The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
32. Kebenaran Aira



Gallen duduk termenung sambil terus meminum minuman kerasnya hingga habis 2 botol. Dia benar-benar ingin merusak kehidupan nya sendiri.


"Gallen, sudah cukup. Ayo, sebaiknya kau ku antar pulang," ujar Kinan.


Kinan membuntuti Gallen saat Gallen keluar dari kantor nya, dan sekarang disinilah mereka, Gallen menuju ke Bar dan meminum minuman keras dan merokok sesuka hatinya.


Meski sejak tadi Kinan terus melarang Gallen, tetapi perkataan Kinan tidak pernah di anggap oleh Gallen.


"Gallen, kamu sekarang berubah. Apa yang membuat mu menjadi seperti ini? Hanya karena gadis seperti dia, kamu mempertaruhkan kehidupan mu sendiri, Gallen. Sadarlah, jangan rusak tubuhmu dengan minuman haram ini."


"Diam." Gallen melirik Kinan dengan tajam.


"Jangan ikut campur dengan urusan pribadi ku," ujar Gallen setengah mabuk.


"Aku berhak ikut campur, karena kamu adalah Ayah Aira."


"CUKUP BRENGSEK!"


Kinan tersentak dengan bentakan Gallen. Gallen memang benar-benar sudah berubah. Dia bukan Gallen yang dulu lagi, yang selalu berkata lembut kepada wanita.


"Jangan pernah menyeret ku lagi ke dalam masalah menjijikan mu itu. Dan jangan pernah kau menyebut nama anak haram itu lagi. Karena dia bukan anakku."


"Gallen! Jangan hina Aira disini!"


"Kenapa? Bukankah dulu hingga sekarang, kau memang hanya menjadikanku kambing hitam mu? Kau sendiri yang menyebabkan ayahnya Aira mati. Dan aku hanya membantumu saja dengan membiayai kehidupan Aira, tapi kau kelewatan dengan terus hadir di kehidupan ku hingga membuat Siyyara salah paham dan pergi meninggalkan ku!" Teriak Gallen kesetanan. Dia tidak peduli jika dia masih ada di dalam Bar.  Dia tidak peduli jika teriakannya akan di dengar banyak orang.


"Andai saja kau memberitahu Aira, jika aku bukan Ayah kandungnya, sudah pasti hal seperti ini tidak akan terjadi," lanjut Gallen.


Kinan menatap Gallen dengan sorot mata terluka, dia menangis dalam diam.


"Lalu aku harus bagaimana? Saat dia sudah mengerti sesuatu, tanpa sengaja dia menemukan foto Ayahnya. Dan dia bertanya padaku, apakah pria itu ayahnya? Dan aku jawab iya, karena memang pria itu adalah ayah kandungnya. Dia terus memaksaku untuk mempertemukan nya dengan ayahnya, aku tidak tega menjawab jika ayahnya sudah tiada sejak dia masih di dalam kandungan ku. Aku pun mengarahkan dia kepadamu," ujar Kinan dengan jujur.


"Itulah kesalahan mu," sahut Gallen cepat.


"Lalu kenapa Siyyara tidak meminta penjelasan mu? Seharusnya dia meminta penjelasan darimu sebelum pergi, kan?"


"Saat hari dimana aku bertemu dengan Aira, tanpa sengaja aku menelponnya, hingga dia mendengar secara langsung pembicaraan ku denganmu maupun dengan Aira."


"Lalu jika kau berada di posisi Siyyara, apakah kau masih ingin bertanya lagi, setelah mendengar semuanya secara langsung?" Lanjut Gallen.


Kinan diam, yang dikatakan oleh Gallen memang benar. Wajar jika Siyyara marah setelah mengetahui semuanya, tetapi Siyyara melakukan kesalahan dengan meninggalkan pria sebaik Gallen, dan lebih mementingkan ego nya. Dia melakukan kesalahan dengan pergi begitu saja tanpa meminta penjelasan dari Gallen.


"Aku akan membantumu untuk menemukan Siyyara," ucap Kinan, dia berusaha menghibur Gallen.


"Jika dia memang ada, sudah pasti anak buahku akan menemukan nya, tetapi dia seperti bersembunyi dan tidak ingin di temukan."


Kinan sedih saat melihat pria yang dicintainya sedang bersedih dan putus asa.


"Setidaknya kita berusaha," ujar Kinan.


"Dan berhentilah merusak dirimu sendiri," sambung Kinan.


Gallen diam, meski dia sudah mabuk dan pikirannya setengah tidak sadar, tetapi dia masih bisa mencerna perkataan Kinan.


"Maafkan aku, Gallen. Ini semua memang salahku, kamu berhak bahagia bersama gadis pilihanmu, tidak seharusnya kamu menanggung sesuatu yang bukan salahmu. Sekali lagi aku minta maaf." Kinan menunduk sedih. Meski niat awalnya datang ke Indonesia karena ingin merebut hati Gallen kembali, tetapi sepertinya dia sudah tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Gallen. Gallen bukan pria yang mudah mencintai seseorang, dan sekarang dia sudah membuktikan sendiri bahwa dia sangat mencintai Siyyara, cintanya lebih dalam kepada Siyyara daripada ke dirinya sendiri.


Kinan bangkit dari duduknya dan kembali memperingatkan Gallen, agar dia segera pulang dari tempat itu.


"Pulanglah, Gallen. Mama mu pasti sedih saat melihat mu yang seperti ini. Berjuanglah. Saat dia sudah kembali, aku janji. Aku akan menjelaskan semuanya, aku akan membawa Aira pergi darimu," ucap Kinan dengan nada bergetar.


"Jangan," jawab Gallen sendu.


"Mama berhak tahu bahwa sebenarnya dia sudah memiliki cucu perempuan. Jangan bawa Aira sebelum kau membawanya kepada Mama," lanjut Gallen.


"Hiks. Aku malu, Len. Aku sudah menghilangkan kebahagiaan Tante Amanda dengan merebut Putranya. Hiks, aku takut dia benci padaku," lirih Kinan.


Gallen menatap Kinan dengan tatapan tak terbaca.


*******


2 tahun kemudian.


Gallen sibuk bermain dengan Aira di taman belakang rumahnya, mereka berdua bercanda dan tertawa bersama. Kinan pun tersenyum lembut saat menyaksikan keakraban Gallen dan Aira. Bahkan sifat keduanya hampir mirip.


"Kau tidak ingin bergabung dengan mereka?" Tanya Amanda yang sudah berada di belakang Kinan.


"Ah, Tante?" Kinan terlonjak kaget karena kehadiran Amanda yang tidak ia sadari.


"Ada apa?" Tanya Amanda.


"Tidak, Tante. Tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak ingin merusak kebahagiaan mereka. Aku senang karena Gallen sudah menjalani kehidupannya seperti dulu lagi," ujar Kinan dengan memandang ke arah Gallen dan putrinya.


"Kau tahu? Aku sangat benci padamu, Kinan. Karena kau telah membuat putra ku meninggalkan aku," seru Amanda lirih.


"Dan dengan kedatangan mu lagi, kau juga membuat Gallen kehilangan jati dirinya." Amanda memandang sendu ke arah Kinan. Yang di tatap pun hanya memejamkan kedua matanya, untuk menghalau air mata yang ingin membasahi pipinya.


"Maafkan aku, Tante." Suara Kinan bergetar hebat, rasa bersalahnya menyeruak di dalam hatinya.


"Tapi aku juga berterima kasih padamu karena kau telah merawat cucuku, merawat anak Alveros dengan baik. Aku berterima kasih padamu. Aku juga berterima kasih karena kau telah memperkenalkan Aira kepadaku.


"Itu sudah kewajiban ku, Tante."


- Flashback on. -


Tok tok tok


"Iya, sebentar."


Amanda melangkah cepat menuju ke pintu utama.


Cklek.


Setelah pintu terbuka, Amanda terheran karena melihat Gallen dan dokter Kinan yang dulu sempat merawatnya.


"Gallen? Ada apa?" Tanya Amanda pada Gallen.


"Ma, Gallen ingin memperkenalkan Mama dengan seseorang," ucap Gallen.


Amanda menyerngitkan dahinya dan pandangannya fokus pada Kinan yang berada di samping Gallen.


"Ma, perkenalan dia adalah Kinan, dan gadis kecil yang bersamanya adalah cucu Mama, namanya Aira Marcella Damestria." Amanda semakin heran dan tidak mengerti dengan yang di ucapkan oleh Gallen.


"Maksudnya? Apa maksudmu, Gallen? Mama punya cucu?"


"Iya, Ma. Sebaiknya Gallen jelaskan di dalam saja. Mari, ma. Ayo Kinan."


Kinan mengangguk dan menggandeng Aira untuk memasuki rumah Gallen.


"Apa yang ingin kamu jelaskan, Gallen?" Tanya Amanda, setelah tamu nya duduk di sofa ruang tamu.


"Ini ada hubungannya dengan Alveros, Ma." Amanda tersentak mendengar nama salah satu putra nya yang sudah lama meninggal.


"Al-Alveros?"


"Iya, Ma. Gallen ingin mengatakan bahwa Kinan adalah kekasih Alveros, dan mereka sudah memiliki anak sebelum mereka menikah, dan anaknya ada di hadapan Mama. Anak itu bernama Aira. Mama sudah memiliki cucu dari Alveros," jelas Gallen.


Pandangan Amanda tertuju pada Aira yang menatapnya polos, hati Amanda bergetar melihat bola mata yang sama persis seperti milik Alveros, wajahnya juga mirip sekali dengan Alveros. Mungkin bagi orang yang tidak tahu, mereka akan mengira Aira adalah anak Gallen karena wajah Alveros dan Gallen sama. Mereka adalah anak kembar.


"Aira, kemari nak. Ayo peluk oma," ucap Amanda lembut dengan merentangkan kedua tangannya, untuk menyambut cucu perempuan nya.


"Oma." Aira mendekati Amanda dan memeluknya.


Gallen tersenyum saat Mamanya menerima kehadiran Aira. Kinan juga tersenyum saat melihat Aira tersenyum bahagia di pelukan Oma-nya.


"Andai saja Papa mu masih ada. Oma akan lebih bahagia lagi," ujar Amanda pelan.


"Aira sayang Oma," seru Aira dengan riang.


"Iya, Oma juga sayang Aira."


Kinan menatap Gallen untuk meminta pendapat jika dia akan menjelaskan semuanya hingga kesalahpahaman Siyyara kepada Gallen.


Tetapi Gallen menggeleng, tanda bahwa Gallen tidak setuju. Gallen tidak ingin karena penjelasan Kinan, membuat Mamanya menjadi membenci Kinan.


Saat melihat kode gelengan dari Gallen, Kinan tetep menguatkan dirinya untuk tetep mengatakan kebenaran nya kepada Amanda. Kinan merasa bahwa Amanda berhak tahu alasan kematian dari Alveros.


"Tante," panggil Kinan.


Gallen menegakkan tubuhnya.


"Ma, sebaiknya kita makan malam bersama. Apakah Tristan ada di rumah?" Tanya Gallen mengalihkan pembicaraan Kinan.


"Tante, tunggu sebentar. Ada yang ingin Kinan jelaskan sedikit."


"Ada apa, Kinan?"


"Sebenarnya Alveros kecelakaan karena dia sedang marah kepada Kinan. Dia pergi dengan penuh amarah dari apartemen Kinan waktu itu," ujar Kinan pelan.


"Marah padamu?"


"Iya Tante. Sebenarnya Kinan tidak mencintai Alveros, tetapi Kinan mencintai Gallen."


Amanda membulatkan kedua matanya, dia menatap Kinan dengan serius.


"Kinan berusaha mendekati Gallen, tetapi Gallen tetep pada pendiriannya, dia tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang gadis manapun. Dia ingin fokus pada cita-citanya."


"Lalu tak lama kemudian Alveros mengatakan cintanya pada Kinan, dan Kinan menerima Alveros karena wajah mereka yang sama. Kinan kira, Kinan akan bisa melupakan Gallen saat Kinan menjalin hubungan dengan Eros. Tetapi sudah begitu lama, Kinan masih memiliki perasaan kepada Gallen. Hingga saat itu Eros sendiri tahu perasaan Kinan yang sebenarnya. Dia tahu jika Kinan mencintai Gallen, lalu dia. Dia sangat marah dan dia menodai Kinan." Kinan menunduk.


"Dari hubungan itulah Kinan hamil, dan saat Eros datang ke apartemen Kinan, Kinan katakan padanya jika Kinan hamil anaknya. Bukannya senang, tetapi dia malah menuduh Kinan jika anak yang ada di dalam kandungan Kinan adalah anak Gallen."


"Kinan marah karena tuduhan Eros. Karena marah, Kinan juga tidak memikirkan perasaan Eros. Saat itu juga Kinan katakan pada Eros jika bayi yang Kinan kandung adalah anaknya Gallen. Karena dia sendiri yang berpikir demikian." Kinan terisak, dia sangat menyesali tindakannya.


"Dia pun semakin marah saat Kinan katakan hal itu. Dia pergi begitu saja setelah mengamuk di apartemen Kinan. Dan saat itulah pertemuan terakhir Kinan dengan Eros."


"Lalu?" Amanda menatap Kinan dengan tatapan tanpa ekspresi. Kinan pun takut untuk melanjutkan ceritanya.


"Se-setelah Eros meninggal, Gallen tahu jika Kinan sedang mengandung. Karena dia tidak tega pada Kinan, dia pun selalu menjaga dan mencukupi kebutuhan Kinan, bahkan dia berniat untuk menikahi Kinan setelah Kinan melahirkan. Tetapi saat hari pernikahan kami, Gallen tahu penyebab meninggalnya Eros, dan Gallen sangat marah pada Kinan, Gallen pun membatalkan pernikahan kami dan dia langsung terbang ke Indonesia dan meninggalkan Kinan dan Aira sendiri disana."


Kinan mendongak dan menatap wajah Amanda, dan dapat Kinan lihat jika wajah itu terlihat sangat kecewa kepadanya.


"Jika saja kau tidak meladeni kemarahan Eros, mungkin dia akan hidup sampai detik ini, Kinan. Kau jahat karena telah menyeret Gallen dalam masalah pribadimu!" Bentak Amanda dengan kasar.


"Ma, sudahlah. Itu hanya masa lalu, jangan dibahas lagi." Gallen tidak ingin Amanda menjadi benci kepada Kinan.


"Tante," panggil Kinan lagi.


"Apa ada rahasia lagi? Katakan semuanya padaku!" Amanda menatap Kinan penuh kebencian.


"Siyyara meninggalkan Gallen, itu semua karena-"


"Karena apa?" Sahut Amanda cepat.


"Siyyara salah paham kepada Gallen. Dia berpikir jika Gallen sudah memiliki anak dari ku, dia sala-"


"KINAN!" Teriak Amanda dengan keras.


"Apa kau bersumpah ingin menghancurkan keluargaku? Jawab!"


"Tidak, Tante. Tante salah paham, aku-"


"Aku benci padamu. Cepat pergi dari rumahku sekarang juga!"


"Oma?" Panggil Aira dengan suara polos. Amanda pun menoleh kearah cucu perempuan nya itu.


"Ma, jangan berteriak. Disini ada Aira, Ma. Jangan mengusir Kinan," ujar Gallen dengan nada lembut.


"Jangan marah lagi ya, Ma. Marah tidak baik untuk kesehatan Mama," tukas Gallen.


Amanda melirik ke arah Gallen, dia sangat prihatin dengan Gallen, disaat rasa cinta menghampiri Gallen, tetapi cinta itu harus pergi meninggalkan Gallen sendiri. Pasti dia sangat menderita karena harus ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya, apalagi cinta itu adalah cinta pertamanya.


- Flashback off. -


Amanda menghela napas panjang, sudah 2 tahun tetapi Siyyara tidak juga kembali, Gallen pun menjadi pribadi yang lebih tertutup dari sebelumnya. Amanda sangat khawatir jika Gallen tidak akan bisa melupakan Siyyara, dan dia akan terus melajang seumur hidup. Amanda tidak ingin hal itu terjadi kepada Puteranya.


"Kinan, maafkan Tante karena dulu Tante membenci dirimu," ucap Amanda yang berusaha memecah keheningan.


"Tidak apa-apa Tante. Kinan paham dengan kemarahan Tante."


Amanda menatap Kinan lekat. Kinan pun jadi salah tingkah ketika di tatap seperti itu oleh Amanda.


**********


"Permisi, Gallen nya ada?" Tanya seseorang kepada Mr. Nara yang kebetulan ada di rumah Gallen, karena dia baru saja memberikan berkas penting kepada Gallen.


"Ada, tuan. Sebentar, akan saya panggilkan."


"Tidak perlu, aku harus segera pergi. Berikan undangan ini untuknya."


"Baik, akan saya berikan undangan ini untuknya."


"Terimakasih," jawab orang itu.