
Gallen dengan lelah keluar dari Damestria Corp saat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB.
Dret dret
Tit
"Assalamualaikum, Ma?"
"..."
"Iya, Gallen sudah keluar dari kantor. Untuk malam ini Gallen akan menginap di Apartemen, Ma. Karena kebetulan besok pagi ada rapat di Cafe dekat Apartemen Gallen."
"..."
"Iya, Ma. Mama tidurlah, ini sudah malam."
"..."
"Wa'alaikumsalam."
Tit
"Huft," desah Gallen. Dia menarik oksigen dengan rakus untuk membuat paru-paru nya lega.
"Sepertinya memang aku harus meminta maaf kepada paman Dave. Papa dan Mama sudah bersahabat dengan beliau sejak lama, jika aku membuat persahabatan mereka renggang, aku akan merasa sangat berdosa," ucap Gallen pelan. Dia segera membuka pintu mobilnya dan memasuki mobil itu dengan menghela napas lagi.
Gallen melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena ia ingin segera sampai di apartemen agar bisa cepat beristirahat.
Saat dia sampai di pertigaan sebuah jalan yang jarang dilewati orang-orang saat sudah malam, Gallen memelankan mobilnya. Dia merasa janggal ketika ada mobil yang dengan sengaja melaju ke arah jalan sepi itu, karena Gallen tahu jika jalan itu sedang dalam kondisi perbaikan, dan sangat tidak mungkin untuk dilewati seseorang. Gallen berhenti sejenak dan memperhatikan mobil itu.
"Apa mobil itu tidak tahu jika jalan itu sedang ada perbaikan?" Gallen ingin mengikuti mobil itu dan ingin memberitahu si pengemudi tentang jalan yang akan dilewati itu, tetapi setelah dipikir-pikir, mungkin saja perbaikan jalan itu sudah hampir selesai dan beberapa mobil bisa lewat, terbukti dengan papan yang biasanya di letakkan di jalan itu untuk menghadang mobil yang akan melewati jalan itu, tetapi sekarang papan itu sudah disingkirkan.
Gallen mengedikkan bahunya dan kembali melajukan mobilnya, tetapi saat dia baru mau menginjak pedal gas, Suara teriakan seseorang membuatnya menginjak rem dengan mendadak.
Dia menurunkan kaca mobilnya, untuk memperjelas pendengarannya, saat suara itu tak terdengar lagi, Gallen menaikkan kaca mobilnya kembali. Dan saat ia ingin menjalankan mobilnya, suara itu terdengar lagi dan lebih keras dari sebelumnya.
Gallen segera memutar balik mobilnya dan membelokkan mobilnya ke arah jalanan sepi itu. Entah mengapa dia sangat yakin jika teriakan itu berasal dari sana.
Gallen melihat mobil yang ia lihat tadi terparkir disana, dan beberapa orang bodyguard sedang mengejar seorang gadis, dan Gallen tahu siapa gadis itu.
"Brengsek!" Umpat Gallen kesal saat kawanan bodyguard itu membawa Siyyara ke dalam mobilnya.
Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, dan Gallen langsung mengikuti kecepatan mobil itu hingga mobilnya sekarang sejajar dengan mobil para penculik itu.
Gallen sengaja mendahului mobil itu dan menghentikan mobilnya tepat di depan mobil para penculik Siyyara.
Gallen segera turun dan mengambil beberapa pistol yang ia simpan di dalam dasboard mobilnya.
"Keluar!"
Para bodyguard itu keluar dengan raut wajah kesal.
"Hei! Kau ingin mati? Jika kau masih menyayangi nyawamu, sebaiknya kau pergi," usir orang itu.
"Cih, kau pikir aku takut dengan manusia seperti kalian? Bahkan aku bisa melenyapkan kalian sekaligus dengan sangat mudah," ujar Gallen dengan sinis.
Para bodyguard itu saling pandang. Mereka menggeram marah karena merasa diremehkan.
"Ayo, kalau kalian punya kekuatan, lawan aku sekarang juga. Jika kalian tidak mampu, berikan gadis itu padaku," ucap Gallen dengan nada datarnya.
"Cih, seperti bisa saja. Ayo, kita serang pemuda itu." Bodyguard itu mengajak kawan-nya untuk mengepung dan menghabisi pemuda yang menurutnya sangat sombong itu.
"Hyaaa!"
Cras
Cras
Brukk
"Agh," rintih bodyguard itu.
Bukk
Bukk
Pertarungan sengit tak terhindarkan, 1 lawan 10. Gallen berjuang sekuat tenaga untuk melumpuhkan 10 orang itu sendirian hingga 5 orang bodyguard itu tumbang karena serangan Gallen. Dan 5 orang sisanya berusaha menyerang Gallen dengan membabi buta, tetapi lagi-lagi Gallen dengan gesit menghindar, hingga pukulan tiap pukulan musuh selalu mengenai temannya sendiri.
Brakk
"Aghhhhtttt!" Teriak salah satu kawanan penculik itu yang tangannya sudah di patahkan oleh Gallen.
Karena anak buahnya semua telah dilumpuhkan oleh Gallen, sang ketua itu pun menyerang Gallen dengan belati yang tersimpan di balik jaketnya.
Meski Gallen sibuk memukuli para bodyguard itu tetapi Gallen selalu waspada, dia waspada karena si ketua dari bodyguard itu belum menyerangnya.
Saat Gallen menengok kebelakang, benar saja, si ketua itu ingin menusuk Gallen dari belakang. Untung saja Gallen memiliki refleks yang baik, sehingga dia dapat menghindar dari tusukan si ketua. Dan karena Gallen cepat menyingkir, belati itu menusuk salah satu anak buahnya sendiri yang sudah Gallen lumpuhkan.
"Aghh," rintih bodyguard itu.
"Sial! Brengsek kau!" Umpat si ketua itu dengan murka.
Gallen tersenyum mengejek dan menggerakkan tangannya seolah memanggil musuhnya dengan manis.
"Kau ingin ku hajar dengan metode apa?" Tanya Gallen.
Si ketua diam, dia melirik anak buahnya yang sudah tergeletak di tengah jalan. Pandangan nya pun terarah kembali kepada Gallen. Dengan gerakan cepat, si ketua segera berlari ke mobil.
Mengerti tindakan si ketua bodyguard itu, Gallen segera menodongkan senjata nya untuk mengehentikan gerakan si ketua.
"Berhenti!"
"Berhenti kau! Kalau tidak, ku tembak sekarang juga!" Ancam Gallen dengan berteriak.
Si ketua menghentikan gerakannya yang ingin membuka pintu mobil.
"Serahkan gadis itu padaku dulu, baru kau ku biarkan pergi dengan selamat," tawar Gallen.
"Cuih, tidak akan. Bahkan aku sudah menantikan kesempatan ini dengan lama, pasti bos kami sangat senang dengan buruanku ini," ujar si ketua.
Gallen menghembuskan napasnya panjang, dia berusaha tenang.
"Hahaha! Kau fikir aku bodoh?"
"Dengar, aku tahu jika saat ini kau ketakutan, kau ketakutan karena bos mu itu pasti mengancam akan melukai keluargamu, bukan kah begitu?"
Si ketua mendelik, dia menatap Gallen dengan tajam.
"Aku sudah berpengalaman menghadapi orang seperti dirimu ini. Jika kau mau menuruti perintah ku, aku akan melindungi mu beserta keluarga mu, dengan syarat, lepaskan gadis itu. Lagi pula aku tahu siapa orang yang sudah menyuruhmu."
Si ketua lagi-lagi mendelik tajam kepada Gallen. Dia meneguk ludah nya dengan susah payah.
Gallen menurunkan pistolnya dan menyimpannya kembali ke dalam saku jas nya. Dia mendekati dan membuka pintu mobil itu dengan percaya diri, dia pun segera menggendong Siyyara dan memindahkannya ke dalam mobilnya.
"Orang seperti Mr. Samuel Calvert harus diberi pelajaran. Kau ikut denganku, sudah pasti kau akan aman. Tapi ada syaratnya." Gallen menatap tajam si ketua yang ketakutan.
"A-apa?"
"Kau harus mengakui kesalahanmu kepada Mr. Dave, maka kau dan keluarga mu akan dilindungi olehnya."
Si ketua itu melotot. Jika dia mengatakan kebenaran nya kepada Mr. Dave, sudah pasti kepalanya akan menggelinding ke tanah.
"Me-mengapa harus Mr. Dave? Bu-bukan kah kau berjanji akan memberiku perlindungan?" Tanya si ketua.
"Benar, tetapi aku tidak bisa melindungi orang sebaik Mr. Dave. Percayalah, dia orang yang bijak."
"Kau ini sebenarnya mau membantuku atau tidak? Mengapa kau menyuruhku pergi ke kandang singa?" Oceh si ketua.
"Kalau kau takut pergi ke kandang singa, mengapa kau berani menculik putrinya?" Gallen melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kan kau tahu sendiri jika aku ini hanya disuruh-"
"Aghhhhtttt!" Teriakan si ketua saat merasakan kepalanya panas.
Gallen terkejut bukan main, dia menahan napasnya saat melihat dengan mata kepalanya sendiri jika tubuh si ketua tiba-tiba limbung karena ada peluru yang bersarang di kepalanya.
Gallen mengamati sekitarnya, dan tidak ada siapapun di sekitarnya, lalu peluru darimana yang sudah membunuh si ketua itu?
Gallen segera memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia terpaksa kabur karena saat ini dia sedang membawa Siyyara. Jika saja dia sendiri, dia akan menunggu orang itu mau menampakkan diri.
"Aku yakin mereka semua adalah suruhannya Samuel Calvert. Hanya dia orang yang begitu membenci Damares Corp."
Gallen merogoh ponselnya dan segera men-dial nomor Alvian.
"Halo, Al."
"...."
"Kita lupakan dulu masalah pribadi kita. Kau sekarang ada dimana?"
"...."
"Pulanglah. Aku sudah menemukan Siyyara, dan ada yang ingin ku tanyakan padamu secara langsung."
"....."
"Iya. Dia baik-baik saja. Dia hanya pingsan."
"....."
"Oke."
*****
Alvian menggenggam stir mobil nya dengan erat. Dia mengutuk jalanan yang sangat gelap. Karena gelap, dia tidak bisa mengawasi tepi jalan dengan teliti.
"Mengapa jalanan ini sangat gelap? Apakah mereka tidak punya uang untuk memberi penerangan di setiap jalan? Pantas saja banyak perampok disini," omel Alvian.
"Jangan menggerutu. Suara mu membuat kepalaku pusing, kau tahu!" Bentak Mr. Dave.
"Aku berkata benar, Dad. Jika saja jalanan terang, pasti kita bisa melihat jika Siyyara sengaja bersembunyi di balik pepohonan."
"Kau pikir adikmu itu kuntilanak?" Geram Mr. Dave.
Alvian berdecak kesal. Dia malas menanggapi ayahnya lebih lanjut.
Dret dret
"....."
"Halo? Ngapain nelfon? Aku tidak akan memaafkan mu." Alvian kembali kesal saat tahu siapa yang sedang menelponnya.
"....."
"Lagi mencari Siyyara, entah apa yang merasuki nya, tiba-tiba dia melarikan diri dari rumah," jawab Alvian asal.
Mr. Dave mendelik mendengar ucapan Alvian. Mr. Dave seolah ingin meremukkan tubuh Alvian saat ini juga.
"....."
"Apa? Kau menemukan Siyyara? Bagaimana bisa? Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Alvian beruntun.
"....."
"Syukurlah. Baiklah aku menunggumu di rumahku. Aku akan berbalik arah sekarang juga. Terimakasih."
"...."
Tit
"Apa katanya?" Tanya Mr. Dave.
"Siyyara sudah di temukan, dia ada bersama Gallen saat ini, Dad."
Mr. Dave menghela napas lega.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Iya, hanya saja kata Gallen dia pingsan. Dan Gallen ingin membicarakan sesuatu dengan kita, dad. Sepertinya ada yang serius," ujar Alvian.
Mr. Dave mengangguk. "Kalau begitu, cari jalan pintas agar kita cepat sampai ke rumah."