
"Ayo turun." Gallen melepaskan seat belt nya dan membuka pintu mobil untuk keluar, sedangkan Siyyara masih berdiam diri di tempat duduknya, tidak menggubris perkataan Gallen sama sekali.
"Siyya!" Panggil Gallen dari luar mobil.
"Aku tidak mau turun!" ujar Siyyara karena sedang marah.
"Kenapa?"
Siyyara memilih diam, dia malas berbicara dengan kekasihnya yang tidak peka itu.
"Siyya," panggil Gallen lagi dengan nada lembut. Gallen membuka pintu mobilnya dengan pelan untuk mempersilahkan Siyyara turun.
"Ayo, turunlah," bujuk Gallen dengan sabar.
"Apa kamu mencintai ku?" Tanya Siyyara dengan menatap mata Gallen.
Gallen diam, dia ingin menjawab bahwa dia sangat mencintai Siyyara, tetapi entah mengapa dia takut jika Siyyara akan menolak cintanya. Meski mereka telah berpacaran, tetapi sampai saat ini Siyyara belum juga mencintainya, dan itu membuat Gallen takut untuk mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya.
"Kita bahas itu nanti saja, kita makan dulu ya, ayo."
"Kamu menghindari pertanyaan ku? Apa susahnya menjawab Iya atau Tidak? Aku tidak mau meneruskan hubungan dengan seseorang yang telah mencintai orang lain."
"Apa maksudmu Siyyara?"
"Kau lupa? Kau sendiri yang bilang saat itu jika kau telah mencintai seseorang!"
"Siyya-"
"Katakan padaku, siapa perempuan yang kamu cintai? Apakah teman mu itu? Jawab!" Bentak Siyyara.
Karena suara Siyyara sedikit keras, semua orang yang ada di sekitar parkiran pun melihat ke arah mereka berdua yang sedang bertengkar.
"Siyya, pelankan suaramu." Gallen merasa malu karena mereka menjadi pusat perhatian sekarang.
"Jawab dulu pertanyaan ku! Baru aku akan diam!"
Gallen kembali menutup pintu mobil nya dimana Siyyara masih duduk manis di dalam. Sedangkan Gallen kembali masuk ke dalam mobilnya, dia membanting pintu mobilnya dengan keras.
"Apa maumu?" Tanya Gallen sedikit terbawa emosi.
"Aku ingin tahu, apakah kamu mencintai ku atau tidak? Tinggal jawab saja apa susahnya sih?" Siyyara tidak mau kalah, dia tetep menaikkan intonasi suaranya saat berbicara dengan Gallen.
"Kau ingin tahu jawabannya?" Gallen menatap Siyyara dengan tatapan lekat, hingga membuat nyali Siyyara kembali menciut.
"I-iya, aku ingin tahu!" Siyyara menyembunyikan ketakutannya dengan baik.
Gallen mendekatkan wajahnya dengan Siyyara, semakin dekat dan semakin dekat. Siyyara langsung memundurkan wajahnya, dia ingin menghindari wajah Gallen yang sangat dekat dengan wajahnya, dan tatapan Gallen tidak juga berubah sejak masuk kembali ke dalam mobil.
"Ga-Gallen, minggir." Siyyara mendorong dada Gallen pelan. Tetapi Gallen tidak juga beranjak dari posisinya.
CUPP
Kedua mata Siyyara terbelalak, dia tidak menyangka jika Gallen akan menciumnya di bibir, Siyyara melihat Gallen yang sedang memejamkan kedua matanya, tak lama kemudian, Siyyara merasakan jika bibirnya di ***** oleh Gallen dengan pelan tanpa nafsu. Seketika tubuh Siyyara seperti tersengat listrik, dia takut karena hal itu adalah hal yang baru untuknya.
Tangan Siyyara yang berada di dada Gallen untuk mendorong berubah menjadi mencengkram baju Gallen di bagian depan. Siyyara tidak tahu harus melakukan apa.
Hingga akhirnya Gallen mengakhiri ciuman itu, dia menatap wajah Siyyara dengan tatapan yang dalam.
"Dengarkan perkataan ku baik-baik, Siyya. Aku tidak akan mengulangi ucapanku lagi. Jadi dengarkan hal ini baik-baik."
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Saat aku mengatakan bahwa aku sedang mencintai seseorang, orang itu adalah dirimu. Entah sejak kapan rasa ini hadir, aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku merasakan kenyamanan saat di dekatmu, aku bukanlah pria romantis yang akan mengumbar kalimat cinta. Jika kau menginginkan hal seperti itu, aku tidak bisa Siyyara. Tetapi kau harus tahu bahwa aku sangat mencintaimu." Gallen menggenggam kedua tangan Siyyara dengan lembut.
Siyyara menatap kedua bola mata Gallen untuk mencari kebohongan, tetapi yang ada hanyalah tatapan teduh penuh cinta. Apakah benar Gallen sangat mencintai nya?
Jantung Siyyara berdetak dengan sangat cepat. Dia tidak menyangka jika Gallen sangat mencintai nya. Perasaan aneh menggelitik di hatinya, dia sangat malu dengan ucapan jujur Gallen, karena sebelumnya dia belum pernah menjalin hubungan dengan seorang pria manapun.
"Kamu percaya padaku kan?" Tanya Gallen dengan lembut. Dan dijawab anggukan kepala oleh Siyyara.
"Aku tahu kamu belum mencintai ku, tetapi apakah aku bisa berharap agar suatu saat nanti kau akan mencintai ku?" Gallen memberi tatapan teduh kepada Siyyara, dan Siyyara lagi-lagi hanya menjawab dengan mengangguk.
"Terima kasih," ujar Gallen dengan tersenyum hangat.
Gallen mencium tangan Siyyara, dan Siyyara mengerjapkan kedua matanya berkali-kali, dia tidak menyangka jika Gallen akan berbuat manis seperti ini.
"Ga-Gallen."
"Iya?"
"Aku-"
"Ada apa, Siyya?"
"Aku lapar, ayo kita makan," ujar Siyyara malu-malu.
Gallen terkekeh kecil melihat tingkah gadisnya yang menggemaskan.
"Baiklah, ayo."
*******
Brak
"Sial! Ini semua karena tua Bangka itu kita hampir saja mengalami kerugian besar!" Teriak seorang pria berusia 40 tahun.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Mr.?" Tanya pengawalnya.
"Aku ada ide," ujar pria itu.
"Si tua Bangka Damares itu memiliki seorang cucu perempuan, yang aku tahu cucu perempuan nya itu sangat dia sayangi."
Pengawal nya menyerngitkan dahi.
"Apakah maksud anda, anda ingin membalas dendam melalui cucu nya?" Tanya pengawalnya.
"Hm, kau benar sekali. Kurasa itu adalah hukuman setimpal untuk Si tua Bangka Ferdy. Sekarang, cari tahu dimana dia menyembunyikan cucunya, kita harus bergerak cepat. Dan jangan sampai menimbulkan kecurigaan," ujar pria itu.
"Baik Mr. Sam." Pengawal itu menunduk dan meninggalkan Mr. Sam sendiri di ruangan itu.
"Hahahaha! Sebentar lagi keluarga Damares akan menangis darah. Tunggu saja pembalasan ku, Ferdy!"
*******
Harvi menyerngitkan dahi saat dirinya disuruh oleh Ayahnya untuk menyimpan dokumen rahasia yang sangat berbahaya untuk kelangsungan hidupnya.
Bagaimana tidak? Ketika pihak musuh tahu, maka nyawanya lah yang akan di incar, atau mungkin keluarga kecilnya yang akan dalam masalah.
"Ayah, mengapa harus aku?"
"Karena kamu putra tertua ku, Harvi."
"Kau membantah ku?" Kedua mata Ferdy berkilat marah.
"Bu-bukan begitu, Ayah."
"AYAH! AYAH!"
Ferdy bangkit dari Sofa dan menunggu seseorang yang memanggilnya dengan suara keras seperti itu datang menemuinya.
"Ada apa, Dave? Tanya Ferdy santai.
"Ayah! Apa yang Ayah lakukan? Mengapa ayah membocorkan jika rahasia perusahaan Calvert ada di tangan Ayah?" Bentak Dave.
"Mengapa kamu jadi tidak sopan, Dave?" Ferdy menatap putra bungsunya dengan santai, dia memindahkan tongkatnya dari tangan kanan ke tangan kirinya.
"Aku tidak akan seperti ini jika Ayah melakukan hal yang benar. Apa Ayah tahu konsekuensi dari tindakan Ayah ini?" Dave menggelengkan kepala, dia tidak menyangka jika Ayahnya bertindak sangat ceroboh sekali.
"Aku sudah memikirkan matang-matang. Dia yang lebih dulu mencari masalah dengan Ayah, jadi Ayah keluarkan kehebatan Ayah, agar mereka tidak semena-mena kepada kita."
Dave menggeram marah, sedangkan Harvi hanya menghela napas lelah. Mereka tidak akan bisa menasihati Ayahnya yang sangat keras kepala itu.
"Ayah, yang dikatakan Dave benar. Tidak seharusnya Ayah memberitahukan kepada Samuel Calvert, jika rahasia perusahaannya ada di tangan Ayah. Bukan karena kita takut menghadapi mereka, Ayah. Jika mereka melawan kita secara langsung, itu akan lebih baik. Tetapi apakah Ayah tidak memikirkan nasib para cucu Ayah? Mereka bisa saja menyakiti cucu-cucu Ayah yang tidak bersalah." Harvi mencoba membantu Dave dalam menjelaskan masalah yang akan terjadi akibat tindakan yang telah dilakukan oleh Ayahnya.
"Sudahlah, Kak. Ayah tidak akan mengerti, lebih baik kita menambah bodyguard untuk menjaga anak-anak kita saja. Dan untuk Siyyara, aku benar-benar sangat khawatir. Gadis itu sangat aktif, dia tidak akan bisa diberitahu untuk tetap tinggal di rumah," ucap Dave frustasi.
Ferdy menatap kedua putranya dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Maafkan Ayah," ucap Ferdy sendu.
Meski hati Dave sangatlah keras, melihat Ayah nya yang berekspresi seperti itu tentu saja membuatnya melunak. Kemarahannya kepada Ayahnya menghilang begitu saja setelah melihat penyesalan Ayahnya.
"Tidak apa, Ayah. Semua sudah terjadi, sekarang kita hanya perlu berhati-hati. Aku yakin jika Mr. Sam akan balas dendam," tukas Harvi pelan, karena Harvi memang lebih lembut daripada Dave.
"Dave, jaga Siyyara dengan baik. Dia adalah kehidupan Ayah, Ayah tidak ingin dia kenapa-napa. Selama ini Mr. Yagura selalu ingin mencari tahu keberadaan Siyyara, dan sekarang Ayah memanggil bencana untuk nya lagi. Jika Mr. Sam dan Mr. Yagura bekerja sama untuk melukai Siyyara karena diriku, maka aku tidak akan memaafkan diriku sendiri," lirih Ferdy dengan menahan tangisnya.
"Ayah tenang saja, kita akan membuat mereka kebingungan dengan keberadaan Siyyara, karena selama ini mereka tidak tahu jika Siyyara berada di Indonesia." Dave berusaha menenangkan hati Ayah nya yang sedang khawatir.
"Tapi, bukankah Mr. Yagura telah menjalin kerja sama dengan Alvian? Bahkan mereka sangatlah dekat, bagaimana jika tanpa sengaja Alvian-"
"Itu tidak akan terjadi, kak. Alvian sangatlah cerdas, dia bisa membedakan antara kawan dengan lawan, jadi Alvian tidak akan membocorkan rahasia keluarga nya sendiri kepada musuh kita," sahut Dave.
Harvi hanya manggut-manggut mengerti, sedangkan Ferdy menatap ke lantai dengan tatapan kosong.
"Ayah, jangan terlalu banyak fikiran, sebaiknya ayah beristirahat." Harvi mengelus pundak Ferdy.
Ferdy berdiri menuju ke kamarnya di bantu oleh para pengawal pribadinya. Di setiap sudut rumah itu terdapat beberapa Bodyguard yang menjaga, di depan gerbang dan di halaman rumah pun penuh dengan para bodyguard, karena sebelumnya keluarga Damares di serang oleh musuh di dalam rumahnya. Dan hal itu lah yang membuatnya memperketat penjagaan.
"Aku akan menelfon Alvian, kau beritahukan hal ini juga kepada Kevin, karena aku tahu orang seperti apa yang akan kita hadapi ini, dia jauh lebih parah ketimbang musuh-musuh kita sebelumnya," jelas Dave kepada Harvi.
"Baiklah, aku mengerti."
********
"Aku selalu suka Pizza di sini," ujar Siyyara setelah memasukkan beberapa potong pizza ke mulutnya.
"Kamu tenang saja, kamu bebas memakan Pizza disini kapanpun kamu mau," jawab Gallen.
"Apa kamu akan membawaku kesini terus?" Tanya Siyyara heran.
"Aku sibuk. Jika kamu mau, kamu bisa kesini sendiri."
Siyyara menatap Gallen dengan tatapan tidak percaya.
"Jadi maksudmu, aku harus makan pizza sendiri disini? Kamu pelit sekali sih. Apa makan pizza disini setiap hari bisa membuatmu bangkrut?"
Gallen menghela saat mendengar ucapan Siyyara yang semakin ngawur.
"Siyya, kamu harus datang kesini bukan hanya sebagai seorang pembeli, tetapi kamu juga harus datang sebagai seorang pemilik toko," jelas Gallen.
"A-apa? Pemilik toko?"
"Iya. Bukankah kamu sendiri yang bilang jika kamu ingin di belikan toko Pizza ini? Maka sekarang, toko ini menjadi milikmu," ucap Gallen enteng.
Siyyara menganga tidak percaya, bulu kuduknya merinding, apa dirinya tidak salah dengar? Gallen telah membeli toko ini untuknya? Atas namanya?
"Gallen, jangan bercanda!"
"Untuk apa aku bercanda, sayang?" Goda Gallen.
"GALLEEEEENNNN!"
"Apa?"
"Menyebalkan!"
"Terim kasih atas pujiannya."
Siyyara menunduk, dia tidak tahu harus berkata apa, jiwa brutalnya tiba-tiba tidak bisa di ajak kompromi.
"Siyya, boleh aku mengatakan sesuatu?"
"Apa?" Siyyara menatap Gallen dengan serius.
"Aku minta agar kamu tidak memanggilku dengan sebutan nama saja," ucap Gallen.
"Ha? Lalu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa lagi?"
"Kamu bisa memanggilku dengan sebutan Kakak atau mungkin Mas, mengingat usia kita yang berbeda jauh. Gimana?"
"Ish, tidak perlu pake begituan emang tidak bisa? Aku lebih nyaman manggil pake nama," tukas Siyyara menahan malu.
Gallen hanya mengangguk paham, dia tersenyum tipis. Jika memang Siyyara tidak nyaman memanggilnya dengan sebutan seperti itu, maka Gallen tidak akan memaksa.
"Ayo habiskan makanannya, setelah itu kita nonton."
"Iya," jawab Siyyara.
Dret Dre**t**
Merasakan ponselnya bergetar, Gallen segera mengambil ponselnya yang telah ia letakkan di meja sebelah piringnya. Dia menatap serius layar ponselnya saat tahu siapa yang telah menghubungi nya.
"Siapa yang menelfon?" Tanya Siyyara penasaran saat Gallen hanya diam.
"Ah, sebentar ya." Gallen segera berdiri dari kursinya.
"Siapa yang nelfon? Kenapa tidak kamu angkat disini saja?" tanya Siyyara penuh selidik.
"Tidak Siyya, ini dari Klien penting. Takutnya keramaian disini mengganggu pembicaraan kami. Aku tinggal sebentar ya," ujar Gallen seraya meninggalkan Siyyara di meja itu sendiri.