The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
36. Hancur



"Aaagggghhhh!"


Gallen berteriak sepuasnya di dalam apartemennya, dia meluapkan segala emosinya dengan memukul kaca tolet dan membanting semua benda-benda yang ada di apartemennya, hingga dalam sekejap apartemen itu seperti kapal pecah.


"Kenapa kau lakukan ini padaku?"


"Apa kau ingin balas dendam? KAU TIDAK PERNAH MENGERTI TENTANG PERASAANKU PADAMU SIYYA!"


"DULU KAU TELAH BERHASIL MEMBUAT HIDUPKU BERANTAKAN, DAN SEKARANG KAU JAUH LEBIH MERUSAK KEHIDUPAN KU SIYYA!"


"KENAPA?


"KENAPAAAA?"


CETAR!


BRAK!


"BRENGSEKKK!"


CETARR!


Gallen benar-benar merusak semua benda yang ada di dalam apartemennya, entah itu TV, meja kaca, guci, dll.


Dia seperti kerasukan setan, rasa sakit yang dia pendam membuatnya seperti orang kalap. Sekarang tidak ada Gallen yang penuh kelembutan, yang ada sekarang adalah Gallen dengan sejuta kebencian dan kemarahan.


**


"Astaghfirullah." Mr. Nara mengelus dadanya saat pertama kali melihat kekacauan di apartemen tuan mudanya.


"Tuan muda," panggil Mr. Nara yang berhasil memasuki apartemen Gallen. Gallen memang sengaja memberi tahu password Apartemennya kepada Mr. Nara, agar jika Gallen membutuhkan sesuatu atau mungkin berkas pentingnya ketinggalan di Apartemen, Mr. Nara dapat mengambilkan nya untuknya.


"Tuan muda?" Panggil Mr. Nara setelah melihat ruang tamu yang sangat berantakan dan penuh pecahan kaca.


Mr. Nara segera menuju ke kamar Gallen, dia takut jika Gallen melakukan hal yang nekat.


Tok tok tok


"Tuan Muda."


"Tuan muda, apakah saya boleh masuk?" Mr. Nara terus mengetuk pintu kamar Gallen yang tertutup rapat.


Tidak ada jawaban apapun dari dalam, dan hal itu membuat Mr. Nara sangat khawatir. Dia pun kembali mengetuk pintu kamar Gallen lebih keras lagi.


"Tuan muda?"


"Tuan muda! Tuan, tolong buka pintunya."


Tok tok tok


Tok tok tok


"Tuan muda?"


Tetap tidak ada jawaban dari dalam, Mr. Nara segera mencari kunci cadangan yang selalu disimpan Gallen di dalam ruang kerja yang berada tepat di sebelah kamarnya.


Setelah menemukan kunci itu, Mr. Nara segera menuju ke kamar Gallen, dia segera membuka pintu kamar itu dengan tergesa-gesa. Napasnya naik turun tidak beraturan, baginya nyawa tuan mudanya jauh lebih penting ketimbang nyawanya sendiri.


Cklek


Pintu berhasil dibuka oleh Mr. Nara, dan Mr. Nara diam tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri, setelah melihat apa yang terjadi di dalam kamar tuan mudanya.


Mr. Nara menahan napas beberapa detik, dia berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Karena sebelum dia pergi ke pesta sahabat nya dia dalam keadaan baik-baik saja, bahkan dia terlihat sangat ceria. Lalu sekarang? Apa yang terjadi?


*******


Dave menatap Alvian dengan tajam, dia seperti ingin merobek dada Alvian sekarang juga.


Brak


Alvian berjingkrak kaget, sedangkan Maira sekuat tenaga menahan napasnya. Meski dia takut dengan kemarahan ayah mertuanya, tetapi dia ingin mendampingi suaminya, dia tidak ingin ayah mertuanya kalap dan menghajar Alvian dengan berlebihan.


"Jelaskan!" Ucap Dave dengan nada dingin dan penuh penekanan.


"Apanya, Dad?" Tanya Alvian santai.


Dia terbiasa dengan gertakan Daddy nya, meski nantinya Dave akan membanting Guci di depannya atau mungkin menembak kan pistol tepat di samping kepalanya, Alvian tidak akan takut, karena Alvian tahu, meski Daddy nya terlihat galak dan menakutkan, Daddy nya tidak akan tega membunuh anaknya sendiri.


"Kau masih bertanya?"


"Aku bertanya karena aku tidak tahu kesalahan ku, Dad."


Maira melirik dengan takut-takut ke arah Alvian dan juga Dave. Maira mengutuk kebodohan suaminya yang selalu saja bisa membangkitkan kemarahan Ayah mertuanya.


Dave menggeram marah, matanya melotot dan suara gemeletuk giginya terdengar jelas di telinga Alvian.


"Kenapa adikmu menangis? Dia juga tidak mau makan. Dan apa yang sudah kau katakan padanya?" Dave berbicara langsung pada intinya.


"Mungkin dia lagi patah hati," jawab Alvian sekenanya.


"Patah hati?"


"Hm."


"Dengan siapa?" Tanya Dave penasaran. Setahunya, Siyyara tidak pernah menjalin hubungan dengan lelaki manapun kecuali Gallen, anak sahabatnya.


Dan saat ini posisi Siyyara sedang hilang ingatan, apakah Siyya sudah mengingat Gallen?


"Dengan anaknya Sanu Regan," jawab Alvian malas.


Dave melotot tidak percaya.


"Jangan mengada-ada, Al. Kalau tidak, aku akan-"


"Kalau Daddy tidak percaya, Daddy bisa tanya langsung ke orangnya. Dia saat ini menangis karena aku melarang nya berhubungan dengan anak dari musuh bisnis Daddy. Daddy seharusnya berterima kasih kepadaku karena aku sudah melarang Siyyara berhubungan dengan Brian itu," ujar Alvian.


"Siapa tahu saja, si Brian itu sengaja di suruh Sanu untuk mendekati Siyyara, agar hubungan bisnis Regan dan Damares kembali membaik. Aku sarankan, lebih baik Daddy juga melarang mereka berdua, karena Brian hanya memanfaatkan Siyyara saja," lanjut Alvian.


"Darimana kau tahu?" Tanya Dave lagi.


"Apanya, Dad?"


"Darimana kau tahu jika Brian mendekati Siyyara hanya karena masalah bisnis?"


"Kau itu sama saja dengan memfitnah seseorang, Al," ujar Dave dengan sinis.


"Daddy membela Brian? Jangan bilang jika Daddy mengizinkan Brian untuk mendekati Siyyara." Alvian menatap Dave dengan tatapan tidak percaya.


"Kau fikir aku akan membiarkan seseorang mendekati Siyyara tanpa ku uji dulu? Siyyara itu berharga, tidak akan ku biarkan orang rendahan mendekati nya, seorang gadis Damares harus mendapatkan pasangan yang layak," celetuk Dave dengan nada sombong.


"Kalau Daddy berbicara tentang materi, Gallen adalah pilihan utama, dia sudah mapan di usianya yang sekarang."


"Aku tidak pernah memandang seseorang dari segi materi. Aku lebih mengutamakan tentang kesetiaan dan ketulusan. Orang yang boleh mendekati Siyyara, dia harus benar-benar mencintai Siyyara dengan tulus, dan dia harus mau mengorbankan nyawanya disaat sesuatu sedang terjadi kepada Siyyara," jelas Dave.


Alvian hanya menghela napas lelah, dan membiarkan Daddy nya bertindak semau dirinya sendiri.


"Terserah Daddy lah," serah Alvian.


Sedangkan Maira hanya diam, dia begitu takjub dengan keluarga Damares, keluarga Damares sangat menghormati seorang perempuan, dan Siyyara lebih di prioritaskan di bandingkan dengan yang lainnya karena dia seorang perempuan. Bahkan dirinya pun di sayang oleh Ferdy dan Dave seperti mereka menyayangi Siyyara. Meski rasa sayang mereka tidak sebesar saat mereka menyayangi Siyyara, tetapi itu bukan masalah bagi Maira. Maira paham karena Siyyara adalah satu-satunya gadis yang bertitle Damares, dia juga putri seorang Milyarder. Tentu saja keselamatan nya sangat dijaga oleh keluarganya.


"Bujuk adikmu agar mau makan, dan katakan padanya jika besok pagi kita akan ke rumah Damstria."


Alvian dan Maira mengangguk mengerti.


"Tapi, Dad."


"Ada apa?" Dave menaikkan sebelah alisnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Tante Amanda dulu, Dad? Bahkan saat pertama kali melihat Daddy, Tante Amanda meminta maaf dan menangis," tanya Alvian dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Bukan apa-apa. Itu hanya masa lalu saja. Sebaiknya kalian beristirahat, ajak istri mu beristirahat. Dia pasti kelelahan," ujar Dave mengalihkan pembicaraan. Setelah mengatakan kalimat itu, Dave segera meninggalkan Alvian dan Maira di ruang tamu.


Alvian diam tak menjawab, dia menatap Daddy-nya dengan pandangan menyelidik. Alvian tahu jika Daddy nya sedang menyembunyikan sesuatu kepadanya. Tapi apa? Sepertinya Alvian harus menjadi detektif untuk memecahkan rasa penasarannya.


"Mas, ada apa?" Maira menepuk pundak Alvian dengan pelan.


"Tidak, ayo sebaiknya kita istirahat. Kamu pasti lelah kan?" Ajak Alvian. Alvian menggandeng tangan Istrinya dengan mesra.


"Iya, Mas."


******


"Tuan muda," panggil Mr. Nara lirih.


Gallen menoleh, dia menatap Mr. Nara dengan tatapan tajam tapi lebih terkesan tatapan kosong.


Mr. Nara melihat sekitar Gallen yang penuh dengan minuman beralkohol dan juga puntung rokok yang bertebaran di lantai. Hatinya miris melihat orang yang dia sayangi dalam keadaan mengenaskan seperti ini.


Mr. Nara maju untuk mendekati Gallen, dan Gallen pun hanya diam saja.


"Tuan muda, apa yang sedang tuan muda pikirkan?"


"Mengapa tuan muda merusak diri anda seperti ini, tuan?"


Gallen diam, dia memejamkan kedua matanya yang nampak berat untuk membuka.


"Pergilah, Nara." Akhirnya Gallen bersuara, dan hal itu membuat Mr. Nara sedikit bernapas lega. Setidaknya tuan muda nya ini benar-benar masih sadar.


"Tuan, Nyonya Amanda mengirim pesan kepada saya untuk disampaikan kepada tuan muda. Ponsel tuan muda sedari tadi tidak bisa di hubungi, maka dari itu Nyonya Amanda menelfon saya, tuan."


Gallen melirik Mr. Nara sekilas. Dia pun memejamkan matanya lagi untuk mengusir rasa sakit di kepalanya.


"Ada apa?" Tanya Gallen dengan memejamkan mata.


"Nyonya Amanda mengatakan jika tuan muda Gallen besok pagi harus mengosongkan jadwal, karena besok Nyonya Amanda akan kedatangan tamu. Dan beliau meminta agar tuan muda ikut hadir dalam menyambut tamu itu, tuan."


"Aku tidak tertarik. Katakan pada Mama jika aku tidak akan pulang malam ini maupun besok. Katakan padanya jika aku sedang lembur," ujar Gallen dengan nada dingin.


"Tapi-"


"Pergi!" Potong Gallen.


"Tuan muda, Nyonya bisa marah jika-"


"AKU BILANG PERGI SEKARANG JUGA, NARA! Kalau tidak aku akan menghabisi mu disini saat ini juga!"


Mr. Nara diam. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi membujuk tuannya ini.


"Tuan, jika saat ini tuan muda sedang ada masalah. Cerita kan masalah tuan muda kepada saya, Insyaallah saya akan menjadi pendengar yang baik."


Gallen mencengkram erat kepalanya, rasa pusing di kepalanya sudah tidak bisa ia tahan lagi.


"Dengar, tuan muda. Cinta memang menyakitkan jika tidak terbalas, tetapi bukan berarti tuan muda harus terpuruk seperti ini. Hati anda memang sudah merasakan sakit, tetapi jangan membuat fisik juga merasakan sakit. Anda harus bisa bangkit dan melawan perasaan anda, tuan. Jangan merendahkan harga diri anda dengan menjadi seperti ini hanya karena Cinta."


"Kamu tidak tahu tentang perasaanku, Nara."


"Apapun yang tuan muda rasakan, cobalah bangkit dari rasa sakit yang anda derita saat ini. Jujur, saya tidak suka dengan sifat tuan muda yang terkesan lemah seperti ini. Jadilah Gallen Damestria yang seperti dulu lagi, tuan. Gallen yang keras dan tegas. Jangan rusak diri anda hanya karena seorang perempuan. Diluar sana banyak wanita yang benar-benar menginginkan tuan muda, lawan perasaan anda, tuan."


"Kau benar, Nara. Untuk apa aku melakukan hal bodoh seperti ini? Yang kulakukan tidak akan bisa membuatnya kembali padaku. Aku benar-benar menjadi orang yang rugi," gumam Gallen.


Mr. Nara mengangguk, dia senang karena Gallen mencerna dengan baik apa yang disampaikannya.


"Tuan muda mandilah, setelah itu langsung beristirahat. Ini sudah malam, dan jangan lupa besok akan ada tamu yang datang di kediaman Damestria. Anda harus datang, tuan." Mr. Nara kembali mengingatkan tujuannya datang ke apartemen itu.


"Hm, kosongkan semua jadwalku besok. Dan kabari Alan untuk menghandle pasien ku besok," ujar Gallen dengan datar.


"Baik tuan muda. Jika begitu izinkan saya pergi, tuan."


"Pergilah."


Mr. Nara mengangguk dan segera melangkah keluar dari kamar Gallen.


Gallen segera bangkit dari duduknya dan dia mengambil ponselnya untuk menghubungi beberapa Bodyguard nya.


"Halo, kirimkan beberapa orang untuk ke apartemen ku sekarang juga," ucap Gallen kepada bodyguard nya melalui telepon.


Tit


Panggilan pun segera dimatikan oleh Gallen setelah mendengar jawaban dari salah satu Bodyguard nya.


Dia mencengkram ponselnya dengan erat. Rasa marahnya kembali muncul jika mengingat nama Siyyara.


"Tunggu saja, akan ku buat kau merasakan apa yang kurasakan saat ini, Siyya."