The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
1. Musibah



Seorang gadis SMA sedang berlari menuju ke pintu gerbang sekolahnya, tetapi karena dia bangun kesiangan, pintu gerbang itu telah di tutup oleh satpam sekolah.


"Menyebalkan," ujar gadis itu dengan kesal.


Tapi gadis itu tidak pernah kehilangan akal, karena pada dasarnya ia memang cerdas. Gadis itu memanjat pagar sekolah dengan lincah, dan dia segera meloncat dari atas pagar sekolah yang agar tinggi.


"Huh, akhirnya," ucap gadis itu dengan menepuk kedua tangannya untuk membersihkan debu-debu yang menempel di tangan dan di seragamnya.


Dengan mengendap-endap, gadis itu segera menuju ke arah kelasnya, dan dia yakin jika gurunya yang paling killer sedang mengajar di kelasnya.


Dengan penuh percaya diri dan tanpa rasa takut, gadis itu membuka pintu kelasnya dan masuk ke kelasnya tanpa mengetuk pintu dan tanpa memberi salam kepada Guru itu.


"Siyyara!" Teriak guru itu dengan suara menggelegar.


"Apa?" Tanya Siyyara dengan enteng.


"KAU? Berani sekali kau memasuki kelas ku setelah kau telat, bahkan kau tidak meminta maaf sama sekali kepada gurumu. Apa seperti itu caramu memperlakukan gurumu?"


Siyyara mengangkat sebelah alisnya.


"Maaf Miss, saya bangun kesiangan, jika saya bangun tepat waktu, pasti saya sudah duduk di dalam kelas saat ini," jawab Siyyara dengan santai.


Guru matematika itu menggeram marah.


"Siyyara! Keluar dari kelas ini, dan kerjakan semua soal ini di luar kelas, jika sampai kau ketahuan melakukan kecurangan maka kau tidak ku izinkan memasuki kelas saya!"


"Dan jika dalam waktu 1 jam kau belum juga selesai mengerjakan soal-soal ini, maka kau akan melihat nilai matematika mu di Raport berwarna merah," lanjut Guru matematika itu.


"Baiklah, aku setuju Miss," jawab Siyyara dengan penuh percaya diri.


Melihat Siyyara yang bertingkah sombong seperti itu, membuat guru wanita itu merasa jengah dan ingin mengerjai Siyyara dengan memberikannya soal-soal tersulit.


Guru matematika itu yang bernama Lia pun memberikan lembar soal yang belum pernah dijelaskan olehnya kepada murid kelas X.


Siyyara menerima soal yang di berikan oleh Miss. Lia dan keluar dari kelas yang menurutnya sangat membosankan itu.


Siyyara pun mengerjakan soal-soal itu di depan kelasnya. Dengan penuh ketelitian dan kejeliannya, Siyyara berhasil mengerjakan 10 soal itu dengan waktu 30 menit. Siyyara tahu jika guru nya itu ingin mengerjainya dengan memberikan soal-soal yang mematikan seperti itu, tetapi bukan Siyyara Almeta Damares namanya jika tidak bisa membalikkan keadaannya.


'Cklek'


Pintu kelas dibuka oleh Siyyara, dan Miss Lia pun tercengang dengan ketangkasan Siyyara.


"Miss, saya sudah menyelesaikan semua soal-soal SULIT yang anda berikan, sekarang dapatkah saya pergi dari kelas ini tanpa mengurangi nilai saya?" Ujar Siyyara dengan menekankan kata 'Sulit'.


Miss Lia pun melihat lembar jawaban Siyyara, dan 10 soal jawaban yang telah dikerjakan oleh Siyyara benar semua.


Dengan menahan rasa malu di hadapan semua murid nya, Miss Lia hanya diam dan membiarkan Siyyara meninggalkan kelas.


Semua murid kelas X-A berdecak kagum dengan keberanian Siyyara yang membuat Miss Lia terdiam.


Siapa sih yang tidak kenal dengan Siyyara Almeta Damares, si gadis sombong dan selalu membuat masalah, selalu bertengkar dengan anak SMA Cendana Putih II, tetapi dibalik sifat buruknya itu, Siyyara adalah gadis yang cerdas, bahkan kecerdasannya tidak ada yang bisa menandingi, bahkan kakak tingkat pun yang terkenal dengan kecerdasannya, tidak bisa mengalahkan Siyyara, dan selama belajar di SMA Cendana Putih, Siyyara selalu memenangkan berbagai kompetisi perlombaan.


Karena kelebihan Siyyara itulah yang membuat para guru-guru di SMA Cendana Putih menahan Siyyara, agar Siyyara tidak dikeluarkan dari sekolah saat Siyyara selalu menentang Guru dan selalu membuat masalah di sekolah.


****


Dengan perasaan dongkol, Siyyara berjalan ke arah Roof top sekolah, saat ini Siyyara sangat malas mengikuti kegiatan belajar di kelas karena mood belajarnya telah dirusak oleh Miss Lia yang menurut Siyyara sangat menyebalkan.


"Siyya."


Siyyara menghentikan langkah kakinya ketika mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. Siyyara pun menengok kebelakang untuk melihat siapa yang telah memanggilnya.


Siyyara mengangkat sebelah alisnya ketika melihat pemuda itu semakin mendekat ke arahnya.


"Ada apa?" Tanya Siyyara dengan nada malas.


"Ini masih jam pembelajaran, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya pemuda itu.


"Bukan urusanmu," jawab Siyyara dengan ketus sembari mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Siyya, aku tidak ingin kamu seperti ini," lirih pemuda itu.


"Dengar kan aku, Tristan. Meski kamu sahabat ku, tidak seharusnya kamu mengusik kesenanganku. Aku tidak suka di usik oleh siapapun juga," ujar Siyyara jengkel.


"Dengar, Siyya. Aku tidak akan mengusikmu jika kemaren sore kamu tidak tawuran dengan murid Cendana Putih II, apa yang kamu dapatkan saat tawuran dengan mereka? Apa kamu ingin menjadi preman?" Tanya Tristan dengan sedikit mengeraskan suaranya.


Siyyara semakin kesal ketika mendengar kalimat yang diucapkan oleh Tristan. Moodnya yang buruk semakin buruk ketika Tristan hadir dan mengganggu nya.


"Bukan urusanmu. Aku bisa menjaga diriku sendiri tanpa bantuan siapapun, termasuk kamu," sahut Siyyara dengan mengarahkan jari telunjuknya di depan dada Tristan.


"Aku hanya takut jika kamu kenapa-napa. Aku sangat mencintaimu, Siyya. Aku tahu kamu tidak suka dengan perasaan ku, tetapi aku juga sahabatmu, Siyya. Aku hanya tidak ingin kamu sampai terluka karena tindakan yang tidak ada gunanya sama sekali," jelas Tristan.


"Jangan menceramahi ku, Tristan." Siyyara bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Roof top, yang sebelumnya Siyya anggap sebagai tempat yang paling nyaman. Tetapi tempat itu menjadi neraka baginya setelah Tristan datang dan mengoceh dengan alasan khawatir dengannya.


"Siyya!" Panggil Tristan.


Siyyara tidak menggubris panggilan Tristan, dan tetap melanjutkan jalannya menuju ke arah tangga untuk turun dari roof top.


Setelah Siyyara sudah tidak terlihat oleh kedua matanya, Tristan pun mengamuk dengan menendang bangku yang ada di atas Roof top, dia ingin melampiaskan kekesalannya karena sekali lagi, Siyyara telah menolak perasaannya.


"Agghhhhttt!"


Tristan mengusap rambutnya dengan kasar dan membuat rambutnya yang semula rapi menjadi berantakan.


Saat Tristan ingin menenangkan dirinya, Tristan merasakan  getaran di dalam saku celananya. Dengan cepat, Tristan merogoh ponselnya dari dalam sakunya.


Saat melihat siapa yang sedang menghubunginya, Tristan segera mengangkat panggilan di ponselnya.


"Halo, kak?"


"....."


"Apa? Baiklah kak, sepulang sekolah nanti aku akan datang kesana," ujar Tristan.


"....."


"Baik, kak."


*****


Jam istirahat pun telah tiba, seluruh siswa-siswi Cendana Putih berhamburan keluar dari kelas untuk pergi ke kantin. Sehingga kantin sekolah sekarang sangat ramai, tetapi tidak dengan Livia.


Livia adalah seorang siswi yang sangat rajin, meski kecerdasan nya tidak sebanding dengan Siyyara, tetapi gadis itu terus berjuang untuk belajar agar bisa mempertahankan beasiswa nya.


Livia Oksara adalah seorang murid beasiswa, Livia adalah anak yatim piatu, setelah kedua orangtuanya meninggal dunia, Livia di angkat anak oleh Paman dan Bibinya, meski Pamannya selalu memberi kasih sayang kepadanya dan menuruti semua keinginannya, tetapi Livia tidak ingin semakin merepotkan keluarga pamannya.


Dan kemudian Livia memutuskan untuk mengambil beasiswa agar beban Pamannya berkurang. Bukan karena pamannya tidak mampu untuk menyekolahkan dirinya, Pamannya sangat mampu. Hanya saja Livia yang sungkan kepada Bibinya, karena dari tatapan mata Bibinya, Livia mendapati tatapan penuh kebencian dari sepasang mata Bibinya.


Sebenarnya Livia sangat lapar, tetapi dia hanya diam saja di dalam kelasnya karena dia tak membawa uang saku untuk jajan. Kenapa? Tentu saja Livia tidak ingin meminta uang saku kepada bibinya. Kenapa tidak minta kepada Pamannya? Tentu saja karena Livia tidak ingin merepotkan pamannya lagi.


"Livi, apa kamu melihat kemana Siyyara pergi?" Tanya Tristan kepada Livia.


Livia yang kaget dengan suara Tristan pun spontan berdiri dari tempat duduknya.


"A-ah, Siyyara tidak kembali ke kelas setelah berdebat dengan Miss Lia. Mungkin dia sedang menenangkan diri," jawab Livia tersenyum manis.


Sungguh, Livia sangat gugup ketika di hadapkan dengan Tristan. Sebenarnya Livia diam-diam memendam rasa untuk Tristan, tetapi Livia tidak berani mengungkapkannya. Karena Livia tahu jika cinta Tristan Altara Damestria hanya untuk Siyyara seorang.


"Ini semua salahku, andai saja aku tidak mengganggunya saat dia sedang mencari ketenangan di Roof top, dia pasti masih ada di wilayah sekolah ini,"  gumam Tristan.


Livia mengerutkan dahinya, karena dia tidak mengerti dengan masalah yang baru saja terjadi diantara kedua sahabatnya.


"Apa yang terjadi dengan Siyyara, Tristan?" Tanya Livia khawatir.


Livia adalah sahabat kental Siyyara sejak SD hingga SMA, dan persahabatan mereka bertambah personil baru yaitu Tristan, saat mereka duduk di bangku SMP.


Tristan diketahui sangat menggilai Siyyara sejak mereka bertemu di bangku SMP, tetapi Siyyara selalu menolak cinta Tristan dengan terang-terangan. Hingga akhirnya Tristan memilih ingin menjadi sahabat Siyyara dan Livia.


"Saat aku melihat Siyyara keluar dari kelasnya disaat jam pembelajaran, aku sengaja mengikutinya. Karena aku tidak ingin dia berbuat ulah lagi. Aku tidak ingin dia dihukum oleh para guru lagi."


"Aku lega karena ternyata dia pergi ke Roof top. Aku menghampiri nya dan berusaha menasihatinya, tetapi yang ada, Siyyara menjadi semakin marah. Aku salah karena aku datang di saat mood nya sedang buruk dan moodnya menjadi lebih buruk dari sebelumnya saat aku membicarakan kenakalannya. Dia sangat marah dan pergi begitu saja." Tristan menghembuskan napas lelah.


"Pergi?" Tanya Livia.


"Iya," jawab Tristan.


"Itu berarti saat ini Siyyara sedang beradu tonjok dengan murid Cendana Putih II," tebak Livia.


"Bagaimana kamu tahu?"


"Aku kenal Siyyara dengan baik, jika dia sedang marah, dia akan melampiaskan amarahnya kepada siapapun. Dan aku yakin, jika Siyyara saat ini tidak berada di wilayah Cendana Putih, berarti Siyyara saat ini sedang menantang pentolan Cendana Putih II."


Tristan menepuk dahinya pelan.


"Ya Tuhan, sebenarnya hati Siyyara itu terbuat dari apa sih? Dia itu cewek, tetapi perilakunya tidak melambangkan keanggunan sama sekali," gerutu Tristan.


"Hahaha, tapi kamu suka kan?" Goda Livia.


Hati Livia mencelos saat melihat Tristan menanggapi godaan nya dengan mengulum senyum bahagia.


"Sampai kapanpun aku akan tetap mencintai dirinya, Liv."


Livia terus memaksakan bibirnya melengkung untuk tersenyum, agar Tristan tidak menyadari rasa sakit yang sedang Livia pendam.


Apa Livia marah saat Tristan lebih memilih Siyyara? Tentu saja tidak, Siyyara tidak hanya sahabat terbaik untuknya tetapi Livia telah menganggap Siyyara sebagai saudarinya sendiri, karena Siyyara selalu membantu nya disaat dirinya tertimpa masalah.


"Tristan, apa tidak sebaiknya kita mencari Siyyara?" Usul Livia.


"Iya, Liv. Kita harus mencari Siyyara, semoga saja dia tidak mencari masalah dengan anak Cendana II."


Tanpa sadar Tristan menarik lembut tangan Livia, wajah Livia pun bersemu merah karena merasa malu dan deg-degan.


*****


Siyyara berjalan cepat menuju ke halte bus setelah dia menerima telfon dari kakaknya, dan kakaknya menyuruhnya untuk segera pulang ke rumah, karena si Kakak tahu jika adiknya hobi membolos sekolah dan suka tawuran.


Dan sebuah bencana bagi Siyyara jika kakaknya yang dingin seperti salju di kutub Utara itu telah pulang dari Paris, pasti dia akan mendapat ceramah pagi, siang dan juga malam.


Jangan disangka karena sifatnya yang dingin, kakaknya itu akan berbicara pendek. Tidak! Kakaknya itu sangat cerewet hingga Siyyara ingin sekali menyumpal kedua telinganya dengan kapas ketika sang Kakak akan memberi ceramah.


"Woy, berhenti!"


Saat sedang asyik-asyiknya memikirkan rencana untuk kabur dari kemarahan kakaknya, tiba-tiba para geng Cendana Putih II entah darimana asalnya telah berdiri dengan jarak yang lumayan dekat dengan Siyyara.


Apakah musuh Siyyara seorang gadis seperti dirinya? Jawabannya adalah Tidak! Musuh Siyyara semuanya laki-laki, dan ketua geng Cendana Putih II pun laki-laki, dan nama ketua geng Cendana Putih II adalah Daniel Stevano Aksara.


Lalu mengapa Siyyara bisa bermusuhan dengan laki-laki? Karena saat ajang perlombaan, dimanapun perlombaan dilakukan, jika disana ada Siyyara, pasti Siyyara yang akan memenangkan perlombaan itu. Dan Daniel merasa iri dengan Siyyara, Daniel merasa jika harga dirinya jatuh, karena telah dikalahkan oleh seorang perempuan.


Daniel Stevano Aksara adalah siswa dari SMA Cendana Putih II, Daniel adalah murid yang cerdas, dia selalu menjadi kandidat pertama saat ajang perlombaan dilaksanakan.


SMA Cendana Putih dan SMA Cendana Putih II adalah satu Yayasan, tetapi muridnya selalu beradu kecerdasan, sehingga murid Cendana Putih dan Cendana Putih II selalu bertengkar dan tak pernah akur sejak jaman dahulu.


Dan Daniel memusuhi Siyyara karena saat mereka berdua mengikuti perlombaan, Siyyara selalu memenangkan perlombaan itu, mulai dari tingkat nasional hingga Internasional, dan hal itulah yang membuat Daniel kesal.


Bukan cuma hal itu, setelah Siyyara dinyatakan sebagai pemenang, Siyyara dengan terang-terangan mengejek Daniel, sehingga kemarahan Daniel keluar, dan saat itu juga Daniel berusaha agar Siyyara tersingkir dari SMA Cendana Putih.


Tetapi setelah sekian lama ia membuat Siyyara dalam masalah, tetapi kepala sekolah Cendana Putih hanya diam dan tidak pernah mengeluarkan surat teguran sama sekali kepada Siyyara, dan hal itu membuat Daniel semakin menjadi-jadi dalam mengerjai Siyyara.


*


Siyyara menghentikan langkahnya ketika ada seseorang yang berteriak untuk menyuruhnya berhenti.


Dengan malas Siyyara pun menoleh ke kebelakang dengan tidak bersemangat, karena dia tahu siapa yang telah memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Daniel.


"Huh, ada apa?" Tanya Siyyara dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Jika hari ini kamu mengajak untuk bertempur lagi, aku tidak tertarik untuk itu. Aku punya urusan yang jauh lebih penting saat ini," sambung Siyyara dengan nada jengah.


"Aku tidak akan membiarkan mu kabur lagi, urusan kita kemaren belum selesai, dan aku akan menyelesaikannya hari ini."


Siyyara memutar bola matanya, jika saja kakaknya hari ini belum pulang dari Paris, pasti saat ini dengan senang hati Siyyara kan menghabisi si Daniel itu.


"Terserah padamu, untuk hari ini aku tidak akan meladeni mu," ujar Siyyara sembari melanjutkan langkah kakinya menuju halte bus.


"Apa kamu takut denganku?" Ejek Daniel.


"Tidak. Sama sekali tidak," jawab Siyyara cepat.


"Jika aku terus meladeni Daniel, maka Kakakku yang menyebalkan itu akan membuatku jadi sakit telinga, atau bahkan mungkin lebih parah dari itu, yaitu mengadu kepada Daddy," batin Siyyara.


Dengan gerakan cepat, Siyyara kabur dari Halte bus menuju ke arah jalan pertigaan. Dimana jalan pertigaan itu selalu ramai dan menjadi tempat persinggahan taksi-taksi.


"Hei! Jangan kabur!" Teriak Daniel berusaha mengejar Siyyara.


Saat telah sampai di pertigaan, Siyyara tidak bisa menghentikan kecepatan larinya, hingga dari sebelah Timur muncul sebuah mobil Lamborghini putih yang melaju kencang.


Dengan sangat cepat mobil itu menyerempet Siyyara hingga membuat Siyyara terpental dari jalan raya hingga ke tepi trotoar.


"Agghhhhttt!" Teriak Siyyara.


Daniel dkk yang melihat kejadian tersebut langsung lari dari tempat itu. Karena mereka tidak ingin disalahkan atas kejadian yang menimpa Siyyara.