The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
44. Ketakutan



Gallen berjalan memasuki perusahaan Alvian dengan di dampingi oleh Mr. Nara yang membawa berkas-berkas penting nya. Saat telah sampai di ruangan Alvian, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Gallen langsung masuk, karena dia tahu dari sekretaris Alvian jika Alvian sedang ada di dalam ruangannya.


CKLEK


"Al?"


"Gallen? Ada apa?" Alvian menatap Gallen dengan serius.


"Aku datang membawa berkas yang kau inginkan," ujar Gallen pelan.


Alvian mengangguk, dan kemudian dia melirik ke arah Mr. Nara yang ada di belakang Gallen. Mengerti dengan tatapan Alvian, Gallen memberi kode krpada Mr. Nara untuk meninggalkan nya berdua dengan Alvian.


Mr. Nara pun mengangguk dan meninggalkan ruangan Alvian. Setelah kepergian Mr. Nara, Gallen segera duduk di depan Alvian.


"Ada kabar apa?"


"Bukan Samuel dalangnya," ujar Gallen seraya menyandarkan punggungnya di kursi.


"Lalu?" Tanya Alvian serius.


"Kau akan tahu sebentar lagi, dan ternyata orang itu lah yang dahulu ingin menculik Siyyara, hingga akhirnya Siyyara menjadi buta," ujar Gallen serius.


Alvian manggut-manggut mengerti.


"Jangan sampai paman Dave dan Kakek Ferdy tahu, aku takut jika kakek Ferdy akan membuat ulah lagi dan akan menghancurkan rencana kita," tukas Gallen.


"Iya, aku tahu. Tingkah kakek memang begitu jika menyangkut nyawa cucu kesayangan nya," ujar Alvian.


"Apa perlu aku hancurkan perusahaan nya secara perlahan? Atau kau sendiri yang akan turun tangan?" Tanya Gallen dengan menyunggingkan senyum misteriusnya.


"Ah, tidak-tidak. Itu tidak diperlukan, kakek akan murka jika buruannya kita habisi terlebih dulu." Alvian terkekeh kecil.


Gallen melemparkan senyum tipisnya ke arah sahabatnya.


"Bantu aku untuk membeli sebuah pulau, dan mungkin-" ucapan Gallen terhenti saat melihat ekspresi wajah Alvian yang tengah tersenyum menggodanya.


"Ah, tak ku sangka kau akan melakukan hal seperti itu," goda Alvian.


"Aku memiliki selera yang tinggi," jawab Gallen dengan sombong.


"Hahaha!" Tawa Alvian menggelegar di ruangan itu.


"Pertahankan selera mu itu sampai tua, Len," ejek Alvian.


"Baiklah, dan aku sangat yakin jika kau akan iri denganku," sahut Gallen santai.


"Ck, seperti kau bisa saja menaklukkan hati 'Singa Jantan', ingat jalanmu tidak semudah itu kawan. Masih ada 'Singa Jantan' yang selalu setia menunggu kedatangan mu," ejek Alvian lagi.


"Tentu saja bisa, jangan kan


singa jantan, Cobra Asia pun akan aku taklukkan."


"Kenapa gak jadi pawang ular saja? Haha!"


Gallen semakin kesal mendengar tawa dari teman durjana nya itu. Dia pun segera menyerahkan berkas yang sebelumnya di bawa Mr. Nara kepada Alvian. Dengan senang hati Alvian menerimanya.


"Tenang saja, mungkin 1 tahun lagi semua impianmu akan terwujud," ujar Alvian dengan raut wajah bahagia.


"Semoga. Terimakasih atas bantuannya, Al."


Alvian mengangguk dan tersenyum lebar. Dia sungguh tidak menyangka dengan kegigihan Gallen dalam mendapatkan sesuatu yang di inginkannya. Usaha yang sangat luar biasa.


"Aku harap semua berjalan lancar," ujar Alvian dengan menerawang ke atas.


"Dan jangan mengulangi kesalahan seperti sebelumnya lagi, disaat kau sedang menyusun rencana itu," lanjut Alvian dengan suara tegas.


Gallen menatap Alvian dengan serius, tatapannya berubah menjadi dingin tak tersentuh.


"Tidak akan! Sudah cukup aku membuat diriku menjadi makhluk yang paling bodoh di dunia," ujar Gallen dengan tatapan tajam. Alvian mengangguk, tanda bahwa ia sangat percaya pada sahabatnya.


CKLEK!


Alvian dan Gallen segera menoleh ke sumber suara saat tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar rahasia milik Alvian. Kamar itu sengaja dibuat untuk tempat peristirahatan Alvian saat Alvian merasa lelah. Dan biasanya kamar itu digunakan Alvian dan Gallen untuk membahas rahasia penting perusahaan musuhnya. Pintu kamar itu sengaja dibuat persis seperti dinding yang terdapat beberapa lukisan, sehingga semua orang akan terkecoh dan tidak menyadari jika itu adalah pintu kamar.


"Kak." Siyyara tiba-tiba berlari dan langsung memeluk Alvian yang masih duduk di kursi kebesarannya. Alvian dibuat bingung dengan tingkah aneh adiknya itu.


Siyyara diam, dia tak menjawab pertanyaan Gallen, dia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sang kakak.


"Kak, Siyya mau pulang." Siyyara menatap Alvian dengan tatapan memohon.


Alvian segera berdiri dari duduknya dan menatap Siyyara dengan tersenyum lembut.


"Tapi kakak belum selesai, Siyya. Kamu tidurlah di dalam. Nanti saat waktu makan siang, kakak akan antar kamu pulang, ya." Alvian mengusap keringat yang ada di kening adiknya dengan tisu yang ada di atas mejanya.


"Siyyara mau pulang sekarang kak. Ayo kita pulang," ajak Siyyara dengan wajah ketakutan.


"Ada apa, Siyya?" Gallen bertanya lagi kepada Siyyara saat melihat wajah Siyyara sangat ketakutan dan panik.


Siyyara tak menjawab pertanyaan Gallen lagi, Siyyara hanya melirik Gallen sebentar, lalu dia memeluk Alvian lebih kencang dari pelukan sebelumnya.


Alvian merasa pusing menghadapi tingkah aneh adiknya. Dia segera melepas pelukan adiknya dengan paksa dan memegang pundak Siyyara.


"Katakan, ada apa?" Tanya Alvian tegas.


Bukannya menjawab, Siyyara justru menangis tersedu-sedu. Alvian dan Gallen saling pandang. Rasa khawatirnya semakin besar saat melihat wajah Siyyara yang sedih dan takut.


Suara tangis Siyyara membuat hati Gallen teriris, dia paling tidak bisa jika melihat seorang wanita menangis. Apalagi yang menangis adalah seseorang yang pernah mengisi hari-hari nya.


"Siyya, jangan menangis, katakan saja apa yang ingin kamu katakan, jangan takut. Kakak bersamamu." Alvian menangkup wajah Siyyara, agar Siyyara memandang nya.


"Kak, Siyyara rindu Mommy. Kenapa Mommy pergi meninggalkan kita kak," ucap Siyyara dengan menahan tangis.


Hati Alvian mencelos. Dia segera memeluk Siyyara untuk menenangkannya. Tanpa sadar Alvian menitihkan air matanya saat mengingat kejadian sebelum Mommy nya pergi untuk selamanya. Waktu itu Mommy nya bilang jika ingin menjemput temannya di Bandara, dan Mommy nya bilang jika dia harus menjaga adiknya dengan baik di rumah. Tetapi mana tahu jika sang Mommy akan pergi untuk selamanya dan kembali dalam keadaan tak bernyawa lagi.


Jika saja Alvian menahan sang Ibu agar tidak pergi, apakah Mommy nya masih bersama dengan nya saat ini?


"Kakak akan selalu bersama mu, jangan bersedih." Alvian mengelus rambut Siyyara, agar Siyyara menjadi tenang.


Gallen yang menyaksikan kesedihan dua bersaudara itu pun hanya bisa diam, dia tak bisa melakukan apa-apa untuk menghibur Alvian dan Siyyara.


"Al, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama disini, aku harus segera pergi ke Bali untuk meeting tentang pembangunan proyek yang akan dilakukan disana."


"Kapan kembali?" Tanya Alvian.


"Kemungkinan aku disana selama 1 Minggu. Aku akan mengabari mu setelah urusanku di Bali selesai," ujar Gallen dengan melirik Siyyara yang masih menyembunyikan wajahnya di dada Alvian.


Alvian mengangguk.


Gallen segera keluar dari ruangan nya Alvian karena sepertinya Siyyara benar-benar menghindari dirinya. Gallen tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Siyyara, tapi Gallen tahu jika Siyyara sebenarnya sedang tertekan. Apakah ada seseorang yang sengaja mengganggu nya?


Tanpa pikir panjang lagi, Gallen segera pergi meninggalkan ruangan Alvian setelag berpamitan dengan Alvian.


BLAM


Setelah Gallen keluar dan penutup pintu ruangan itu, Siyyara segera menatap kakaknya dengan tatapan serius. Siyyara beranjak dari pelukan Alvian dan pergi keluar untuk memastikan apakah Gallen sudah tidak ada di luar atau masih ada.


Siyyara menutup pintu itu kembali setelah tidak melihat kehadiran Gallen di luar.


"Ada apa, dek?" Alvian penasaran dengan perilaku Siyyara, karena sejak tadi Siyyara selalu berekspresi ketakutan dan suka merenung.


"Kak, Siyyara mohon-" Siyyara tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya, karena pasti Alvian tidak akan bisa menuruti keinginannya.


"Katakan saja pada kakak. Jangan takut, oke?"


"Kak, jangan terlalu dekat dengan kak Gallen," ujar Siyyara dengan nada bergetar, dia takut jika Alvian akan marah padanya.


"Kenapa? Ada apa Siyya?" Alvian menyerngitkan dahinya, dia tidak mengerti dengan ucapan adiknya itu.


"Kak, Siyyara minta, tolong jauhi kak Gallen. Apapun yang terjadi, tolong jauhi dia. Siyyara mohon," ucap Siyyara dengan menangis dan mengatupkan kedua tangan nya. Dia benar-benar memohon kepada sang kakak.


"Apa? Apa alasanmu meminta kakak untuk menjauhi nya?" Tanya Alvian dengan nada yang berbeda. Karena bagaimanapun perilaku Gallen, Alvian lebih tahu seperti apa sosok Gallen yang sebenarnya.


"Siyyara takut, kak. Jangan dekati kak Gallen. Jangan dekati kak Gallen. Siyyara mohon jangan dekati dia," ucap Siyyara dengan histeris.


Alvian tidak mungkin menjauhi Gallen, karena saat ini dia dan Gallen sedang merencanakan sesuatu untuk menjebak musuh, dan Gallen juga meminta nya untuk membantu mewujudkan impiannya selama ini.


'Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri, apa yang menyebabkan Siyyara bertingkah aneh seperti ini,' batin Alvian.