rasa penasaran ku tumbuh begitu saja saat mendengar suara gadis kecil itu.
"Aira sayang. Apa kabar? Maaf, papa baru berkunjung."
"Tidak apa-apa, Pa. Papa ada disini saja sudah membuat Aira senang. Aira sayang papa."
"Papa juga sayang Aira. Ayo kita makan bersama."
Aku menahan napas, aku benar-benar menajamkan pendengaranku dengan baik. Aira? Papa? Siapa sebenarnya Aira? Mengapa dulu saat Kinan menjenguk Gallen, Kinan juga mengatakan jika Aira merindukan Gallen? Sebenarnya Aira itu siapanya Gallen? Dan mengapa Aira memanggil Gallen dengan sebutan Papa?
Sebenarnya apa yang terjadi? Sandiwara apa ini?
"Siyya, kenapa diam? Apa yang Gallen bicarakan?" Tanya Daddy, saat ponselku tak kunjung ku matikan.
"Tidak, dad. Gallen menyuruhku menunggunya sebentar, mungkin dia sedang ada tamu," jawabku bohong. Maafkan aku, Dad.
Aku masih mendengarkan setiap pembicaraan Gallen dan Aira. Tiba-tiba dadaku terasa sesak saat mendengar perbincangan Gallen dan Kinan.
"Ayo kita makan, makanannya sudah siap," ajak Kinan.
"Ayo," ucap Gallen.
"Aira sudah kenyang, Pa. Tadi sebelum tidur Aira makan dulu."
"Benarkah? Sayang sekali, padahal Papa ingin menyuapi Aira."
"Maaf, Pa." Terdengar nada sedih dari suara Aira.
"Tidak apa-apa, sayang. Lebih baik Aira kembali ke kamar dan tidur kembali saja, ya."
"Tapi Aira masih kangen sama Papa." Suara Aira terdengar sangat manja.
"Aira tahu tidak? Papa sudah menaruh hadiah di kamar Aira?" Gallen berusaha membuat suaranya hati Aira kembali bersemangat lagi.
"Benarkah?" Tanyanya dengan bahagia.
"Iya, coba Aira lihat dulu. Jika Aira suka, nanti Aira temui papa di sini, kita main bersama. Jika Aira tidak suka, papa akan belikan lagi untuk Aira."
"Aira akan melihatnya, tunggu sebentar ya, pa."
Aku mendengar ucapan gadis kecil itu. Sepertinya memang Aira adalah anak Gallen. Tapi bagaimana bisa?
"Alvian, apa kamu sudah menyiapkan berkas yang kita perlukan untuk meeting besok?" Tanya Daddy kepada kak Alvian, yang membuat pendengaranku tidak fokus.
"Sudah, Dad. Hanya saja ada beberapa bagian yang kurang."
"Baiklah, ayo kita bahas di ruang kerja ku saja."
"Baik, Dad."
"Siyya, apa Siyya tidak apa-apa jika Daddy dan kak Alvian tinggal? Nanti jika Siyyara ingin ke kamar, Siyya panggil saja Daddy. Daddy akan antar ke kamar," ucap Daddy dengan lembut padaku.
"Iya, dad," jawab Siyyara.
"Ayo, Al." Daddy dan kak Alvian pun pergi ke ruang kerjanya. Ketika suara langkah kaki mereka sudah tidak terdengar, aku segera menempelkan ponselku ke telingaku lagi.
Ternyata aku juga sudah tidak mendengar suara cempreng Aira, sekarang suara Gallen yang menjadi pusat perhatian ku. Aku kembali fokus mendengar kan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Gallen.
"Kinan, maaf karena aku meninggalkan mu saat Aira baru lahir." Suara Gallen terdengar menyesal, dan Siyyara dapat mendengar dengan jelas.
"Tidak apa, Gallen. Kamu mau menemui Aira saja aku sudah senang. Dia selalu menanyakan keberadaan Papanya."
"Aku memang seorang Ayah yang buruk untuk Aira."
Aku berusaha sekuat tenaga untuk berpikir positif, siapa tahu jika Aira itu angkat Gallen, dalam artian bukan anak kandung Gallen.
"Tidak Gallen, aku paham dengan kesibukan mu. Aira pun pasti mengerti, dia adalah anak mu, dia sangat cerdas. Mungkin kecerdasannya juga menurun darimu."
Setelah mengatakan kalimat itu, Kinan tertawa bahagia. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mataku.
"Maaf Kinan. Karena setelah aku mengadzani Aira, aku langsung pergi ke Indonesia begitu saja tanpa mendengarkan penjelasan darimu."
"Sudahlah, bukankah kamu sendiri yang bilang, bahwa kita tidak boleh mengingat masa lalu?"
"Aku pergi tanpa memikirkan kondisimu, aku tidak memikirkan bagaimana sulitnya dirimu membesarkan Aira sendirian. Aku benar-benar berterima kasih padamu, Kinan. Karena kamu sudah menjaga anakku dengan baik."
"Maaf juga untuk pertemuan pertama kita di Jakarta, Kinan. Aku marah begitu saja padamu. Saat itu aku kalut karena aku sudah jatuh cinta kepada Siyyara. Aku takut kehilangannya, aku takut dia akan pergi dariku saat tahu aku sudah memiliki anak darimu."
"Meski Aira datang disaat kita belum siap menjadi orangtua, tetapi aku sangat menyayanginya. Aku tidak pernah berpikir jika Aira adalah anak haram, karena hubungan kedua orangtuanya lah yang haram. Aku sangat menyayangi Aira."
Aku berusaha sekuat tenaga menahan isakan ku, tetapi kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan tangisku. Kedua tanganku gemetar saat mendengarkan ucapan Gallen. Ini sangat jelas, jelas sekali. Siyyara tidak lagi bermimpi buruk, ini adalah nyata. Gallen dalam keadaan sadar mengucap kalimat itu, bahkan dari setiap nadanya terdengar sangat menyesal.
"Aku paham, Gallen. Meski aku masih mencintaimu, tetapi aku akan merelakan mu untuk bersama dengan gadis itu. Tapi Gallen, apakah gadis itu akan menerima Aira sebagai anak tirinya?"
"Siyyara pasti akan menerima Aira, dia gadis yang baik. Meski sifatnya pemarah, tetapi dia memiliki hati yang lembut. Aku akan mengatakan semuanya tentang Aira saat waktunya tepat."
"Iya, aku percaya padamu."
"Papa!" Suara cempreng Aira kembali terdengar, kalau tidak salah dengar, sepertinya Aira sedang berlari ke arah Gallen.
"Papa, Aira suka hadiahnya. Terima kasih, Pa. Aira sayang Papa."
Suara Aira terdengar sangat manja kepada Gallen, dan tak lama kemudian Gallen dan Kinan tertawa bahagia. Mereka seperti keluarga bahagia. Aku terus menahan diriku dan menguatkan diriku.
Apakah Gallen benar-benar tidak sadar jika ponselnya berada di mode menghubunginya? Atau dia sengaja menghubunginya?
Aku harus tegas. Aku harus segera bertindak. Aku tidak mau menjadi pihak yang di bodohi oleh mereka. Dan sekarang aku tahu harus berbuat apa. Aku yakin, keputusan ku ini adalah yang paling benar. Aku tidak mau tersakiti secara terus-menerus. Aku tidak ingin menjadi ibu tiri untuk anak itu.
Aku benci Gallen, aku tidak bisa menerima Aira. Dia bukan anakku, dia adalah anak Gallen dan Kinan.
Hatiku sakit, rasanya sesak sekali. Aku ingin marah saat ini, aku butuh pelampiasan untuk kemarahan ku. Tanpa ku sadari, ku remat ponselku dengan kencang, dan aku banting ke depan hingga menimbulkan bunyi memekakkan telinga karena ponsel itu membentur meja kaca yang ada di depanku.
Flashback off.
*
"Siyya, kamu benar-benar ingin meninggalkan kakak sendiri disini?" Tanya kak Alvian kepada ku saat sudah sampai di Bandara.
"Siyya tidak bermaksud meninggalkan kakak. Siyyara sayang kakak. Jika ada waktu Siyya akan main ke sini lagi."
"Kamu benar-benar ingin menetap disana? Lalu bagaimana dengan Gallen?"
Aku diam. Aku tidak tahu harus menjawab apa, karena alasanku memutuskan pergi dari sini adalah Gallen. Aku ingin menghindari nya.
"Kamu sedang bertengkar dengan Gallen?" Tanya kak Alvian tepat sasaran.
"Tidak, kak. Sudahlah jangan bahas dia."
"Kakak tahu, kamu sedang ada masalah dengan Gallen. Bukan karena kakak ingin ikut campur urusan kalian. Kakak tahu pun karena tadi Tristan menelpon kakak, dan Tristan bilang jika Gallen sedang sakit dan terus menggumamkan nama kamu."
Hatiku tidak tenang saat mendengar ucapan kak Alvian. Tiba-tiba aku menjadi ragu dengan keputusan ku sendiri.
"Gallen sangat mencintai mu, Siyya."
"Aku tahu kak. Tapi Siyya tidak mau bersama Gallen. Siyya tidak mencintai Gallen," jawaku ragu.
"Benarkah? Tetapi yang kakak lihat, kamu sangat nyaman dengan Gallen. Gallen pun bukan tipe pria yang suka aneh-aneh. Kakak merasa tenang ketika kamu menjalin hubungan dengan Gallen," ucap kak Alvian.
Bukan pria yang aneh-aneh? Benarkah seperti itu?
"Kak, dulu kakak berteman dengan Gallen sudah berapa lama? Apakah kalian mengenal dengan baik?"
"Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu?" Tanya kak Alvian yang sepertinya menaruh curiga padaku.
"Tidak, aku hanya ingin tahu saja, kak."
"Gallen adalah sahabat kakak saat SMP hingga SMA dulu, kakak sangat mengenal Gallen dengan baik. Dia adalah lelaki yang sangat baik, pintar, dan ulet. Dia selalu menjadi idola setiap gadis saat di bangku SMA dulu. Dia sangat populer, tetapi dia tidak pernah sombong dengan kelebihannya, dia juga selalu membantu orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Dan yang lebih penting, Gallen tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis manapun. Dia sangat terjaga. Maka dari itu, kakak nyaman menitipkan dirimu padanya. Dia selalu menjaga pandangan nya."
"Kak, apakah bisa sifat dan perilaku seseorang bisa berubah?" Tanya ku lagi. Aku sangat penasaran saat kak Alvian mengatakan jika Gallen selalu menjaga pandangan nya. Jika benar begitu, kenapa Gallen bisa memiliki anak dari perempuan yang bukan pasangan halalnya?
"Kalau hal itu, menurut kakak sih berdasarkan pergaulan juga. Bisa saja orang baik menjadi berubah karena faktor lingkungannya. Kenapa kamu tanya seperti itu?"
"Tidak, kak. Ah ya, Siyya minta tolong sama kakak ya, untuk mengurus surat kepindahan sekolah Siyyara," pinta ku untuk mengalihkan pembicaraan kami.
"Baiklah, kakak akan urus. Jaga diri kamu baik-baik ya. Dan cepat kembali ke sini, kakak tunggu." Kak Alvian mengelus kepala ku dengan lembut.
"Ayo, kakak antar kamu ke Daddy. 10 menit lagi pesawat nya akan take off."
"Iya, kak."
P.O.V end.
********
"Siyya, jangan pergi," racau Gallen pelan.
Dret dret
Tubuhnya sangat lemas untuk beraktivitas, dan hari ini ponselnya terus berbunyi. Kadang dari Agni kadang dari Alan. Gallen tahu tujuan mereka menghubungi nya.
Agni menghubungi nya pasti karena hari ini ada rapat penting, dan untuk Alan, dia pasti menanyakan kapan akan melakukan operasi untuk Siyyara.
Mengingat nama gadis itu, membuat seluruh tubuh Gallen tidak bertenaga. Siyyara benar-benar sudah merasuk ke dalam hatinya, entah sihir apa yang Siyyara pakai hingga membuatnya lemah seperti ini.
"Siyya, maafkan aku. Kembalilah," ujar Gallen lagi dengan lirih.
"Aku mencintaimu, Siyya. Jangan tinggalkan aku."
Tok tok tok
"Kak Gallen? Kakak ada di dalam?" Tanya Tristan. Karena setelah menunggu tidak ada jawaban. Tristan memutuskan untuk masuk ke kamar Gallen.
Tristan terpaksa meminta izin kepada guru yang sedang mengajar saat menerima pesan dari Mr. Nara jika Gallen tidak hadir ke acara meeting dengan kolega bisnis nya tanpa memberi alasan apapun. Dan sekretaris nya pun sudah berkali-kali menghubungi nya, tapi tidak juga di angkat.
Dan Tristan yakin jika saat ini kakaknya sedang ada masalah. Dia pun segera pulang ke rumahnya untuk memastikan sendiri kondisi Gallen.
Cklek
"Kak?" Tristan terheran saat melihat kakaknya dalam kondisi berantakan, posisinya terduduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Apa yang terjadi, kak?" Tristan menghampiri Gallen.
"Siyya," gumam Gallen dengan mata setengah terpejam.
"Kak?" Tristan menempelkan punggung tangannya ke kening Gallen, dan dapat dirasakan suhu tubuh Gallen sangat panas.
"Siyya," gumam Gallen lagi. Dan itu membuat Tristan mengerti jika kakaknya seperti ini karena ada hubungannya dengan Siyyara.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Gumam Tristan pelan.