The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
10. Rahasia



"GALLEN!"


Bruk


Gallen terjatuh dari ranjangnya saat mendengar teriakan Siyyara yang berada di depan pintu kamarnya.


"Dasar gadis iblis," umpat Gallen.


"GALLEN, KAU BILANG JIKA KAU INGIN MENGAMBILKAN BAJUKU, LALU MANA BAJUKU? AKU HARUS BERANGKAT KE SEKOLAH PAKAI APA, SIALAN?"


"BANGUN WOYY!"


Duak duak


Siyyara menggedor pintu kamar Gallen dengan tidak sabaran.


Cklek


"Sudah puas?"


"Ini baru jam lima pagi, dan kau sudah membuat kehebohan di apartemen ku. Apa maumu? Apa kau akan berangkat ke sekolah jam lima pagi?"


"Aku itu harus bersiap, jika aku berleha-leha aku akan telat karena aku disini tidak membawa seragam beserta buku-buku ku."


"Kau sangat mengganggu," ujar Gallen dengan menutup pintu kamarnya dengan keras.


Blam


Siyyara terlonjak ketika Gallen membanting pintu kamarnya dengan kasar.


Siyyara menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan perasaan takutnya.


"Apa aku berlebihan? Kurasa tidak." Siyyara berusaha santai seolah tidak terjadi apapun diantara dirinya dan Gallen.


"Kurasa Gallen saja yang terlalu tempramen. Aku kan tidak salah."


"Cih, dasar Gallen pemalas."


*****


Livia mondar-mandir di pinggir jalan raya untuk menunggu bis atau angkot, tetapi hingga mendekati pukul 7, belum ada kendaraan sama sekali.


Livia telah was-was. Karena dia tidak ingin beasiswa nya di cabut karena dirinya telat menuju sekolahnya. Bukan lebay, tetapi Livia bisa bersekolah di Cendana Putih karena memang dia mendapat beasiswa karena kepintarannya, jika beasiswa nya di cabut, maka Livia tidak akan mampu membayar biaya sekolahnya.


"Hei! Ngapain masih disini? Kau bisa telat nanti."


Livia merona malu saat ada seseorang yang menghampirinya, orang itu adalah Tristan yang kebetulan melewati jalan itu.


"A-aku menunggu bis, tapi sedari tadi tidak ada yang lewat satu pun," ujar Livia dengan menunduk.


"Cepat naik."


"Ha?"


"Apa kau ingin telat? Cepat naik ke motor ku," jelas Tristan.


"Ayo cepat, Via. Kita bisa telat."


"I-iya," gugup Livia, karena ini untuk pertama kalinya mereka berangkat ke sekolah bersama, biasanya Tristan akan memaksa Siyyara agar berangkat bersamanya, tetapi Siyyara selalu menolak Tristan, hingga Tristan berakhir dengan berangkat sendiri.


Livia membonceng Tristan tanpa berpegangan hingga saat Tristan menarik gas nya, Livia tanpa sengaja langsung mengalungkan lengannya ke perut Tristan.


"Maaf, kau pasti kaget ya?" Tanya Tristan setengah berteriak.


"Ti-tidak apa-apa. Maaf juga karena memelukmu," ujar Livia dengan wajah yang memerah.


******


Gallen telah bersiap dengan semua peralatan kerjanya, dan saat dia keluar dari kamar, Gallen melihat Siyyara yang belum mandi dan masih mengenakan baju pemberian nya semalam. Siyyara duduk di depan TV yang sedang menayangkan berita tentang mereka berdua di acara Dies Natalis MIH tadi malam.


"Berita murahan," ujar Gallen.


"Kenapa kau belum bersiap? Bukankah tadi kau yang ingin cepat pergi ke sekolah?"


"Aku tidak mau ke sekolah."


"Why?"


"Aku tidak mau semua orang di sekolah memandangku aneh, mereka pasti telah mendengar berita itu. Aku tidak mau."


"Kau bukan tipe gadis penakut. Lalu mengapa kau takut di bicarakan oleh orang-orang?"


"Ck. Ini semua gara-gara kamu. Mengapa kau menyeretku ke dalam masalah pribadimu ha?"


"Karena aku ingin." Singkat padat dan tidak jelas. Itulah jawaban Gallen.


"Sebenarnya apa maksudmu? Kita tidak saling mencintai, lalu mengapa kau menyuruhku untuk menjadi pacarmu?"


"Karena aku ingin."


"Ingin? Ingin apa? Jawab yang jelas!" Teriak Siyyara setengah emosi.


"Kamu."


Kepala Siyyara pening saat mendengar jawaban Gallen.


"Oke terserah padamu, aku hanya ingin kau segera membersihkan namaku dari gosip-gosip murahan itu."


"Baiklah," jawab Gallen dengan santai dengan merogoh ponselnya dari saku celananya.


Siyyara masih berdiri di samping Gallen, karena Siyyara ingin tahu apa yang akan di lakukan Gallen.


"Halo, aku ingin kau mem-block semua stasiun televisi yang menayangkan berita itu. Jika mereka masih saja menanyangkan gosip itu, maka hancurkan semuanya tanpa sisa." Gallen segera mematikan ponselnya, dan menaruh ponselnya di tempat semula.


Siyyara bergidik saat mendengar Gallen mengancam seseorang dalam telepon. Dan apa katanya tadi? Hancurkan tanpa sisa? Wah, begitu hebatnya kah Gallen hingga di takuti oleh semua orang?


"Dia benar-benar mengerikan," pikir Siyyara.


"Sudah beres. Sekarang, cepatlah bersiap. Aku akan mengantarmu ke sekolah."


"Tidak, aku tidak mau. Mereka semua pasti sudah mendengar beritanya. Kau telat jika ingin menutup berita itu."


"Setidaknya aku telah berusaha," sahut Gallen.


"Pokoknya aku tidak mau ke sekolah."


Sekarang giliran Gallen yang dibuat frustasi dengan sifat menyebalkannya Siyyara.


"Siyya, kau jangan aneh-aneh, cepat bersiap. Aku banyak kerjaan hati ini."


"Ya udah, kalau banyak kerjaan sana pergi. Pokoknya aku tidak mau ke sekolah," kekeh Siyyara.


"Alasan utama?"


"Aku tidak mau dijadikan bahan omongan semua orang."


"Aku sudah mengeblock semua Chanel yang menayangkan gosip-gosip itu, lalu apa mau mu sekarang?"


"Ck, aku ingin disini dulu. Nggak ingin ke sekolah. Lagipula bolos sehari aja kan gak bakal buat otak ku beku."


"Iya, gak beku. Tapi konslet."


"APA? Berani sekali....."


"Sudahlah, hari ini aku sangat sibuk. Jika kau memang tidak ingin sekolah, tetaplah di apartemen. Jangan keluyuran kemana-mana," ujar Gallen dengan merapikan Jas dan memakai dasinya.


"Kerja lah, cari duit yang banyak. Biar kalau kamu minta yang aneh-aneh, kakak Gallen punya duit untuk memenuhi keinginan adek Siyya." Suara Gallen di buat semanis mungkin hingga membuat Siyyara seketika bergidik geli dan menampilkan ekspresi ingin memuntahkan isi perutnya.


"Menjijikan!"


"Hahaha."


Siyyara tertegun melihat Gallen yang tertawa lepas. Siyyara berfikir jika makhluk dingin dan kaku seperti Gallen tidak akan bisa tertawa renyah seperti ini.


"Kamu kesurupan?" Selidik Siyyara.


Gallen seketika menghentikan tawanya dan kembali berekspresi dingin, kali ini tatapan Gallen jauh lebih dingin dan datar dari sebelumnya.


"Ingat pesan ku. Jangan keluar dari apartemen ini. Jika kau butuh sesuatu, kau bisa menelfonku. Aku pergi."


Gallen segera menjauhi Siyyara yang masih mengedip-ngedipkan kedua matanya. Siyyara berdecak kagum dengan tingkah ajaib dari Gallen Damestria.


"Tadi pagi marah, lalu tadi tertawa, sekarang cuek lagi. Dasar manusia aneh," gumam Siyyara pelan.


******


Pria berjas hitam berjalan dengan gagah menuju rumah yang terbilang sangat mewah dan megah. Rumah itu seperti sebuah Istana, dimana pintu utama dari rumah itu di ukir menggunakan tinta emas.


Pria itu membuka pintu utama dengan diikuti para ajudannya yang bertugas mengawal dirinya hingga sampai ditempat tujuan. Meski Pria itu berusia 48 tahun, tetapi aura kewibawaan nya tidak pernah padam, meski rambutnya telah ditumbuhi uban, tetapi ketampanan dari pria itu tidak pernah luntur.


"Assalamualaikum," salam pria berjas hitam tersebut.


"Hm, wa'alaikumsalam. Akhirnya kau datang juga."


"Maafkan aku, Ayah. Aku selalu sibuk hingga tidak sempat datang kemari."


"Meski kau tidak sibuk, tapi kau selalu menyibukkan dirimu sendiri, Dave. Kau bahkan melupakan pria tua ini," ujar Ferdy Damares.


"Maaf." Sesal Dave.


"Aku mengundangmu atau lebih tepatnya memaksamu datang ke tempat ini karena ada yang ingin ku tanyakan. Dan ini mengenai cucu kesayangan ku."


Mr. Dave memijit keningnya yang sama sekali tidak sakit, jika sang Ayah sudah membahas tentang cucu kesayangan nya itu, maka dia harus bersiap-siap menerima pukulan dari Ferdy.


"Dave!"


"I-iya, Ayah."


"Mengapa kau biarkan cucu dari Arnol Damestria memacari cucuku?"


"Ayah, apa masalahnya?"


"Tentu saja ada masalahnya, Dave. Aku tidak terima jika cucunya Arnol memacari cucuku tanpa izin dariku. Jika saja Arnol masih hidup, sudah ku babat habis rambut gondrong nya itu." Ferdy terus saja mengomel sana sini, dan Dave hanya mengelus dada sabar untuk menghadapi Ayahnya yang sangat protektif kepada putrinya.


"Bukankah dahulu paman Arnol adalah teman baik Ayah? Kan ayah sudah paham mengenai Damestria, jadi biarkan mereka menikmati masa mudanya, Ayah."


"Tidak, Dave. Aku tidak terima jika cucunya Arnol memacari Siyyara tanpa meminta izin dariku. Lagipula kau kan ayahnya Siyyara, mengapa kau tidak becus memantau perkembangan putrimu sendiri?"


"Ayah tahu, setelah kehilangan Siena kau takut untuk pulang ke Indonesia, tapi kau juga melakukan kesalahan ketika kau tidak menjaga anak-anak mu sendiri, Dave. Bahkan kau menyuruh para Bodyguard untuk menjaga mereka. Apa bodyguard sewaanmu itu akan mengajarkan sopan santun kepada anak-anak mu? Tidak kan?"


"Ayah, apa yang membuat ayah marah? Jaga kesehatan jantung ayah. Marah sangat tidak baik untuk kesehatan Ayah."


"Kapan kau akan membawa Siyyara ke Berlin? Aku sudah sangat merindukannya."


"Untuk itu, aku tidak tahu, Ayah. Tetapi aku telah menyuruh Alvian untuk menemui ku di sini. Sebentar lagi Alvian akan sampai disini."


"Huft, Baiklah. Aku juga merindukan jagoanku Alvian. Pasti sekarang dia sangat tampan seperti seorang Pangeran."


"Haha, tentu saja Ayah," jawab Dave sombong, seolah ingin mengatakan kepada sang Ayah jika Alvian tampan dan gagah karena mewarisi ketampanan darinya.


"Dave, ayah memanggilmu kemari karena ada hal penting yang ingin Ayah sampaikan padamu," ujar Ferdy dengan nada lembut.


"Baik Ayah. Sebaiknya kita bicara di ruang kerja Ayah saja," jawab Dave.


Ferdy dan Dave pun memasuki ruangan kerja Ferdy untuk membahas sesuatu yang selalu mengganjal di pikiran mereka. Karena ruangan kerja Ferdy adalah ruangan kedap suara, maka Ferdy memanfaatkan hal itu dengan baik.


"Ada seseorang yang telah mengincar nyawa Siyyara." Suara Dave gemetar.


"Maka dari itu aku menyuruh Alvian yang saat itu sedang bertugas di Prancis untuk kembali ke Jakarta," jawab Dave cepat.


"Masalah utamanya, orang itu sedang berada di dekat Alvian sendiri, Dave. Aku hanya berharap semoga cucu-cucu ku baik-baik saja. Dan aku sangat tidak rela jika Siyyara yang harus menjadi korban balas dendam orang itu." Kedua mata Ferdy menajam dan kemarahannya kembali meledak.


Ferdy berpikir keras bagaimana caranya menangkap seorang pengecut yang sedang mengincar nyawa cucu kesayangannya, sungguh dia akan merasa kalah jika terjadi sesuatu kepada Siyyara.


"Dave?"


"Ada apa, ayah?"


"Mengapa Siyyara bisa mengenal Gallen? Apa yang dilakukan oleh Cucunya Arnol itu sehingga Siyyara bisa dekat dengannya?"


"Aku tidak tahu, ayah. Tapi aku selalu memantau Siyyara dari sini. Ayah tenang saja."


"Ku dengar Alvian pergi ke Tokyo. Lalu bagaimana dengan Siyyara?"


"Dia saat ini sedang ada di Apartemen Gallen Damestria, cucu dari paman Arnol."


"APA? Meski kau tahu putrimu menginap di tempat seorang pria yang bukan mahramnya, tetapi kau tetap membiarkannya? Dimana otakmu itu, Dave?" Ferdy berteriak tepat di depan wajah Dave.


Dave hanya menghela napas lelah. Dia berusaha memutar akalnya, agar Ayahnya itu tidak berteriak-teriak di Istana megahnya.


"Ayah, selama mereka bisa menjaga batas. Kurasa tidak masalah, lagipula apa yang bisa dilakukan oleh pria kaku seperti Gallen?"


"Tahu darimana kau jika Gallen itu pria kaku?" Selidik Ferdy curiga.


"Tentu saja karena Gallen adalah CEO dari Damestria, Ayah. Tanpa Gallen sadari, Gallen selalu bertemu denganku. Dan sifat pria itu sangat santun."


"Cih, santun apanya. Pasti dia sedang mencari muka di hadapanmu."


"Untuk apa ayah? Bahkan dia tidak tahu jika aku ini adalah orangtuanya Siyyara dan Alvian."


"Terserah kau saja. Aku hanya ingin dia menghadap kepadaku jika dia memang serius dengan cucuku."


"Ayah, bahkan Siyyara masih SMA kelas X. Bagaimana mungkin ayah memikirkan sebuah hubungan yang serius? Dia masih terlalu kecil untuk berumah tangga, Ayah."


"Sudahlah, Dave. Kau hanya membuat emosiku naik saja. Panggilkan Kakakmu, aku ingin berbicara dengannya."


"Hah, baiklah. Aku akan memanggil kak Harvi sebentar."


Dave keluar dari ruangan Ferdy dengan raut wajah lelah. Bicara dengan ayahnya memang membuang seluruh energinya. Dengan senyum setannya, dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi saudaranya yang bernama Harvi.


"Hallo, Dave."


"Kau disuruh Ayah untuk segera pulang." Dave tidak suka berbasa-basi jika berbicara dengan Harvi. Setelah selesai menyampaikan pesannya, Dave segera mengakhiri panggilannya.


"Dasar adik setan," umpat Harvi kasar.


******


Siyyara duduk manis di depan TV dan menggonta-ganti Chanel TV, dia ingin mencari sebuah hiburan yang menarik, tapi yang ia dapati hanyalah sisa-sisa gosip tentang dirinya dan Gallen.


Jika sudah seperti ini, maka Siyyara lebih baik mengunci diri di dalam Apartemen Gallen daripada menjadi bahan gosip para netizen Indonesia.


Meski semua netizen mendukung hubungan nya dengan Gallen, tetapi tetap saja ada netizen yang menjelek-jelekkan dirinya. Siyyara tidak marah akan hal itu, dia hanya tidak suka saja ketika hubungan yang tidak dia inginkan akan mengganggu kehidupannya dimasa mendatang.


"Aku harus memikirkan sebuah cara agar cepat terbebas dari Gallen. Tapi bagaimana?" Siyyara mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di dagunya.


"Ck, aku tidak bisa berfikir." Siyyara mengacak-acak rambut panjangnya.


"Aku harus melakukan kelicikan, dan aku harus berakting semaksimal mungkin agar Gallen tidak curiga."