The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
4. Rayuan Pasien



Gallen mengusap wajahnya frustasi, rasa lelah dan putus asa selalu hinggap dalam hatinya. Tapi apa boleh buat, ini sudah resiko yang harus dijalaninya.


Dering ponsel Gallen berbunyi, dan dilayar ponsel itu tertera nama Alan. Setelah tahu siapa yang sedang menelfon, Gallen segera mengangkat panggilan itu.


"Halo!" Suara Alan terdengar keras, karena Gallen sengaja mengaktifkan speaker ponselnya.


"Iya. Ada apa Al?"


"Tidak ada, sebenarnya saat ini ada pasien yang hanya ingin di periksa olehmu saja. Tetapi aku sudah membujuk pasien itu agar mau ku periksa."


"Aku hanya ingin mengingatkanmu, sebaiknya kau beristirahat sejenak, jangan kau paksa dirimu seperti itu. Aku berkata seperti ini bukan karena aku peduli padamu, tetapi aku hanya tidak ingin kau tidak menghadiri Dies Natalis Medical Internasional Hospital."


"Iya, aku ingat. Aku sudah menyiapkan sesuatu di acara itu. Aku akan hadir disana tepat waktu."


"Baiklah, aku tutup telfonnya."


"Hm," jawab Gallen.


Tok tok


"Masuk," ujar Gallen.


"Ada apa?" Tanya Gallen.


"Maaf pak. Hari ini Bapak ada meeting dengan Mr. David pada pukul 13.00 WIB, dan Mr. David tidak ingin jika meeting hari ini harus di tunda seperti sebelumnya."


"Baiklah. Agni, tolong kamu persiapkan semua keperluan untuk meeting hari ini, aku akan menyelesaikan yang lainnya."


"Baik, pak. Saya permisi," ujar Agni setengah membungkukkan badan. Dan dijawab anggukan kepala oleh Gallen.


Setelah Sekretarisnya meninggalkan ruangannya, Gallen menghembuskan napas lelah. Menjadi seorang CEO bukan lah keinginannya, dia hanya ingin menjadi dokter, dan Gallen menyukai profesi dokter, karena dengan menjadi dokter dia bisa membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan, dan ketika pasien itu sembuh dari sakitnya, tentu saja kita sebagai dokter akan memiliki perasaan senang dan bangga tersendiri.


Dengan susah payah, Gallen berhasil membangun Medical Internasional Hospital dengan tabungannya sendiri, tanpa campur tangan dari kedua orangtuanya.


Saat masih duduk di bangku SMP hingga Kuliah, Gallen bekerja Part Time tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya, hingga semua uang hasil bekerjanya di tabung sendiri dan sekarang berdirilah Medical Internasional Hospital.


Gallen bekerja Part time bukan karena dia berasal dari keluarga tidak mampu, dia berasal dari keluarga berada, apapun keinginannya bisa saja langsung terpenuhi ketika meminta kepada orangtuanya, tetapi Gallen tidak melakukan hal itu karena Gallen ingin mengukur batas kemampuannya sendiri.


Lalu, apakah Gallen selalu meminta uang kepada kedua orangtua untuk membayar sekolahnya? Tentu saja tidak. Karena Gallen selalu mendapat beasiswa berprestasi karena kecerdasannya.


"Meski begitu, aku tidak bisa membantu Mama. Dan sampai saat ini aku belum menemukan Psikiater yang cocok untuk Mama. Huft."


****


Siyyara menggerakkan bola matanya dengan jengah saat melewati ruang tamu. Saat dirinya turun dari tangga lantai dua, semua teman-teman dari kakaknya membuat Siyyara ingin menonjok hidung-hidung mereka. Karena Siyyara yakin jika mereka adalah pria hidung belang.


Entah mengapa kakaknya tidak pernah memiliki teman yang otaknya waras.


"Wah, aku tidak menyangka, Itik yang dulu sangat polos bisa berubah menjadi Angsa yang indah," ujar salah satu diantara kelima teman Siyyara.


"Kamu benar Mike. Alvian, mengapa kamu menyembunyikan adik secantik ini dari sangkar emas? Jika aku tahu dari dulu, sudah ku pacari dia," ujar Kevin teman Alvian.


Siyyara bergidik ngeri ketika mendengar ucapan dari teman kakaknya itu.


"Kak, aku pergi ke sekolah dulu," tukas Siya.


"Lalu kamu mau berangkat naik apa? Kakak sudah meliburkan para Bodyguard dan Mr. Balu."


"Sudahlah kak. Siyya bukan anak kecil yang harus di jaga oleh para Bodyguard. Siyya bisa berangkat naik bis," ujar Siyyara dengan mengibaskan tangannya di depan wajahnya.


"Tunggu dulu! Kakak tidak percaya dengan mu." Alvian merogoh ponselnya dari saku celana dan menghubungi seseorang.


"Halo! Kau dimana saat ini? Ah, kebetulan sekali, bolehkah aku meminta bantuanmu lagi? Baiklah, terimakasih." Alvian mengakhiri panggilan teleponnya dan kembali menatap sang adik.


Siyyara menatap kakaknya dengan ekspresi bingung.


"Sekarang kau boleh pergi. Di depan gerbang rumah sedang ada seseorang yang menunggumu. Cepatlah keluar, ini sudah pukul 06.30 WIB, kau bisa terlambat nanti," ujar Alvian dengan santai.


"A-apa? Lalu dengan siapa aku harus berangkat kak?" Tanya Siyyara dengan penuh kecurigaan.


"Dengan teman kepercayaan kakak. Saat ini dia sedang menunggumu di depan rumah. Cepatlah temui dia. Kakak tidak bisa mengantarmu karena kakak ada keperluan meeting dengan teman kakak."


Siyyara berdecak kesal. Siyyara tahu siapa yang telah di telfon kakaknya. Siapa lagi kalau bukan Dokter gadungan itu.


Siyyara melangkah keluar rumah dengan menghentakkan kedua kakinya dengan kesal.


Semua teman Alvian pun bingung dengan sifat protektif yang dimiliki oleh Alvian kepada adiknya.


Setelah Siyyara tidak terlihat oleh pandangan mata, salah satu teman Alvian yang bernama Mike pun angkat bicara.


"Kamu terlihat sangat khawatir dengan adikmu. Mengapa?"


"Dia sangat istimewa," jawab Alvian singkat.


*****


Siyyara membuka pintu utama rumahnya dengan perasaan kesal hingga menimbulkan bunyi gaduh.


Siyyara melihat Gallen yang sudah duduk manis di dalam mobil mewahnya. Dan Gallen telah memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah Siyyara.


"Mengapa dia mau aja di perintah kak Alvian. Sangat mencurigakan," gumam Siyyara yang masih berdiri di depan rumah.


"Mau sampai kapan berdiri di situ? Ini sudah pukul 06.32, jangan membuat waktuku terbuang sia-sia. Cepat naik!" Gallen mencoba berkomunikasi dengan Siyyara.


"Tidak! Aku tidak mau! Lebih baik aku telat menuju ke sekolah ketimbang harus duduk satu mobil denganmu!"


Siyyara melipat kedua tangannya di depan dada, seraya memandang Gallen dengan tatapan membunuh.


"Kamu jangan membuat ulah. Alvian telah menitipkan dirimu padaku, jika sampai kamu terlambat pergi ke sekolah, Alvian akan menghubungi diriku dan meminta jawabanku," ujar Gallen tanpa melihat Siyyara. Pandangan Gallen lurus ke depan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Siyyara.


"Itu bukan urusanku, sekarang kau pergi dan tinggalkan aku. Aku akan menaiki bis saja," jawab Siyyara cuek.


"Jam segini?" Gallen mengerutkan dahinya.


"Jangan keras kepala, sebaiknya kamu masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang." Nada datar Gallen membuat Siyyara menggigit bibir bawahnya.


Siyyara menggenggam kedua tangannya dengan erat. Ingin sekali Siyyara menonjok wajah Gallen yang sok cool itu.


"Cepat!" Perintah Gallen dengan menaikkan nada bicaranya.


Siyyara semakin geram karena baru kali ini dia kalah debat dengan seorang pria.


Dengan sangat terpaksa, Siyyara membuka pintu mobil Gallen yang belakang dan segera duduk di kursi penumpang bagian belakang.


"Saya bukan supir mu, nona." Lagi-lagi suara Gallen membuat Siyyara menggertakkan giginya karena menahan kekesalannya.


"Aku tahu kamu bukan supirku. Dan aku lebih nyaman duduk di belakang ketimbang di depan. Cepat jalankan mobilnya!" Perintah Siyyara yang membuat Gallen membelalakkan kedua matanya.


"Berani sekali kamu MEMERINTAHKU! Cepat pindah ke depan!" Gallen berucap dengan nada penuh penekanan.


"TIDAK!"


"SEKARANG, SIYYA!" ucap Gallen dengan nada pelan, namun mematikan.


"Jika tidak, ...."


"Jika tidak apa? Ha?" Tantang Siyyara.


"Jika tidak, aku akan mencium mu di sini sekarang juga," jawab Gallen dengan spontan.


Siyyara membulatkan kedua mata dan mulutnya. Dia sangat terkejut dengan kalimat yang diucapkan Gallen.


"DASAR OM MESUM GILA, MUSNAHLAH KAU DARI PERADABAN BUMI INI!" Teriak Siyyara kencang hingga membuat para tetangga terheran.


"Sudah? Jika sudah, cepat pindah ke depan dan kita berangkat," sahut Gallen.


"Ck!" Decak Siyyara.


Siyyara segera keluar dan menutup pintu belakang mobil Gallen dengan kasar. Dengan wajah bersungut-sungut, Siyyara membuka pintu depan mobil Gallen untuk duduk di sana.


"Cepat jalankan mobilnya sekarang juga!" Perintah Siyyara setelah duduk di samping Gallen.


"Tidak seharusnya kamu memerintah pemilik mobil seperti itu, nona," sindir Gallen.


Selama di perjalanan, mereka hanya diam. Gallen yang selalu fokus dan pandangannya selalu mengarah ke depan saat menyetir, membuat Siyyara hanya diam menunduk, dan selalu melirik Gallen sebentar.


Siyyara sedikit takjub dengan Gallen yang tahan dengan suasana hening seperti ini. Sangat bertolak belakang dengan sifatnya yang tidak bisa diam.


"Aku tahu kalau aku ganteng, jangan dilihat terus, nanti bahaya jika kau sampai jatuh cinta padaku," ucap Gallen dengan nada datar.


"Jangan terlalu percaya diri. Aku gak bakal tertarik denganmu. Semoga aku selalu dijauhkan dengan Pria es seperti dirimu," cibir Siyyara.


Gallen diam lagi dengan tatapan nya yang selalu mengarah ke depan. Dia selalu serius saat menyetir, karena baginya keselamatan adalah nomor satu.


Hampir seluruh berita di media menyiarkan berita kecelakaan karena ketidakfokusan pengendara saat menyetir atau kecerobohan saat mengendarai mobil atau motor. Maka dari itu, Gallen selalu berhati-hati saat menyetir. Dan untuk pertama kalinya dia menabrak seseorang bukan karena kecerobohan nya, melainkan karena korban itu yang sangat ceroboh. Korban itu adalah gadis yang saat ini sedang duduk di sebelahnya.


Setelah beberapa puluh menit, akhirnya mobil Gallen berhenti tepat di depan gerbang SMA Cendana Putih.


Siyyara melepas seat belt nya dan segera membuka pintu mobil itu. Meski Siyyara benci dengan keberadaan Gallen, bukan berarti Siyyara melupakan tata Krama. Dia harus mengucapkan terimakasih, bukan?


"Aku masuk dulu ke dalam. Terim....." Belum sempat Siyyara menyelesaikan kalimatnya, Gallen terlebih dulu  menjalankan mobilnya.


Siyyara menganga melihat mobil Gallen yang sudah melaju dengan cepat. Siyyara pun semakin membenci Gallen. Mungkin jika diukur, kebenciannya akan mencapai puncak gunung Fuji.


"Dasar sombong! Awas saja kau!" Siyyara segera memasuki gerbang dengan wajah mengerikan.


Para cowok yang akan menyapa Siyyara pun mengurungkan niatnya, karena mereka tahu jika Dewi kecantikan saat ini sedang mengeluarkan aura membunuh.


*****


"Tan, sudah hampir 3 hari Siyya tidak masuk sekolah, gimana kalau sepulang sekolah nanti kita menjenguknya?" Tanya Livia.


"Iya, aku juga khawatir dengan Siyya, semoga saja dia baik-baik saja."


Livia mengangguk dan mengamini ucapan Tristan.


Brak


"Astaghfirullah," ujar Tristan dan Livia secara bersamaan.


Saat Tristan dan Livia sedang sibuk berbincang, Tristan dan Livia tidak menyadari jika Siyyara telah memasuki kelas dan membanting tas nya.


"Siyya, akhirnya kamu masuk juga. Kita khawatir sekali denganmu. Kamu baik-baik saja kan?" Livia mendekati Siyyara dan duduk di sebelah Siyyara.


"Buruk! Keadaan ku sangat buruk!" Siyyara menyangga dagunya dengan tangan kiri.


Tristan menaikkan sebelah alisnya. Sedangkan Livia memiringkan wajah dan mengerutkan dahinya, Livia terus menunggu Siyya, agar mau bercerita.


"Sudahlah tidak penting untuk dibahas. Oh ya, aku pinjam cacatan mu donk," ujar Siyyara kepada Livia.


"Tumben sekali nona Siyya mau meminjam buku saya? Bukankah di otak nona Siyya sudah seperti perpustakaan berjalan?" Sindir Livia.


Siyyara mendengus kesal. Entah mengapa hari ini semua orang membuatnya kesal. Tidak Alvian, tidak Gallen, dan Livia. Mereka semua membuat mood Siyya menjadi semakin buruk.


"Siyya, selama kamu tidak masuk sekolah, Daniel terus menanyakan tentang dirimu. Apa kamu sudah baikan dengan Daniel?" Tanya Tristan dengan penasaran.


"Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu?" Tanya balik Siyyara dengan sedikit gugup.


Siyyara tahu jika Daniel menanyakan keadaannya karena Daniel pasti melihat saat dirinya kecelakaan.


"Mungkin dia sudah bosan karena selalu menantang ku, atau mungkin dia sudah mengakui kekalahannya," ujar Siyyara.


"Siyya, ku harap kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari kami," tukas Tristan.


"Hm," gumam Siyyara seadanya.


Siyyara tidak ingin terlalu dekat dengan Tristan, karena Siyyara tahu jika Livia memiliki perasaan kepada Tristan. Siyyara sedikit risih ketika Tristan menanyakan masalah pribadi nya di depan Livia, seolah-olah Tristan ingin menunjukkan jika dirinya sangat khawatir dengan Siyyara.


Dan Siyyara tidak suka itu. Siyyara tidak suka membuat Livia bersedih, karena Siyyara tahu jika kehidupan Livia sudah penuh dengan kepedihan, dan Siyyara tidak ingin membuat kesedihan Livia semakin bertambah karena dirinya.


"Liv, hari ini kamu ada waktu luang, tidak?" Tanya Siyyara kepada Livia.


"Sore ini aku ada jadwal kerja. Ada apa, Siyya?"


"Aku hanya ingin mengajakmu ke toko buku. Jika kau sibuk, ya sudah lain kali saja," ujar Siyyara.


"Maaf Siyya," gumam Livia sedih.


"Tidak apa."


"Ya sudah, aku masuk dulu ke kelasku ya," ujar Tristan, karena memang Tristan dan Siyyara berbeda kelas. Siyyara dan Livia di Kelas A sedangkan Tristan di kelas B.


Tristan tidak berani menawarkan diri untuk menemani Siyyara ke toko buku, karena sudah pasti Siyyara akan menolak. Dia tidak akan membuat Siyyara menjadi tidak nyaman lagi dengannya, karena selalu memaksa gadis itu.


"Iya," jawab Siyyara, sedangkan Livia hanya mengangguk.


*****


Gallen sedang memeriksa seorang pasien wanita, dan Gallen merasa heran dengan pasien wanita itu, karena wanita itu memeriksakan luka yang bisa saja sembuh dengan cepat ketika di beri salep dari apotek di luar sana.


"Maaf, Bu. Saya rasa benjolan di tangan ibu itu bukan hal yang serius. Mungkin benjolan itu ada karena terjadi peradangan saat luka gores itu Ibu abaikan," ujar Gallen dengan serius.


"Tapi dok, saya merasakan nyeri saat tangan saya digunakan untuk melakukan aktivitas," bantah wanita itu.


"Bu, tentu saja tangan ibu akan nyeri, karena terjadi peradangan. Saya akan memberi beberapa resep obat antinyeri dan juga anti peradangan."


"Ini. Anda bisa menebusnya di Instalasi Farmasi di sebelah sana," ujar Gallen dengan memberikan resep obat.


"Tapi, apa saya bisa datang kembali saat luka dan benjolan di tangan saya ini masih sakit?"


"Tentu saja, Bu. Dan saya yakin jika luka ibu besok akan segera membaik."


Kalimat Gallen tidak juga membuat wanita itu menyerah.


"Jangan panggil saya dengan sebutan Ibu. Saya rasa usia kita hampir sama."


Mungkin di dalam benak wanita itu selalu menjunjung tinggi kalimat 'Maju terus pantang mundur', sehingga membuat Gallen merasa jengah.


"Baik Bu. Jika tidak ada yang ditanyakan kembali, dapatkah saya keluar? Karena saya harus menjemput tunangan saya, Bu." Gallen sengaja berbohong kepada pasiennya, agar mereka jera dan tidak membuat waktunya terbuang sia-sia.


"Dokter sudah memiliki tunangan?" Wanita itu terkejut.


"Kurasa itu masalah pribadi saya, Bu. Saya permisi."


Karena wanita itu tidak juga keluar dari ruangan pemeriksaan, Gallen memutuskan untuk keluar terlebih dahulu karena merasa jengah dengan pasiennya yang berjenis kelamin wanita.


Meski Gallen pemilik dari Rumah sakit ini, Gallen selalu memeriksa pasien yang ada di poli Bedah karena dirinya adalah dokter bedah. Dan Gallen juga menduduki kursi direktur di Rumah sakitnya.


Saat dia sedang berada di koridor rumah sakit, Gallen segera menghubungi Alan untuk menggantikannya di poli Bedah. Karena ada beberapa pasien yang masih menunggu untuk diperiksa olehnya.


"Halo, Lan. Aku ada perlu sebentar, bisakah kau menggantikan posisiku sebentar di Poli bedah?"


"Oke, aku akan menuju ke sana. Ada apa? Tidak biasanya kau meninggalkan ruangan pemeriksaan dengan tiba-tiba. Apa para pasien merayumu lagi? Hahaha."


"Terserah padamu. Aku harus keluar sekarang. Aku tutup telfonnya," ujar Gallen dengan mematikan panggilannya tanpa mengucapkan terimakasih kepada sahabatnya sekaligus orang kepercayaannya.