
Pagi-pagi buta, Amanda segera menyiapkan bahan makanan spesial untuk ia masak karena tamunya akan datang ke rumahnya. Dia benar-benar tidak sabar ingin menyambut tamunya itu.
"Maya, tolong ganti bunga itu dengan bunga yang masih segar. Ambilah di taman belakang, dan jangan lupa ambil bunga yang harum ya," perintah Amanda kepada asisten rumah tangganya.
"Baik, Nyonya."
Maya segera pergi ke taman belakang untuk mengambil bunga yang diinginkan Nyonya besarnya. Sedangkan Amanda dia sibuk menata piring dan makanan di meja makan setelah semua masakannya matang.
"Aduh, sudah jam segini Gallen belum juga datang. Dan Tristan juga belum bangun dari tidurnya, astaga."
Amanda segera membereskan dapurnya dan merapikan meja makan. Setelah semua beres, dia naik ke lantai 2 untuk membangunkan Tristan.
Tok tok
"Tristan! Ayo bangun!"
Tok tok tok
"Tristan, jangan buat Mama malu saat tamu Mama sudah datang dan kamu masih molor. Tristan!" Teriak Amanda di depan pintu kamar Tristan.
"Tristan!"
Tok tok tok
"Bangun Tristan!"
"Jika dalam hitungan ke tiga kamu tidak juga membuka pintu, Mama akan mencabut semua fasilitas mu, dan-"
Cklek
Tristan membuka pintu dengan mata yang setengah terpejam, dia menatap Mamanya dengan malas.
"Ada apa sih, Ma?" Tanya Tristan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada apa katamu? Hari ini akan ada seseorang yang berkunjung ke rumah kita, dan cepat kamu bersiap. Jangan membuat Mama malu."
"Ma, ini masih terlalu pagi, Ku rasa Mama terlalu berlebihan. Memang se-spesial apa sih tamu itu hingga mama mengganggu waktu tidur Tristan?" Tristan masih berceloteh dengan menyandarkan punggungnya di pintu kamarnya.
"Jangan banyak protes, sekarang mandi dan bersiaplah. Lagi pula ini sudah jam setengah tujuh, tamu kita akan datang sekitar pukul delapan pagi, sebaiknya kamu segera bersiap."
"Iya, Ma." Tristan bersuara dengan pelan, dia masih sangat mengantuk dan dia dibangunkan oleh Mama nya dengan ancaman yang membuat nya menciut.
******
"Dad, Alvian sudah memesankan tiket untuk Daddy," ujar Alvian saat menemui Daddy-nya di ruang tamu.
"Ya, terima kasih, Al."
"Apa Daddy akan ke Berlin hari ini juga?" Tanya Siyyara dengan nada sendu.
"Iya, sayang. Daddy ada urusan penting di Berlin, kalau Daddy tidak segera pulang ke Berlin, Kakekmu akan mengamuk di sana," gurau Dave.
"Daddy hati-hati ya, jangan lupa kabari Siyya saat Daddy nanti sudah sampai disana," seru Siyyara.
"Iya sayang. Sebaiknya ayo kita segera ke rumah Damestria. Mereka pasti sudah menunggu kita," ujar Dave.
"Baik, Dad."
Mereka semua segera memasuki mobil yang sudah disiapkan oleh para Bodyguard nya. Siyyara satu mobil dengan Dave, sedangkan Alvian dan Maira ada di mobil satunya. Dan tidak lupa juga mereka membawa Bodyguard nya untuk berjaga-jaga.
******
"Tristan cepat hubungi kakakmu, suruh dia pulang segera," perintah Mamanya.
"Iya, Ma." Tristan dengan malas merogoh ponselnya dari saku celana. Semenjak pengakuan Tristan tentang perasaannya kepada Siyyara, hubungan Tristan dan Gallen merenggang.
Dan di saat hubungan mereka tidak seakrab dulu lagi, Amanda yang selalu membuat kakak-beradik itu selalu berkomunikasi, meski dengan perasaan terpaksa, mereka tetap berkomunikasi dengan baik.
"Assalamualaikum," sapa Tristan.
"......"
"Kakak ditunggu Mama sekarang juga. Kak Gallen harus segera pulang," ujar Tristan.
"......"
"Baiklah, kami tunggu."
"....."
"Wa'alaikumsalam."
Tit
"Apa kata Gallen? Dia bisa datang kan?" Tanya Amanda cepat.
"Iya, Ma. Kak Gallen sedang dalam perjalanan, Mama sabar lah."
"Baiklah."
********
"Dad, apakah rumahnya masih jauh?" Tanya Siyyara sambil melihat sekelilingnya.
"Mungkin sekitar 3 menit lagi kita akan sampai," jawab Dave dengan suara yang halus.
Siyyara hanya mengangguk mengerti.
"Mansion Damestria dulu sangat dekat dengan rumah kita," ujar Dave sambil menatap putrinya.
"Dekat? Benarkah? Lalu mengapa Mansion kita sekarang jauh dari Mansion Damestria, Dad?"
"Itu karena dahulu kamu tiba-tiba ingin pindah ke Berlin, kakakmu sudah berusaha membujukmu agar kamu tetap tinggal, tetapi saat itu kamu sangat keras kepala, hingga akhirnya setelah kepergian mu, kakakmu ikut meninggalkan Mansion karena urusan pekerjaan. Dan akhirnya dia memutuskan untuk membeli rumah di daerah yang dekat dengan kantornya."
Siyyara menunduk.
"Siyya tidak ingat, Dad."
"Tidak perlu diingat, itu hanyalah kepingan masa lalu, lebih baik jika kita tetap fokus ke masa depan. Dan kamu jangan terlalu banyak berpikir, sayang. Jika kamu tidak ingat, jangan dipaksa." Dave mengelus puncak kepada Siyyara.
"Sebenarnya apa alasanku ingin pindah ke Berlin, Dad?" Tanya Siyyara dengan penasaran.
"Ah, kita sudah sampai. Ayo sebaiknya kita segera turun," ucap Dave setelah melihat sekelilingnya dan Bodyguard nya membukakan pintu mobil untuknya dan Siyyara.
Siyyara terpaksa menyunggingkan senyumnya, jika dia bertanya sedikit tentang masa lalunya, pasti Daddy nya selalu menghindar.
'Apakah masa laluku sangat kelam?' batin Siyyara. Hatinya entah mengapa hatinya sangat tidak nyaman.
Dengan terpaksa Siyyara turun dari mobil dan mengikuti langkah kaki Daddy-nya. Tak lama kemudian disusul Alvian dan Maira, mereka berjalan di belakang Siyyara.
**
"Tristan, kakakmu belum juga datang, sebenarnya apa sih yang dilakukannya?" Gerutu Amanda.
Tristan menaikkan kedua bahunya tanda tidak tahu.
Kekhawatiran Amanda semakin menjadi saat ada suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.
"Oh Ya Tuhan, mereka sudah datang. Tristan, cepat hubungi kakakmu lagi." Amanda terus mendesak Tristan, agar mau menelpon Gallen lagi.
"Sebenarnya tamunya siapa sih? Dari tadi Mama heboh sendiri. Memangnya kenapa kalau kak Gallen belum datang, Ma? Kita kan bisa menyambut mereka, ngapain harus nunggu kak Gallen?"
"Stt, lebih baik kamu diam. Kamu hanya membuat Mama semakin khawatir saja," sahut Amanda.
"Khawatir kenapa, Ma?"
"Mama takut jika Gallen sengaja tidak datang," jelas Amanda.
Tristan dibuat bingung dengan sifat Mamanya, apakah tamu yang berkunjung di rumahnya itu sangat spesial? Atau tamu itu rekan bisnis kak Gallen?
"Sebaiknya Mama sambut tamunya dan bukakan pintu untuk mereka, Tristan akan tunggu disini," Tristan duduk di sofa ruang tamu.
"Baiklah, jangan lupa hubungi Gallen. Mama ingin Gallen segera sampai disini," ujar Amanda.
"Iya, Ma. Akan Tristan hubungi lagi."
**
Amanda membuka pintu utama dengan pelan, dan setelah pintu itu terbuka hati Amanda mencelos saat melihat wajah Siyyara. Rasa rindu menyeruak di dalam hatinya hingga tanpa sadar air matanya sudah mengalir di pipinya. Amanda segera menghapus air matanya dan menyapa para tamunya.
"Assalamualaikum," sapa Dave.
"Wa'alaikumsalam," jawab Amanda sambil tersenyum.
"Terima kasih, Tante," ujar Siyyara.
Amanda tersenyum, dan dia melirik Dave yang masih diam di samping Siyyara.
"Silahkan, masuklah ke dalam," pinta Amanda lagi.
Dave dan Alvian segera masuk ke dalam menyusul Siyyara. Tak lupa Alvian juga menggandeng tangan Maira saat memasuki rumah itu.
*
"Dave, aku senang karena kau benar-benar membawa Siyyara kemari," ujar Amanda setelah para tamunya duduk di sofa ruang tamu. Sesekali Amanda terus memperhatikan Siyyara yang terus memperhatikan sekelilingnya.
"Aku sudah berjanji, dan aku akan menepati janjiku," jawab Dave dengan tegas.
Amanda membalas ucapan Dave dengan tersenyum.
"Sayang, bagaimana kabar mu?" Tanya Amanda kepada Siyyara.
"Baik, Tante," jawab Siyyara dengan sedikit menunduk. Dia merasa bersalah karena benar-benar tidak mengenali wanita yang baru saja menanyakan kabarnya.
"Maaf Tante, Siyyara tidak mengingat Tante," ujar Siyyara dengan nada sedih.
"Tidak apa-apa sayang, Daddy mu sudah memberitahu Tante semua tentangmu. Anggap saja kamu baru mengenal Tante hari ini," hibur Amanda. Siyyara mengangguk dan tersenyum hangat.
Amanda melirik ke sofa sebelah dan disana Amanda melihat Alvian tengah membawa seseorang yang belum ia kenal.
"Al, siapa gadis yang ada di sebelah mu?" Tanya Amanda.
"Dia Maira, Tante. Dia istri Alvian. Kami baru saja menikah kemaren," jawab Alvian.
"Kalian menikah dan tidak mengundang Tante?"
"Sebenarnya niat Alvian mengundang Tante dan Gallen, Alvian hanya mengirimkan 1 undangan saja dan undangan itu diterima oleh Gallen, Alvian pikir Gallen akan datang bersama Tante, tetapi sepertinya Gallen lupa memberitahu Tante." Alvian terkekeh kecil. Jelas Alvian tahu alasan Gallen tidak mengajak Mamanya, pasti Gallen lupa memberi tahukan pernikahannya kepada Mamanya karena dia pasti tidak sabar ingin bertemu Siyyara.
"Hahaha, Tante tahu maksudmu, Al. Anak itu benar-benar menyebalkan, awas saja kalau dia pulang nanti," gerutu Amanda dengan kesal.
"Ma, kak Gallen akan sampai sebentar lagi," ujar Tristan yang baru saja turun dari lantai 2.
Saat Tristan memandang ke depan, tatapannya terhenti pada satu objek, perasaan rindu tiba-tiba membuncah di hatinya. Meski sudah 2 tahun menghilang tanpa kabar, tetapi gelenjar aneh tetep menguasai perasaannya saat melihat sosok itu.
"Tristan, ayo kemari, bergabung lah bersama kami," seru Amanda.
Tristan segera sadar dan menyunggingkan senyum paksa. Dia mendekat dan duduk di sofa sebelah Amanda. Yang posisinya berseberangan dengan Siyyara.
"Siyya, ini adalah putra bungsu Tante, namanya Tristan." Amanda memperkenalkan Tristan kepada Siyyara.
Siyyara tersenyum dan mengangguk.
"Salam kenal, namaku Siyyara," ucap Siyyara.
Tristan menyerngitkan dahinya saat mendengar Mamanya memperkenalkan dirinya kepada Siyyara, dan Siyyara pun memperkenalkan diri kepadanya. Bukankah mereka dulu sudah lebih dari kenal?
"Siyya, kamu-"
"Assalamualaikum," ucap Gallen saat sampai di ruang tamu, suara Gallen membuat semua orang menoleh kearahnya.
Siyyara membulatkan kedua matanya saat melihat Gallen.
Begitupun dengan Gallen, dia sangat terkejut saat tamu yang datang ke rumahnya ternyata adalah gadis yang membuat hidupnya berantakan.
"Gallen, akhirnya kamu datang juga, kemari lah." Amanda meminta Gallen agar ikut bergabung, dengan enggan Gallen menuruti perintah Mamanya.
"Kak Gallen? Kak Gallen kenal dengan Tante Amanda juga?" Tanya Siyyara dengan tatapan memicing.
"Siyya, kamu sudah bertemu dengan Gallen ya?"
"Iya Tante, Siyyara bertemu kak Gallen saat kak Gallen menghadiri pesta pernikahan kak Alvian."
Amanda tersenyum geli saat mendengar Siyyara memanggil Gallen dengan sebutan Kakak. Berbeda dengan Siyyara yang dulu, sebelum kehilangan ingatannya, dia dulu selalu memanggil Gallen dengan sebutan nama saja.
Amanda terheran saat Gallen hanya diam saja ketika ditanya oleh Siyyara. Tidak biasanya Gallen hanya diam saja ketika Siyyara bertanya.
"Siyya, Gallen adalah anak Tante. Dia adalah kakak dari Tristan," jelas Amanda.
Siyyara mengangguk paham.
"Pantas saja kemaren kak Alvian bilang jika kami akan datang ke rumah sahabatnya, ternyata yang dimaksud adalah kak Gallen."
"Dan kak Alvian juga bilang jika Siyyara akan bertemu teman Siyyara juga. Apakah Tante punya anak gadis yang berteman dengan Siyyara?"
"Hahaha, kamu lucu sekali, sayang. Tante hanya punya Gallen dan Tristan saja, Tante tidak punya anak perempuan."
Siyyara mengerutkan keningnya.
"Teman mu ya Tristan, Siyya. Dia sahabatmu saat kamu masih di Jakarta," jelas Amanda sambil tertawa.
Siyyara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia malu karena berasumsi jika Amanda punya anak gadis yang seumuran dengan nya. Tidak ia sangka jika sahabatnya ternyata adalah Tristan.
Gallen diam, tak sedikitpun dia melirik ke arah Siyyara. Dia terlihat bosan dengan percakapan Siyyara dengan Mamanya.
Alvian menatap Gallen dengan tatapan tidak biasa, dia menatap Gallen dengan menyelidik.
'Apa kepalanya baru menatap batu? Tidak biasanya dia cuek kepada Siyyara,' batin Alvian, dia merasa aneh dengan Gallen.
"Ah, karena semuanya sudah berkumpul, ayo kita sarapan pagi bersama." Amanda segera berdiri dan mengarahkan tamunya menuju ke ruang makan.
"Wah, Tante. Apakah semuanya ini Tante yang menyiapkan sendiri?" Tanya Siyyara takjub.
"Tentu saja sayang." Amanda tersenyum hangat.
"Maira, silahkan makan. Sebelumnya Tante minta maaf karena Tante tidak tahu makanan kesukaanmu, nak."
"Tante, Maira suka makanan yang Tante masak. Kapan-kapan boleh Maira datang kesini lagi dan meminta Tante untuk mengajari Maira memasak?" Tanya Maira dengan lembut.
"Tentu saja boleh, sayang. Tante akan sangat bahagia jika Tante punya teman untuk masak."
"Ehem. Tante, bolehkah Alvian mulai memakan makanan ini?" Tanya Alvian tidak sabaran.
Semua yang ada di sana pun tertawa lepas. Kecuali Gallen, dia masih berekspresi datar.
Dave diam, sejak tadi dia terus mengamati ekspresi wajah Gallen. Dave merasakan sebuah kebencian yang mendalam dari tatapan mata itu. Dia terus menelisik dan berpikir keras.
'Apa yang terjadi padanya?' pikir Dave.
"Gallen?" Panggil Dave.
"Iya paman?" Jawab Gallen dengan nada datar.
"Apa kau tahu tujuan kami datang ke sini?" Tanya Dave dengan tatapan yang terus menatap Gallen.
"Tidak paman."
"Menurutmu?" Dave terus memancing Gallen agar mau berbicara.
"Mungkin paman ingin merayakan kerjasama kita 1 bulan yang lalu, karena saat itu paman masih sibuk di Berlin."
Dave mengangguk.
"Kau benar, kita belum sempat bertemu setelah kita menyepakati untuk bekerja sama," ujar Dave sambil memakan makanannya.
"Siyya?" Panggil Amanda.
"Iya Tante."
"Kamu masih ingin melanjutkan kuliahmu di Berlin atau mau pindah ke Jakarta, sayang?"
"Siyya ingin pindah ke Jakarta Tante. Siyya sangat suka suasana di sini," sahut Siyyara dengan tersenyum manis.
"Itu bagus, sayang."
"Oh ya, sebenarnya Tante memanggil Siyyara untuk berkunjung kemari karena Tante punya alasan," ujar Amanda dengan serius.
Semua orang menyadari nada serius Amanda, dan seketika mereka menghentikan aktivitas makannya. Mereka lebih tertarik mendengar pernyataan Amanda ketimbang menghabiskan makanannya.
"Gallen, Mama ingin menjodohkan mu dengan Siyyara," ujar Amanda dengan nada cepat.
Tanpa sadar, Gallen menjatuhkan sendok dan garpu nya, dia memandang Mamanya dengan serius.
Siyyara juga menahan napasnya setelah mendengar penuturan Amanda. Dia sangat syok, dia tidak mungkin menikah dengan seseorang yang tidak ia cintai. Dan lagipula dirinya juga sudah memiliki Brian.