The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
20. Sudah cukup



Gallen mengerjakan semua tugas-tugas sekolah Siyyara dengan baik, jangan ragukan kecerdasannya, karena sedari dulu dia selalu mendapat peringkat dan menjadi kesayangan para guru.


Sedangkan disisi lain, si pemilik tugas sedang asyik-asyikkan tidur, dia tidak peduli jika Gallen mau mengerjakan tugasnya ataupun tidak. Karena sebenarnya Siyyara sangat mampu mengerjakan tugas dan soal sesulit apapun. Tetapi karena Gallen yang memaksa, dengan senang hati Siyyara akan memberikan tugas-tugas sekolahnya kepada Gallen. Itung-itung memanfaatkan kecerdasan pacar, pikir Siyyara.


"Hufttt, akhirnya selesai juga." Gallen menutup buku milik Siyyara dan membereskannya di tempat asalnya.


Gallen melirik ke arah tempat tidur, dimana Siyyara tengah tidur pulas. Gallen tersenyum kecil melihatnya, kekasihnya ini memanglah masih berusia remaja, yang sangat labil. Kadang Gallen kualahan sendiri dengan sifat kekanak-kanakan Siyyara, tetapi hal itu tidak membuat perasaan cintanya berkurang sedikitpun untuk Siyyara.


"Siyya, bangun lah." Gallen menggoyangkan bahu Siyyara pelan.


"Siyya, ayo bangun, hari sudah sore," ujar Gallen pelan.


"Engh!" Gumam Siyyara dengan mata yang masih terpejam.


Gallen menghela lelah saat Siyyara tidak kunjung bangun dari tidurnya. Gallen duduk di pinggiran ranjang dan mendekati Siyyara untuk membangun kan gadis itu. Karena Siyyara telah berjanji akan pergi bersamanya malam ini.


"Siyya, ayo bangun sekarang." Gallen kembali menggoyangkan lengan Siyyara pelan.


Tiba-tiba Siyyara bergerak dan menarik kepala Gallen untuk dipeluk, karena Gallen tidak memiliki kesempatan untuk menghindar, akhirnya kedua bibir itu saling bertemu.


Gallen terkejut bukan main, sebelumnya dia tidak pernah sedekat ini dengan perempuan, dan hari ini tanpa sengaja telah mencium bibir Siyyara.


Sebelum Gallen bangun dari rangkulan Siyyara, suara pintu terlebih dulu di buka oleh seseorang dari luar.


Cklek


Gallen segera menoleh saat ada yang membuka pintu.


"Gallen," geram orang itu.


Gallen segera melepaskan tangan Siyyara dari lehernya, dia segera menghampiri seseorang itu.


"Bisa bicara di luar?" Tanya orang itu sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Baiklah." Gallen hanya menurut.


******


"Apa yang telah kamu lakukan?"


"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Gallen.


"Tidak melakukan apa-apa? Lalu apa tadi? Kamu dengan beraninya mencium Siyyara di saat Siyyara sedang tidur!"


"Itu tidak di sengaja, Al. Kejadiannya begitu cepat, awalnya aku ingin membangunkan Siyyara, tetapi Siyya malah memelukku, dan tanpa sengaja-" Gallen menghentikan ucapannya, dia mengusap wajahnya frustasi.


"Aku sungguh tidak sengaja tadi, Al. Mana mungkin aku berani berbuat macam-macam pada Siyyara? Aku sangat menyayanginya," ujar Gallen.


Alvian mengangguk-angguk.


"Baiklah, aku percaya padamu, tapi-"


Bukk Bukk


"Aghht!"


"Itu adalah hukuman karena kamu sudah merasakan ciuman dengan Siyya," tukas Alvian dengan menyeringai.


Gallen memegangi perutnya yang terasa sangat nyeri, dia menatap sahabatnya dengan sangat kesal, karena seenaknya saja memukul perutnya.


"Kurang ajar kau, Al." Gallen menggeram murka, sedangkan Alvian berlalu dengan senyuman tipis di bibirnya.


Alvian sangat senang karena dia bisa memberi pukulan yang sangat berkesan untuk Gallen.


*******


"Engh!" Siyyara merenggangkan badannya yang terasa sangat pegal. Kedua matanya menelisik mencari seseorang yang sebelumnya ada di kamarnya.


"Kemana dia?" Gumam Siyyara.


Siyyara bangun dari tempat tidurnya dan bergegas mencari Gallen. Saat Siyyara akan membuka pintu, pintu kamarnya terlebih dulu di buka dari luar.


"Siyya, kamu sudah bangun?" Tanya Gallen.


"Kalau aku belum bangun, tidak mungkin aku berdiri di sini," ujar Siyyara kesal.


Gallen tertawa kecil sambil memegangi perutnya, ketika dia tertawa maka perutnya akan terasa nyeri karena pukulan dari Alvian.


"Kamu kenapa?" Tanya Siyyara khawatir.


"Tidak, aku hanya habis jatuh saja. Oh ya, kamu bersiaplah, aku akan pulang lalu menjemput mu."


Siyyara hanya mengangguk, dia kembali menutup pintu kamarnya setelah Gallen pergi.


*******


Gallen kembali ke rumah Siyyara setelah berpenampilan rapi. Tetapi Gallen tidak bisa memasuki rumah karena Alvian dengan santainya berdiri di depan pintu rumahnya, untuk menghalau Gallen yang ingin masuk.


"Minggir!"


"Ini rumahku, terserah aku mau berdiri dimana saja," ucap Alvian santai.


"Aku ingin bertemu Siyyara, sekarang minggirlah! Aku tidak memiliki kepentingan denganmu," ujar Gallen setengah jengkel.


"Kau mau membawa Siyyara kemana? Tidak ku izinkan dia keluar malam-malam begini, apalagi dengan pria mesum seperti dirimu."


Gallen menaikkan sebelah alisnya, dia sedikit terkekeh saat mendengar ucapan Alvian uang mengatainya mesum.


"Apa kamu tidak punya cermin? Lalu siapa yang kemarin malam berciuman di ruangan kerja?" Ejek Gallen.


Alvian tersedak ludahnya sendiri, dia melotot ke arah Gallen dengan tatapan peringatan.


"Jangan asal, tahu darimana kamu?" Alvian tidak terima dengan ucapan Gallen.


"Karena aku melihat sendiri, saat aku ingin masuk ke ruanganmu, aku ingin memberikanmu dokumen kerja sama perusahaan, tapi kamu tidak sadar dengan kedatangan ku, karena kamu hanya fokus dengan pacarmu," ujar Gallen dengan menahan tawa saat melihat wajah Alvian memerah malu.


"Ck, jangan ketawa! Kalau tidak, aku tidak akan merestui mu dengan adikku," ancam Alvian.


"Ancamannya," sindir Gallen. Jika sudah di ancam seperti itu, maka Gallen akan menuruti ucapan calon kakak iparnya.


"Apa yang kalian bicarakan disini?" Tanya Siyyara yang tiba-tiba ada di belakang Alvian.


"Siyya?" Alvian menganga saat melihat penampilan adiknya, adiknya terlihat sangat cantik. Tetapi Alvian tidak suka dengan gaun yang dikenakan Siyyara. Gaun itu terbuka di bagian punggung dan bahu.


"Siyya, kembali masuk dan ganti baju mu," ucap Alvian dengan nada dingin. Alvian hanya tidak ingin Gallen menikmati kecantikan Siyyara. Dia sangat tidak rela.


"Ayo Siyya, kita berangkat." Suara Gallen terlebih dulu terdengar.


"Tidak, aku tidak izinkan Siyyara pergi dengan gaun seperti itu."


"Seperti itu gimana sih kak? Gaun ini sangat bagus, dan Siyya sangat suka," jawab Siyyara.


"Dek, gaun mu itu sangat terbuka, kakak tidak mau kamu nanti di gigit nyamuk," ujar Alvian dengan melirik Gallen sinis.


"Siyya sudah bawa lotion anti nyamuk kak, jadi kakak tenang saja," bantah Siyyara.


Gallen menahan tawanya saat melihat betapa frustasinya Alvian. Kekhawatiran Alvian memang benar, gaun Siyyara sangatlah terbuka dan memperlihatkan kulitnya yang sangat putih dan mulus, sebagai lelaki normal, Gallen tidak akan bisa mengalihkan tatapannya dari Siyyara.


Saat melihat penampilan Siyyara Gallen juga sama terkejutnya dengan Alvian, Gallen tidak menyangka jika Siyyara akan menggunakan gaun yang terbuka seperti itu. Gallen tidak rela jika tubuh Siyyara menjadi pusat perhatian para lelaki di luar sana.


Tetapi jika Gallen meminta Siyyara mengganti gaunnya, pasti Siyya tidak akan mau, karena Gallen sudah hafal dengan sifat Siyyara, maka dari itu Gallen langsung mengajak Siyyara berangkat saat Alvian menyuruh adiknya ganti pakaian.


"Masalahnya nyamuk di luar sana lebih ganas, Siyya." Alvian menggeram saat adiknya tidak juga mengerti, Alvian takut jika Gallen akan khilaf ketika berada di samping adiknya yang sangat cantik itu, apalagi dengan gaun yang terbuka.


"Kakak jangan mulai jadi penceramah lagi deh." Kesal Siyyara.


"Kakak hanya khawatir, sayang." Alvian terus membuat Siyyara mengerti.


"Kamu tenang saja, Al. Aku akan jaga dia dengan sebaik-baiknya, dan akan ku kembalikan tanpa lecet sedikitpun." Gallen menepuk Alvian pelan.


"Aku juga tidak tahu jika dia akan berpakaian seperti itu, jadi jangan salahkan aku," bisik Gallen tepat di samping Alvian.


"Tapi kau tenang saja, aku akan membawanya ke butik untuk berganti pakaian, karena aku juga tidak rela jika Siyyara memperlihatkan tubuhnya kepada orang lain," tambah Gallen.


Alvian tersenyum sinis kepada Gallen.


"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa bisik-bisik?" Siyyara berkacak pinggang melihat kakak dan kekasihnya sedang membicarakan sesuatu dengan berbisik-bisik.


"Tidak ada, sayang. Ya sudah kamu pergilah dengan Gallen. Hati-hati ya." Alvian mengelus kepala adiknya dengan lembut.


Siyyara menyerngit heran, tadi kakaknya tidak mengizinkannya keluar selama dia masih menggunakan gaun ini, lalu kenapa sekarang kakaknya mengizinkan nya keluar?


"Ayo, Siyya," ajak Gallen. Siyyara mengangguk dan berjalan di samping Gallen.


"Assalamualaikum, kak," ucap Siyyara kepada Alvian.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya."


"Assalamualaikum kakak ipar," ucap Gallen. Dan di balas delikan oleh Alvian.


******


"Kita mau kemana?" Tanya Siyyara saat dalam perjalanan.


"Kamu inginnya kemana?"


"Kok balik tanya sih? Kalau tidak punya rencana pergi keluar, mending gak usah ajak-ajak segala. Buang-buang waktu saja," oceh Siyyara.


"Iya sayang, maaf."


Siyyara melirik ke arah Gallen, perutnya seperti tergelitik saat mendengar kata Sayang keluar dari mulut Gallen.


"Gimana kalau kita makan pizza dulu, setelah itu kita nonton bioskop?" Tanya Gallen.


"Pizza? Pizza yang mana?"


"Pizza yang dulu kamu makan saat di apartemen ku, dan dulu kamu sempat ingin dibelikan tokonya sekaligus," jawab Gallen.


Siyyara manggut-manggut.


"Ya sudah, kita makan pizza itu lagi, setelah itu kita nonton." Siyyara tersenyum manis, dan itu tak luput dari pandangan Gallen.


"Siyya, kita ke butik sebentar, ya."


"Kenapa? Kamu mau beli sesuatu?"


"Iya," jawab Gallen.


"Kamu mau beli apa?"


"Gaun untuk kamu."


"Untuk aku? Kenapa?"


"Aku tidak ingin kamu mengenakan gaun ini, aku tidak ingin tubuh nu di lihat oleh orang lain selain diriku," jawab Gallen enteng.


Siyyara membulatkan kedua matanya, jadi sedari tadi kakaknya dan Gallen membicarakan tentang nya? Dasar pria-pria mesum menyebalkan.


"Dasar mesum," ucap Siyyara sinis.


"Siyya, siapa juga yang mesum. Aku hanya ingin melindungi mu dari tatapan lapar para nyamuk di luar sana."


"Iya, kamu nyamuknya!" Siyyara kesal, jadi dari tadi yang dibilang nyamuk oleh kakaknya adalah para lelaki? Dasar lelaki memang sama saja, kalau lihat yang bening-bening pasti pikirannya kemana-mana.


Siyyara melirik Gallen yang sedari tadi fokus menyetir, dia tersenyum licik, sekali-kali ngetes Gallen tidak masalah, bukan?


"Gallen," rengek Siyyara.


"Iya."


"Tadi siang yang bersamamu itu siapa?"


Gallen menoleh ke arah Siyyara.


"Kenapa, Siyya?"


"Karena aku pikir dia tidak hanya teman kerja kamu, sebelumnya juga dia menemui mu di parkiran saat kamu ingin mengantarku pulang, dia terlihat akrab sekali denganmu," ucap Siyyara dengan wajah dibuat cemberut.


Gallen gelagapan sendiri, dia bingung ingin menjelaskan kepada Siyyara seperti apa. Dia takut kalau Siyyara akan salah paham, dia tidak ingin kehilangan kekasihnya itu.


"Siyya, dia itu hanya teman ku saja tidak lebih. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh ya," pinta Gallen.


"Gallen."


"Iya?"


"Menurutmu temanmu itu cantik tidak?" Tanya Siyyara dengan wajah yang masih menatap Gallen, dia ingin melihat Gallen menjawab pertanyaan nya dengan jujur.


"Cantik," jawab Gallen dengan wajah datar. Tetapi jawaban Gallen membuat Siyyara sesak napas. Entah mengapa rasanya dia tidak rela Gallen menjawab dengan jawaban itu.


"Lalu aku?" Tanya Siyyara lagi.


"Apa, Siyya?" Gallen tidak mengerti dengan arah pembicaraan Siyyara.


"Apa aku cantik?"


Gallen tersedak, mengapa Siyyara menanyakan hal itu? Gallen gugup ingin menjawab apa, tetapi Gallen dengan pandainya menutupi kegugupannya dengan memasang wajah super datar.


"Kenapa bertanya seperti itu?" Gallen balik bertanya.


"Karena kamu bilang teman perempuan mu itu cantik, otomatis secara tidak langsung kamu sudah tertarik dengannya. Lalu bagaimana denganku? Jika kamu lebih memilih temanmu itu, maka aku ingin kita putus sekarang!"


"Si-siyya, dengarkan aku. Aku kan tadi hanya menjawab pertanyaan mu saja."


"Pokoknya bagi ku, kamu telah memuji wanita lain, aku tidak suka!"


"Jadi kamu cemburu?" Gallen tersenyum saat melihat tingkah labil gadisnya.


"Ti-tidak," jawab Siyyara cepat.


"Kamu jauh lebih cantik dari dia, jadi jangan membandingkan dirimu dengannya." Gallen menatap Siyyara dalam, setelah itu dia kembali menatap ke depan, kembali fokus menyetir.


Siyyara mengigit bibir bawahnya saat mendengar jawaban Gallen. Hatinya seperti di taburi banyak bunga, dia sangat suka dengan ucapan Gallen yang tadi.


"Gallen," panggil Siyyara lagi.


"Aku seksi tidak? Lebih seksi mana antara aku dengan temanmu itu?" Tanya Siyyara dengan wajah tanpa dosa.


Ingin sekali Gallen membenturkan kepalanya di stir saat ini juga, mengapa tiba-tiba Siyyara bertanya seperti itu? Apa Siyyara berniat menggodanya? Tanpa di goda pun Gallen akan sangat tergoda.


"Siyya, sudah cukup. Jangan bertanya lagi, aku lagi menyetir."


"Tidak, Gallen. Kamu harus menjawab pertanyaan ku, apa aku tidak seksi?" Mata Siyyara sudah berkaca-kaca, dan Gallen semakin frustasi.


"Kamu sangat seksi, Siyyara," jawab Gallen.


"Dasar mesum," sahut Siyyara.


"Astaghfirullah, kan tadi kamu yang tanya."


"Bagian mana yang membuatmu berkata bahwa aku seksi?" Tanya Siyyara lagi.


"Siyyara!" Geram Gallen karena frustasi.


Gallen menghela napas lelah, sudah cukup. Dia tidak akan meladeni Siyyara lagi. Biarlah gadis itu merengek-rengek minta jawaban, Gallen tidak akan jawab. Karena pertanyaan Siyyara sangat tidak mungkin dia jawab.