
Kinan menatap Gallen dengan pandangan sendu, Kinan merasa senang juga sedih saat Aira sangat bergantung pada Gallen. Jujur saja, dia ingin sekali memiliki Gallen agar Aira selalu bahagia karena dekat dengan Gallen.
"Len, sepertinya akhir-akhir ini kamu sangat sibuk sekali, apa ada masalah di kantor?" Kinan penasaran karena hampir selama 1 Minggu, Kinan tidak pernah melihat Gallen di rumah sakit.
"Iya begitulah, selama 1 Minggu ini aku berada di Bali," jawab Gallen sekenanya.
Kinan hanya mengangguk dan melengkungkan bibirnya membentuk senyuman.
"Papa, Aira pengen jalan-jalan sama Papa," rengek Aira tiba-tiba.
Gallen tersenyum kecil.
"Maaf sayang, Papa tidak bisa." Gallen merasa bersalah karena menolak permintaan Aira, karena memang pekerjaan nya berkali-kali lipat menguras tenaga nya.
"Tapi, Pa. Aira ingin seperti teman Aira lainnya yang selalu berlibur dengan Papa-mama nya," ujar Aira sesegukan menahan tangis.
"Sayang, Papa sedang sibuk, weekend besok kita jalan-jalan berdua ya. Nah, sekarang katakan, Aira mau kemana besok?" Kinan berusaha membantu Gallen yang seperti nya merasa bersalah karena tidak bisa menuruti permintaan Aira.
"Ma, Papa tidak sayang Aira. Hiks!" Aira menangis dan berlari memeluk Kinan.
"Bukan begitu, Sayang. Papa sangat menyayangi mu, hanya saja Papa sibuk di kantor," ujar Kinan seraya menatap Gallen, Kinan mengisyaratkan agar tidak perlu mengkhawatirkan Aira.
"Gallen, bukankah kau bilang jika nanti ada meeting?" Tanya Kinan.
Gallen hanya mengangguk.
"Iya, aku ada meeting, tolong jaga Aira. Sebisa mungkin aku akan membagi waktuku untuk Aira," ucap Gallen dengan lirih. Dia sedih karena tidak bisa menjadi seorang Ayah yang baik untuk menggantikan mendiang kakaknya.
"Iya, kau tidak perlu khawatir," ujar Kinan dengan tersenyum hangat.
"Aira, Papa pergi dulu ya, maaf Papa tidak bisa mengajak mu jalan-jalan. Mungkin lain kali saja." Gallen mengelus rambut Aira dengan sayang.
"Aku akan menjelaskan padanya, jangan khawatir. Pergilah," ujar Kinan.
Gallen mengangguk dan melangkah pergi dari apartemen Kinan.
***
Siyyara menangis di dalam toilet, dia menggenggam ponselnya dengan erat, dia sangat kecewa kepada seseorang. Rasa sayang yang sebelumnya sudah tumbuh di hatinya kini menjadi perasaan benci.
"Aku sangat membencimu, sangat benci padamu. Kau menyayangiku karena kau ingin menyembunyikan keburukan mu kan? Dasar penjahat!" Teriak Siyyara yang ada di dalam toilet wanita.
Saat *** sedang berlangsung, ponsel Siyyara bergetar karena ada pesan masuk. Saat Siyyara membuka pesan itu, Siyyara tanpa sadar meneteskan air matanya. Tak ingin menangis di dalam kelas, Siyyara meminta izin untuk pergi ke toilet kepada dosennya.
"Hiks! Jahat!"
Saat Siyyara sedang meraung-raung di dalam toilet, ponsel Siyyara berbunyi, dan dapat dilihat oleh Siyyara jika ada panggilan masuk dari Alvian. Dia segera menghapus air matanya dan mengangkat panggilan Alvian.
"Halo, kak?"
"Iya Siyya, kakak minta maaf karena hari ini kakak tidak bisa menjemput mu. Tapi hari ini Gallen pulang cepat, kakak sudah minta tolong padanya untuk menjemput mu."
"....."
"Halo, Siyya? Bagaimana? Tidak apa-apa kan?" Tanya Alvian lagi saat Siyyara tidak juga menyahuti ucapannya.
"Ah, iya kak. Tidak apa-apa. Baiklah, aku akan menunggu kak Gallen," putus Siyyara.
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik, kakak menyayangimu," ujar Alvian dengan lembut.
Siyyara menyunggingkan senyum paksa.
"Iya, kak."
*****
Siyyara duduk termenung di halte bus, dia sengaja menunggu Gallen di sana agar Gallen bisa langsung melihat keberadaan nya.
Siyyara menghela napas lelah saat ia sudah menunggu berjam-jam, tetapi Gallen tidak juga datang menjemputnya. Dia ingin segera sampai ke rumah dan berbaring manis di atas kasurnya, jika saja kakaknya tidak bilang jika Gallen akan menjemput nya, pasti Siyyara akan langsung naik bus.
"Kapan sih dia datang? Lama banget," omel Siyyara sambil menghentakkan kedua kakinya saking dia merasa sangat kesal.
"Awas saja nanti," gerutu Siyyara dengan wajah cemberut.
"Halo manis! Sudah lama kita tidak bertemu. Setelah 2 tahun tidak bertemu, kamu jadi semakin tambah cantik deh," ujar seorang pemuda yang tiba-tiba duduk di samping Siyyara.
Siyyara berdecak kesal, sedari pagi pemuda itu terus mendekati nya dan terus mengajaknya berbicara, membuat Siyyara menjadi semakin ilfeel kepada pemuda itu. Apalagi sikap pemuda itu yang sok kenal dengannya, benar-benar membuat Siyyara malas meladeni pemuda itu.
"Kok diem aja sih, cantik?" Tanya pemuda itu dengan entengnya.
Wajah Siyyara semakin merah, bukan karena malu, tetapi karena menahan marah. Marah karena pemuda itu berani menggoda nya seenaknya sendiri.
"Bicaralah, cantik. Jangan diam saja, kakak pengen dengar suara adek Siyya," celetuk pemuda itu seraya memandang Siyyara dengan tatapan yang menurut Siyyara sangat menjengkelkan.
"Mau apa?" Tanya Siyyara to the point.
"Hm?" Pemuda itu memiringkan kepalanya untuk meminta penjelasan dari pertanyaan Siyyara.
"Ya ampun, masa kamu tidak mengenali ku? Sekarang mulai sombong ya," goda pemuda itu lagi.
Karena sudah kepalang jengkel, Siyyara menjambak rambut nya sendiri dan menghentakkan kedua kakinya dengan gemas. Setelah itu Siyyara menatap tajam pemuda yang sok akrab dengannya itu.
"Dengar ya. Aku sama sekali tidak kenal dengan mu dan aku tidak pernah melihat mu sebelumnya, jadi jangan menggangguku lagi." Siyyara menodongkan jari telunjuknya ke wajah pemuda itu.
Pemuda itu justru terkekeh geli, menurutnya sikap Siyyara sangat manis dan menggemaskan. Gila memang, mana ada orang yang marah justru dinilai sangat manis.
"Kalau begitu perkenalkan. Namaku Daniel Stevano Aksara. Kamu bisa memanggilku Daniel," ujar Daniel dengan tersenyum manis sehingga memperlihatkan lesung pipi nya.
"Sorry, aku tidak mengenalmu," jawab Siyyara seraya melipat tangannya di depan dada.
"Kamu bilang begitu karena kamu masih marah ya denganku? Maaf, kamu pasti masih marah karena dulu aku sering mengajakmu tawuran dan selalu memposisikan dirimu dalam masalah besar, sehingga membuat mu sering di marahi keluargamu."
"Aku minta maaf Siyya. Sejak saat kamu kecelakaan karena dulu aku mengejar mu, rasa bersalah ku kian besar. Setiap hari aku dilingkupi rasa bersalah. Aku ingin memperbaiki kesalahanku yang dulu. Aku ingin berteman baik dengan mu." Daniel memasang wajah memelas.
Siyyara menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jujur ya, mendengar ocehanmu membuat ku semakin pusing. Aku tidak mengenalmu sama sekali dan aku tidak merasa pernah mengenal mu. Mungkin saja kau salah orang," sahut Siyyara cepat.
"Tapi kita dulu memang saling kenal Siyya, meski hubungan kita tidak pernah baik." Daniel berusaha meyakinkan Siyyara jika memang mereka saling mengenal.
"Dan hubungan kita semakin tidak baik ketika kau semakin mengganggu ku, sebaiknya kau pergi saja. Jangan mengusikku," ujar Siyyara dengan kesal.
"Aku tidak akan menyerah sebelum kau memaafkan aku, Siyya," ujar Daniel dengan wajah memelas.
Daniel adalah pemuda yang sangat cerdas dan tampan, semua gadis begitu menggilai nya, apalagi dia juga sangat handal di bidang olahraga sehingga tubuhnya terbentuk dengan otot-otot yang pas, tidak berlebihan.
Tetapi yang membuat Siyyara semakin bingung dengan Daniel, karena Daniel selalu mengatakan jika dia sangat menyesal karena dahulu sering mengganggu Siyyara. Tetapi Siyyara tidak pernah merasa kenal dengan Daniel sebelumnya.
'Apa aku tidak mengenali Daniel karena aku sedang hilang ingatan? Apa benar dahulu aku mengenalnya?' pikir Siyyara.
TIN TIN!
Suara klakson mobil membuat Siyyara terkesiap dan segera menoleh ke arah sumber suara. Dan benar saja, disana ada Gallen yang sedang memandangnya dengan tatapan mata tajam, Gallen menurunkan setengah kaca mobilnya dan melepas kacamata hitamnya, dia segera membuka pintu mobil mahalnya dan berjalan angkuh menuju ke arah Siyyara.
Siyyara dibuat bingung dengan tingkah Gallen. Sejak kapan pria aneh itu menjadi semakin aneh? Memang penampilan nya saat ini benar-benar sangat cool, sangat cocok dengan kepribadian nya. Dan hal itu membuat Siyyara terpesona dengan Gallen, hingga tanpa sadar mulut Siyyara terbuka karena kaget dengan keberadaan Gallen sekaligus penampilan baru pria itu. Meski terlihat aneh, tapi Siyyara sangat menyukainya.
"Tutup mulutmu, apa kau mau jika ada lalat masuk ke dalam mulutmu?" Gallen sengaja membuyarkan lamunan Siyyara karena Siyyara menatap dirinya dengan pandangan aneh.
"K-kak Gallen?" Siyyara tergagap karena Gallen sudah berada di depannya.
"Ayo pulang. Jangan pacaran terus," ujar Gallen dengan ogah-ogahan.
"Ah, kak. Kakak pasti kakaknya Siyyara kan? Perkenalkan, namaku Daniel, aku teman dekatnya Siyyara. Kakak tidak perlu khawatir, aku akan menjaga Siyyara dengan baik," ucap Daniel dengan nada semangat seolah meminta restu kepada calon kakak ipar nya.
Gallen memandang sengit kearah Siyyara. Dan Siyyara langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia benar-benar malu dengan ucapannya Daniel. Dasar Daniel, bukannya bertanya terlebih dahulu kepadanya siapa yang sedang berdiri di depannya saat ini. Tapi dia dengan percaya dirinya mengira jika Gallen adalah kakak kandung Siyyara.
"Kak, ayo sebaiknya kita pulang. Jangan dengarkan ocehan nya," ujar Siyyara.
Gallen menatap Siyyara sekaligus Daniel secara bergantian. Dan rasa cemburunya kian membuncah saat Gallen melihat tatapan Daniel yang dalam kepada Siyyara. Daniel pria muda yang sangat tampan dan humoris, pasti Siyyara akan tertarik dengan Daniel. Berbeda dengannya, Gallen benar-benar merasa tidak pantas untuk Siyyara, usianya dengan Siyyara terpaut 10 tahun. Mengapa dia harus memikirkan hal itu? Bukankah dengan gamblang Gallen menolak perjodohannya dengan Siyyara? Entahlah, hanya Gallen yang tahu.
Tanpa banyak bicara, Gallen langsung menarik lengan Siyyara dan membawanya menuju ke mobilnya.
"Eh, kakak ipar, kakak mau kemana? Kan kakak ipar belum mengenalkan diri," ujar Daniel yang membuat beberapa mahasiswa lainnya melihat ke arah Daniel.
"Ck, dasar memalukan," gumam Siyyara yang masih kesal dengan Daniel.
"Hey, bocah. Jangan pernah memanggil ku kakak ipar, karena aku bukan kakak ipar mu," sahut Gallen setengah kesal.
"Memang sekarang belum, kak. Tapi sebentar lagi akan jadi kakak ipar ku," bantah Daniel dengan nada riangnya.
Gallen tersenyum sinis.
"Kau tahu? Aku hanya memiliki satu adik, dan adikku itu berjenis kelamin laki-laki. Kamu mau menikahinya?" Tanya Gallen dengan nada mengejek.
Seketika senyum riang Daniel pudar secara perlahan.
"Ppfft!" Siyyara langsung membekap mulutnya untuk menahan tawa. Sekuat tenaga dia menahan tawanya ketika mendengar kalimat menggelikan yang diucapkan Gallen. Salahkan saja Daniel yang penuh percaya diri memanggil Gallen dengan sebutan Kakak ipar.
"What? Lalu Siyyara?"
"Siyyara adalah calon istriku," jawab Gallen dengan nada tegas, dingin dan datar.
Siyyara tersentak kaget dengan jawaban Gallen. Apa dia salah dengar? Iya, dia pasti salah dengar.
"APAA?" Teriak Daniel dengan tatapan tidak percaya.
Gallen segera membukakan pintu mobil untuk Siyyara, dengan patuh Siyyara masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Daniel yang masih menatap Gallen dengan tatapan tidak percaya. Berjuta pertanyaan masih melekat di dalam kepala Daniel dan dengan sadisnya Gallen langsung membawa Siyyara pergi dari hadapannya.
Daniel melongo, dia masih belum mengedipkan matanya meski mobil Gallen sudah meninggalkan halte bus. Dia menggeleng pelan.
"Tidak mungkin dia calon suami Siyyara. Wah, selera Siyyara memang mengerikan. Sepertinya aku sudah tidak memiliki harapan lagi, aku tidak sebanding dengan pengusaha muda itu," gumam Daniel dengan lesu.