The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
2. Gadis gila



Seorang Pria berumur 27 Tahun sedangĀ  mengendarai Lamborghini nya dengan kecepatan penuh setelah mendapat panggilan dari Dokter jaga, jika saat ini sedang ada pasien yang mengalami kecelakaan dan harus segera dilakukan Operasi.


Meski terkadang tugas itu bisa dilakukan oleh dokter lainnya, tetapi Pria itu tidak pernah menyelewengkan tugas yang seharusnya dia lakukan.


"Sial! Mengapa harus macet segala? Aku harus putar balik dan mencari jalan lain," gumam Pria itu.


Setelah terhindar dari kemacetan, Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti sebelumnya. Saat kedua matanya fokus mengarah ke depan, tiba-tiba muncul seorang gadis yang masih mengenakan seragam SMA, gadis itu berlari memotong jalan.


Dengan cekatan, Pria itu menginjak remnya dengan mendadak sehingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga saat ban mobil itu menggesek aspal.


Meski dia sudah berusaha mengerem, tetapi gadis itu tetap terserempet oleh mobilnya hingga terpental ke trotoar.


"Aghhhhtttt!" Teriak gadis itu saat terkena sudut mobilnya.


Pria itu segera keluar dari mobilnya dan berlari menghampiri gadis SMA yang tengah berbaring lemah di atas trotoar. Semua orang yang ada di jalan itu berlari untuk melihat kondisi korban tabrakan tersebut.


Pria itu pun menyibak orang-orang yang berkerumun mengelilingi gadis SMA, tanpa berani menolong.


"Permisi pak," ujar Pria itu yang ingin melihat kondisi gadis yang telah ia tabrak dengan tidak sengaja.


"Kamu terluka?" Tanya Pria itu dengan panik.


Gadis itu membuka mata sebentar kemudian menutup kedua matanya kembali.


"Hei! Bangunlah!"


"Mas, anda telah menabrak gadis ini, dan mas harus bertanggung jawab," tukas seorang bapak-bapak yang menjadi saksi kecelakaan tersebut.


"Maaf pak, saya akan membawa gadis ini ke Medical Internasional Hospital agar cepat mendapat penanganan, karena kebetulan saya bekerja di sana," izin pria itu.


"Baiklah, salah satu dari kami akan menyusul ke Rumah sakit tersebut untuk memastikan kondisi gadis ini, saya ingin memastikan jika anda benar-benar bertanggung jawab untuk gadis ini," seru salah satu warga disana.


"Baiklah, terserah anda, yang terpenting saya harus segera ke Rumah sakit saat ini," ujar Pria itu dengan menahan rasa kesal.


Tanpa menunggu jawaban dari warga disana, Pria itu segera membawa gadis itu ke mobilnya dan membaringkan di kursi belakang mobilnya.


Dengan buru-buru, Pria itu menancap gas mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya, karena di Rumah Sakit sedang ada pasien yang membutuhkan pertolongan nya dan di tambah dengan gadis itu yang tiba-tiba melintas di depan mobilnya hingga membuat jiwa seorang Dokter dalam diri Pria itu bangkit.


"Hufft, sepertinya aku tidak bisa datang tepat waktu. Aku harus menghubungi Alan untuk meminta bantuannya," gumam Pria itu sambil terus melihat jam tangannya yang berlapis emas di tepiannya.


"Halo, Al. Kamu ada dimana saat ini?"


"Aku sedang ada di Rumah sakit, habis memeriksa beberapa pasien? Kenapa?"


"Aku sedang ada masalah, bisa kamu gantikan aku ke ruang Operasi? Aku habis nabrak bocah SMA," ujar Pria itu sambil melirik ke arah gadis yang ada di belakangnya.


"Ha? Nabrak? Tumben Lo sampai nabrak orang?" Heran Alan.


"Ceritanya panjang, udahlah. Kamu harus gantikan aku ke ruang Operasi, oke?" Paksa Pria itu.


"Tapi aku sibuk juga nih," kilah Alan.


"Jangan nolak. Jika kau sampai nolak, aku bisa saja menendangmu atau bahkan mengusirmu atau yang lebih buruk lagi memecat mu dari Medical Internasional," ancam Pria itu dengan kejam.


"Ck, dasar pemaksa," seru Alan.


Dengan tanpa beban, pria itu langsung mematikan panggilan dari ponsel nya.


*****


"Ini kemana lagi si Siyya, sudah aku bilangin untuk segera pulang juga. Kenapa anak itu sangat bandel sih?" Gerutu kakak Siyyara yang bernama Alvian Sandy Damares.


Alvian menunggu kedatangan Siyyara dengan berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Alvian sangat geram dengan kebandelan adik satu-satunya itu.


"Awas saja kau, Siyya."


Karena malas menunggu kedatangan Siyyara, Alvian mengeluarkan smartphone dari sakunya dan menelfon Siyyara.


Panggilan itu tersambung, tetapi entah mengapa Siyyara tidak juga mengangkat panggilan telfonnya.


"Halo!"


Setelah menunggu lama akhirnya panggilannya terjawab, tetapi yang menjawab bukan suara Siyyara.


"Siapa ini?" Tanya Alvian berusaha mengendalikan emosinya.


"Anda siapanya dari gadis ini?"


Alvian meremat ponselnya. Tangan Alvian gatal, rasanya ingin menonjok seseorang saat ini.


"Aku adalah kakak Siyyara, katakan padaku mengapa ponsel Siyyara bisa ada padamu? Dimana adikku?"


"Adikmu kecelakaan, ia saat ini sedang dirawat di Medical Internasional Hospital."


"APA?"


Tanpa mendengar jawaban berikutnya dari Pria diseberang sana, Alvian langsung mengakhiri panggilannya dengan tidak sopan, karena dia terlalu panik dengan kondisi adiknya.


*****


Pria itu menatap ponsel gadis yang telah dia tabrak dengan pandangan yang sulit diartikan, setelah menjawab panggilan dari seseorang yang ternyata adalah kakak dari gadis yang sedang berbaring di ranjang UGD. Pria itu merasa jika sebentar lagi akan ada badai di ruangan itu.


"Huh, mengapa kau harus berlari ke arah mobil ku, sih?" Gumamnya dengan setengah jengkel.


Setelah memeriksa jika kondisi gadis itu dalam keadaan baik-baik saja, akhirnya Pria itu menghembuskan napas dengan perasaan lega.


Dia sempat was-was karena gadis itu tidak juga membuka kedua matanya.


"Suster!" Teriak seseorang diluar ruangan.


"Aku seperti pernah mengenal suara itu, tapi siapa?" Gumam Pria itu.


Pria itu diam, mencoba mendengarkan dari dalam ruangan, apa yang ingin dikatakan oleh seseorang itu kepada seorang Perawat.


"Suster, saya mau tanya dimana ruangan dari pasien yang baru saja mengalami kecelakaan? Saya adalah keluarganya, sus." Alvian bertanya kepada perawat yang kebetulan yang berada di depan IGD.


"Hari ini ada beberapa pasien yang mengalami kecelakaan, Tuan. Ada yang nyawanya tidak terselamatkan, ada yang kritis dan masuk ICU, dan ada yang luka kecil saja. Ketiga pasien tersebut belum jelas identitasnya karena mereka tidak membawa petunjuk apapun," jelas Suster itu.


"Ketiga korban tersebut seorang gadis SMA, hanya saja tempat kecelakaan nya yang berbeda, Tuan."


"A-apa?" Wajah Alvian pucat pasi, dia sangat takut, jika yang meninggal adalah adiknya.


"Suster, apa saya boleh melihat jenazah korban itu?" Alvian berusaha mati-matian menahan air matanya.


"Dia pasti kakak dari gadis ini." Pria itu dengan langkah kaki yang gagah keluar dari ruangan rawat gadis yang telah diketahui namanya, yaitu Siyyara.


Saat Pria itu berjalan menghampiri seseorang yang diduga adalah kakak dari Siyyara, semua suster dan petugas medis yang berjenis kelamin perempuan menahan napas. Mereka selalu gagal fokus ketika dihadapannya sudah ada dokter muda yang sangat tampan dan mapan itu.


Alvian pun menolehkan kepalanya ke arah suara yang ada di belakangnya.


Alvian membelalakkan kedua matanya saat melihat siapa yang ada di hadapannya. Dokter muda itu pun tercengang dan melupakan apa yang ingin ia sampaikan kepada orang itu.


"Ga-Gallen? Kau Gallen, kan?" Tanya Alvian terbata. Alvian membaca name tag yang berada di Jas dokter Gallen.


dr. Gallen Altara Damestria


Pria yang dipanggil Gallen oleh Alvian pun terkekeh kecil. Dia tidak menyangka jika dia akan bertemu lagi dengan sahabatnya saat di bangku SMA.


"Dunia ini memang sempit ya," ujar Gallen.


Alvian pun tertawa kecil. Alvian pun mengamati penampilan Gallen dari atas hingga bawah.


"Wow. Sekarang kamu udah sukses ya," goda Alvian.


Gallen menahan senyumnya. Tetapi senyumnya terhenti ketika mengingat ada hal penting yang ingin ia sampaikan.


"Al, kamu sedang mencari siapa?" Tanya Gallen ingin memastikan.


"Aku sedang mencari adikku. Aku dapat kabar jika Siyyara mengalami kecelakaan. Apa kamu tahu dimana Siyyara? Namanya Siyyara Almeta Damares, dia pakai seragam SMA Cendana Putih. Apa kamu tahu dimana dia?"


Benar dugaan Gallen, jika Alvian adalah kakak dari gadis yang tanpa sengaja terserempet mobilnya.


"Aku tahu dimana dia sekarang, ayo ikuti aku." Gallen mengajak Alvian untuk memasuki ruangan rawat Siyyara.


"Siyyara!" Alvian langsung mendekati adiknya saat melihat adiknya yang tengah berbaring di ranjang Rumah sakit dengan keadaan pingsan.


"Dia baik-baik saja. Dia seperti ini karena terserempet mobil ku saat aku ngebut. Entah darimana asalnya, dia tiba-tiba sudah ada di tengah jalan," jelas Gallen.


"Maaf, Al. Aku tidak sengaja membuat adikmu menjadi seperti ini," ujar Gallen.


"Ini bukan sepenuhnya kesalahanmu, aku paham. Aku yang memaksanya untuk segera pulang, mungkin karena dia terburu-buru maka dari itu dia sampai tidak melihat jalan."


"Apa yang terjadi? Apa ada masalah?" Tanya Gallen penasaran.


"Aku mendapat telfon dari salah satu guru SMA Cendana, jika Siyyara tengah membolos sekolah. Hari ini aku baru sampai di Jakarta dan saat tiba di rumah, aku mendapat kabar seperti itu, aku lepas kendali dan sangat emosi, aku langsung menelponnya dan memaksanya untuk segera pulang ke rumah."


"Membolos sekolah?" Beo Gallen.


"Iya, dia sangat nakal sekali. Dia selalu tawuran, suka ngerjain guru-gurunya, suka membolos sekolah, tidak cuma sekali dua kali, tapi berkali-kali."


"Tawuran? Dengan siapa?" Gallen tertarik mendengar cerita ajaib dari sahabatnya.


"Dengan para cowok SMA Cendana II. Aku sendiri heran dengan tingkah bebal Siyyara."


Gallen menaikkan sebelah alisnya, dia sedikit melirik ke arah Siyyara untuk memastikan lagi jika yang ada dihadapannya memang seorang cewek.


"Dia berubah menjadi sulit dijinakkan ketika Mommy meninggal, sejak saat itu dia menjadi pribadi yang tertutup, apalagi setelah Daddy memutuskan untuk tinggal di Jerman, karena ingin melupakan Mommy dan mengurus perusahaan pusat disana. Siyyara menjadi semakin berbeda dari sebelumnya, karena dia benar-benar kekurangan kasih sayang. Dan akhirnya dia menjadi semakin liar ketika aku memutuskan untuk melanjutkan studi ke Prancis dan mengembangkan Perusahaan yang ada disana."


Gallen tidak mau berkomentar apapun. Dia sedikit prihatin dengan masalah yang menimpa keluarga sahabatnya.


"Agghhhhttt!" Rintih Siyyara sambil memegangi kepalanya.


Gallen dan Alvian mengalihkan tatapannya ke arah Siyyara yang sedang menggerakkan kelopak matanya.


"Siyya, kamu sudah sadar?" Alvian mengelus kepala sang adik dengan lembut.


"Kakak?"


"Iya, ini kakak. Katakan pada kakak, apa yang sakit?" Tanya Alvian dengan cemas.


Gallen tersentuh dengan keakraban kakak dan adik yang ada di depannya ini. Gallen menyunggingkan senyum menawannya.


"Aku tidak apa-apa, kak. Udah deh, jangan perlakukan Siyya seperti anak kecil," protes Siyyara dengan meringis karena menahan sakit pada kepala dan kakinya.


"Iya, Alvian. Adik mu hanya keseleo di kakinya saja, dan kepalanya mungkin akan sakit karena dia mengalami benturan saat terjatuh. Aku sudah jahit kepalanya dan melakukan pemeriksaan lain pada kepalanya. Tidak ada yang perlu di khawatirkan," jelas Gallen dengan bahasa santai.


Alvian mengangguk mengerti. Saat Siyyara telah mengumpulkan seluruh kesadarannya, Siyyara heran saat mendengar dokter itu berbicara dengan kakaknya seolah sudah kenal lama. Apakah kakaknya kenal dengan dokter itu? Entahlah saat ini dia tidak ingin terlalu banyak berfikir, karena kepalanya sedang sakit.


"Kak. Aku ingin pulang," seru Siyyara dengan lemas.


"Iya, kakak akan bawa kamu pulang." Alvian mengelus kepala adiknya dengan sayang.


"Gallen, Siyyara boleh dirawat di rumah saja, kan?"


"Boleh, tetapi kamu harus sering memantaunya, karena dia mendapat jahitan di kepalanya."


"Baiklah, aku akan menjaganya. Terimakasih Len, atas bantuannya. Maafkan Siyyara karena kecerobohannya membuat waktumu terganggu. Aku tahu, mungkin saat ini kamu sibuk, tetapi kamu malah jagain dia disini," ujar Alvian dengan tidak enak hati.


"Tidak apa, itu sudah menjadi tugasku. Lagipula adikmu juga pasienku, aku yang telah menyerempet adikmu, maka sudah menjadi kewajiban ku untuk merawatnya."


Jawaban Gallen membuat Siyyara mendengus kesal. Kesal karena dokter sok baik itu ternyata adalah orang yang telah menabraknya.


"Oh, jadi kamu yang udah menabrak ku?" Tanya Siyyara dengan nada tinggi.


Alvian memberi tatapan peringatan kepada Siyyara, agar Siyyara tidak membuat masalah dengan Gallen. Tetapi sepertinya Siyyara tidak menggubris peringatannya sama sekali.


"Hanya karena kamu itu temennya kak Alvian, jangan harap aku bakal maafin kamu ya!" seru Siyyara dengan menodongkan jari telunjuknya ke arah Gallen.


Gallen pun tidak terkejut dengan kelakuan abnormal gadis di depannya ini, karena Alvian sebelumnya sudah menceritakan sifat asli Siyyara.


"Maaf adik kecil, jika saja kamu tidak melintas di depan mobil saya, kamu tidak akan berbaring disini." Gallen berusaha menyunggingkan senyum meski dengan terpaksa.


"Adik kecil? HELL, berani sekali kau! Aku tidak kecil. Dasar dokter gila!" Teriak Siyyara.


Alvian saat ini sudah kepalang malu. Malu karena memiliki adik seperti Siyyara. Andai saja Siyyara tidak sedang sakit, pasti dia sudah menjitak kepala adiknya yang sekeras batu itu.


Gallen berusaha sebaik mungkin menahan emosinya. Jangan dikira Gallen itu pria penyabar, karena Gallen itu pria tempramen. Dan sangat menyeramkan jika sudah dalam mode marah.


"Siyya, jaga ucapanmu, dia adalah dokter. Kamu harus sopan dek." Alvian melembutkan suaranya, dengan harapan Siyyara akan mengerti ucapannya.


"Tidak kak, aku tidak akan memaafkannya. Seharusnya seorang dokter itu menyembuhkan pasien, bukannya membuat manusia sehat menjadi sakit seperti ini."


Alvian menggaruk pipinya yang tidak gatal, dia sungguh malu dengan kelakuan adiknya. Alvian melirik Gallen dengan tatapan minta maaf.


"Maaf, Len. Jangan diambil hati ucapan gadis ini, dia memang seperti itu, tapi sebenarnya dia gadis yang manis kok," ucap Alvian berusaha mencairkan suasana yang sempat tegang.


"Tidak apa, aku mengerti. Hari ini aku ada jadwal operasi, tidak apa kan jika kamu ku tinggal?" Tanya Gallen ramah kepada Alvian.


"Iya, tidak apa. Sampai bertemu di lain hari," ujar Alvian. Dan dijawab anggukan kepala oleh Gallen.


Sebelum keluar dari ruangan itu, Gallen melirik sebentar ke arah Siyyara dengan tatapan dingin, dan Siyyara juga membalas tatapan Gallen dengan tatapan membunuh.