The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
14. Perasaan baru



"Alhamdulillah," ujar Rizki saat Monitor menunjukkan garis bergelombang, yang menandakan denyut jantung Siyyara telah kembali.


"Huft." Mikel menghembuskan napas leganya, dia mengusap keningnya yang telah dipenuhi keringat dingin.


"Keluar lah, dan beritahukan kondisi nona Siyyara kepada Dokter Gallen," ujar Rizki. Mikel mengangguk dan langsung keluar untuk menemui Gallen yang masih duduk di kursi tunggu.


******


"Apa Siyyara baik-baik saja?"


"Aku belum tahu, dokter belum juga keluar. Tetapi melihat raut wajah mereka yang sedang panik, aku tahu jika kondisi Siyyara sedang tidak baik."


Alvian menggigit bibirnya guna menahan rasa sesak di dalam dadanya.


"Apa kau benar-benar mencintai Siyyara?" Tanya Alvian, setelah teringat pembicaraan mereka beberapa saat yang lalu.


"Iya."


"Tapi aku menyuruh mu menjaganya, bukan mencintainya." Alvian melirik ke arah Gallen, dia penasaran ekspresi apa yang akan ditunjukkan Gallen saat ia membahas masalah itu.


"Iya, dan perasaan sayangku kepada Siyyara tumbuh begitu saja tanpa ku sadari." Gallen menundukkan kepalanya.


"Aku tidak akan sanggup untuk kehilangannya," lanjut Gallen dengan nada lirih.


"Tapi kau harus siap kehilangan nya," sahut Alvian.


Gallen menoleh ke arah Alvian dengan cepat. Dia tidak terima dengan ucapan Alvian yang  seolah-olah ingin memisahkannya dengan Siyyara.


"Apa maksudmu?" Tanya Gallen dengan wajah menahan amarah. Alvian hanya diam, tak tertarik menanggapi kemarahan sahabatnya.


"Permisi, dokter Gallen." Suara Mikel membuat kemarahan Gallen pudar.


"Mikel, gimana dengan keadaan Siyyara? Dia baik-baik saja kan?" Tanya Gallen beruntun.


"Kondisinya sudah stabil, dia bisa melewati masa kritisnya dengan baik."


"Syukurlah," jawab Alvian.


"Terimakasih, Mikel." Gallen tersenyum kepada Mikel dengan tulus.


"Itu sudah kewajiban saya, Dok. Dokter juga pasti akan melakukan hal yang sama ketika berada diposisi saya, atau mungkin dokter dapat melakukan hal yang lebih dari yang saya lakukan," tukas Mikel. Gallen hanya menanggapi perkataan Mikel dengan senyuman tipis.


"Saya tinggal dulu, dok. Karena saat ini ada pasien yang perlu saya tangani," ujar Mikel.


"Silahkan," jawab Gallen.


"Gallen," panggil Alvian setelah melihat kepergian dokter Mikel.


"Apa kau tahu siapa pelakunya? Atau mungkin kau memiliki musuh yang ingin menghancurkan mu?"


Gallen membalikkan badan dan menghadap ke arah Alvian.


"Aku sedang mencurigai seseorang, aku akan menyelidiki kasus ini," jawab Gallen dengan tegas.


"Baguslah, kau memang harus melakukan hal itu, karena saat ini semua orang tahu jika Siyyara adalah kekasihmu. Aku tidak ingin adikku mengalami nasib seperti ini lagi."


"Oh ya, aku datang kemari bersama seseorang, apa kau ingin bertemu dengannya?" Tanya Alvian serius.


"Siapa?" Tanya Gallen dengan nada bergetar, entah mengapa nalurinya mengatakan jika dia akan bertemu dengan seseorang yang berpengaruh dalam hidupnya.


******


Cklek


Tap tap tap


Suara langkah kaki terutama terdengar jelas karena ruangan itu sangat sunyi, hanya terdapat suara monitor yang mendeteksi detak jantung seseorang yang tengah berbaring lemah.


"Siyya, bangunlah." Suara orang itu terdengar sangat lirih.


"Maafkan aku, kau seperti ini karena diriku." Dia menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.


"Bangunlah, aku rindu dengan ocehan mu."


"Apa kau tahu? Aku memiliki rahasia hati, dimana aku tidak bisa mengungkapkan nya disaat kamu sadar. Dan hari ini akan aku katakan rahasia itu, akan aku katakan bahwa AKU MENCINTAIMU, kamu mungkin tidak akan percaya, tapi itulah kenyataannya. Kamu adalah gadis pertama yang mencuri hatiku," ungkap Gallen di selingi tawa kecil.


"Sejak kapan aku jadi banyak bicara seperti ini? Pasti aku sudah ketularan virus ocehanmu." Gallen kembali tertawa kecil.


"Aku memaksamu menjadi kekasihku, karena aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku. Aku bukan pria yang penuh keromantisan seperti yang semua wanita inginkan. Tapi aku akan mengabulkan semua keinginan mu jika kamu meminta sesuatu kepadaku."


"Aku telah membelikan toko Pizza yang kau inginkan atas namamu. Sekarang, toko itu adalah milikmu. Kamu akan puas memakan Pizza disana sesukamu," ujar Gallen dengan mengulum senyum.


Gallen mengambil tangan kanan Siyyara, dia pun mendaratkan ciuman di punggung tangan Siyyara dengan lama. Dia ingin menyalurkan semua perasaannya kepada Siyyara.


Saat Gallen masih menempelkan bibirnya ke punggung tangan Siyyara, dan tiba-tiba jari Siyyara bergerak dengan pelan.


Gallen menyadari hal itu dan segera dia meletakkan tangan Siyyara ke tempat semula. Gallen memperhatikan ekspresi wajah Siyyara dengan baik, dia melihat kelopak mata Siyyara bergetar, yang menandakan sebentar lagi Siyyara akan membuka matanya.


"Aghh," Siyyara mengerjapkan matanya pelan, berusaha memfokuskan penglihatannya.


"Kamu sudah sadar?"


Siyyara segera menoleh ke samping kanannya, dan dia terkejut saat melihat Gallen sudah duduk manis disana.


"KAU!"


"Apa?" Tanya Gallen enteng.


"Ngapain kesini?" Siyyara melihat sekelilingnya dengan jeli, dan dia baru menyadari jika dia sedang ada di Rumah sakit.


"Tentu saja menunggumu sadar, apalagi?"


"Aku tidak butuh di jaga olehmu," ujar Siyyara jengkel.


"Ya sudah, aku pergi." Gallen bangkit dari duduknya dan segera melangkah ke pintu keluar.


"Tu-tunggu, kau mau kemana?"


"Bukankah kamu yang meminta, agar aku pergi?"


"Ck, Ya sudah sana pergi jauh, dan jangan kembali lagi!" Teriak Siyyara menahan rasa emosinya.


Mendengar teriakan Siyyara yang seperti itu, Gallen tersenyum tipis, dia segera kembali mendekati Siyyara dan duduk di tepi ranjang Siyyara.


Siyyara gugup saat Gallen kembali mendekat dan duduk di samping nya. Kedua mata Siyyara membola saat Gallen membungkukkan badannya hingga membuat jarak wajahnya dan Siyyara semakin dekat


"Jangan merindukan ku," ujar Gallen lagi.


"Tidak akan! Cepat pergi sana." Siyyara memalingkan wajahnya ke arah lain karena jantungnya berdetak kencang dan tiba-tiba wajahnya memanas.


"Baiklah, aku pergi."


Blam


Setelah mendengar suara pintu tertutup, Siyyara memastikan jika Gallen benar-benar sudah keluar dari ruang inapnya.


"Apa aku sekarang memiliki penyakit jantung?" Tanya Siyyara pada dirinya sendiri saat merasakan Jantungnya berdetak kencang.


*******


"Via, apa Siyya sudah masuk?" Tanya Tristan saat dia bertemu Livia di depan kelas Livia.


"Belum, aku juga khawatir dengan nya, meski sebelum-sebelumnya dia sering bolos, tapi tidak sampai berhari-hari. Dia seperti hilang begitu saja tanpa ada kabar," ujar Livia.


Tristan mencerna apa yang Livia katakan, dan Tristan juga khawatir, takut jika gadis itu kenapa-napa. Jika mengingat Siyyara, Tristan jadi teringat dengan Kakaknya Gallen, Gallen juga tidak pulang ke rumah selama beberapa hari, sejak menggelar acara Dies Natalis MIH.


"Apa Siyyara sedang bersama kak Gallen?" Gumam Tristan, tetapi gumaman nya terdengar di telinga Livia.


"Apa? Apa maksudmu, Tristan?" Livia penasaran, siapakah Gallen? Dan mengapa Tristan berkata seperti itu.


"Apa kau tidak pernah melihat siaran berita?"


Livia menggeleng polos. Dia tidak pernah melihat tv sama sekali, karena hidupnya ia gunakan untuk belajar dan belajar.


"Hey, apa kalian tahu? Ada kasus pembunuhan di Restoran Mr. Ice. Jika dilihat-lihat korbannya mirip Siyyara," ujar salah satu siswi yang lewat. Dan ucapan siswi itu terdengar oleh Tristan dan Siyyara.


"Hust, jangan bicara seperti itu, itu kan hanya mirip. Lagipula diberita wajah korbannya tidak terlihat. Mungkin kau mengatakan hal itu karena ada Gallen Damestria kan?"


"Gallen Damestria itu siapa?"


"Ya ampun, masa kamu tidak tahu? Gallen itu pengusaha muda yang sangat terkenal, bahkan fotonya selalu ada di majalah Internasional, kamu ini kemana saja sih?" Seru salah satu siswi lainnya.


"Kalau menurutku, korban itu adalah Siyyara, karena jelas disana ada Gallen juga. Memangnya untuk apa Gallen repot-repot menolong orang yang tidak ia kenal. Dia itu sangat cuek dan dingin."


"Ya siapa tahu saja, Gallen memang sedang membantu orang lain, kita kan tidak tahu."


"Terserah lah, ayo kita ke kantin. Mumpung bel masuk kelas masih lama," ajak siswi itu kepada teman-teman nya.


Livia dan Tristan mendengarkan apa yang mereka semua bicarakan, mereka berdua diam tanpa bergerak, saat gerombolan siswi itu menggosip, apalagi gosipnya tentang orang yang mereka cari dan khawatirkan. Dengan segera Tristan mengambil ponselnya dan membuka internet.


"Benar," gumam Tristan.


"Apa, Tristan? Yang mereka bicarakan tidak benar, bukan?"


"Aku tidak tahu korbannya, tetapi disana ada Kak Gallen. Aku akan menghubungi kak Gallen untuk meminta penjelasannya," ujar Tristan.


Livia hanya mengangguk, gadis itu berdoa agar Siyyara baik-baik saja, dia tidak ingin sahabat baiknya sampai kenapa-napa.


"Halo, kak. Kakak ada dimana?" Tanya Tristan cepat.


"Kakak sedang ada di Kantor, mungkin hari ini kakak tidak akan pulang ke rumah dulu, karena kakak harus ke Rumah sakit."


"Kak, aku sudah melihat berita. Siapa gadis yang kakak tolong itu?"


"Dia adalah Siyyara."


"A-apa? Kakak bercanda?"


"Kakak berkata benar. Tetapi kau tenang saja, saat ini Siyyara sudah membaik kondisinya. Dia dirawat di MIH."


"Syukurlah jika begitu."


"Baiklah, kakak tutup telfonnya. Jaga dirimu baik-baik."


"Iya kak," jawab Tristan.


"Bagaimana, Tristan?" Tanya Livia saat Tristan sudah selesai menghubungi kakaknya.


"Benar, dia adalah Siyyara," ujar Tristan.


"Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa Siyya bisa mengenal kakakmu?"


"Dan ada hubungan apa kakakmu dengan Siyyara?"


"Mereka berpacaran, sejak kapan aku tidak tahu."


Livia terkejut saat mendengar jawaban Tristan.


"Bagaimana mungkin?" Suara Livia tercekat. Dia tidak menyangka jika Siyyara bisa menjalin hubungan dengan seseorang. Bahkan Livia tahu jika Siyyara tidak tahu makna cinta. Lalu bagaimana dengan perasaan Tristan saat mengetahui hubungan kakaknya dengan Siyyara? Gadis yang dicintainya ternyata menjalin hubungan dengan kakaknya sendiri.


"Tristan, apa kau tidak apa?" Livia menyentuh pundak Tristan.


"Apa maksudmu?"


"Apa kau tidak sedih ketika mendengar Siyyara sudah memiliki pacar? Apalagi pacarnya ternyata adalah kak Gallen."


"Tentu saja aku tidak apa-apa. Perasaanku tidaklah penting."


Livia semakin tidak enak hati, tetapi Livia juga tidak ingin melihat kesedihan di wajah Tristan.


"Apa kak Gallen tahu jika kau mencintai Siyyara?" Tanya Livia penasaran.


"Tidak, aku tidak ingin kak Gallen merasa bersalah. Jika mereka saling mencintai, maka biarlah mereka bersama. Aku tidak akan mengungkit perasaanku di hadapan mereka, karena mereka sangat berarti bagiku."


"Kau benar. Tristan, aku ingin menjenguk Siyyara," ujar Livia.


"Baiklah, seusai sekolah, datanglah ke tempat parkiran. Aku akan menunggumu disana, kita akan berangkat bersama," ujar Tristan. Livia menjawab dengan anggukan kepala. Membayangkan pergi bersama Tristan, membuat pipi Livia bersemu merah.


"Ayo kita ke kantin," ajak Tristan.


"Ah, tidak. Aku sudah membawa bekal, jika aku makan di kantin maka bekalnya akan mubazir."


"Kau bawa saja bekalmu ke kantin, dan temani aku makan, sekalian aku akan mentraktir mu yang lainnya. Seperti Ice cream misalnya," ujar Tristan.


"Ck, sudahlah. Aku tidak suka Ice Cream, aku bukan anak kecil," seru Livia menahan rasa malunya, tetapi rona merah yang ada di pipinya terlihat jelas, bahkan Tristan melihat hal itu.


Tristan tersenyum tipis, selama ini dia tidak pernah memperhatikan Livia, karena perhatiannya hanya terpaku pada Siyyara saja. Dan hari ini saat dia menggoda Livia, entah mengapa perasaanya terasa nyaman.