
Gallen dan Siyyara mengantri membeli tiket untuk nonton, Siyyara yang sedari tadi tidak pernah menanggalkan senyumannya membuat hati Gallen menghangat. Siyyara terus memeluk lengan Gallen hingga membuat para wanita yang ada disana merasa iri.
Gallen hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah manja kekasihnya, dia merasa sangat bahagia saat ini, karena Siyyara telah membuka hati untuknya.
Senyuman Gallen lenyap ketika melihat segerombolan orang yang mengenakan pakaian serba hitam, Gallen berpikir keras, dia mengingat bahwa dia tidak membawa bodyguard nya, lalu siapa mereka? Karena Gallen merasa jika orang-orang itu sedang memantau nya meski mereka berpura-pura tidak melihat keberadaan nya.
"Siyya, sebaiknya kita nontonnya lain kali saja ya?"
"Kenapa? Kita bahkan sudah berdiri disini sedari tadi."
"Iya, maaf Siyya. Aku teringat jika malam ini ada pertemuan penting," bohong Gallen.
"Ish, tapi kamu bilang kalau-"
"Sekali lagi maafkan aku, sayang. Ayo kita pulang." Tanpa mendengar persetujuan dari Siyyara, Gallen langsung menarik lengan Siyyara dengan lembut.
"Gallen! Tapi aku ingin nonton sekarang!" Rengek Siyyara dengan nada setengah membentak. Gadis itu hanya tidak suka saja kekasihnya berbuat seenaknya sendiri. Tadi siang dia yang memaksa jalan dan nonton bareng, sekarang dia membatalkan niatnya seenaknya sendiri. Benar-benar menyebalkan!
Gallen berusaha untuk tenang, dia tidak ingin membuat Siyyara menjadi panik. Gallen juga tidak ingin Siyyara terluka seperti waktu itu. Pikiran Gallen semakin kacau saat mengingat kejadian di Mr. Ice, dimana orang kepercayaan nya mengatakan jika Mr. Yusa lah dalang di balik celakanya Siyyara, Mr. Yusa turun tangan sendiri untuk membunuh Siyyara. Lalu apakah orang-orang tadi juga suruhan Mr. Yusa?
"Sepertinya bukan, Mr. Yusa adalah orang yang sangat nekat, dia tidak akan mengirim orang lain untuk melukai seseorang, jika dia ingin melukai seseorang, pasti dia akan turun tangan sendiri," batin Gallen.
Gallen segera membukakan pintu mobil untuk Siyyara, gadis itu pun hanya menurut, dia segera masuk ke dalam mobil.
Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Gallen memperhatikan sekitarnya lagi. Setelah memastikan orang-orang yang berbaju hitam tidak mengikuti nya sampai parkiran, Gallen segera masuk dan menjalankan mobilnya.
*
Siyyara terus memandangi raut wajah Gallen yang seperti menahan amarahnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Siyyara.
Gallen menggeleng dan tersenyum, dia ingin mengatakan jika tidak ada apa-apa.
"Gallen, aku ingin ke butik lagi, aku ingin kamu membelikan ku gaun yang banyak. Karena di rumah aku hanya memiliki 2 gaun saja. Yang satu pemberian mu saat acara Dies Natalis Rumah Sakit mu, terus yang satu nya lagi aku menyuruh Livia untuk membelikan ku Gaun dan menyuruhnya untuk mengirim ke rumahku, karena hari ini kamu mengajak ku pergi. Tapi kamu membawaku ke butik lagi untuk ganti gaun," curhat Siyyara.
"Gallen, aku ingin gaun yang banyak."
"Iya sayang, aku akan membelikan mu gaun yang banyak, sekarang tidurlah."
"Nggak mau, kan aku belum ngantuk," celetuk Siyyara.
Gallen diam, alasannya ingin agar Siyyara tidur karena dia ingin ngebut, dia tidak akan bisa ngebut jika Siyyara dalam keadaan sadar. Karena Siyyara sangat takut dengan kecepatan.
"Gallen!"
"Iya?"
"Kok jawabnya iya aja sih?"
Gallen menghembuskan napas panjang. Dia menoleh ke arah Siyyara dan berkata, "Apa sayang?"
Siyyara cekikikan dan bertingkah malu-malu saat Gallen memanggilnya Sayang.
"Tidak ada," jawabnya.
Gallen hanya menggelengkan kepalanya saat gadis di sebelahnya itu bertingkah aneh.
Siyyara menggerak-gerakkan badannya seperti anak kecil, dia pun melihat ke arah jendela, tak lama kemudian kedua matanya terpaku saat melihat deretan mobil mengikuti mobil Gallen, Siyyara dapat melihat dengan jelas melalui spion.
"Gallen, kamu bawa Bodyguard ya?" Tanya Siyyara kesal. Dia sangat malas ketika harus di ikuti oleh para bodyguard.
Ketika mendengar ucapan Siyyara, Gallen melirik spionnya sebentar, lalu dia melirik Siyyara kembali.
"Siyya, pejamkan matamu. Aku akan ngebut. Aku janji, kita tidak akan kenapa-napa."
"Ada apa, Gallen? Apa dibelakang bukan Bodyguard mu? Lalu siapa mereka?" Siyyara curiga ketika Gallen memasang wajah sedikit panik, meskipun Gallen dengan cepat mengubah ekspresi nya menjadi datar kembali, tetapi Siyyara tahu bahwa di belakang pasti bukan anak buah Gallen.
"Gallen," panggil Siyyara d Ngan nada bergetar ketika merasakan mobil Gallen melaju dengan cepat.
"Pejamkan matamu, Siyyara."
Siyyara mencengkram seat belt nya dan memejamkan kedua matanya dengan paksa. Kedua matanya pun meneteskan air mata, bukan karena cengeng, tetapi itu adalah reaksi alami Siyyara ketika melawan rasa takutnya. Dia berusaha agar tidak takut, dia percaya dengan Gallen.
"Tenanglah Siyya, tahan sebentar," hibur Gallen.
Siyyara mengangguk pelan, di tengah kecemasan nya dia menyadari sesuatu di lehernya. Kedua tangan yang sebelumnya mencengkram seat belt, dia alihkan tangan kanannya untuk memegang kalung pemberian kakeknya saat dirinya masuk ke rumah sakit.
"Tekan lah bandul kalung itu ketika kamu sedang dalam bahaya, sayang." Siyyara mengingat kata-kata kakeknya.
Siyyara segera menekan bandul kalungnya dan masih memejamkan mata.
*******
"Dave, hari ini ada rapat dengan klien dari LA, kamu ingatkan?"
"Iya Ayah. Aku sudah mempersiapkan semuanya dengan baik," jawab Dave.
"Baiklah, aku percaya padamu. Hari ini aku dan Harvi akan menemui Kevin sebentar di-"
Tiit tiiit tiit
"Ayah, suara apa itu?" Tanya Dave sambil memandangi sekitar.
********
Tiit Tiit Tiiit
Alvian berkutat dengan laptopnya di ruang kerjanya yang ada di rumah. Dia menghentikan gerakan jarinya ketika mendengar suara alarm berbahaya.
Iya, Alvian tahu jika sinyal bahaya itu berasal dari kalung Siyyara, karena kakeknya yang memberitahu dirinya sebelum memberikan kalung itu kepada Siyyara.
"Siyyara!"
Alvian langsung keluar dari ruangannya dan mengumpulkan semua para Bodyguard nya.
"Siapkan semuanya, bawa senjata kalian, kita akan pergi. Dan ikuti mobilku!" Alvian segera menuju mobilnya dan melacak keberadaan Siyyara.
"Siap, Tuan."
Semua bodyguard menyebar dan memasuki mobil-mobil yang telah terparkir rapi di halaman rumah Damares.
Mobil Alvian melaju terlebih dahulu dan di ikuti mobil para Bodyguard nya di belakang. Seluruh jalan di penuhi oleh mobil Alvian dan para bodyguard nya.
********
"Dave, kita harus bertindak! Nyawa Siyyara dalam bahaya!" Teriak Ferdy dengan wajah yang panik.
"A-apa? Ayah bicara apa?"
"Aku sengaja memasang alarm di kalung Siyyara, karena aku tidak ingin kita kecolongan lagi. Dan aku berkata kepada Siyyara agar menekan tombol di kalungnya ketika dia dalam bahaya! Sekarang telfon Alvian! Suruh dia bergerak cepat!"
"Ba-baik." Dave merogoh ponselnya dari saku dan segera men-dial nomor Alvian.
Tut Tut Tut
'Nomor yang anda tuju sedang sibuk-'
Tut Tut Tut
'Nomor yang anda tuju sedang sibuk-'
"Aghhht!" Teriak Dave frustasi.
"Bagaimana?" Tanya Ferdy khawatir.
"Tidak di angkat, sepertinya kita harus turun tangan sendiri. Ayah tunggu disini saja, biar aku dan kak Harvi yang terbang ke Indonesia," ujar Dave setelah menghubungi Harvi.
"Kau yakin akan ke Indonesia?" Tanya Ferdy ragu.
Dave diam. Dia menghembuskan napasnya dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya, aku akan ke Indonesia, Ayah."
*******
"Gal-len," cicit Siyyara, keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya, rasa takutnya semakin menjadi ketika Gallen menambah kecepatan mobilnya.
"Siyya, tutup matamu. Tenanglah, jangan buka kedua matamu sebelum aku meminta," ujar Gallen sambil melirik Siyyara yang sedang ketakutan.
Saat Gallen kembali fokus ke depan, terlihat sebuah mobil Jeep memotong jalan dan menghadangnya, dengan terpaksa Gallen mengurangi kecepatan mobilnya dan menghentikan mobilnya, jika saja dia di dalam mobil sendirian, tentu saja Gallen akan menerobos mobil itu. TetapiĀ saat ini dia bersama Siyyara, dia tidak ingin gadis itu terluka karenanya.
Gallen lagi-lagi melirik Siyyara yang masih memejamkan kedua matanya dengan paksa.
"Siyya, kamu duduk di dalam saja ya, aku akan keluar sebentar." Mendengar pernyataan Gallen, seketika Siyyara membuka kedua matanya dan melihat sekitarnya yang telah terkepung oleh orang-orang yang berbaju hitam.
"Kamu jangan takut, tunggu aku di dalam saja ya." Gallen mengelus kepala Siyyara dengan lembut, untuk menenangkan kekhawatiran Siyyara.
"Ta-tapi mereka banyak," ucap Siyyara takut.
"Aku mohon jangan keluar, ki-kita di dalam saja. Aku tidak mau sendiri," ucap Siyyara dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Ssttt. Jangan menangis. Semua akan baik-baik saja, percayalah," hibur Gallen.
Siyyara terus menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin Gallen keluar dari dalam mobil. Siyyara memegang erat lengan Gallen, agar Gallen tidak keluar.
"Gallen, jangan."
"Aku harus menghadapi mereka Siyya. Mereka tidak akan pergi jika kita terus menghindar, kau di dalam saja ya. Dan kunci pintu mobilnya, aku akan keluar sebentar."
Tanpa menunggu jawaban Siyyara lagi, Gallen membuka dasboard nya dan mengambil pistol yang selalu dia simpan di sana.
"Gallen!"
*****
"Hallo, Tuan? Mobil sasaran sudah berhenti tepat di depan kita, Tuan. Di dalam mobil tersebut ada Tuan Muda Damestria dan Nona Damares. Apa yang harus kami lakukan, tuan?" Tanya salah satu orang yang mengejar Gallen dan Siyyara.
"Baik Tuan. Kami akan melakukan tugas ini dengan sebaik-baiknya. Tuan percayakan saja pada kami."
"Hm, bagus. Aku tunggu di markas kita, cepat bawa gadis itu ke markas."
"Baik, tuan."
*******
Gallen berjalan mendekati segerombolan orang yang berpakaian serta hitam.
"Apa yang kalian inginkan?" Tanya Gallen dengan nada datar dan dingin.
"Serahkan gadis itu kepada kami, maka kami akan membiarkan mu pergi," ujar salah satu diantara mereka.
"Sampai mati pun, aku tidak akan pernah menyerahkan dia kepada kalian," sahut Gallen cepat.
"Baiklah, jika kau ingin mati. Ucapkan selamat tinggal kepada dunia ini," ucap Ketua dari pasukan itu.
"Seperti kalian bisa saja," ejek Gallen, yang membuat mereka semua semakin geram.
Sang ketua mengambil pistol dari tangan anak buahnya, dia pun mengarahkan pistol itu ke arah Gallen, ketua itu tersenyum sinis ke arah Gallen.
"Silahkan, aku tidak takut," tantang Gallen.
Gigi sang ketua mafia gemeletuk menahan amarahnya, baru kali ini dia diremehkan oleh seseorang. Dia menarik peletuk pistol dan mengarahkan pistolnya ke arah mobil Gallen, dimana di dalam sana terdapat Siyyara.
Doorrr
Doorrr
Cetarrrr
Karena perpindahan arah pistol yang sangat cepat, Gallen tidak menyadari hal itu dan bahkan dia sangat terkejut saat mendengar suara pistol dan kaca yang pecah.
Kaca depan mobil Gallen pecah tak terbentuk, Gallen membulatkan kedua matanya, dia tidak terkejut ketika kaca mobilnya hancur, yang ditakuti oleh nya adalah Siyyara. Dia takut jika serpihan kaca itu mengenai kekasihnya.
"Siyyara!"
Sedangkan di dalam mobil, Siyyara menutup kedua matanya yang sudah berdarah. Dia terus menangis memanggil kakak dan juga Ayahnya, karena ia sangat takut dengan kegelapan.
"SIYYARA!" Teriak Gallen lagi saat melihat Siyyara yang sudah berlumuran berdarah.
Gallen segera membuka pintu mobilnya dan membawa Siyyara keluar dari dalam mobil. Hatinya seperti tersayat saat melihat keadaan Siyyara yang seperti ini.
Serpihan kaca menancap tepat di kedua mata Siyyara, dan wajahnya terluka karena tergores kaca.
"Si-Siyya?" Suara Gallen terbata. Dia tidak menyangka jika kejadian itu akan menimpa Siyyara. Disini dia ingin melindungi Siyyara, tetapi lagi-lagi dia tidak bisa melindungi Siyyara dari bahaya.
"Hiks, Gallen. Sakit. Sakit. Gelap, aku takut gelap." Siyyara mencengkram baju depan Gallen dengan erat.
"Sakit."
"I-iya, Siyya. Ki-kita ke rumah sakit ya, tahan sebentar ya."
"Sakit," racau Siyyara. Gallen berusaha menghalau air matanya yang ingin menetes, dia berusaha menyembunyikan kesedihannya dihadapan para musuh.
*
Disisi lain, kelompok Mafia yang diperintahkan untuk menculik Siyyara terdiam ketakutan, mereka telah berjanji tidak akan melukai gadis incaran Tuannya, tetapi karena ingin menggertak Gallen, mereka menembak kaca depan mobil Gallen yang di dalamnya terdapat gadis itu.
"Bos, bagaimana ini?"
"Tuan Calvert pasti marah besar ketika tahu kondisi gadis itu," ujar salah satu diantara mereka kepada ketua nya.
"Mau tidak mau, kita tetap harus membawanya ke markas. Aku tidak ingin tuan Calvert semakin marah kepada kita karena kita tidak bisa membawa gadis itu ke markas."
"Cepat rebut gadis itu dari dia," perintah Ketua mafia itu.
*
"Sakiiittt! Gelap! Gallen tolong."
"Iya, sayang. Kita ke rumah sakit ya." Gallen segera membopong Siyyara.
"Mau kau bawa kemana dia?"
Gallen menggeram marah, sangat marah. Dia meletakkan Siyyara ke tanah dan kembali menghampiri kelompok mafia itu.
"Berani sekali kau menyakiti gadisku!" Bentak Gallen dengan mata nenajam.
"Aku tidak sengaja, dan sebaiknya kau berikan dia pada kami," ujar sang ketua.
"Kau sedang malak bocah SD?" Ejek Gallen dengan menyeringai.
Sang ketua menggeram marah.
"Kalian! Serang dia sekarang!" Perintah sang ketua mafia kepada anak buahnya.
"Satu lawan 50? Baiklah, aku akan meladeni kalian," ujar Gallen dengan menyeringai.
"Hyaaa!" Para mafia itu segera menghampiri Gallen untuk adu jotos.
Gallen segera mundur untuk mencari tempat yang sedikit luas, agar dirinya dapat bergerak dengan bebas.
Buk
Bukk
Segerombolan Mafia mengeroyok Gallen, tetapi dengan cekatan Gallen menangkis semua serangan mereka dan membalas serangan dengan membabi buta, sehingga banyak para mafia yang bergelimpangan.
Saat melihat teman-temannya tidak berdaya melawan Gallen, dia pun mengambil pistolnya kembali dan mengarahkan nya kepada Gallen.
Dooorrrrr
Dooorrrr
Gallen menoleh ke arah ketua mafia itu, dia segera mengarahkan pistolnya juga kepada ketua mafia itu, sehingga terjadi adu tembak.
Peluru yang di tembakkan oleh sang ketua mafia melesat mengenai anak buah nya sendiri, sehingga sampai sekarang Gallen dalam keadaan baik-baik saja.
Saat Gallen dan Ketua mafia itu sedang adu tembak, anak buah dari ketua mafia itu membawa Siyyara yang posisinya jauh dari Gallen.
"LEPAS! GALLEN!"
Gallen segera menoleh ke belakang saat mendengar suara teriakan Siyyara dan tak mempedulikan jika saat ini Ketua Mafia sedang menembakkan 2 buah peluru kepada-nya.
Dorrrr Dorrrr
"Hahahaha!" Tawa ketua mafia ketika berhasil melukai Gallen.
Gallen terdiam ketika merasakan rasa panas pada punggungnya. Dengan masih mengumpulkan kesadaran dan kekuatannya, dia membalas tembakan itu kepada Ketua Mafia.
Ketua mafia sedang tertawa penuh kemenangan karena dia telah berhasil melukai Gallen dan Siyyara telah berada di tangan anak buahnya. Dia tidak menyadari jika Gallen masih sadar dan tengah menatapnya tajam.
Gallen mengambil pistolnya yang sempat terjatuh dan menembaki ketua dari kelompok mafia itu dengan bringas.
Doorrr
Doorrr
Doorrrr
"Aghhht!"
Setelah sang ketua mafia tumbang, para anak buahnya ketakutan, dan kesempatan itu digunakan Gallen untuk menembaki sisa orang-orang yang masih sadar.
Meski Gallen menembak dengan beruntun, tetapi ada banyak peluru yang terbuang sia-sia karena tembakannya secara acak, dan para anak buah mafia dengan cekatan menghindari peluru Gallen.
Dan karena geram dengan Gallen, salah satu anak buah Mafia menembak Gallen secara beruntun, dan tepat mengenai dada dan perutnya.
"Agh!" Gallen tetap mempertahankan kesadarannya, dengan mata yang berkunang-kunang, dia mengarahkan pistolnya ke arah orang yang membawa Siyyara.
Dooorrrr
Dooorrrrr
Doorrrrr
Orang yang menggendong Siyyara tumbang dan sebagian peluru masuk ke tubuh Siyyara, hingga membuat Siyyara tak sadarkan diri.
Tak lama kemudian mobil Alvian dan para bodyguard nya sampai di tempat kejadian, semua Bodyguard Alvian menyebar untuk menangkap para musuh. Sebagian para Mafia ada yang sudah kabur dan ada yang tertangkap oleh Bodyguard nya Alvian.
"Bawa mereka semua ke kantor polisi, dan selidiki siapa dalang di balik kejadian ini," perintah Alvian kepada para pengawalnya.
"Baik, tuan muda."
Setelah sebagian Bodyguard nya pergi membawa mafia yang berhasil tertangkap, Alvian segera mencari adik dan sahabatnya. Kedua mata Alvian tercengang saat melihat tubuh adiknya tergeletak di aspal.
"SIYYARA!" Alvian segera menghampiri adiknya yang berbaring di tengah aspal dalam keadaan mengenaskan.
"Siyya, bangun sayang." Alvian menangis, takut terjadi sesuatu kepada adiknya.
"Al-Alvian," panggil Gallen dengan nada tersenggal.
Alvian segera menoleh mencari keberadaan Gallen. Gallen berjalan mendekati Alvian dengan dituntun oleh Bodyguard Alvian. Alvian menahan napas saat tahu kondisi Gallen lebih parah dari adiknya. Seluruh tubuhnya penuh dengan darah. Alvian memejamkan kedua matanya sebentar.
"Ma-maaf kan a-aku. Ak-aku ti-dak bi-bisa menja-ga Si-siyya." Gallen ambruk setelah mengatakan kalimat itu, dan hal itu membuat Alvian termenung dengan tatapan kosong.
"Tuan muda, sebaiknya kita bawa Nona Siyyara dan Tuan muda Gallen ke rumah sakit, agar cepat mendapat pertolongan," ujar salah satu bodyguard Alvian yang berusaha mengembalikan kesadaran Alvian.
Alvian tersadar dari lamunannya dan dia segera membawa Siyyara ke dalam mobilnya.
"Cepat bawa Gallen. Kita akan ke rumah sakit sekarang!"