
Siyyara terkejut dengan keberadaan Tristan, Siyyara sama sekali tidak tahu jika Tristan adalah adik dari Gallen.
Saat melihat tatapan terluka yang Tristan tunjukkan padanya, Siyyara menunduk dan semakin mencengkram tangan Gallen. Siyyara baru menyadari nama marga Gallen dan Tristan sama, dan betapa bodohnya dia karena selama ini tidak menyadari hal itu.
"Siyya, kau kenapa?" Tanya Gallen dengan lembut.
Siyyara menggeleng pelan, sambil mencuri pandang ke arah Tristan. Siyyara tidak enak hati kepada Tristan karena Siyyara tahu, jika Tristan sangat mencintainya.
"Kak Gallen, sebaiknya kakak cepat membuka acara ini, mereka semua menunggu kehadiran kak Gallen sedari tadi." Tristan berusaha mengalihkan kegugupan Siyyara.
"Sebaiknya kakak bawa kekasih kakak untuk duduk di sebelah sana, dia akan capek jika terus berdiri menggunakan high heels."
"Kau benar, Tristan."
"Siyyara ayo ku antar kau duduk di sana," ujar Gallen dengan menggenggam jemari Siyyara, agar lebih meyakinkan jika mereka memiliki sebuah hubungan.
Siyyara mengangguk lagi dengan diam. Gallen merasa heran dengan diamnya Siyyara, karena biasanya Siyyara akan mengoceh sana-sini yang membuat telinganya berdenging, tetapi hari ini dia hanya menunduk diam, seolah sedang menghindari seseorang.
Gallen cukup penasaran, tetapi dia tidak ingin tahu, karena Siyyara hanyalah kekasih bohongan nya saja, tidak lebih.
"Kak, ak-aku ingin ke toilet sebentar," ujar Siyyara kepada Gallen.
Gallen terkejut dengan panggilan baru Siyyara yang memanggilnya dengan panggilan Kakak. Biasanya Siyyara akan memanggilnya dengan nama saja tanpa embel-embel Kakak.
"Apa perlu ku antar untuk menunjukkan dimana toiletnya?" Tanya Gallen.
"Ah, tidak perlu kak. Aku bisa sendiri," ujar Siyyara dengan menyunggingkan senyum tipis.
"Baiklah, ku tunggu disini ya."
Siyyara mengangguk sebagai jawaban.
Gallen segera menuju ke pusat keramaian dan memegang Mic untuk mengeraskan suaranya.
"Selamat malam semua, saya ucapkan banyak terima karena kalian semua menyempatkan waktunya untuk hadir di dalam pesta ini."
****
"Ya Tuhan, aku tidak menyangka jika Tristan ada disini, dan dia ternyata adalah adiknya Gallen pula." Siyyara menggigit kuku-kuku jarinya.
"Gallen juga mengumumkan kepada semua orang jika aku ini adalah kekasihnya. Sepertinya setelah ini hidupku akan sangat susah."
"Ini semua gara-gara Gallen. Jika saja pria itu tidak muncul di hidupku, pasti hidupku akan tenang."
Siyyara bercermin, Siyyara memandangi penampilannya dengan sendu.
"Ini adalah gaun pertama yang aku kenakan, sebelumnya tidak ada seorang pun yang memberikanku sebuah gaun. Mungkin jika Mommy masih ada, dia akan membuatku seperti seorang gadis pada umumnya." Tanpa sadar air mata Siyyara terjatuh di pipinya.
"Siyya merindukan Mommy, Siyya tidak akan mengampuni orang yang telah membuat Mommy meninggalkan Siyya." Siyyara meluapkan rasa sedih nya di dalam toilet. Saat kesedihannya telah ia kuasai, Siyyara memutuskan untuk segera kembali ke pesta itu.
Tetapi lagi-lagi Siyyara harus bertemu dengan seorang yang ingin ia hindari, siapa lagi jika bukan Tristan.
****
Saat Gallen sibuk dengan pidatonya, Tristan segera mencari Siyyara, Tristan ingin mendengar penjelasan langsung dari Siyyara.
Tristan berjalan menuju ke arah toilet, tetapi Tristan tidak masuk ke wilayah toilet. Tristan hanya menunggu Siyyara di lorong jalan yang menghubungkan ke toilet.
"Siyya!" Panggil Tristan.
"Apa?" Tanya Siyyara dengan nada cuek.
"Kapan kau mengenal kak Gallen?"
Siyyara memejamkan mata sebentar sebelum menjawab pertanyaan Tristan.
"Tanya saja pada Gallen sendiri. Aku harus segera kembali," ujar Siyyara dengan ancang-ancang ingin segera kabur dari Tristan.
"Tunggu!" Tristan menghentikan langkah Siyyara dengan mencekal lengan Siyyara.
"Lepaskan aku, Tristan. Kak Gallen akan mencariku jika aku tidak segera kembali."
"Tidak, sebelum kau menjawab dengan jujur, aku tidak akan melepaskan mu."
"LEPAS!" Siyyara menyentak tangan Tristan dengan kuat hingga cekalan tangan Tristan terlepas dari lengannya.
"Apa yang akan kau dapatkan ketika mendengar jawabanku? Bukankah Gallen telah menyerukan sebuah kenyataan? Mengapa kau seperti tidak menerima kenyataan itu?" Siyyara menaikkan nada bicaranya, karena Siyyara ingin membuat Tristan sadar bahwa Siyyara tidak memiliki perasaan apapun kepadanya.
"Aku mencintaimu, Siyya! Hatiku sakit saat tahu jika kau dan saudaraku memiliki sebuah hubungan. Apa sebelumnya kau tidak memikirkan diriku sama sekali Siyya?"
"Bahkan kau dulu pernah berkata jika kau tidak ingin memiliki hubungan dengan seorang lelaki manapun karena kau tidak percaya dengan CINTA. Lalu apakah sekarang kau telah membuka hatimu untuk kakakku?" Lanjut Tristan.
"IYA!" Jawab Siyyara dengan pelan tapi kalimat itu seperti ditekan Siyyara, sehingga sangat terdengar jelas di telinga Tristan.
"Semoga bahagia, aku akan merasa senang jika kau dan kak Gallen bahagia. Dan ku harap kau memahami kesibukan kak Gallen, Siyya."
Tristan menyunggingkan senyum terlukanya kepada Siyyara. Tanpa berkata apapun, Tristan segera membalikkan badan dan meninggalkan Siyyara.
"Tristan tunggu!"
Tristan merespon dengan menghentikan langkah kakinya.
"A-apa kita bisa tetap menjadi teman?" Tanya Siyyara dengan ragu.
"Iya," jawab Tristan singkat dan padat.
"Tristan, maaf." Siyyara bergumam pelan, tetapi masih bisa di dengar oleh Tristan.
*****
Gallen masih berpidato dengan panjang lebar, saat Gallen telah mengakhiri pidatonya, semua ramai dengan tepuk tangan dari para tamu undangan.
Gallen pun mencari keberadaan Siyyara dan Tristan, entah mengapa Gallen merasa janggal saat Tristan bertemu dengan Siyyara.
"Apa Tristan dan Siyyara saling mengenal? Itu bisa saja, karena Siyyara bersekolah di sekolah yang sama dengan Tristan," gumam Gallen.
"Tetapi jika mereka saling mengenal, mengapa Tristan bersikap seperti tidak mengenal Siyyara? Untuk apa semua itu?"
Gallen berusaha menepis pikiran buruknya, dan mencari keberadaan Siyyara. Gallen tidak ingin terjadi apapun kepada Siyyara karena Alvian sendiri yang memintanya untuk menjaga Siyyara selama Alvian sedang bertugas.
Tak lama kemudian, Gallen melihat Tristan yang duduk termenung sendiri di tempat duduk yang ada di paling ujung.
Gallen mendekat kearah Tristan dan menepuk pundaknya pelan.
"Ada apa, Tristan?" Tanya Gallen.
"Ah, tidak kak. Aku hanya kepikiran tentang Mama, Mama pasti kesepian di rumah sendiri."
"Kau benar, tetapi tidak biasanya kau merenung sendiri hanya karena memikirkan Mama. Katakan padaku dengan jujur, apa yang membuatmu seperti ini?" Tanya Gallen dengan nada tegas.
Tristan tetap bungkam, dia tidak ingin kakaknya tahu tentang perasaannya kepada Siyyara saat ini.
"Tidak, kak. Aku berkata benar. Aku ingin kondisi Mama segera membaik agar Mama dapat mendampingi kakak saat ada acara penting seperti ini," ujar Tristan.
"Kakak juga menginginkan hal yang sama seperti dirimu," seru Gallen.
"Apa kau melihat Siyyara?" Tanya Gallen tiba-tiba.
"Tidak, kak. Mungkin dia masih di toilet," jawab Tristan. Dan dalam sehari Tristan telah berbohong kepada kakaknya dua kali. Dan hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Tristan sebelumnya.
Gallen manggut-manggut mengerti.
"Aku akan mencari Siyyara sebentar."
"Iya kak."
******
Siyyara memutuskan untuk keluar dari aula hotel tanpa sepengetahuan Gallen, karena Siyyara merasa jika terus berada disana, Siyyara akan mendapat masalah baru nantinya.
Siyyara terus berjalan menjauh dari keramaian pesta, dan akhirnya Siyyara berhenti di sebuah taman yang ada di samping Golden Globes. Taman itu sangat sepi dan remang, Siyyara memutuskan untuk duduk di bangku taman itu. Karena yang dibutuhkan Siyyara saat ini hanyalah ketenangan.
"Apa yang bisa diharapkan dari CINTA? CINTA hanya bisa membuat persahabatan menjadi rusak. Sangat menyebalkan!" Seru Siyyara.
"Cinta jugalah yang membuatmu ada di dunia ini," jawab seseorang yang tiba-tiba datang. Dan Siyyara mengenal orang itu dari suaranya.
Pria itu semakin mendekat hingga akhirnya wajah pria itu terlihat jelas di hadapan Siyyara.
"Mengapa kau kemari? Tidak seharusnya kau berada disini. Sebaiknya kau kembali ke pesta mu," ujar Siyyara judes.
"Aku mencari mu karena aku teringat dengan pesan Alvian."
"Alvian lagi, Alvian lagi. Memangnya apa yang di lakukan oleh Alvian sehingga dia menitipkan ku padamu, ha? Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku telah mengiriminya pesan, jika dalam hitungan 30 menit dia tidak juga menjemput ku, maka aku tidak akan pulang ke rumah," ujar Siyyara.
"Itu bagus. Tidak seharusnya kau pulang ke rumahmu disaat rumahmu tidak ada orang sama sekali. Karena Alvian telah memberitahuku jika dia sedang ada di Tokyo, maka dari itu dia menitipkan dirimu padaku."
"Aku tidak percaya padamu. Mana mungkin Alvian pergi ke Tokyo tanpa memberitahu diriku? Aku kenal Alvian, dia tidak akan meninggalkan diriku dengan pria seperti dirimu," ujar Siyyara.
Ponsel Siyyara tiba-tiba berbunyi, dan dilayar ponsel itu tertera nama kakaknya, Alvian. Dengan segera, Siyyara menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo, kak."
"Siyya, maaf kakak tidak bisa menjemput mu, kakak saat ini ada di Jepang karena ada urusan penting yang harus kakak selesaikan. Kakak harap kamu bisa bersikap baik terhadap Gallen, dan jangan keluar rumah selain ada urusan sekolah, kau mengerti?"
"Tapi, kak....."
"Baiklah, kakak tutup panggilannya. Sampai bertemu akhir pekan, kakak menyayangimu."
Tut Tut
Siyyara menatap ponselnya dengan pandangan kosong.
"What?"
"Sudah mendengar secara langsung dari Alvian, bukan? Sekarang, ayo ikut aku kembali ke pesta."
"Tidak! Aku mau pulang, dan jangan mencegahku."
"Hei, dengarkan aku. Kau ingin pulang naik apa? Pada Jam segini tidak akan ada taksi yang lewat. Dan jarak tempat ini dengan rumahmu itu sepanjang 30 KM. Jadi, jangan membuat masalah. AYO MASUK!" Bentak Gallen.
"Lagi pula, jika saja Alvian bukan sahabatku, aku tidak akan Sudi menjaga gadis manja dan merepotkan seperti dirimu." Kalimat Gallen membuat emosi Siyyara memuncak.
"KAU! Pergi dari hadapanku sekarang! Aku tidak mau melihat dirimu lagi!" Teriak Siyyara.
Siyyara pun berdiri dari bangku taman dan berjalan menuju ke jalan raya untuk pulang ke rumahnya. Siyyara tidak peduli jika dia harus pulang dengan berjalan kaki. Siyyara akan membuktikan kepada Gallen jika dirinya bukan gadis merepotkan seperti yang di katakan oleh Gallen.
"Tunggu! Kau mau kemana? Tidak baik seorang gadis berkeliaran di tengah malam," ujar Gallen berusaha mencegah kepergian Siyyara.
"Jangan mencegahku! Dan jangan mengikuti ku!" Ucap Siyyara lagi dengan amarah yang masih belum mereda di hatinya.
Gallen hanya melihat kepergian Siyyara dengan tatapan yang sulit diartikan.