
"Bagaimana dengan keadaan Siyyara dan Gallen dok?"
"Nona Siyyara sudah melewati masa kritisnya, tetapi nona Siyyara akan mengalami kebutaan permanen akibat serpihan kaca yang menancap di kedua matanya."
"Permanen?"
"Iya tuan. Nona Siyyara hanya akan bisa melihat lagi jika ada seseorang yang mendonorkan kedua mata untuknya," jelas dokter.
Alvian diam, kedua kakinya terasa seperti jelly, dia menyentuh tembok disampingnya untuk menyangga tubuhnya. Dia tidak bisa membayangkan kehidupan adiknya setelah ini. Karena Siyyara sangat takut dengan kegelapan.
Melihat keterdiaman Alvian, sang dokter melanjutkan kalimatnya.
"Untuk kondisi dokter Gallen, dia dalam keadaan koma setelah kami melakukan operasi pengangkatan 6 peluru di tubuhnya. Dan kemungkinan dia sadar kembali sangatlah kecil, karena tubuhnya sangat terluka parah."
"Tetapi kami sangat bersyukur karena peluru itu tidak mengenai organ vitalnya, jika sampai itu terjadi, kami tidak tahu harus berbuat apa," jelas dokter itu.
"Dokter, tolong selamatkan Gallen, apapun yang terjadi tolong selamatkan dia. Jangan sampai terjadi sesuatu pada nya. Aku mohon, dok." Alvian menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhannya, tuan."
Alvian mengangguk lemah, dia termenung di kursi tunggu ruang Operasi, dia ingin menghubungi pihak keluarga Gallen, tetapi dia takut jika kondisi Mama nya Gallen akan memburuk, karena Alvian tahu jika Mamanya Gallen sedang sakit.
Dan Alvian termenung kembali, dia ingin menghubungi Kakek dan Daddy-nya, tetapi dia bingung harus memulai darimana.
"Ya Allah." Alvian mengusap wajahnya frustasi.
"Permisi Tuan muda," ucap salah satu bodyguard nya.
"Ada apa?" Tanya Alvian lirih.
"Tuan besar berusaha menghubungi tuan muda, dan tuan besar marah karena tuan muda tidak mengangkat panggilan dari tuan besar," ujar Bodyguard nya.
"Lalu?"
"Tuan besar sudah sampai di Jakarta, dan beliau ingin tahu dimana posisi tuan muda dan nona Siyyara saat ini," lanjut sang bodyguard.
"Baiklah, aku akan menghubungi nya. Kalian pergi lah."
"Baik, tuan muda." Para bodyguard nya pun pergi meninggalkan Alvian sendiri.
Alvian mengambil ponsel dari saku jaketnya, dan di layar terpampang 20 panggilan tak terjawab dari Daddy-nya.
Alvian men-dial kembali nomor Daddy-nya, dan tak lama kemudian terdengar suara Mr. Dave yang sedang marah besar padanya.
"Kamu dimana saat ini?" Tanya Dave penuh penekanan.
"Daddy pasti sedang melacakku saat ini, jadi Daddy pasti tahu saat ini aku sedang berada dimana."
"KAU?"
"Dad, Siyyara sudah melewati masa kritisnya, tetapi dia akan mengalami kebutaan permanen dan-" Alvian menarik napas panjang dan menghembuskan nya.
"-dan Gallen sedang koma. Apa yang akan kita katakan pada keluarga nya, Dad? Sedangkan kondisi mental Mamanya Gallen sendiri dalam keadaan tidak baik," ujar Alvian dengan nada lemah.
"Huffft, katakan saja semuanya kepada Keluarga nya, Daddy akan segera kesana."
Tut Tut
Panggilan telah di matikan secara sepihak oleh Mr. Dave. Alvian pun menghela napas lagi, dia segera menghubungi nomor telepon rumah Gallen, jantungnya berdetak sangat cepat. Sungguh, dia tidak tega menyampaikan kabar tragis kepada keluarga Gallen.
"Pasti saat ini Tante Amanda sedang menunggu kepulangan Gallen di rumah," batin Alvian sedih.
"Halo."
Alvian tersentak saat tahu yang mengangkat telepon itu adalah Tante Amanda sendiri.
"Ha-halo Tante."
"Ini siapa ya? Ada yang bisa saya bantu?"
"Tante, ini Alvian sahabat Gallen."
"Oh, Alvian. Ada apa Al? Apa kau sedang mencari Gallen? Dia sedang pergi, dia pergi bersama Siyyara. Apa Gallen tidak memberitahu mu jika dia sedang membawa adikmu? Dasar Gallen, dia pasti membawa Siyyara diam-diam dari rumah mu ya?"
"Tante minta maaf, pasti kau sedang khawatir dengan adikmu saat ini. Tapi kau tenang saja, Siyyara akan baik-baik saja bersama Gallen," ujar Amanda tanpa henti.
Dada Alvian sangat sesak, bisa mendengarkan suara ceria Tante Amanda adalah kebahagiaan untuknya, itu berarti kondisi Tante Amanda sudah membaik. Dan apakah saat ini dia tega membuat Tante Amanda bersedih lagi? Tetapi bagaimana pun juga, Alvian harus mengatakan yang sebenarnya kepada Tante Amanda mengenai kondisi Gallen.
"Tante, apakah disana ada Tristan?" Tanya Alvian.
"Tristan sedang ada di kamarnya, apakah kau ingin mengatakan sesuatu? Katakan saja pada Tante, Tante akan sampaikan pada Tristan," seru Amanda.
Alvian menghela napas ragu.
"Tante," ujar Alvian ragu-ragu.
"Iya, ada apa?"
"Gallen saat ini berada di rumah sakit, Tante. Dia di rawat di Medical Internasional Hospital."
"A-apa? Bagaimana mungkin? Apa yang sebenarnya terjadi, Al?"
"Di-dia terkena tembakan saat ingin melindungi Siyyara, Tante."
*
"Ga-Gallen," lirih Amanda. Dia menjatuhkan telepon yang di genggamnya, dia terduduk lemas.
Dia sangat takut Gallen akan meninggalkan nya, sudah cukup dahulu sang suami yang meninggalkan dirinya, dia tidak ingin jika putra sulungnya juga menyusul suaminya.
"Hiks Gallen."
"GALLEN!!" Teriak Amanda dengan keras, hingga membuat Tristan yang sedang berada di kamarnya segera turun ke bawah untuk melihat kondisi Mama nya.
"Mama!" Tristan berlari menghampiri Mama nya ketika melihat Mama nya dalam keadaan kacau.
"Ma, Mama kenapa? Apa yang terjadi, Ma?" Tristan memeluk Mama nya dengan erat, berusaha menenangkan sang Mama.
"Hiks, Gallen!"
Tristan diam saat Mama nya terus menggumamkan nama kakaknya.
"Ma, apa yang terjadi dengan kak Gallen? Dia baik-baik saja, kan?"
"Gallen," racau Amanda.
"Gallen, Hiks. Jangan tinggalkan Mama!"
"Jangan tinggalkan Mama!" Amanda terus memberontak dari dekapan Tristan.
"JANGAN TINGGALKAN MAMA!" Teriak Amanda sejadi-jadinya, dan tak lama kemudian Amanda jatuh pingsan.
"Mama! Ma, bangun Ma!" Teriak Tristan karena sangat panik.
"Mama!"
"Ya Allah. Tuan muda, ada apa dengan Nyonya?" Tanya Bibi Sara, sang asisten rumah tangga.
"Bi, tolong panggilkan dokter. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba Mama memanggil-manggil nama kak Gallen."
"Baik, tuan muda."
Tristan membopong Amanda ke kamarnya, dan bibi Sara segera menelfon dokter keluarga, agar segera datang ke kediaman Dameatria.
Ting tong
Ting tong
Setelah bibi Sara selesai menelfon dokter keluarga, terdengar suara bel dan Bibi Sara segera menuju ke pintu utama untuk membukakan pintu rumah itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya bibi Sara setelah pintu itu terbuka.
"Selamat malam, apakah Amanda ada di rumah?" Tanya orang itu.
"Se-selamat malam, tuan. I-iya, Nyonya ada di rumah," ujar Bibi Sara mengangguk kikuk, karena merasa takut dengan tamunya. Tamu itu berwajah dingin dan tatapannya sangat menusuk.
"Si-silahkan masuk, tuan."
Tamu itu mengangguk dan segera masuk ke ruang tamu untuk duduk di salah satu sofa yang ada di sana.
Bibi Sara segera naik ke lantai dua untuk memanggil Tristan yang ada di kamar Nyonya Amanda, agar segera turun untuk menemui sang Tamu.
"Permisi tuan muda, di bawah sedang ada tamu yang sedang mencari Nyonya Amanda," ujar Bibi Sara.
"Siapa, Bi?"
"Saya tidak tahu, tuan."
"Baik, aku akan ke bawah sebentar, tolong jaga Mama ya Bi," ucap Tristan.
"Baik, tuan."
*
Tristan mendekati tamu Mama nya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Permisi, tuan," sapa Tristan.
Tamu itu menoleh ke arah Tristan dan menyungging kan senyum tipis.
Tristan segera duduk di sofa yang menghadap ke arah si Tamu.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Amanda ada?" Tanya si Tamu.
"Ada tuan, tetapi saat ini Mama tidak bisa menemui tuan karena Mama sedang sakit. Jika ada yang ingin tuan sampaikan, sampaikan saja kepada saya, biar saya sampaikan kembali kepada Mama," ujar Tristan.
"Sakit? Sakit apa?"
"Mama sedang tidak sadarkan diri setelah menerima telepon dari seseorang. Tetapi saya tidak tahu, apa yang menyebabkan Mama pingsan."
Si tamu mengangguk, tetapi raut wajahnya sedikit berubah, dia berekspresi seperti sedang khawatir dan sedih.
Tristan sangat bingung, mengapa tiba-tiba ada yang berkunjung ke rumahnya, karena selama ini tidak ada seorang pun yang bertamu ke rumahnya kecuali para dokter yang merawat Mamanya dan Siyyara. Lalu siapa kah tamu nya itu? Mengapa orang itu menanyakan Mama nya? Tristan menatap si tamu dengan wajah bingung, sedangkan si tamu tahu jika saat ini tuan rumah bingung akan kehadiran nya.
"Siapa namamu, nak?" Tanya si Tamu.
"Nama saya Tristan, tuan."
"Jangan panggil tuan, panggil saja paman."
"Baik, paman."
"Kamu pasti bertanya-tanya, mengapa saya datang kemari kan?" Tristan hanya menjawab dengan anggukan kikuk, sambil menyunggingkan senyum nya.
"Aku adalah sahabat Papa dan juga Mama mu. Nama ku adalah Dave Damares."
"Damares?"
"Iya, aku adalah ayah dari Siyyara," lanjut Dave dengan melirik Tristan yang sedang terkejut melihat ke arahnya.
"Aku juga tahu jika kau telah menyukai Siyyara sejak lama," celetuk Dave membuat Tristan tersedak ludahnya sendiri.
"Uhuk uhuk." Tristan segera membasahi tenggorokan nya dengan air putih yang ada di meja.
"Apa sampai saat ini kau masih mencintai Siyyara? Ingat, sekarang Siyyara adalah kekasih kakakmu sendiri. Mau tidak mau, kau harus menghapus cinta mu itu pada Siyyara," ujar Dave sambil terus melihat pergerakan Tristan yang terlihat salah tingkah.
"Paman, aku sudah berusaha melupakan Siyyara, paman tahu sendiri jika perasaan cinta tidak mungkin bisa hilang begitu saja. Aku saat ini sedang berusaha, paman."
"Itu bagus, nak," jawab Dave pelan.
"Paman, apa yang membuat Paman datang kemari? Apa ada sesuatu?" Tristan memberanikan diri untuk bertanya tentang maksud dan tujuan Dave datang ke rumahnya.
"Aku datang kesini ingin bertemu dengan Mama mu, tetapi jika dia saat ini tengah dalam keadaan tidak sadarkan diri, berarti Alvian telah memberitahukan hal itu kepada Mama mu," ucap Dave.
"Ada masalah apa, paman?"
"Gallen sedang koma di Rumah sakit."
"A-apa? Bagaimana bisa, paman?"
"Saat Siyyara tengah dikejar para mafia, kakak mu melindungi Siyyara hingga dia tertembak oleh para mafia itu. Aku datang kemari ingin meminta maaf atas semuanya, karena Gallen dalam keadaan seperti ini karena ingin menyelamatkan Siyyara. Aku tahu, ucapan terima kasih ku tidak ada apa-apa nya dibandingkan perjuangan Gallen." Dave menghela napas panjangnya.
"Aku akan berusaha mencarikan dokter terbaik untuk Gallen, dan semoga dia cepat sadar."
"Ja-jadi Mama pingsan karena mendengar berita tentang kak Gallen?" Tanya Tristan memastikan dengan wajah memucat.
"Iya, nak," jawab Dave singkat.
Tristan mengusap wajahnya kasar, dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Mama nya sangatlah menyayangi Gallen, Gallen adalah putra kesayangan Mamanya, meski Mama nya juga menyayangi dirinya, tetapi rasa sayangnya kepada Gallen jauh lebih besar ketimbang dengannya.
Apakah Tristan iri? Tentu saja tidak. Tristan tidak pernah iri dengan Gallen, karena dirinya juga sangat menyayangi Gallen. Gallen bisa melakukan apapun yang tidak bisa ia lakukan. Tristan sangat takut jika kondisi kakaknya yang buruk akan membuat Mama nya kumat kembali.
"Paman-" ucapan Tristan terhenti saat mendengar teriakan dari lantai dua.
"GALLENN!!"
"GALLENNNN!"
Tristan terhenyak dan dia langsung naik ke lantai dua untuk melihat kondisi Mamanya.
Saat Tristan terburu-buru naik ke lantai dua setelah mendengar teriakan, Dave mengikuti Tristan, dia sangat mengenal suara itu, itu adalah suara sahabat mendiang Istrinya dulu.
***
"Mama!" Tristan menghampiri Amanda dan memeluknya.
Bibi Sara yang semula menemani Amanda segera menyingkir setelah Tristan datang.
"Bi, apa yang terjadi?"
"Nyonya terbangun karena bermimpi buruk, tuan muda," ujar Bibi Sara.
"Baiklah, tolong ambilkan air ya bi."
"Baik, tuan." Bibi Sara segera keluar untuk menuju ke dapur.
"Hiks GALLEN!"
"Mama tenanglah." Tristan mengusap punggung Mama nya pelan.
"Tristan, dimana kakakmu? Kenapa dia belum juga pulang? Dimana dia? DIMANA DIA?"
"Ma, Mama tenanglah. Mama tidak boleh seperti ini, kak Gallen bisa sedih jika Mama seperti ini," hibur Tristan.
Amanda berhenti berteriak, tetapi dia masih menangis, dia sangat takut jika Gallen akan meninggalkan nya seperti suaminya.
"Hiks, Gallen!"
"Hiks," lirih Amanda.
"Manda," panggil Dave yang sudah berdiri di depan pintu kamar Amanda.
Amanda langsung menghentikan tangisnya setelah mendengar suara seseorang yang sangat dikenalnya, Amanda menatap Dave dengan sedih.
"Dave? Kau, kau ada disini?" Amanda berdiri dari tempat tidurnya untuk mendekati Dave.
"Iya, aku disini. Maaf, putramu harus terluka karena ingin melindungi Siyyara," ucap Dave lirih.
Amanda menangis kembali, dia terduduk di depan Dave dengan kepala menunduk.
"Dave."
"Maafkan atas kesalahan ku dan suamiku di masa lalu. Tolong maafkan kami," ucap Amanda dengan berurai air mata.
"Aku merasa jika ini adalah hukuman untuk kesalahan ku dulu. Aku telah kehilangan suami ku, dan saat ini Gallen juga sekarat."
"Aku tidak ingin Gallen kenapa-napa, maafkan semua dosa-dosa ku, Dave." Amanda menangkupkan kedua tangannya di depan dada, dia menunduk di hadapan Dave dengan berlutut.
Tristan yang tidak mengerti apapun hanya diam, dia menatap Dave dan Amanda dengan pandangan yang sulit di artikan, dan Tristan sangat curiga.
"Manda, berdirilah. Jangan seperti ini. Semua sudah berlalu, aku tidak pernah membenci dirimu maupun suamimu, yang terjadi di masa lalu adalah takdir. Jadi, jangan menyalahkan dirimu atas semuanya, sudah cukup kau menderita karena rasa bersalah mu."
"Tidak, Dave. Seharusnya aku pantas mendekam di penjara, bukan berkeliaran bebas seperti ini." Suara Amanda terdengar semakin lirih.
"Jangan berkata seperti itu, Manda. Semuanya sudah berlalu, buang rasa bersalah mu itu. Hiduplah bahagia dengan kedua putramu, jangan bebani hidup mu dengan kejadian di masa lalu. Saat ini kita harus fokus pada kesembuhan Gallen dan Siyyara. Jangan memikirkan hal yang sudah berlalu, Manda." Mendengar perkataan Dave, hati Amanda semakin sesak, rasa bersalahnya kian besar.
"Ingatlah Siena. Siena sangat menyayangi mu, saat ini dia pasti bersedih karena melihatmu yang selalu memikirkan masa lalu kelam."
Amanda terdiam ketika mendengar nama orang yang sangat ia rindukan. Siena, Siena adalah sahabat baiknya, Siena sangatlah periang dan cantik seperti Siyyara. Sungguh dia merindukan saat-saat bersama dengan Siena, dia ingin mendengar suara cerewet Siena. Tetapi hal itu tidak akan terjadi, karena Siena telah meninggalkan dunia ini, meninggalkan suami dan kedua anaknya yang masih membutuhkan nya.