The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
42. Khawatir



Setelah menyelesaikan penerbangnya, Brian langsung pulang ke Mansion keluarganya. Dia tidak ingin merasa sendiri saat hatinya sedang terluka. Rasanya kecewanya kepada Siyyara tidak bisa di bendung lagi, tetapi dia juga tidak bisa memaksa Siyyara untuk terus bersamanya.


"Brian, kapan kau pulang?" Tanya Mr. Sanu.


"Baru saja," jawab Brian singkat.


Mr. Sanu menyerngitkan dahinya ketika melihat wajah Putranya yang sedang tidak baik-baik saja.


"Ada apa? Katakan pada Ayah."


"Tidak ada. Brian dengar jika Ibu sedang ke Beijing, ada urusan apa, Yah?"


"Ibu mu hanya merindukan orangtuanya saja, sebenarnya dia ingin menunggu mu dan mengajakmu juga bersamanya, tetapi kamu sudah terlebih dulu pergi ke Indonesia."


Brian tersenyum hambar.


"Maafkan Brian, Yah."


"Tidak perlu meminta maaf. Kamu tidak memiliki salah pada Ayah," ujar Mr. Sanu dengan penuh wibawa.


"Ayah dengar jika Mr. Samuel memiliki rencana menculik Siyyara. Apa itu benar?" Tanya Mr. Sanu dengan nada serius.


Brian segera menoleh ke arah Ayahnya.


"Mr. Samuel? Maksud ayah, paman Samuel Calvert?" Tanya Brian lagi.


"Iya." Mr. Sanu menyandarkan punggungnya ke sofa dan wajahnya menengadah ke atas.


"Darimana ayah tahu? Itu pasti berita bohong."


"Mr. Ferdy sendiri yang mengatakan jika dia akan terang-terangan menghancurkan Calvert jika sampai Samuel benar-benar melakukan penculikan itu."


"Kenapa aku tidak tahu? Bahkan Siyyara tidak mengatakan apapun padaku," ujar Brian sedih.


"Seharusnya saat ini Mr. Dave sudah ada di Berlin untuk menghadiri pertemuan penting yang menyangkut tentang dokumen rahasia perusahaan. Dan mana Ayah tahu jika Samuel nekat ingin menyandra Siyyara, dan karena kasus tersebut, Mr. Dave membatalkan keberangkatan nya ke Berlin. Dan Mr. Ferdy murka karena batalnya meeting penting itu, selain itu pria tua itu juga sangat marah saat cucu tersayang nya di culik oleh Samuel. Meski rencana Samuel sudah gagal karena dia ketahuan oleh pengusaha muda yang sangat berpengaruh di Asia dan Eropa."


"Aku merasa jika saat ini ayah sangat khawatir. Katakan padaku, apa ada hal lain yang tidak ku ketahui?" Tanya Brian menuntut.


"Karena Samuel masihlah memiliki hubungan saudara dengan kita, maka Mr. Ferdy langsung mencurigai kita, dan kau tahu apa akhirnya?" Mr. Sanu tersenyum kecut saat mengingat ancaman pria tua Damares itu.


"Dia pasti mengancam akan semakin membuat kita gulung tikar?" Tebak Brian.


"Iya, tetapi kau tenang saja. Ayah akan berusaha semampu ayah untuk menjelaskan semuanya kepada Mr. Ferdy."


"Apa Mr. Dave juga turut adil dalam penindasan ini, Yah?"


Dan dijawab gelengan kepala oleh Mr. Sanu.


"Dave bukan orang yang secara terang-terangan membuat masalah seperti Ayahnya. Dia pria yang tenang dan licik. Meski begitu, dia tidak akan sanggup untuk menghancurkan perusahaan kita yang sudah diambang batas. Tanpa mereka harus mengotori tangannya juga perusahaan kita akan tenggelam, Brian."


"Dan keluarga Damares selalu mencurigai kita karena mereka berpikir jika bisa saja Samuel menolong kita dari kehancuran dengan syarat kita membantunya menghancurkan Damares. Mana mungkin kita mampu menghancurkan perusahaan raksasa itu? Dan meski Samuel berusaha sekuat tenaga, itu akan sia-sia saja, karena sekutu Damares bukan pebisnis biasa."


Brian memijit pangkal hidungnya.


"Aku sudah mengakhiri hubungan ku dengan Siyyara, Yah," ujar Brian dengan serius.


"Itu kabar yang bagus. Setidaknya kau tahu diri untuk tidak menjalin hubungan dengan orang besar seperti mereka, karena mereka hanya akan menginjak harga diri kita sedalam-dalamnya. Ayah bangga padamu karena kamu sudah mengambil keputusan yang tepat," ujar Mr. Sanu seraya menepuk pundak putranya dengan pelan.


Mr. Sanu segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan Brian di ruang tamu sendirian.


Setelah kepergian ayahnya, Brian merenung dan mengingat masa-masa nya bersama Siyyara.


"Kau benar, Yah. Lebih baik jika aku tidak berurusan lagi dengan mereka. Tetapi aku tidak bisa jika kau yang harus menanggung akibat perbuatan paman Samuel. Orang itu harus bertanggung jawab karena membuat kekacauan di hidup kita." Brian menggeram murka.


*****


"Daddy, Siyyara tidak apa-apa. Di sini banyak penjaga dan juga ada kak Alvian. Siyyara akan baik-baik saja. Bukankah seharusnya Daddy harus pergi ke Jerman?"


"Daddy khawatir padamu, sayang. Bahkan meski mereka tahu jika Daddy ada di rumah, mereka tetap berani ingin membawamu," ujar Dave.


"Dad, semua ini salah Siyyara. Siyyara yang sengaja ingin pergi malam itu, tetapi Siyyara malah bertemu mereka." Siyyara berusaha membujuk Daddy-nya agar tidak terlalu mengkhawatirkan nya.


"Lagipula Daddy sudah menunda penerbangan Daddy saat kita pulang dari Mansion Damestria kan, Dad? Siyya bukan anak kecil lagi yang harus tumbuh di bawah pengawasan Daddy. Bahkan dulu saat Siyyara masih kecil, Daddy lebih mementingkan pekerjaan Daddy ketimbang memperhatikan Siyyara," ujar Siyyara dengan wajah cemberut.


Mr. Dave terdiam. Dia menyadari kesalahannya yang dulu. Dia tidak pernah menginjakkan kakinya di kota Jakarta dan menelantarkan putri kecilnya, dia selalu menyuruh para pelayan nya untuk mengasuh Siyyara.


Dia tidak pernah berani datang ke Indonesia karena dia takut jika dia tidak bisa melupakan mendiang Istrinya. Dan saat itu dia masih ingat, dia juga meninggalkan Alvian yang berusia 10 tahun, bahkan saat itu Alvian menelponnya menggunakan ponsel bodyguard nya, karena Alvian merindukan nya, tetapi Dave tidak pernah menghiraukan Alvian.


"Maafkan, Daddy," ucap Dave tulus. Bahkan air matanya menetes, di sungguh menyesal, dia menyesal karena tidak bisa menyaksikan perkembangan putra-putrinya sendiri. Justru para pelayan lah yang mengerti semua tentang anak-anaknya.


"Dad? Kenapa menangis?" Siyyara segera mendekati Daddy nya.


"Jangan menangis, Dad. Siyya minta maaf. Siyyara tidak bermaksud-"


"Tidak, sayang. Seharusnya Daddy yang minta maaf. Daddy tidak pernah memperhatikan mu saat kamu membutuhkan perhatian Daddy. Daddy minta maaf," ujar Dave sendu.


Siyyara langsung memeluk Daddy nya dengan erat. Dia memang sempat meragukan kasih sayang Daddy nya, tetapi itu dulu. Sekarang dia paham betapa menderitanya Daddy-nya saat berjauhan dengan nya dan juga kakaknya Alvian.


"Siyya sayang Daddy."


"Daddy juga sayang Siyyara, sangat. Kamu adalah berlian Daddy, tidak akan Daddy biarkan seseorang menyakiti mu, nak." Dave mengelus kepala Siyyara dengan lembut dan memberi tatapan meneduhkan untuk Siyyara.


"Dad, boleh Siyyara tanya?"


"Silahkan, sayang."


"A-apakah Daddy bersungguh-sungguh ingin menjatuhkan Gallen?" Tanya Siyyara.


Dave terkejut bukan main, darimana putri nya tahu jika dia berniat ingin menghancurkan Gallen?


"Sayang, apa yang kau bicarakan?"


"Jawab Dad. Apakah benar?" Tanya Siyyara menuntut.


"Iya, Daddy memang berkeinginan untuk menghancurkan Gallen, karena dia sudah berani menghina putri ku di depan mata kepalaku sendiri."


"Siyya, jangan bilang saat kamu melarikan diri dari rumah, saat itu kamu mendengar percakapan Daddy?"


"Iya, aku mendengar semuanya, karena saat itu Siyyara hanya berpura-pura tidur. Siyyara tidak ingin Daddy menjatuhkan kak Gallen dengan cara yang tidak benar. Siyyara tidak ingin Daddy melakukan hal kotor seperti itu. Makanya Siyyara pergi dari rumah untuk memberitahu Tante Amanda tentang semuanya." Siyyara menjelaskan semuanya hingga membuat Dave menghela napas.


"Kamu membuat Daddy takut, sayang."


Mr. Dave memperhatikan Siyyara dengan seksama.


"Apa kamu tidak merasa benci dengan Gallen, setelah apa yang dia lakukan padamu?" Tanya Mr. Dave.


"Tidak, Dad. Saat itu kak Gallen pasti merasa lelah, sehingga dia bisa berkata seperti itu. Siyyara sudah pernah bertemu dengannya di pesta pernikahan kakak, dan dia tipe pria yang sangat menghormati wanita. Dia juga tipe pria yang tenang." Siyyara tersenyum seraya mengungkapkan semua pendapat nya tentang Gallen.


"Apa kamu mencintai nya?" Tanya Mr. Dave langsung.


Siyyara tersentak mendengar ucapan Daddy-nya.


"Hahahaha. Daddy bercanda."


Siyyara cemberut dan juga malu. Entah mengapa wajahnya terasa panas. Dan pasti wajahnya saat ini merona merah.


"Daddy!"


*******


"Alan, aku membutuhkan bantuan mu."


Alan menaikkan sebelah alisnya. Setelah sekian purnama akhirnya sahabatnya yang menyebalkan itu datang menemuinya secara langsung. Biasanya Gallen selalu memerintahkan dirinya melalui panggilan telfon, bahkan tidak ada ucapan terimakasih sama sekali.


"Ada apa?" Tanya Alan dengan malas.


"Sebenarnya,-'


"Langsung intinya saja," ujar Alan dengan gaya Bossy.


"Ck, setelah ku tinggal beberapa Minggu, sekarang kau seperti pemilik Rumah sakit ini, ya?" Sindir Gallen kesal.


"Hahaha! Slow, Brother." Alan tertawa terbahak-bahak.


"Stop!" Geram Gallen.


"Baiklah, sekarang katakan padaku, nak." Alan membuat Gallen ingin muntah saat mendengar suara Alan yang menggelikan menurut Gallen.


"Berhenti, Alan. Kau membuatku ingin muntah sekarang juga."


"Apa kau hamil?" Tanya Alan pura-pura syok.


"Jangan salahkan aku jika besok nama mu akan hilang dari sini, Alan," ancam Gallen.


"Kau ini tidak seru. Ya udah cepat katakan. Ada apa?"


"Aku ingin kau membantuku menyelidiki seseorang," ujar Gallen.


"Ya Tuhan, setelah kau membuat ku bekerja disini non-stop, sekarang kau memintaku menjadi detektif? Jika begini, kapan aku nikah?"


"Berani membantah?" Wajah Gallen seperti Singa yang sedang kelaparan.


"Huh, baiklah. Tapi ada syaratnya," ucap Alan.


"Apa?"


"Carikan aku gadis cantik dan seksi," jawab Alan dengan tersenyum manis.


"Kau cari saja di rumah bordil," sahut Gallen enteng.


"What?"


"Cepat laksanakan tugasmu."


"Kau sungguh menyebalkan Gallen. Awas saja kau!" Geram Alan, dan Gallen langsung pergi tanpa mengatakan apapun lagi, meninggalkan Alan yang sedang murka di ruangannya.


*******


Gallen berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan perasaan tenang. Saat dia berjalan, semua perawat perempuan yang melewati lorong yang sama dengan Gallen, mereka memekik senang. Tak hanya perawat, para pengunjung pun terpesona dengan dokter sekaligus pemilik rumah sakit yang memiliki wajah tampan bak dewa Yunani. Gallen sebenarnya menyadari tingkah mereka semua, tetapi Gallen dengan tenang menutupi ekspresi nya dengan wajah datar andalannya.


"Gallen!" Panggil seseorang yang membuat langkah kaki Gallen berhenti.


"Kinan?"


"Gallen, apa kabar? Sudah lama kau tidak pernah kesini."


"Iya, aku sangat sibuk dengan urusan kantor. Ada apa? Apa Aira baik-baik saja?" Tanya Gallen.


"Dia baik, tetapi dia sering menanyakan tentang dirimu."


"Aku akan berkunjung ke apartemen mu jika ada waktu."


Kinan tersenyum sambil mengangguk.


"Aku harus segera pergi sekarang," ujar Gallen. Kinan mengangguk untuk mempersilahkan Gallen melanjutkan langkahnya.


Gallen membalikkan badannya saat tidak ada yang ingin dikatakan Kinan lagi.


"Gallen," panggil Kinan saat Gallen ingin pergi.


"Iya?"


"Jaga kesehatan mu," ujar Kinan dengan nada lembut.


"Terimakasih," jawab Gallen seperlunya. Dia pun segera meninggalkan tempat itu.


"Apa tidak ada kesempatan ku untuk memilikimu, Gallen?" gumam Kinan pelan setelah Gallen menjauh darinya. Kinan tahu, setelah Siyyara salah paham tentang dirinya dan Gallen, Gallen selalu menjaga jarak dengannya. Tetapi meski begitu, Gallen masih menyayangi Aira layaknya putri nya sendiri, dia juga mengabulkan semua keinginan Aira saat Aira meminta sesuatu.


"Semoga kau mendapatkan kebahagiaan mu, Gallen."