The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
11. Siapa?



Siyyara melangkah kan kakinya dengan sangat gembira menuju ke ruangan Gallen, tanpa mempedulikan tatapan mata semua karyawan Damestria Corp, yang memandang dirinya dengan tatapan yang berbeda-beda.


"Mbak, apa saya bisa bertemu dengan Gallen?" Tanya Siyyara kepada resepsionis.


"Apakah anda sudah membuat janji?"


"Belum, dan saya tidak perlu membuat janji untuk bertemu dengannya."


"Maaf, nona. Saat ini Tuan muda Gallen sedang ada rapat penting dengan Klien dari Eropa," ujar resepsionis itu.


"Jadi kau melarang diriku untuk bertemu dengan pacar ku sendiri?" Siyyara menaikkan nada bicaranya.


"Maaf nona. Bukan begitu maksud saya. Saya hanya ...."


"Diam. Aku harus bertemu dengannya, dan jangan pernah kau melarang diriku untuk bertemu dengan Gallen. Mengerti?" Siyyara berkata dengan nada pelan dan penuh penekanan, sehingga membuat resepsionis wanita itu hanya bisa diam.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Siyyara bertanya kepada Satpam disana untuk menunjukkan dimana Gallen berada saat ini. Dan satpam itu terpaksa menuruti permintaan Siyyara, karena Siyyara mengancam akan menyuruh Gallen memecatnya jika Satpam itu menolak permintaan nya.


"Nona, tuan muda Gallen sedang rapat bersama beberapa Kliennya. Sebaiknya nona menunggu tuan muda di dalam ruangan tuan muda Gallen," ujar Satpam itu.


"Siapa kau berani mengatur ku?"


Satpam itu gelagapan dan takut. Takut jika dirinya setelah ini akan dipecat oleh tuan muda Gallen.


"Maaf, ada apa ini?" Tanya Agni selaku sekretarisnya Gallen.


Agni terkejut saat melihat keberadaan Siyyara di kantor ini. Dengan menyunggingkan senyum manisnya Agni bertanya lagi kepada Siyyara.


"Apakah nona ingin bertemu dengan pak Gallen?"


"Iya, aku ingin bertemu dengannya saat ini juga. Aku tidak mau menunggu." Siyyara melipat kedua tangannya di depan dada.


"Maaf nona, pak Gallen sedang ada rapat penting, sebaiknya nona menunggu di dalam ruangan pak Gallen saja. Saya akan membawakan makanan untuk nona. Silahkan masuk." Agni berusaha membukakan pintu ruangan Gallen agar Siyyara masuk ke dalam ruangan itu.


"TIDAK! Aku ingin bertemu Gallen sekarang juga!" Siyyara berteriak di depan ruangan Gallen sehingga semua karyawan yang melewati tempat itu, memandang gadis itu dengan tatapan bingung.


"Baiklah, akan saya katakan kepada pak Gallen jika nona Siyyara sedang berada di tempat ini."


Agni berjalan ke arah ruang rapat dan mengetuk pintu itu. Setelah mendapat intruksi untuk masuk ke dalam, Agni pun masuk ke ruangan itu dan menutup kembali pintu itu.


****


Setelah Agni masuk ke ruangan rapat itu, Gallen pun mendekat ke arah Agni, seolah paham jika sedang terjadi sesuatu di luar sana.


"Ada apa?" Tanya Gallen to the point.


Agni berjalan mendekati Gallen dan berbisik pelan kepada Gallen.


"Nona Siyyara sedang menunggu bapak. Sepertinya dia sangat marah sekali. Mungkin karena ada beberapa orang yang tidak mengizinkannya untuk bertemu dengan bapak," jelas Agni.


"Baiklah, aku akan menemuinya sebentar."


"Maaf, Mr. David. Saya izin keluar sebentar, saya akan cepat kembali dan meneruskan rapat ini."


"Baiklah, saya akan menunggu."


Gallen mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu.


Jawaban Gallen membuat Agni terkejut, rapat yang saat ini diadakan adalah rapat paling penting karena menyangkut saham-saham Damestria Corp. Bahkan Gallen menyuruh dokter lainnya untuk menggantikannya di ruang operasi untuk menangani pasien di Rumah sakit.


Tetapi saat Siyyara datang hanya ingin bertemu dengan nya, Gallen langsung keluar dari ruangan rapat itu seolah hal yang paling utama adalah Siyyara.


Agni hanya menatap punggung Gallen dengan tatapan kosong.


"Apakah sebegitu cintanya Gallen dengan Siyyara, sehingga Gallen rela mempertaruhkan nyawa dari Damestria Corp?". Batin Agni.


******


"Siyya, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Gallen saat sudah berada di depan Siyyara.


"Gallen, aku ingin jalan-jalan denganmu. Kau kan sudah berjanji jika kau akan menuruti semua keinginanku." Siyyara berkata dengan nada yang sangat manja.


Gallen menaikkan sebelah alisnya, karena baru pertama kali melihat sifat Siyyara yang manja seperti ini. Dan entah mengapa Siyyara yang manja seperti ini membuat hatinya tidak bisa menolak semua keinginan Siyyara.


"Siyya, aku sedang ada rapat penting. Setelah rapat selesai, aku akan mengajakmu jalan-jalan kemanapun kau mau. Kau tunggu aku di ruangan ku saja ya," ujar Gallen dengan lembut.


"Tapi aku ingin sekarang, Gallen," rengek Siyyara.


"Iya. Setelah selesai rapat ya. Mungkin sekitar 30 menit lagi rapatnya akan selesai. Kau tunggu saja di ruangan ku, Siyya."


Siyyara menggelengkan kepalanya dengan cepat, tanda jika dia tidak mau menunggu lagi.


"Aku tidak mau menunggu lama."


"Tidak lama, Siyyara."


"Tapi..."


"Ayo," Gallen membawa Siyyara masuk ke dalam ruangan kerjanya dan mendudukkan Siyyara di kursi direktur nya.


"Kau duduk manis disini ya. Aku akan segera kembali." Gallen mengelus rambut Siyyara dengan lembut.


"Tidak mau! Aku ingin pergi sekarang, Gallen. Jika kau menolak ku lagi, lebih baik kita pu..."


"Baiklah-baiklah. Aku janji, aku akan cepat menyelesaikan rapatnya, lalu kita pergi sesuai keinginan mu, oke?"


"Ku mohon, mengertilah." Suara Gallen terdengar lirih sehingga membuat Siyyara hanya mengangguk.


"Pinter," ujar Gallen dengan mengacak rambut Siyyara.


"Ish, jangan rusak rambutku!" Siyyara berusaha melepaskan tangan Gallen dari kepalanya.


"Pergi sana!"


"Ngusir? Ini kan ruanganku."


"Ck, ya udah. Biar aku aja yang keluar."


"Jangan."


"Jangan apa?"


"Pergi."


Kalimat Gallen tidak ada romantis romantisnya sama sekali, tetapi tetap saja membuat Siyyara salah tingkah sendiri dan pipinya pun bersemu merah.


"Kamu sakit?" Tanya Gallen saat melihat raut wajah Siyyara yang memerah.


"Eh, enggak."


"Kakak pergi dulu." Gallen menegakkan tubuhnya lalu pergi dari dalam ruang kerjanya.


Blam


Saat pintu telah tertutup rapat, Siyyara semakin menjadi-jadi, dia menghentakkan kedua kakinya dan bertingkah seperti anak kecil.


"Kenapa aku jadi seperti ini?" Siyyara menangkup pipinya sendiri.


*****


Alvian berjalan dengan cepat sambil membawa koper nya, dia tidak ingin ketinggalan pesawat yang akan membawanya menuju tempat kelahirannya, yaitu Berlin.


Lalu mengapa Siyyara dan Alvian bisa ada di Indonesia? Karena Siena Damares adalah wanita Indonesia asli. Siena dan Dave di jodohkan oleh kedua orangtuanya masing-masing, tetapi lambat laun mereka saling mencintai dan Lahirlah Alvian dan Siyyara.


Sejak kelahiran Alvian dan Siyyara, Dave memutuskan untuk hidup di Jakarta bersama anak dan istrinya, karena beberapa saingan bisnis Dave berusaha menghancurkan Dave melalui keluarga kecilnya. Dave tidak ingin jika karena pekerjaan nya dia harus mengorbankan keselamatan keluarganya sendiri.


*


"Assalamualaikum, Dad."


"Wa'alaikumsalam, sudah sampai mana?"


"Dad, Alvian sudah berada di Bandara Berlin Tegel, apakah Alvian harus menuju Rumah Utama sekarang?" Tanya Alvian melalui telepon.


"Iya, Daddy tunggu di Rumah Utama. Kakek mu juga menantikan kehadiran mu disini."


"Baiklah, Alvian akan segera ke sana."


"Hm, Daddy sudah menyuruh orang kepercayaan Daddy untuk menjemput mu, kau berhati-hati lah."


"Baik, Dad. Alvian tutup telfonnya. Wassalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Setelah memutus panggilannya, Alvian segera mencari orang kepercayaan Daddy-nya yang kemungkinan telah sampai di Bandara Tegel.


Setelah hampir 1 jam menunggu, akhirnya Alvian menemukan orang suruhan Daddy-nya. Dengan menghembuskan napas leganya, Alvian pun segera mengikuti orang itu dan masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke Rumah utama keluarga Damares.


"Tuan muda masuklah ke dalam, saat ini Tuan besar Ferdy beserta Tuan Dave dan Tuan Harvi sedang menunggu tuan muda di ruang tamu," jelas orang itu kepada Alvian setelah sampai di kediaman Damares.


"Baiklah, aku akan ke sana." Alvian memasuki rumah utama Damares dan di halaman rumah itu telah penuh para bodyguard dan para pelayan yang menyambut Alvian dengan penuh hormat.


Saat Alvian semakin melangkahkan kaki ke dalam rumah, para bodyguard dan pelayan spontan mundur untuk memberi jalan kepada Alvian. Setelah Alvian membelah jalan, Alvian otomatis melihat sang Kakek yang sudah berdiri di depan pintu utama.


"Hallo, boy."


"Kakek?"


"Assalamualaikum, kek." Alvian langsung memeluk kakeknya ketika sudah berada di depan kakeknya.


"Wa'alaikumsalam. Apa kabar?"


"Baik, kek. Kakek sendiri?"


"Kakek jauh lebih baik ketika melihat dirimu. Kau membuat kakekmu ini pangling. Kau telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat gagah," puji Ferdy.


"Aku tetaplah manusia yang memiliki keterbatasan, kek."


"Ayah, apakah ayah tidak akan mengizinkan Alvian untuk beristirahat di dalam?" Tanya Dave yang saat itu juga telah berdiri di samping Dave.


"Hm," gumam Ferdy.


"Daddy, apa kabar?" Sapa Alvian.


"Aku baik," jawab Dave singkat.


"Jangan terlalu kaku kepada putramu, Dave," tegur Ferdy.


Tanpa menjawab Ferdy, Dave segera masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Ada apa dengannya?" Tanya Ferdy penasaran.


"Kek, aku akan berbicara dengan Daddy sebentar."


"Hm, baiklah. Setelah selesai, segera turun ke ruang penjamuan. Kita akan makan bersama di sana." Ferdy menepuk pundak Alvian pelan.


"Baiklah, kek."


*****


"Dad, apakah Alvian boleh masuk?" Tanya Alvian di depan pintu kamar Dave.


"Masuklah!"


"Aku menunggu penjelasan mu," ujar Dave.


"Dad, aku minta maaf karena telah menitipkan Siyyara kepada Gallen. Tapi aku bisa menjamin jika Gallen akan melindungi Siyya dengan baik."


"Kau melakukan kesalahan karena meninggalkan Siyyara tanpa sepengetahuan ku. Kau juga telah meliburkan para bodyguard yang bertugas memantau adikmu. Sebenarnya apa yang kau fikirkan?"


"Tidak, Dad. Aku tidak tahu jika aku harus pergi ke Tokyo, kejadiannya sangat mendadak, Dad. Aku sangat menyayangi Siyyara. Maka dari itu, aku menitipkan Siyyara kepada Gallen, karena Gallen adalah orang yang sangat baik."


"DIAM!"


Alvian tersentak kaget melihat kemarahan ayahnya. Alvian berusaha menyembunyikan ekspresi takutnya dengan wajah datarnya.


"Apa kau tahu apa yang kau katakan? Kau tahu siapa Gallen?"


"Aku tahu ayah. Gallen adalah sahabat ku, aku percaya dengannya."


"Jika saja kau bukan putraku, sudah pasti aku akan melenyapkan mu saat ini juga, Alvian!"


Alvian meneguk ludahnya kasar.


"Dengar, gara-gara kecerobohan mu, nyawa Siyyara dalam bahaya. Kau mengerti bodoh?"


"Nyawa Siyyara? Dad, apa yang sebenarnya terjadi? Kemarin aku juga mendapat email dari seseorang tak dikenal, dia berkata jika dia akan bermain-main dengan nyawa Siyyara. Apa Daddy tahu siapa dia?"


Dave memalingkan wajahnya dari Alvian. Save berusaha mengontrol semua emosinya agar tidak meledak-ledak di hadapan Alvian.


"Kau keluarlah! Aku ingin istirahat!" Kata Dave dengan nada dingin.


"Tapi, ..."


"Keluar, Al."


"Baik, dad."