The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
30. Sebenarnya ada apa?



Livia termenung di bangku kelasnya, pandangan nya selalu mengarah ke bangku di sebelahnya, dimana bangku itu adalah bangku milik Siyyara.


Saat dia tahu Siyyara sedang di rawat di rumah sakit, dia belum sempat menjenguk sahabatnya itu, bahkan saat Siyyara sudah pulang dari Rumah Sakit pun dia belum menemui Siyyara, dan sekarang tiba-tiba tersebar kabar bahwa Siyyara pindah ke Jerman. Dia sangat sedih, karena saat Siyyara sedang sakit dan membutuhkan dukungan nya justru dia tidak datang.


Dan kesedihan Livia semakin menjadi saat tahu bahwa Siyyara kehilangan penglihatan nya, dia tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi padanya. Dia bukan gadis yang kuat seperti Siyyara. Dia tidak akan bisa se-tegar seperti Siyyara. Dan sekarang sahabatnya telah pergi tanpa memberitahu nya, tanpa pamit kepadanya.


"Siyya, maafkan aku. Aku kangen sama kamu, Siyya," lirih Livia.


"Kenapa kamu harus pergi?" Gumam nya dengan sendu.


"Sudahlah, Via. Jika kebahagiaan Siyyara ada di sana, biarkan dia hidup bahagia disana. Aku juga sedih dengan kepergian nya, tapi aku jauh lebih sedih saat melihat kondisi kak Gallen. Dia adalah orang yang paling terluka dengan kepergian Siyyara. Kita berdoa saja, semoga Siyyara cepat kembali ke sini." Tristan berusaha menenangkan kesedihan Livia. Dia duduk di bangku sebelah Livia.


"Tristan, apa kamu tahu alasan Siyyara pergi?"


"Tidak, Vi. Aku tidak tahu. Tapi aku yakin, jika Siyyara memutuskan pergi begitu saja, itu berarti masalah yang dihadapinya sangat berat. Karena aku tahu, Siyyara bukan gadis yang mudah menyerah dan putus asa. Dia bukan tipe orang yang suka kabur dari masalah."


"Apa Siyyara pergi karena sedih kehilangan penglihatan nya?" Tanya Livia lirih.


"Aku yakin itu bukan alasan nya."


******


Gallen berusaha bangkit dari keterpurukannya, dia berusaha menyemangati dirinya sendiri. Dia sangat yakin, Siyyara akan kembali ke Indonesia saat suasana hatinya sudah membaik, Gallen yakin itu.


Dan jika Siyyara masih menghindari nya, maka Gallen yang harus mendekati gadis itu. Agar gadis itu berpikir ulang untuk tidak menjauhinya.


Gallen segera bersiap untuk pergi ke kantor setelah Mr. Nara memberitahukan jika rapat kemaren telah di tunda. Dan Agni berhasil membujuk Klien itu agar mengganti meeting menjadi hari ini.


Gallen pun kali ini berusaha untuk datang, meski perasaannya masih belum membaik. Tetapi dia akan datang dan bekerja secara profesional, dia tidak ingin hanya karena masalah cinta, membuatnya seperti orang bodoh. Kali ini, dia harus berjuang.


"Aku akan menunggu sampai kamu kembali pulang."


"Kamu hanya salah paham, Siyya. Aku janji, aku akan menceritakan semuanya tanpa kebohongan sedikitpun," lirih Gallen.


Tok tok


"Gallen, Mr. Nara menunggumu di bawah. Cepat turun, ya," ucap Amanda.


"Iya, Ma."


Cklek


"Kamu sudah sehat kan? Kata Tristan, kemaren kamu sempat demam."


"Gallen sudah baikan, Ma." Gallen merapikan dasi dan jas nya.


"Gallen," panggil Amanda.


"Iya, Ma?"


"Sudah lama sekali Siyyara tidak main ke rumah ini, ajak dia ke sini, ya. Mama kangen sama dia," ujar Amanda dengan riang. Dia tidak tahu akan masalah yang terjadi diantara Gallen dan Siyyara.


"Siyyara tidak akan ke sini lagi, Ma." Suara Gallen terdengar pelan dan putus asa.


"Kenapa? Apa Siyyara marah sama Mama?" Tanya Amanda panik.


"Tidak, ma. Dia tidak akan datang kemari lagi karena dia telah pergi dari Jakarta. Dia memutuskan untuk menjalani operasinya di Jerman." Gallen terpaksa berkata setengah bohong kepada Mamanya. Dia tidak ingin Mama nya sedih karenanya.


"Ta-tapi, Siyyara akan kembali lagi kan? Dia tidak menetap disana kan? Mama takut jika Dave akan menahan Siyyara disana," tukas Amanda dengan khawatir.


"Jika itu terjadi, maka Gallen yang akan ke sana untuk menjemput Siyyara, Ma."


"Huft, baiklah. Tapi kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan?"


"Tidak, Ma."


"Sebenarnya Mama cukup penasaran, mengapa Siyyara pergi tanpa pamit sama Mama ya?" Heran Amanda. Gallen pun meneguk ludahnya kasar tenggorokan nya terasa kering, dia tidak tahu harus mengatakan apa kepada Mamanya, jika sebenarnya Siyyara pergi karena putranya sendiri.


"Mungkin karena dia terburu-buru, Ma. Sudahlah. Gallen akan berangkat. Kemungkinan Gallen akan pulang terlambat, karena Gallen harus ke Rumah Sakit juga," ucap Gallen untuk mengalihkan pembicaraan Mamanya.


"Baiklah, kamu hati-hati ya." Gallen mencium tangan Amanda.


"Iya, Ma. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Amanda memandang punggung Gallen yang semakin menjauh, Amanda tahu ada beban berat yang sedang di pikul Gallen sendirian. Dari dulu Gallen tidak pernah terbuka untuk menceritakan masalah pribadinya kepada Mamanya. Dan hal itu juga yang membuat Amanda selalu mengkhawatirkan Gallen dengan berlebihan.


"Mama tahu, kamu sedang menyembunyikan


Sesuatu dari Mama, Gallen." Amanda masih menatap kepergian putra sulungnya dengan prihatin.


*******


"Selamat datang di Mension Damares, Sayang," ucap Ferdy kepada Siyyara.


"Terima kasih, Kek. Siyya, kangen kakek." Ferdy mendekat dan memeluk Siyyara dengan sayang.


"Kakek juga merindukanmu." Ferdy mencium kening Siyyara dengan lembut.


"Ayo kita masuk ke dalam, Siyya. Ayo Dave," ajak Ferdy kepada Siyyara dan Dave. Siyyara pun mengangguk setuju. Dan Dave hanya membuntuti Ayah dan anaknya di belakang.


"Kakek tidak menyangka jika kamu sudah sebesar ini, sayang. Kamu sangat cantik, bahkan Mommy mu kalah cantik dari dirimu. Pantas saja, cucu nya Arnold cinta mati padamu," puji Ferdy yang masih memeluk Siyyara.


"Maksud kakek, siapa?" Siyyara mengerutkan dahinya.


"Siapa lagi kalau bukan, Kekasih mu, Sayang."


Kedua mata Siyyara membola dan mulutnya menganga lebar, saat mendengar penuturan kakeknya.


"Ma-maksud, kakek." Siyyara ingin memastikan jika yang dimaksud kakeknya bukanlah Gallen.


"Gallen Damestria, dia adalah cucunya teman kakek yang bernama Arnold. Tapi sayang, dia sudah tiada."


Siyyara menggigit bibir bawahnya, dia merasa takut.


"Iya, Sayang?"


"Apa kakek tahu hubungan ku dengan Gallen?" Tanya Siyyara langsung pada intinya.


"Tentu saja kakek tahu, kamu melupakan mata-mata kakek yang selalu kakek tugaskan untuk memantau dirimu, Sayang," jawab Ferdy setengah bohong. Karena sesungguhnya dia tahu mengenai hubungan Siyyara dan Gallen dari media masa.


"Tapi aku tidak memiliki hubungan dengan nya, kek. Kami hanya berteman saja," bantah Siyyara.


"Dan kakek tidak perlu mengirim seseorang untuk membuntuti Siyyara lagi. Kami tidak ada hubungan apa-apa, kek," tegas Siyyara lagi. Karena memang dia dan Gallen sudah putus kan? Tapi dia tidak akan menceritakan hal tidak penting itu pada keluarganya.


"Mana mungkin si Gallen itu mau berteman dengan gadis remaja seperti dirimu, Siyya. Kalaupun benar kalian memiliki hubungan, kakek merestui kalian, asal Gallen harus terbang ke sini dan meminta izin langsung dari kakek." Nada sombong Ferdy sudah mulai terlihat. Dan Siyyara hanya menghela napas lelah saat kalah argumen dengan kakeknya.


"Terserah kakek saja lah. Dimana kamar Siyya? Siyya ingin istirahat," ucap Siyyara.


"Ayolah Sayang, kamu tidak ingin menemani kakek meminum kopi dan berbincang dengan kakek?"


"TIDAK! Siyya ingin tidur," bentak Siyyara kepada Ferdy, Siyyara malas harus meladeni ocehan kakeknya itu, apalagi pasti kakeknya akan menanyakan sejauh apa hubungannya dengan Gallen.


Darimana dia tahu? Tentu saja Siyyara pakai feeling. Dia sangat tahu seperti apa kakeknya, kakeknya selalu kepo dengan kehidupannya, kakeknya juga protektif sekali dengannya. Siyyara memang suka di manja, tetapi jika berlebihan, Siyyara akan muak.


"Ya Allah, darimana kamu punya keberanian membentak kakek, Sayang? Ini pasti pengaruh dari cucunya Arnold itu kan?" Tanya Ferdy asal. Siyyara pun memutar kedua matanya, tanda mulai jengah dengan kakeknya.


"Kenapa kakek suka sekali menyebut nama orang yang sudah meninggal? Bahkan kakek tahu nama cucunya mendiang kakek Arnold, tapi kakek tidak pernah menyebut namanya dengan benar," sahut Siyyara cepat.


"Itu karena kakek kesal dengan cucunya Arn-"


"Gallen, kek. Namanya Gallen. Bahkan tadi kakek tahu sendiri namanya," potong Siyyara.


"Kamu sekarang sudah pintar membuat kakek kesal ya." Ferdy hanya geleng-geleng kepala.


"Terserah, kakek," ujar Siyyara dengan mengibaskan rambutnya.


Dave menahan tawanya saat melihat Ayahnya tidak berkutik menghadapi anak gadisnya. Siyyara memang sangat nakal, dia kira Siyyara sudah berubah menjadi gadis dewasa, ternyata dia masih sama. Sama seperti dulu, yaitu suka sekali membuat lawan bicaranya merasa kesal.


"Kek, Siyya minta uang!"


"Tidak. Kakek tidak akan memberimu uang. Minta dulu dengan nada yang benar." Ferdy melipat kedua tangannya di depan dada, dia terus memandangi wajah cemberut cucunya yang sangat ia sayangi.


"Kakek pelit. Kalau begitu Siyyara mau balik aja ke Indonesia, disana ada seseorang yang selalu menuruti keinginan Siyya," ujar Siyyara mengancam.


"Siapa yang kamu maksud?" Ferdy menyerngit tidak mengerti.


"Tentu saja Gall-" Siyyara menghentikan ucapannya, saat dia akan menyebut nama Gallen. Mengingat setiap perhatian Gallen padanya, entah mengapa membuat Siyyara tidak rela membiarkan Gallen pergi darinya, tapi dia juga benci dengan setiap kebohongan pria itu.


Ferdy menatap wajah cucunya yang terlihat sedih, lalu pandangannya mengarah kepada Dave, untuk meminta penjelasan saat melihat Siyyara berekspresi sedih, tadi bahkan saat berbicara dengannya Siyyara masih ceria. Lalu kenapa dia bersedih?


Tapi Dave dengan cepat mengangkat kedua bahunya, tanpa tidak tahu apa-apa.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Ferdy dengan lembut.


"Siyyara ingin cepat bisa melihat lagi, Kek. Siyya ingin melihat wajah kakek," lirih Siyyara.


"Sstt, sudah. Jangan menangis, sayang. Kakek akan melakukan apapun demi dirimu, kakek sudah menghubungi beberapa dokter ternama untuk segera mencarikan pendonor mata untukmu, sayang. Meski akan mustahil untuk mendapatkan donor mata dalam waktu dekat. Tapi percayalah, kamu akan bisa melihat lagi," hibur Ferdy.


Dave pun hanya memandangi putrinya dengan ekspresi berbeda. Tapi dia tidak akan menanyakan hal itu kepada Siyyara di depan Ayahnya, bisa-bisa ayahnya akan membuat ulah lagi. Ayahnya memang tidak takut dengan siapapun juga, tetapi tindakannya selalu merugikan bagi orang lain. Maka dari itu, Dave tidak akan bertanya tentang Gallen di depan Ayahnya itu.


"Siyyara, sepertinya kamu butuh istirahat. Daddy akan mengantar mu ke kamar ya," ujar Dave.


"Iya, Dad."


*********


Dave membantu Siyyara berjalan untuk menuju ke kamar utama yang sudah di rancang untuk Siyyara. Yah, Mr. Ferdy sendiri yang merancang kamar itu, dia selalu berharap agar cucu gadisnya bisa segera datang ke rumah besar ini. Dan sekarang, doa-doa Mr. Ferdy telah menjadi kenyataan.


"Daddy," panggil Siyyara saat sudah sampai di kamar nya.


"Iya, Siyya?"


"Emm, tidak jadi." Siyyara menunduk dengan gelisah.


"Ada apa, Sayang? Jika kamu ingin bercerita, cerita lah. Daddy tidak akan membocorkan nya kepada siapapun," bujuk Dave.


"Ish, Daddy jangan berlebihan."


Dave hanya tertawa pelan.


"Baiklah, apa yang ingin kamu ceritakan, sayang?" Tanya Dave serius.


"Dad, apa Daddy tahu alasan Siyyara datang ke sini?"


"Daddy tidak tahu, dan Daddy tidak ingin tahu. Daddy tahu saat ini mungkin kamu sedang salah paham kepada Gallen, sayang. Daddy tahu kamu sangat merindukanmu, dan dengarkanlah setiap penjelasannya, Siyya."


"Tapi dia menyimpan kebohongan yang besar, Dad. Aku yakin jika Tante Amanda juga tidak tahu masalah ini," seru Siyyara dengan memburu.


"Sebenarnya apa yang sudah dilakukan Gallen, sehingga kamu jadi marah, Siyya?" Dave terus menatap Siyyara, berharap jika putrinya mau jujur.


Jika kesalahan Gallen memang besar dan sulit di maafkan. Maka Dave akan memaafkan Gallen begitu saja, tetapi dia tidak akan membiarkan putrinya menjalin hubungan dengan Gallen lagi.


"Tidak, Dad. Siyya belum siap untuk cerita." Siyyara menggeleng pelan sambil memejamkan matanya.


"Ayo, Siyya. Cerita lah, Daddy tidak akan membiarkan dia mendekati mu lagi jika memang dia telah menyakitimu, Siyya." Nada suara Dave sudah berubah menjadi dingin. Dan Siyyara semakin takut.


"Tidak, Dad. Siyyara tidak akan cerita jika Daddy akan marah kepadanya."


"Hufft, Daddy tidak akan marah. Jadi sekarang, cerita lah kepada Daddy."


"Sebenarnya-" ucapan Siyyara terhenti saat dia mendengar suara pintu kamarnya di buka dari luar.


Cklek


"Hallo, cantik! Lama tidak berjumpa ya? Bagaimana kabarmu?"


Dave dan Siyyara terkejut bukan main saat mendengar suara orang itu. Kapan dia datang ke Jerman?