The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
41. Perasaan



"Apa yang ingin kau katakan?" Dave menatap Gallen dengan tatapan tajam.


"Tentang penculikan Siyyara," jawab Gallen dengan nada santai.


"Penculikan?" Beo Alvian.


"Iya, hampir saja Siyyara diculik, apakah paman Dave memiliki musuh lain selain Samuel Calvert?"


Alvian melirik Mr. Dave untuk menjelaskan semuanya.


"Ada, maka dari itu sejak dulu aku tidak pernah membiarkan Siyyara sendiri." Mr. Dave terus menatap Gallen.


"Tapi, darimana kau tahu tentang si Calvert itu?" Tanya Dave penuh curiga.


"Karena dia adalah orang pertama yang terang-terangan mengajakku untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan nya, tetapi dengan syarat aku harus membantunya menghancurkan Damares Corp," jawab Gallen dengan jujur. Gallen mengungkapkan pembicaraan nya dengan Samuel yang pasti membuat Mr. Dave semakin murka, tetapi hal seperti itu harus disampaikan, meski harus membuat Calvert dan Damares bentrok secara terang-terangan. Dari informasi tersebut, Mr. Dave juga dapat menghindar dari bencana yang akan di sebabkan oleh Mr. Samuel. Musuh yang nyata jauh lebih baik ketimbang musuh yang tidak terlihat.


"Mengapa kau mengatakannya padaku? Apa kau tidak takut, jika aku berpikir kau saat ini sedang bekerja sama untuk menghancurkan ku?" Tanya Mr. Dave sinis.


Gallen menggeleng pelan. Dia tahu jika rasa marah yang ada di dalam hati Mr. Dave masih ada. Gallen maklum akan hal itu, karena dia memang keterlaluan dalam berkata, apalagi yang ia jelek-jelekkan waktu itu adalah Siyyara, tentu saja Mr. Dave akan murka padanya.


"Jika paman berpikir demikian, aku tidak bisa mengalahkan paman, karena memang aku salah. Maafkan aku, paman," ujar Gallen dengan menunduk.


Alvian menatap Gallen dengan tatapan malas dan juga kasian. Malas karena Gallen berucap tanpa dipikir terlebih dahulu, dan kasian karena ayahnya pasti akan sulit memaafkan nya. Karena di kalimat Gallen waktu itu, jelas sekali jika Gallen tidak bisa menerima Siyyara.


"Dengar, anak muda. Aku bukan orang yang mudah memaafkan, jadi kau harus melakukan sesuatu jika kau ingin ku maafkan."


Gallen mendongak, menatap kedua mata Mr. Dave.


"Baik paman, aku mengerti. Aku akan melakukan yang terbaik untuk membuktikan jika-" ucapan Gallen terhenti. Dia sengaja menghentikan kalimatnya, karena Gallen merasa dia tidak pantas untuk mengatakan hal itu.


"Mengapa berhenti?" Tanya Mr. Dave menyelidik.


Gallen memalingkan wajahnya dan sedikit menunduk.


"Jujur saja, aku tidak mengerti dengan jalan pikiran anak muda jaman sekarang. Tetapi, kau harus tahu jika sekarang aku tidak merestui hubungan mu dengan Siyyara. Kau sudah membuatku mencabut keyakinan ku tentang dirimu," ujar Dave dengan lirih.


Gallen mengangguk paham.


"Gallen?"


Gallen menoleh ke arah Mr. Dave, karena Mr. Dave telah memanggilnya.


"Saat ini, apa hubungan mu dengan Calvert?"


"Aku menolak kerjasama itu dengan terang-terangan."


"Kau menolaknya karena aku?"


"Tidak, paman. Aku menolak karena rasa kemanusiaan ku, aku tidak mungkin menjadikan diriku sendiri musuh bagi sahabat Papa. Tetapi tanpa sengaja aku telah membuat persahabatan kalian merenggang. Ku mohon, sekali lagi maafkanlah aku." Gallen menatap Mr. Dave dengan penuh keyakinan.


"Dan aku menolak tawaran Samuel Calvert, karena aku percaya, jika aku sendiri mampu untuk menyongsong Damestria menuju kejayaan tanpa kelicikan seperti yang dilakukan Calvert," tambah Gallen.


Mr. Dave manggut-manggut mengerti.


"Baiklah, ku ucapkan terimakasih karena kau telah membawa pulang Siyyara dalam keadaan selamat. Tetapi, aku tidak akan memaafkan mu semudah itu."


Gallen mengangguk lagi. "Saya mengerti, kalau paman mengizinkan, bolehkah saya pulang sekarang?"


"Silahkan," jawab Dave datar.


*****


Tok tok tok


"Iya, sebentar," teriak Amanda dari dalam.


Cklek


"Siyyara?"


"Selamat pagi, Tante."


"Pagi, sayang. Ada apa pagi-pagi sudah datang kemari? Kenapa tidak memberitahu Tante? Tante bahkan belum memasak apapun untukmu, nak." Amanda berjalan cepat menuju dapurnya setelah mempersilahkan Siyyara masuk ke dalam.


"Tante tidak perlu seperti itu, Siyya sudah sarapan Tante, dan Siyya membawa makanan ini untuk Tante," ujar Siyyara seraya menodongkan makanan yang ada di paper bag.


Amanda membalikkan badan dan menatap tangan kanan Siyyara yang menenteng paper bag.


Siyyara mengeluarkan makanan yang sudah ia bawa dari rumah untuk di sajikan di ruang makan.


"Wah, apakah ini kamu yang masak, Siyya? Sepertinya lezat sekali," komentar Amanda dengan mata berbinar.


Siyyara tersenyum kaku dan salah tingkah.


"Tan-"


"Dia mana bisa masak, Ma."


Kalimat Siyyara terpotong saat seseorang dengan lancang mengumbar kekurangan nya di depan Amanda. Siyyara hanya meringis dan sebal dengan orang itu.


Dengan sinis, Siyyara memberi tatapan maut kepada seseorang yang dengan santainya duduk di ruang makan keluarga, dan mulai mengambil makanan yang sudah di sajikan oleh Siyyara.


"Mustahil makanan selezat ini hasil dari tangan mu."


Siyyara memutar bola matanya malas, dia sungguh jengah dengan pria menyebalkan yang bernama Gallen Damestria.


"Gallen, jangan berkata seperti itu, bisa saja makanan yang kau makan saat ini adalah masakannya Siyyara, kau kan tidak tahu," omel Amanda.


"Siyya, jangan dengarkan Gallen, dia memang seperti itu orangnya," ujar Amanda kepada Siyyara.


"Iya Tante," jawab Siyyara dengan tersenyum hangat.


"Kalau Mama tidak percaya, coba saja suruh dia masak sekarang, mungkin dia hanya akan masak air saja." Gallen menahan diri sekuat tenaga untuk tidak tertawa. Dia begitu bahagia saat melihat wajah Siyyara yang panik saat mendengar perkataan nya.


"Memang kenapa kalau Siyyara belum bisa masak? Mama sendiri yang akan mengajarinya nanti, lagi pula kamu tidak berhak mengomentari Siyyara yang tidak bisa masak, karena kamu sudah menolak perjodohan itu," ujar Amanda tidak mau kalah.


"Jadi, anakku sayang. Mau Siyya bisa masak ataupun tidak, itu bukan masalah untukmu, benarkan Siyya?" Amanda melirik Siyyara dan mengedipkan sebelah matanya.


Siyyara memaksakan diri untuk tersenyum, dan senyuman nya jelas terlihat aneh di mata Amanda.


"Sudahlah, cepat habiskan makanan mu dan segera pergi ke kantor." Amanda masih berkutat dengan piring yang tertata rapi di meja makan.


"Mama ngusir Gallen?" Gallen mengerutkan keningnya.


"Iya, karena jika kamu masih dirumah, kamu pasti akan mengganggu waktu kebersamaan Mama dengan calon menantu Mama."


Siyyara membulatkan kedua matanya saat mendengar ucapan Amanda.


"Calon menantu?" Beo Gallen.


"Emang dia mau nikah sama siapa, Ma?" Gallen menggeleng mendengar ucapan Mama nya yang menurut nya aneh. Jika dia tidak menikahi Siyyara, bagaimana gadis itu bisa menjadi menantunya?


"Memangnya dirumahnya ini hanya ada kamu? Kan masih ada Tristan. Mama tinggal minta aja dia untuk menikahi Siyyara. Mudah kan?" Ejek Amanda.


Gallen tersedak makanan saat mendengar nama Tristan, dia melupakan sesuatu jika adiknya itu bisa menjadi saingannya. Saingan? Ah, sudahlah. Memikirkan hal itu membuat kepalanya menjadi pecah.


"Siyyara, apa pendapat mu mengenai Tristan?" Tanya Amanda, dan Amanda memberi kode Siyyara agar menjawab.


"Ah, Tante. Menurut ku dia baik," ujar Siyyara dengan polos. Karena dia tidak tahu seperti apa Tristan, Siyyara hanya menjawab sekenanya. Bagaimana dia bisa menjawab jika bertemu dengan Tristan saja baru kemaren pagi.


Mendengar kalimat Siyyara, Gallen segera memakai jasnya dan mengambil tasnya yang dia taruh di kursi sampingnya duduk.


"Gallen pergi, assalamualaikum."


Tanpa menunggu jawaban Mamanya, Gallen segera keluar dari ruangan yang membuat kepalanya terbakar. Tidak hanya kepala, tetapi hatinya juga memanas.


"Wa'alaikumsalam," jawab Amanda pelan.


Siyyara diam mematung melihat kepergian Gallen, padahal niatnya hari ini dia mau mengucapkan terima kasih karena telah menolongnya dari gerombolan penculik. Tetapi dia tidak menyangka jika dia akan ribut lagi dengan pria itu.


Melihat kemurungan di wajah Siyyara, Amanda pun dengan lembut mendekati dan mengelus kepala Siyyara.


"Jangan bersedih, akhir-akhir ini dia memang sedikit aneh. Tante saja bingung dengan perilakunya," ucap Amanda.


Siyyara hanya mengangguk.


"Jangan dimasukkan ke hati juga tentang masalah Tristan, Siyya. Tante hanya bercanda, sekaligus membuat Gallen sadar jika dia akan menyesal karena telah menolak mu," ujar Amanda dengan tersenyum hangat.


Siyyara tersenyum canggung.


Dret dret dret


"Bentar, Tan." Siyyara segera mengangkat telponnya setelah tahu jika yang menelponnya adalah Brian.


Amanda mengangguk dan terus mengamati Siyyara.


"Iya, Bri?"


"Siyya, aku akan kembali ke Jerman hari ini, bisa kau temui aku sebentar saja?"


"A-apa? Cepat sekali? Baiklah, dimana aku bisa menemui mu?"


"Di Cafe dekat Medical Internasional Hospital, kebetulan aku harus menjenguk teman ku yang ada di sana."


"Baiklah, aku akan datang kesana."


"Iya, aku tunggu. Bye."


"Bye, Brian."


Tut.


"Ada apa, Siyya?"


"Teman Siyya ingin bertemu sebelum dia terbang ke Jerman, Tante."


"Ya sudah, sekarang kau pergilah. Jangan membuat temanmu menunggu lama," ujar Amanda lembut.


"Baik Tante. Siyyara pergi dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam, hati-hati Siyya."


*****


"Brian?"


"Oh, hallo Siyya."


"Sudah lama menunggu?"


"Tidak terlalu lama."


Siyyara mengangguk lega.


"Aku ingin meminta kejelasan dari hubungan kita, Siyya."


Siyyara mendongak menatap kedua mata Brian yang menatapnya penuh luka.


"Maksudmu?"


"Aku tahu pihak keluarga mu tidak suka saat aku menjalin hubungan dengan mu. Dan aku meminta kepastian perasaan mu kepadaku. Kau tahu jika aku sangat mencintaimu, dan meski hanya sekali saja, kau tidak pernah mengungkapkan perasaanmu itu kepadaku. Aku hanya takut jika aku hanya berjuang sendiri disini, Siyya."


"A-aku-"


"Aku menyayangimu, Brian."


"Sayang dan Cinta itu beda, Siyya. Rasa sayangmu padaku pasti sama seperti rasa sayang mu kepada Kak Alvian. Aku ingin lebih dari itu Siyya. Selama ini kau selalu menerima perasaanku, tetapi kau selalu bungkam jika aku bertanya tentang perasaanmu. Apakah kau menerima ku karena kau kasihan padaku, Siyya?" Tatapan mata Brian menunjukkan sebuah luka yang dalam.


"Ti-tidak Brian. Aku sangat menyayangi mu. Aku memang belum mencintai mu, tetapi aku yakin perasaan sayangku ini akan tumbuh menjadi cinta," jawab Siyyara karena tidak tega melihat luka di pancaran kedua mata Brian.


"Selama ini kau selalu mengatakan hal itu, Siyya. Kau bilang sayang, kau bilang Cinta, tetapi semua itu bukan dari hatimu. Kau hanya ingin menyenangkan aku saja kan?"


Siyyara diam dan menunduk.


"Aku sangat mencintaimu, jika kau mencintai ku juga, aku akan berjuang untuk meyakinkan keluargamu, jika aku mendekati mu bukan untuk urusan bisnis. Melainkan karena aku menginginkan dirimu menjadi milikku, Siyya. Jika kau memang tidak memiliki perasaan apapun padaku, aku akan mundur. Aku tidak sanggup jika harus menjaga jodoh orang." Tatapan Brian membuat hati Siyyara berontak.


Siyyara tidak tahu harus menjawab apa sekarang. Dia memang tidak mencintai Brian, dia hanya menyayangi Brian selayaknya seorang kakak. Meski selama ini dia berusaha semampunya untuk mencintai Brian, tetapi hatinya selalu menolak.


"Brian-"


Siyyara menguatkan hatinya untuk menatap mata Brian.


"Aku menyayangimu, dan aku tidak ingin kau terluka karena aku. Tetapi aku tidak boleh egois. Kau berhak mendapatkan seorang gadis yang benar-benar mencintai mu secara tulus. Aku-"


"Aku bukan gadis yang baik untukmu. Kau pria muda yang mapan dan juga tampan, kau bahkan banyak digilai para wanita. Kau pasti bisa mendapatkan pengganti ku," ujar Siyyara yang menahan tangisnya.


"Jadi seperti ini kah akhir kisah kita, Siyya?" Tatapan sendu itu terus Brian layangkan untuk Siyyara.


"Ku kira kita akan mengambil jalan seperti Romeo dan Juliet untuk menyatukan cinta kita. Tetapi ternyata kau memang belum bisa mencintai ku," ujar Brian lirih.


"Baiklah, aku akan melepaskan mu. Aku ingin kau tertawa lepas tanpa terbebani perasaan ku ini. Terimakasih untuk 2 tahun ini, Siyya. Aku akan selalu mengingat kenangan kita."


Siyyara tak bisa lagi untuk menahan air mata nya. Dia terluka karena membuat orang yang selalu ada untuknya selama ini merasa sedih.


"Maaf."