The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
5. Imbalan



Siyyara tengah duduk termenung sendiri di Halte Bis. Semua teman-temannya telah pulang ke rumah masing-masing, tetapi dirinya masih berada di Halte bis karena Siyyara tidak suka berebut tempat duduk di dalam bis, dia ingin ingin menunggu bis dengan penumpang yang sedikit.


"Alvian benar-benar melupakan adiknya, bahkan dia tidak menanyakan keadaan ku sama sekali hari ini. Dia lebih mementingkan bisnisnya ketimbang adiknya," gerutu Siyyara.


Tin-tin


Suara klakson mobil membuat Siyyara tersentak dari renungan nya.


"Cepat naik!" Perintah pria itu dengan menurunkan sedikit kaca jendela mobilnya.


"Kamu lagi? Ada apa kamu kemari?" Tanya Siyyara dengan ketus.


"Ini adalah tempat umum, apa aku harus meminta izin padamu ketika aku ingin berada disini?"


Siyyara mendengus kesal. Selalu saja pria itu bisa membuatnya tidak bisa berkata sepatah kata pun.


"Cepat naik, sebentar lagi akan turun hujan," paksa Gallen.


"Siyya, CEPAT NAIK!" Kalimat Gallen semakin lembut tetapi penuh penekanan.


"Ck, iya iya. Dasar supir pemaksa!"


"Siapa yang kamu sebut supir?"


"Orang yang ada disana," ujar Siyyara ngawur.


"Terserah kau saja. Cepat naik ke mobil, Alvian memerintahkan ku agar aku menghampiri mu saat pulang kerja," jelas Gallen, agar Siyyara tidak berfikir yang macam-macam tentangnya.


"Lalu kenapa kamu nurut aja diperintah oleh Alvian? Apa kamu budaknya Alvian?" Ejek Siyyara.


Setelah mengejek Gallen, Siyyara masuk kedalam mobil Gallen dan duduk di samping Gallen dengan wajah tanpa dosa.


Gallen meremat stir mobilnya, dia berusaha menahan emosi yang tiba-tiba naik ke puncak kepalanya.


"Hufft," Gallen menghembuskan napas agar rasa panas di kepalanya segera menghilang.


"Aku bukan budak nya Alvian. Lagipula aku mengantar dan menjemput mu hari ini karena aku ingin meminta imbalan. Tidak ada yang gratis di dunia ini, nona." Gallen menunjukkan senyum liciknya yang membuat Siyyara bergidik ngeri untuk pertama kalinya.


"A-apa? Imbalan? Ya sudah, sebutkan saja nominalnya, aku akan segera mentransfer ke rekening mu," jawab Siyyara dengan sombong.


"Sayangnya aku tidak butuh uang." Senyuman Gallen membuat Siyyara menahan napas, karena Gallen bukan tipe orang yang suka menebar senyum kesana kemari.


Siyyara memegang seat belt nya dengan erat. Siyyara berusaha mengusir rasa takutnya dengan berekspresi datar.


Tanpa banyak kata, Gallen melajukan mobilnya menuju ke Mall terbesar yang ada di kota itu.


"Ayo turun," ajak Gallen kepada Siyyara, saat Gallen telah memarkirkan mobilnya.


"Untuk apa?" Heran Siyyara.


"Jangan banyak tanya, ayo kita turun."


*****


Gallen menggandeng tangan Siyyara dengan erat, atau lebih tepatnya menariknya dengan erat agar Siyyara tidak bisa kabur.


Gallen membawa Siyyara ke tempat gaun-gaun mahal dan berkelas yang ada di dalam Mall itu. Siyyara semakin curiga kepada Gallen


"Mengapa kau membawaku kemari?" Tanya Siyyara semakin penasaran.


"Tentu saja karena aku ingin menagih imbalan," jawab Gallen dengan santai.


"Di tempat pakaian wanita seperti ini? Kamu minta ku belikan gaun?"


Gallen mendengus mendengar perkataan Siyyara. Tanpa mempedulikan pertanyaan Siyyara, Gallen mendekati petugas butik yang ada di sana.


"Mrs. Dapatkah saya meminta gaun pesta yang cocok untuk gadis di sebelah saya?" Tanya Gallen kepada petugas wanita.


Mendengar beberapa deret kalimat Gallen, membuat Siyyara menganga tidak mengerti. Gallen ingin membeli gaun untuk dirinya? Untuk apa? Bukankah dia ingin meminta imbalan? Lalu mengapa dia malah memberinya sebuah gaun? Beberapa pertanyaan berputar-putar di dalam otak Siyyara.


"Apa maksudnya ini?" Tanya Siyyara lagi.


"Nanti kamu juga tahu." Gallen menjawab dengan singkat.


"Tuan, ada beberapa Gaun yang baru saja kami rancang untuk para gadis. Mari ikuti saya, saya akan tunjukkan Gaun itu," ujar petugas butik.


"Baiklah, ayo Siyya!" Gallen menggandeng lagi tangan Siyyara untuk dibawa ke tempat Gaun yang ingin ditunjukkan oleh petugas wanita itu.


"Saya rasa Gaun ini akan sangat elegan ketika dipakai oleh nona. Silahkan nona, nona dapat mencoba Gaun ini di ruang ganti," ujar petugas butik.


Siyyara menerima beberapa Gaun dari petugas butik dengan ragu. Gallen memberi tatapan agar melaksanakan intruksi dari petugas butik tersebut, yaitu mencoba beberapa Gaun itu.


Siyyara memasuki ruang ganti yang ada di sana dan mencoba salah satu Gaun yang disukainya.


Setelah berganti, Siyyara segera keluar dari ruangan ganti pakaian, dan menunjukkan gaun itu kepada Gallen, apakah cocok di tubuhnya atau tidak.


"Bagaimana?" Tanya Siyyara singkat.


"Ganti yang lain, aku tidak suka. Kamu tidak cocok memakai gaun itu," ujar Gallen sadis.


Siyyara membuka mulutnya lebar, tidak terima dengan perkataan yang diucapkan Gallen.


Alasan Gallen menolak Gaun itu karena Gaun itu sangat terbuka sekali. Dan Gallen tidak ingin jika tubuh Siyyara menjadi pusat perhatian para pria.


"Cepat ganti dengan Gaun yang lain, Siyya!" Perintah Gallen mutlak, dan harus di turuti oleh Siyyara.


"Tapi aku suka yang ini."


"Apa kamu ingin menjadi kupu-kupu malam?" Tanya Gallen dengan nada dingin dan datar.


"Dasar mesum," sindir Siyyara.


Siyyara segera masuk ke dalam ruang ganti dengan menghentakkan kedua kakinya dengan keras, yang menunjukkan Siyyara sedang kesal saat ini.


Gallen hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan. Gallen merasa terhibur dengan sifat kekanakan dari Siyyara.


Tak berselang lama, Siyyara keluar mengenakan Gaun yang kedua. Dan hasilnya, Gallen meminta agar Siyyara mengganti gaun lagi. Alasannya pun sama, bahkan Gaun kedua lebih parah dari Gaun yang pertama.


"Kenapa kamu suka sekali dengan Gaun yang kekurangan bahan, ha? Gaun yang sangat layak pun banyak disini," kritik Gallen.


"Cepat ganti!" Paksa Gallen.


"Hm," gumam Siyyara.


"CEPAT, SIYYA!" Gallen menekankan kalimatnya.


Siyyara kembali masuk ke ruang ganti dan mencoba Gaun yang ketiga, kali ini menurut Siyyara gaun ini lebih sopan, dan Gallen tidak akan memaksanya untuk berganti dengan Gaun yang lainnya.


Siyyara keluar dari ruangan ganti dengan melangkahkan kakinya pelan, karena Siyyara tidak yakin dengan Gaun yang telah dipilihnya.


"Ada apa, Al?"


"Iya, aku bawa Siyya ke Mall sebentar. Aku juga minta izin untuk membawa Siyya malam ini ke pesta Dies natalis MIH, apa kau keberatan?"


"Ah, ya. Terimakasih Al." Gallen mengakhiri panggilannya dengan Alvian, saat Alvian telah memberinya izin untuk membawa Siyyara bersamanya.


"Gallen," panggil Siyyara dengan nada ragu. Selama ini Siyyara selalu memusuhi Gallen dan tidak pernah memanggil Gallen dengan sopan. Dan hari ini Siyyara tidak tahu harus memanggil Gallen dengan sebutan apa.


Gallen menoleh ke arah Siyyara dan sempat terkesima sebentar, tetapi Gallen cepat tersadar, dan dia menutupi ekspresi seolah tidak tertarik dengan penampilan Siyyara.


Saat memperhatikan Siyyara dari atas hingga bawah, Gallen mengangguk.


"Mrs, saya ambil Gaun yang ini, kirimkan nomor rekening dan tagihannya, biar sekretaris saya yang mentransfer nya," ujar Gallen dengan nada datar.


"Ba-baik, Tuan." Petugas itu menunduk dan membungkukkan badan, tanda memberi hormat kepada Gallen.


Siapa sih yang tidak kenal dengan Gallen? Gallen terkenal karena dia adalah anak dari Mr. Daniar dan Mrs. Amanda. Mr. Daniar adalah pengusaha terkaya dan banyak di takuti oleh para pengusaha pesaing, sedangkan Mr. Amanda, dia adalah seorang donatur untuk butik yang telah dikunjungi Siyyara dan Gallen.


Nama Gallen Altara Damestria semakin melesat dan menjadi topik pembicaraan, saat Gallen telah memulihkan Damestria Corp yang hampir saja mengalami kebangkrutan saat Mr. Daniar meninggal dunia. Dengan otaknya yang genius, dia berhasil memulihkan perekonomian di Damestria Corp yang tidak seimbang antara pemasukan dan pengeluaran.


Gallen berhasil membangkitkan perekonomian dan semakin membuat Damestria Corp merajalela di dunia bisnis Asia dan Eropa.


Dan namanya menjadi sorotan kembali saat netizen mengetahui jika ternyata Gallen Damestria telah membangun Medical Internasional Hospital dengan kemampuannya sendiri, dan di ketahui bahwa Gallen ternyata adalah seorang dokter bedah.


"Terimakasih atas kunjungannya, Tuan. Semoga kalian bisa cepat menikah," ujar petugas butik itu yang mengira jika Gallen dan Siyyara adalah pasangan kekasih.


Gallen dan Siyyara terkejut dengan kalimat petugas itu, tetapi mereka berusaha menutupi ekspresi salah tingkahnya dengan baik.


"Ayo, Siyya." Gallen menggandeng tangan Siyyara kembali.


"Lalu kita mau kemana? Apakah aku harus mengenakan gaun ini sampai di rumah nanti?"


"Kita tidak akan pulang dulu. Kita harus ke salon untuk mendandani dirimu," jawab Gallen datar.


"Dandan? Untuk apa? Aku tidak mau!" Siyyara menyentak tangannya dari genggaman tangan Gallen.


"Jangan membantah, sudah kubilang bahwa aku meminta sebuah imbalan. Apa kau lupa?"


Siyyara mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ingin rasanya Siyyara mencakar wajah menyebalkannya Gallen.


Gallen kembali menarik tangan Siyyara dan memaksanya untuk berjalan dengan cepat.


Saat Gallen membawa Siyyara menuju ke salon yang ada di Mall itu, tiba-tiba datanglah segerombolan para wanita dan gadis remaja yang mengerubungi Gallen. Mereka memaksa Gallen untuk foto bersama.


"Ya Tuhan, ini akan sulit," gumam Siyyara pelan.


"GALLENN!" Teriak salah satu wanita yang merupakan penggemar berat Gallen.


Setelah mereka puas berfoto-foto, mereka pun pergi satu persatu. Siyyara menunggu dengan sabar para perempuan itu pergi dari Gallen, hingga kedua kakinya lelah karena terus berdiri hampir 1 jam lebih tanpa melakukan apapun.


Saat semua perempuan telah menyingkir, Siyyara melihat dengan jelas bagaimana kusutnya wajah Gallen. Bahkan pakaian yang sebelumnya tapi pun terlihat berantakan.


Siyyara mengigit bibirnya untuk menahan tawa, penampilan Gallen saat ini seperti gelandangan di pinggir jalan.


"Dasar, wanita memang mengerikan," ujar Gallen bergidik ngeri.


"Hahahaha!" Tiba-tiba tawa Siyyara menggelegar tak tertahankan saat melihat ekspresi Gallen.


"Ck, berhenti tertawa." Gallen berusaha menahan rasa malunya.