The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
17. Cemburu?



Gallen menggendong Siyyara dari ruangannya hingga ke parkiran, dimana mobil Gallen telah terparkir rapi disana.


"Siyya, tolong buka pintunya," ujar Gallen saat kesusahan membuka pintu mobil karena kedua tangannya membopong Siyyara dan membawa tas yang berisi pakaian Siyyara.


"Buka saja sendiri," jawab Siyyara cuek.


"Siyya, jika tanganku ini ku paksa untuk membuka pintu mobilnya, kamu akan jatuh," jelas Gallen.


"Iya iya." Siyyara membuka pintu mobil Gallen, dan Gallen mendudukkan Siyyara di kursi depan sebelahnya. Setelah memasangkan Seat belt di tubuh Siyyara, Gallen segera menutup pintu mobilnya.


Saat Gallen ingin memasuki mobilnya, sebuah tangan menghentikan gerakan Gallen. Spontan Gallen menoleh ke sampingnya.


"Gallen."


Gallen menahan napasnya saat tahu siapa orang yang telah menghentikan nya.


"Kau?"


"Aku tidak menyangka jika kita bisa bertemu lagi di sini."


"Ngapain kamu ke tempat ini?" Tanya Gallen dengan nada dingin.


"Tentu saja melamar pekerjaan di sini," jawab Kinan.


Di dalam mobil, Siyyara melihat Gallen dicekal oleh seorang wanita, tetapi Siyyara tidak melihat seperti apa wajah wanita itu, karena posisi wanita itu membelakangi nya. Gallen juga berbicara seperti bisik-bisik, hingga membuat Siyyara semakin penasaran.


"Siapa wanita itu?" Gumam Siyyara.


*


"Apa tidak ada rumah sakit lain yang bisa kamu masuki?" Tanya Gallen sinis.


"Kenapa? Apa kamu takut bertemu dengan ku? Atau kamu takut jika aku mengetahui perasaanmu kepadaku-"


"Tidak. Aku tidak takut dengan siapapun. Aku hanya ingin katakan padamu, untuk bekerja secara profesional, jangan campur adukkan masalah pribadimu dengan pekerjaan. Jika kau melakukan nya, aku akan mendepakmu dari MIH detik itu juga," ancam Gallen.


"Baiklah, sayang. Aku akan selalu mengingat perkataan mu."


"Oh ya, bolehkah aku berkenalan dengan kekasihmu?" Tanya Kinan dengan senyuman yang sulit diartikan.


"Tidak."


"Kenapa? Apa kau takut?" Tantang Kinan.


"Aku dan dia sedang ada keperluan, aku tidak ingin waktu ku terbuang sia-sia karena dirimu. Jadi menyingkirlah," ucap Gallen dengan nada penuh penekanan.


"Oh, baiklah. Mungkin lain kali aku akan datang sendiri dan berkenalan dengannya, bukankah itu ide yang bagus?" Kinan tersenyum lebar. Dan senyuman itu membuat Gallen ingin menghancurkan apa saja yang ada di depannya saat ini.


"Pergi!" Suara Gallen terdengar memberat dan semakin dingin.


"Baiklah, aku pergi. Sampai bertemu di lain hari, direktur." Kinan melangkah pergi sambil melambaikan tangannya kepada Gallen.


*


Siyyara berusaha mendengar kan apa yang Gallen dan wanita itu bicarakan, tetapi Siyyara tidak mendengar jelas suara mereka, karena mobil Gallen di desain kedap suara.


"Apa yang mereka bicarakan?"


Siyyara melihat wanita itu pergi meninggalkan Gallen, dan setelah itu Gallen segera masuk kedalam mobilnya.


Blam


"Siapa dia?" Tanya Siyyara langsung.


Gallen merasa jika saat ini dia sedang di curigai oleh kekasih nya, dia pun hanya tersenyum kecil dan segera melajukan mobilnya pelan.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku," ujar Siyyara dengan wajah setengah cemberut.


Gallen melirik sekilas ke arah Siyyara, dia mengulum senyum lagi, dia begitu gemas dengan tingkah gadisnya itu.


"Jangan cemburu, Siyya. Aku hanya milikmu saja."


"Ish, siapa juga yang cemburu. Kan aku cuma nanya, meski kamu nanti akan menjalin hubungan dengan nya sekalipun, aku tidak peduli."


Gallen langsung menatap Siyyara tajam saat Siyyara mengucapkan kalimat itu. Seolah memperingati agar tidak mengucapkan kalimat seperti itu lagi.


"Jangan asal bicara! Kamu pikir aku ini pria plin plan yang suka bergonta-ganti pasangan?" Gallen tidak terima dengan ucapan Siyyara.


"Ya siapa tahu kamu seperti itu."


"Cukup Siyya! Jangan membuatku menjadi semakin marah!" Bentak Gallen.


"Kamu bentak aku?"


Gallen diam dan kembali fokus menjalankan mobilnya.


"Turunkan aku disini," ucap Siyyara saat tidak mendapat respon dari Gallen.


"Gallen, berhenti!"


"Tidak."


"Aku mau turun, sekarang!"


"Berhenti bersikap kekanakan, Siyya!"


"Kenapa? Tidak suka? Oke, kalau begitu kita putus!"


"SUDAH KU BILANG, JANGAN BERSIKAP KEKANAK-KANAKAN!" Teriak Gallen seketika, dan itu membuat Siyyara langsung down. Hatinya bergetar ketakutan, baru kali ini dia dibentak oleh seseorang seperti ini. Meski dia sering nakal, tetapi tidak ada seorangpun yang berani membentak dirinya, bahkan kakaknya pun hanya mengomel saja.


Menyadari kesalahannya, Gallen mengusap wajahnya kasar, dia melirik Siyyara yang masih menunduk dan diam. Rasa bersalahnya kian besar ketika melihat bahu gadis itu bergetar menahan tangis.


"Siyya." Gallen berusaha meraih tangan Siyyara, tetapi dengan cepat Siyyara menyentak tangan Gallen.


"Aku memang kekanakan, karena aku memang belum dewasa seperti dirimu. Jika kamu memaksaku untuk bersikap lebih dewasa, aku tidak bisa. Aku tidak mau menjalani hubungan dengan mu lagi."


"Aku lebih sayang diriku sendiri ketimbang dirimu. Aku ingin putus," ujar Siyyara tanpa ragu sama sekali.


Siyyara masih menunduk, dia tidak ingin wajah kacaunya terlihat oleh Gallen, dia tidak ingin di cap gadis lemah karena mudah menangis.


"Lihat aku, Siyya," pinta Gallen dengan lirih.


Siyyara menggeleng pelan, dia tidak ingin menunjukkan wajah kacaunya kepada Gallen.


"Maaf," ucap Gallen tulus.


"Siyya, maaf." Suara Gallen terdengar lirih.


Siyyara melirik Gallen sedikit, dia dapat melihat wajah Gallen yang sangat ketakutan. Apakah Gallen begitu takut untuk putus dengannya?


"Aku tidak suka di bentak," ujar Siyyara.


"Maaf, aku tidak akan mengulangi nya lagi. Apa kamu mau memberiku kesempatan lagi?" Tanya Gallen.


Siyyara menatap bola mata Gallen, dimana tatapan Gallen sangat meneduhkan, rasa takut yang sempat hinggap dihatinya perlahan memudar.


"Ta-tapi jangan bentak aku lagi," ujar Siyyara ragu.


Gallen mengembangkan senyumnya, dia menyentuh kepala Siyyara dengan sayang.


"Terima kasih," ujar Gallen dengan tersenyum hangat. Siyyara mengangguk dan kembali menatap Gallen serius.


"Aku juga tidak suka dibohongi," gumam Siyyara pelan.


"Aku tahu," jawab Gallen masih mempertahankan senyumannya.


"Kenapa senyum?" Heran Siyyara.


"Apa salah jika aku senyum?" Gallen mengubah ekspresinya menjadi datar kembali.


"Kok jadi cuek lagi?"


"Kan kamu udah mau percaya padaku, jadi aku tidak perlu merayu mu lagi," jawab Gallen enteng.


"Apa? Jadi kamu cuma berpura-pura janji?"


"Mana ada namanya pura-pura janji? Aku serius, Siyya."


"Kenapa kamu ingin mempertahankan sebuah hubungan tanpa dasar cinta?" Siyyara menatap Gallen dengan tatapan menyelidik, sedangkan yang ditatap hanya menampilkan senyum kecil.


"Memangnya kenapa? Apa tidak boleh? Tidak mencintai kan sekarang, siapa tahu besok kamu jadi cinta padaku," jawab Gallen enteng.


"Cih, sok tahu!"


"Bukannya sok tahu, tapi itu memang rumus cinta. Cinta itu datang karena telah terbiasa kan."


"Seperti udah pengalaman aja," sindir Siyyara.


"Memang sudah," jawab Gallen cepat. Siyyara langsung menatap Gallen lagi.


"Oh, jadi kamu udah mencintai seseorang?"


"Iya, aku memang mencintai seseorang saat ini."


"Apa wanita tadi?" Entah mengapa emosi Siyyara kembali naik saat mengingat wanita yang menemui Gallen.


"Bukan."


"Lalu?"


"Suatu saat nanti kamu akan tahu," seru Gallen.


"Tapi kamu tidak sedang memiliki hubungan dengan wanita lain, kan?" Siyyara menatap Gallen curiga.


"Aku ini tipe pria setia." Gallen memuji dirinya sendiri.


Siyyara diam dan mengalihkan tatapannya ke arah jendela sebelahnya. Dia berpikir keras, jika memang Gallen tidak mencintainya, mengapa Gallen begitu takut putus darinya? Bahkan tadi Gallen bilang jika dia sedang mencintai seseorang saat ini. Apakah Gallen menjadikannya sebagai pelampiasan saja?


"Siyya," panggil Gallen.


"Hm?"


"Apa kamu mengingat wajah seseorang yang telah melukaimu?" Gallen melirik Siyyara sebentar, lalu kembali fokus menatap jalanan.


"A-aku tidak tahu. Saat itu dia mengenakan tudung kepala. Tetapi aku tahu jika dia adalah seorang laki-laki," jawab Siyyara dengan takut saat mengingat kejadian itu.


"Apa dia mengatakan sesuatu?" Tanya Gallen lagi.


"I-iya. Dia bilang bahwa dia ingin membuatmu menderita dengan menghabisi ku," jawab Siyyara dengan menundukkan kepalanya.


Gallen menggeram marah saat mendengarkan penjelasan Siyyara, Gallen tidak tahu musuh yang mana yang telah menyerang kekasihnya, karena musuh nya itu sangatlah banyak. Dia selama ini selalu cuek ketika ada yang ingin menjatuhkan Perusahaan nya, karena Gallen lebih memilih mempertahankan perusahaan nya dengan profesional ketimbang berkelahi atau menuntut balas atas apa yang dilakukan oleh musuhnya.


Tetapi untuk masalah yang satu ini, Gallen bersumpah akan memberi perhitungan kepada orang yang telah melukai gadisnya dengan tangannya sendiri, karena orang itu lebih suka bermain-main dengan nyawa, maka Gallen akan menanggapi permainan orang itu dengan senang hati.


Siyyara bergidik ngeri saat melihat Gallen menampilkan seringaiannya yang seperti seorang psikopat.


"Gallen," panggil Siyyara dengan takut. Gallen langsung menormalkan ekspresi nya kembali.


"Iya Siyya?"


"Kamu kenapa?"


"Tidak. Perjalanan masih jauh, jika kamu mengantuk, tidurlah. Setelah sampai akan aku bangunkan," ujar Gallen mengalihkan pembicaraan. Gallen mengemudikan mobilnya dengan kecepatan pelan, karena Gallen tahu jika Siyyara takut dengan kecepatan. Maka dari itu jarak MIH dengan rumahnya terasa sangat jauh.


"Hm," gumam Siyyara. Tak lama kemudian, Siyyara benar-benar tertidur dengan pulas. Gallen tersenyum lembut sambil mengusap Surai kekasihnya.


Tetapi senyuman Gallen berakhir saat dia melirik ke spionnya, dia melihat sebuah mobil membuntutinya tepat di belakang. Setelah memastikan Siyyara sudah tertidur pulas, Gallen segera menambah kecepatan full pada mobilnya,


Gallen sengaja membawa mobilnya melewati jalanan bertikung, dia dengan lihai melewati jalanan itu dengan lancar karena dia telah berpengalaman, berbeda dengan orang yang telah membuntuti nya, orang itu kualahan hingga tertinggal jauh.


Gallen melirik spionnya lagi untuk memastikan keberadaan musuhnya, dia menyeringai ketika berhasil menjebak musuhnya.


"Rasakan itu," ujar Gallen dengan nada dingin.